Home / Romansa / RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK / BAB, 04. PERMINTAAN PAGI HARI

Share

BAB, 04. PERMINTAAN PAGI HARI

Author: Upik abu
last update publish date: 2025-12-12 16:37:40

PERMINTAAN PAGI HARI

☘️☘️☘️

Aroma roti yang baru dipanggang dari toaster mengisi dapur kecil itu. Anasera sudah duduk sambil mengoleskan selai coklat, sementara Naveen duduk di kursi makan dengan kaki yang masih belum bisa mencapai lantai, mengayun-ayunkannya tanpa henti.

"Ma, cepat… Naveen lapar banget," rengeknya.

"Iya, ini Mama olesin dulu," jawab Anasera sambil tersenyum lelah tapi tulus.

Begitu roti itu sampai di depan hidungnya, Naveen langsung menggigit setengah dengan mulut kecilnya. Pipinya menggembung, matanya berbinar.

Anasera memperhatikannya sambil meminum teh hangat.

Rasanya hangat… damai. Jarang sekali pagi seperti ini datang di hari kerja.

Setelah beberapa menit, Naveen berhenti makan. Ia menatap ibunya lama, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Ma…"

"Hm?"

"Boleh nggak… Naveen tinggal sama Mama aja?"

Anasera tersentak. Tehnya nyaris tumpah.

Pandangan lembutnya langsung berubah sendu.

"Naveen…"

Ia meraih tangan kecil putranya. "Kamu kenapa bilang gitu?"

Naveen menunduk, menatap roti yang kini sudah tidak menarik lagi baginya.

"Di rumah Nenek… sepi. Nenek suka tidur cepat. Naveen nggak ada yang bacain dongeng…"

Suaranya mulai mengecil, seperti ketakutan jika ia salah bicara.

"Kalau sama Mama… Naveen bisa peluk Mama. Bisa main sama Mama. Bisa bareng Mama terus."

Anasera terdiam.

Udara pagi yang hangat seakan berubah jadi sesak.

"Nak…" suaranya bergetar sedikit. "Mama kerja. Kalau Mama jaga di rumah sakit, Mama nggak bisa pulang. Mama takut kalau Naveen capek nunggu Mama setiap hari."

"Tapi Naveen bisa nunggu… beneran."

Mata coklatnya terangkat perlahan- bening, jujur, terlalu dewasa untuk anak lima tahun.

"Naveen nggak mau cuma Sabtu sama Minggu ketemu Mama."

Anasera menelan ludah.

Dadanya seperti diremas.

Selama ini ia sudah berusaha membagi waktu, tapi tetap saja rasanya kurang.

Dan sekarang… mendengar keinginan itu langsung dari mulut anaknya sendiri… terasa menghantam tepat di titik paling lemah dalam dirinya sebagai seorang ibu.

Ia mengusap pipi Naveen dengan ibu jari.

"Sayang… Mama juga mau banget setiap hari sama Naveen. Mama kangen kamu tiap malam…"

"Terus kenapa kita nggak tinggal bareng?" Naveen memiringkan kepala, bingung.

"Rumah Mama kan gede. Kasurnya gede. Naveen bisa tidur di sini."

Pertanyaan polos itu membuat hati Anasera mencelos.

Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Naveen… kalau kamu tinggal sama Mama, nanti kalau Mama kerja dan pulang malam… kamu sendirian. Mama nggak mau kamu sedih nunggu Mama pulang."

"Tapi Naveen lebih sedih kalau jauh dari Mama…" balasnya lirih, hampir tidak terdengar.

Anasera menutup mata sejenak.

Ia lalu memeluk putranya erat- erat sekali sampai Naveen menggumam manja di bahunya.

"Maafin Mama ya…" bisiknya. "Mama bakal berusaha cari cara. Supaya Mama bisa lebih sering sama Naveen. Mama janji."

Naveen memeluk balik, kecil, hangat, penuh kepercayaan.

"Janji, Ma?"

"Janji."

Naveen akhirnya tersenyum kecil.

"Kalau gitu… Naveen boleh tidur di sini sampai hari besok?"

Anasera terkekeh pelan, menahan haru.

"Kamu kan harus sekolah, Nak."

"Yaudah sekolah dari sini aja."

Ia menjawab dengan sangat yakin, seolah masalahnya sudah selesai.

Dan entah kenapa, meski tahu jawabannya tidak semudah itu…

Anasera merasakan sedikit harapan muncul.

Mungkin… memang sudah waktunya mempertimbangkan semuanya kembali.

~~~

Suara klakson pendek terdengar dari halaman depan.

Anasera yang sedang merapikan jaket Naveen langsung tersenyum kecil, walaupun matanya memancarkan lelah yang sulit disembunyikan.

"Nenek datang…" gumamnya lembut.

Naveen yang sedang duduk di kursi kecilnya mengembungkan pipi.

"Ma, Naveen mau di sini aja…"

Anasera berjongkok, menatap putranya setinggi mata. "Nenek harus antar kamu sekolah, Sayang. Mama harus kerja."

"Tapi tadi Mama janji…" Naveen menatapnya dengan mata besar yang basah.

"Mama nggak lupa."

Anasera mengusap rambutnya.

"Mama cuma butuh waktu buat nyiapin semuanya. Supaya nanti… mungkin, kamu bisa tinggal sama Mama lebih lama."

Naveen akhirnya mengangguk kecil, meski jelas sekali ia tidak puas.

Pintu diketuk.

Anasera membuka, dan terlihatlah sosok ibunya- Bu Rossa. Rambutnya sudah memutih sebagian, tapi wajahnya tetap lembut dan penuh wibawa khas perempuan kuat yang sudah melewati banyak kerikil hidup.

"Naveen sudah siap?" tanyanya sambil masuk dengan senyum hangat.

Naveen langsung berlari memeluk neneknya, meski tetap terlihat enggan.

"Nenek…"

Bu Rosaa tersenyum sambil mengusap kepala cucunya.

“Kenapa? Masih pengen sama Mama, ya?”

Naveen mengangguk tanpa suara.

Bu Rossa menatap Anasera, sebuah tatapan yang hanya bisa dimengerti para ibu- perpaduan antara pengertian, kekhawatiran, dan bangga.

"Kamu kerja shift panjang lagi hari ini?" tanya ibunya pelan.

"Hmm… sampai malam."

Anasera menunduk.

"Aku sudah coba tukar jadwal, tapi nggak bisa."

Ibu menghela napas panjang, lalu menatap anaknya lembut.

"Sera, gimana pun, Ibu tetap bangga sama kamu. Kamu masih muda, tapi kamu kerja keras buat jadi dokter bagus. Ayahmu pasti senang lihat kamu dari sana."

Ucapan itu membuat dada Anasera menghangat sekaligus menyesak.

Bu Rossa melanjutkan, "Naveen dari dulu Ibu urus dengan ikhlas. Bukan karena kamu nggak mampu, tapi karena Ibu tahu kamu sedang membangun masa depan. Kamu harus percaya diri sama pilihanmu."

Anasera memejamkan mata sejenak, menahan emosi.

"Aku cuma… takut Naveen ngerasa aku jauh."

Ibunya mendekat, memegang kedua bahunya.

"Anak itu sayang sama kamu. Sangat."

Mata Bu Rossa melirik Naveen yang kini sedang mengenakan sepatu sekolahnya santai.

"Dan kalau dia mulai minta lebih banyak waktu sama kamu… itu tanda dia butuh kehadiranmu. Kita bicarakan nanti, pelan-pelan. Ibu siap bantu."

Anasera mengangguk, tersenyum getir.

Bu Rossa berbalik memanggil cucunya. "Naveen, ayo. Kita berangkat, nanti kamu telat."

Naveen menatap ibunya sekali lagi, matanya memohon.

" Ma… nanti Mama jemput?"

Anasera tersenyum tipis. "Mama coba, sayang. Tapi kalau Mama nggak bisa, Nenek yang jemput ya?"

Naveen akhirnya mengangguk.

Ia memeluk ibunya erat- lebih lama dari biasanya.

"Love you, Ma…" bisiknya.

Anasera memeluk balik, mencium ubun-ubunnya.

"Love you more, Naveen."

Setelah itu, dengan langkah kecil yang berat, Naveen mengikuti neneknya menuju mobil.

Anasera berdiri di depan pintu, melihat mobil itu perlahan keluar dari halaman.

Jiwa dokter dalam dirinya kuat… tapi sebagai ibu, pagi ini ia merasa rapuh.

Begitu mobil menghilang di tikungan, ia kembali masuk untuk bersiap-siap berangkat kerja.

☘️☘️☘️

To be continue...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    37. RINDU?

    Di bulan ketiga penugasannya di Afrika, Rai Adhinatha mulai merasa waktu berjalan dengan cara yang aneh—terasa cepat saat ia sibuk di tenda medis, namun begitu lambat ketika malam datang.Sore itu, matahari Afrika menggantung rendah, membakar tanah kemerahan di sekitar kamp kemanusiaan. Rai baru saja melepas sarung tangan lateksnya setelah menutup luka seorang bocah lelaki yang terkena serpihan kayu saat membantu ibunya membawa air. Tubuhnya lelah, bahunya pegal, dan matanya perih karena kurang tidur. Namun yang paling terasa justru bukan letih fisik—melainkan sesuatu yang mengendap di dadanya sejak beberapa hari terakhir.Rindu.Ia duduk di bangku kayu panjang di depan tenda, membuka ponselnya yang sinyalnya hanya muncul seperti tamu tak diundang. Satu nama langsung menarik perhatiannya.Anasera.Dokter spesialis anak itu sudah menjadi kebiasaan dalam hari-harinya. Bahkan di benua yang berbeda, mereka tetap terhubung oleh pesan-pesan sederhana.{Kamu sudah makan?}{Hari ini tangani b

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 36. BUAH HATI

    BUAH HATI ☘️☘️☘️ Buah hati adalah doa yang menemukan wujudnya. Ia hadir tanpa banyak kata, namun keberadaannya mampu meruntuhkan lelah, mematahkan takut, dan menenangkan dunia yang gaduh. Dalam matanya yang bening, tersimpan langit yang belum tercemar luka; dalam tawanya, ada harapan yang tumbuh tanpa syarat. Buah hati mengajarkan cinta yang paling jujur-cinta yang tak menuntut balasan, tak meminta penjelasan. Ia membuat waktu terasa berjalan lebih pelan, seolah setiap detik ingin disimpan agar tak cepat berlalu. Tangannya yang kecil menggenggam jari orang tuanya, dan sejak itu, hidup tak lagi hanya tentang diri sendiri. Ia adalah alasan pulang, bahkan ketika jalan terasa berat. Adalah kekuatan yang lahir dari tubuh yang rapuh, keberanian yang tumbuh dari suara paling lembut. Buah hati bukan sekadar darah yang mengalir dalam nadi, melainkan bagian jiwa yang berjalan di luar raga. Dan kelak, saat ia melangkah menjauh untuk menemukan dunianya sendiri, cinta itu tak berkurang-ia h

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 35. SAAT SUMPAH MEMANGGIL

    SAAT SUMPAH MEMANGGIL ☘️☘️☘️ Ruang auditorium departemen bedah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Deretan kursi berlapis kain abu-abu dipenuhi jas putih yang duduk tegak dengan wajah serius. Di layar proyektor terpampang peta Afrika dengan titik-titik merah menandai wilayah konflik dan krisis kesehatan. Bau kopi yang mulai mendingin bercampur dengan aroma antiseptik dari jas operasi yang baru saja ditanggalkan. Ketua Departemen Bedah, Prof. Hadi Wicaksono, berdiri di podium. Suaranya berat, penuh wibawa. "Rekan sejawat," katanya pelan namun menekan, "kita menerima permintaan resmi dari organisasi medis internasional untuk mengirim satu tenaga ahli bedah sebagai relawan dalam misi kemanusiaan di Afrika Tengah. Daerah tersebut mengalami krisis fasilitas kesehatan, minim tenaga medis, dan lonjakan kasus trauma akibat konflik." Ruangan hening. Beberapa dokter saling berpandangan. Prof. Hadi melanjutkan, "Misi ini membutuhkan seseorang dengan kompetensi tinggi dalam bedah u

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 34. ATAS NAMA KEHORMATAN

    ATAS NAMA KEHORMATAN ☘️☘️☘️ Ia berjalan seolah bumi diciptakan untuk menopang langkahnya saja. Dada terangkat, dagu menantang langit, dan tatapannya tajam-bukan untuk melihat, melainkan untuk menilai. Dunia baginya adalah cermin besar yang hanya pantas memantulkan bayang dirinya sendiri. Kata-katanya rapi namun dingin, tersusun seperti pisau: berkilau, tapi melukai. Ia percaya suara paling keras adalah kebenaran, dan keheningan orang lain adalah tanda kekalahan. Dalam kepalanya, kemenangan tak perlu alasan, cukup keyakinan bahwa ia selalu lebih tinggi dari siapa pun yang berdiri di seberang. Namun arogan adalah menara tanpa jendela. Tinggi, tetapi sunyi. Kokoh di luar, rapuh di dalam. Ia tak pernah menunduk, bukan karena kuat, melainkan takut melihat retak yang tumbuh di kakinya sendiri. Setiap pujian ia telan mentah, setiap kritik ia ludahkan sebagai dengki. Ia lupa, kesombongan tak pernah abadi-ia hanya menunggu waktu untuk runtuh oleh beban yang ia bangun sendiri. Dan saa

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 33. ANCAMAN SKORS

    ANCAMAN SKORS ☘️☘️☘️ Anasera melangkah mantap menyusuri koridor bangsal rawat. Suaranya tertangkap jelas bahkan dari kejauhan-teriakan kasar seorang pria yang tubuhnya tinggi besar, bahunya lebar, rahangnya mengeras oleh amarah. Di hadapannya, seorang dokter muda berseragam putih tampak menunduk, wajahnya pucat. Status PPDS seolah menjadikannya sasaran empuk bentakan, meski nada suaranya tetap berusaha profesional. Anasera berhenti tepat di sisi mereka. Tatapannya tenang, bahunya tegak. "Permisi," ucapnya dengan suara datar namun berwibawa. "Memangnya Bapak siapa?" Pria itu menoleh cepat, sorot matanya tajam. "Saya wali pasien. Dan kebetulan," katanya dengan nada menantang, "saya anggota penegak hukum." Anasera mengangguk pelan, seakan menerima informasi itu tanpa perlu terkejut. Bibirnya kemudian bergerak, suaranya tetap terkendali—tidak meninggi, tidak pula merendah. "Kalau begitu, sebagai penegak hukum," katanya, "seharusnya Bapak tahu bagaimana cara bersikap sopan santun.

  • RESEP CINTA UNTUK HATI YANG RETAK    BAB, 32. KAMU TAHU SIAPA SAYA?

    KAMU TAHU SIAPA SAYA? ☘️☘️☘️ Rumah sakit selalu tahu cara membuat segalanya terasa sementara. Waktu berjalan pelan di lorong-lorongnya, di antara bau antiseptik dan langkah kaki yang ditahan. Di tempat itulah, aku mulai mengenalmu-bukan sebagai nama, melainkan sebagai kehadiran yang berulang. Pendekatan kami dimulai tanpa rencana. Hanya sapa singkat di depan ruang rawat, kopi yang dingin karena terlalu lama menunggu, dan percakapan kecil tentang jadwal jaga yang berantakan. Tak ada janji, tak ada kata yang berlebihan, hanya perhatian yang tumbuh diam-diam. Kau selalu berjalan sedikit lebih lambat saat bersamaku, menyesuaikan langkah di lorong sempit itu. Aku pura-pura tidak memperhatikan, padahal hatiku mencatatnya dengan rapi. Di rumah sakit, orang terbiasa menahan rasa °°° dan kami melakukannya dengan terlalu baik. Pendekatan di tempat ini terasa berbeda. Setiap senyum seolah harus sopan, setiap rindu disembunyikan di balik profesionalisme. Namun dari cara ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status