LOGINPERTEMUAN YANG TAK DI RENCANAKAN
☘️☘️☘️ Pagi di rumah sakit besar itu selalu dimulai dengan langkah cepat dan suara yang tak pernah benar-benar sunyi. Anasera berjalan menyusuri lorong lantai tiga-lantai khusus anak- dengan jas putih rapi dan rambut yang diikat sederhana. Di tangannya, papan rekam medis; di benaknya, daftar pasien yang harus ia temui hari ini. "Dok, pasien kamar 312 sudah sadar. Demamnya turun," lapor seorang perawat muda sambil menyamakan langkah. "Bagus. Tolong pantau ulang tiap dua jam," jawab Anasera tanpa berhenti berjalan. Rutinitasnya mengalir seperti napas: memeriksa pasien, menenangkan orang tua yang cemas, tersenyum pada anak-anak yang takut jarum suntik. Ia tahu caranya membuat mereka merasa aman-dengan suara lembut, dengan cerita kecil, dengan kesabaran yang telah ditempa bertahun-tahun. Namun pagi itu berubah ketika alarm darurat terdengar singkat di ujung lorong. "Korban kecelakaan lalu lintas, anak perempuan usia sekitar sepuluh tahun," seru petugas IGD yang berlari mendekat. "Trauma perut. Tekanan darah turun." Anasera berbalik cepat. "Bawa ke ruang observasi anak. Aku ikut." Di ruang itu, seorang anak SD terbaring pucat, seragamnya masih ternoda darah kering. Ibunya menangis tertahan di sudut, sementara monitor berdetak cepat. Anasera memeriksa dengan cekatan. "Ada tanda perdarahan internal. Kita perlu USG cepat." Hasilnya membuat napasnya tertahan sesaat. "Kita butuh operasi segera," katanya tegas. "Panggil dokter bedah." Pintu geser terbuka. Seorang pria masuk dengan langkah mantap, jas bedah masih terbuka, wajahnya serius-dan begitu tak asing. Anasera terpaku sepersekian detik. Pria itu juga berhenti. Matanya menatap Anasera, lalu melembut oleh pengenalan yang tak terduga. "Dokter…," ucapnya pelan, seolah ragu. "Semalam," kata Anasera tanpa sadar, lalu menggeleng kecil. "Maksud saya- selamat pagi. Saya Anasera, dokter anak." Rai Adhinatha mengangguk. "Rai. Dokter bedah." Nada suaranya profesional, tapi ada bayangan lelah yang belum sepenuhnya hilang dari matanya. Anasera segera kembali fokus. "Pasien trauma abdomen. USG menunjukkan kemungkinan ruptur limpa. Kondisinya tidak stabil." Rai mendekat ke tempat tidur pasien, memeriksa cepat. "Kita bawa ke OK sekarang. Saya ambil alih." Ibu si anak menangis makin keras. Anasera meraih tangannya. "Bu, kami akan melakukan yang terbaik. Tolong percaya." Rai menoleh pada Anasera. "Dok, ikut sampai pra-operasi?" "Tentu." Mereka berjalan berdampingan mendorong brankar. Di lorong yang kembali riuh, suara roda bergesek lantai, Rai berkata pelan, "Terima kasih… atas tadi malam. Tidak semua orang memilih diam." Anasera menatap lurus ke depan. "Kadang diam lebih sopan daripada menambah luka." Rai tersenyum tipis- senyum yang singkat, tapi tulus. "Saya tidak menyangka bertemu lagi secepat ini." "Rumah sakit memang suka mempertemukan orang dengan cara yang tak bisa dipilih," jawab Anasera. Di depan ruang operasi, mereka berhenti. Rai mengenakan sarung tangan, wajahnya kembali setegas baja. "Saya akan jaga dia." Anasera mengangguk. "Saya tunggu di luar. Kabari saya apa pun yang terjadi." Pintu ruang operasi tertutup. Anasera berdiri sejenak, menghela napas panjang. Di balik kesibukan pagi itu, ada sesuatu yang baru saja dimulai-bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan kepercayaan yang lahir di tengah kepanikan dan tanggung jawab. ~~~ Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Anasera yang sejak tadi berdiri tak jauh dari bangku tunggu refleks menegakkan punggungnya. Di sampingnya, ibu si anak yang sedari tadi memeluk tas kecil di dadanya tersentak, lalu berdiri dengan napas gemetar. Pintu ruang operasi terbuka perlahan. Rai Adhinatha melangkah keluar dengan penutup kepala masih terpasang, masker diturunkan hingga dagunya. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya tenang- pertanda yang paling dinanti. "Operasinya berjalan lancar," ucap Rai dengan suara mantap. Ibu itu menutup mulutnya, air mata jatuh begitu saja. "Syukurlah… terima kasih, Dok… terima kasih…" Tubuhnya melemah, hampir kehilangan keseimbangan. Anasera sigap menopang lengannya. "Bu, tarik napas pelan-pelan. Anak ibu kuat. Sekarang dia sedang kami observasi di ruang pemulihan." Rai melanjutkan dengan nada profesional, namun hangat. "Perdarahan sudah kami tangani. Kondisinya stabil. Beberapa jam ke depan akan kritis, tapi sejauh ini responsnya sangat baik." Ibu itu mengangguk berulang kali, menangis sambil tersenyum. "Terima kasih… terima kasih banyak…" Anasera menepuk bahunya lembut. “Ibu boleh ikut saya. Kita siapkan administrasi dan nanti saya jelaskan perawatan lanjutan.” Ketika ibu si anak digiring perawat ke arah lain, koridor kembali menyisakan keheningan yang canggung. Anasera dan Rai berdiri berhadapan, dipisahkan jarak satu langkah- cukup dekat untuk saling melihat jelas kelelahan masing-masing. "Anda hebat," kata Anasera lebih dulu, tanpa basa-basi. Rai tersenyum kecil. "Kita tim yang bagus. Kamu membuat keputusan cepat." "Itu karena aku percaya padamu," jawab Anasera jujur, lalu baru menyadari kata-katanya sendiri. Rai menatapnya sejenak, sorot matanya melunak. "Tidak banyak orang yang berkata begitu… apalagi setelah mengenalku dengan cara seperti semalam." Anasera menghela napas pelan. "Apa yang terjadi semalam bukan tentang kamu. Itu tentang seseorang yang belum siap menerima hidup orang lain." Rai terdiam, lalu mengangguk pelan. "Putriku juga sering bilang begitu. Dia lebih dewasa dari usianya." Ada keheningan singkat, namun tak terasa canggung. "Terima kasih sudah menunggu," lanjut Rai. "Biasanya aku sendirian setelah operasi panjang." Anasera tersenyum tipis. “Hari ini tidak.” Di ujung lorong, suara monitor kembali terdengar, langkah-langkah cepat berlalu-lalang. Namun di antara kesibukan rumah sakit itu, ada satu momen yang terasa utuh-ketenangan setelah badai, dan awal dari sesuatu yang belum mereka beri nama. ☘️☘️☘️ to be continueKEBETULAN YANG SEDERHANA ☘️☘️☘️ Pagi itu halaman sekolah sudah mulai lengang ketika Anasera melangkah masuk melewati gerbang besi berwarna hijau tua. Bangunan sekolah tampak sederhana-dinding krem yang sedikit memudar, jendela-jendela lebar dengan teralis putih, serta papan nama sekolah yang berdiri tanpa kesan mewah. Ini bukan sekolah internasional dengan gedung tinggi dan fasilitas berkilau seperti sekolah Helena dulu, melainkan sekolah biasa yang cukup difavoritkan di kawasan tersebut. Sekolah dengan reputasi baik karena kedisiplinan dan tenaga pengajarnya. Langkah Anasera terhenti sejenak di depan ruang guru. Di bangku kayu panjang dekat pintu, seorang siswi berseragam putih biru duduk tertunduk. Rambutnya diikat dua, bahunya sedikit gemetar. Irene. Anasera segera menghampiri dan berjongkok di hadapan keponakannya. Ada bekas kemerahan di sudut bibir Irene, membuat dada Anasera mengeras. Kakaknya meneleponnya pagi-pagi dengan nada panik- ibu Irene tak bisa datang ke sekolah ka
AKU CAPEK, YAH! ☘️☘️☘️ Tepat pukul setengah sembilan malam, Rai Adhinatha berdiri di tengah apartemennya yang lengang. Lampu ruang tamu menyala temaram, memantulkan bayangan furnitur yang rapi namun terasa dingin. Tidak ada suara halaman buku yang dibalik, tidak ada sosok Helena yang biasanya duduk di sofa dengan seragam rumah, menekuk kaki sambil belajar atau sekadar menatap layar ponsel. Malam ini, apartemen itu seperti ruang kosong yang menelan napasnya sendiri. Rai meletakkan tas kerjanya di dekat pintu. Pandangannya tertambat pada sof- tempat yang kini hanya menyisakan bantal-bantal tersusun rapi. Ada rasa sesak yang merambat pelan di dadanya. Bersalah. Kata itu berputar-putar, tak menemukan jalan keluar. Ia menyadari betapa sering ia hadir sebagai tubuh, bukan sebagai telinga. Betapa jarang ia bertanya, betapa sering ia menghakimi diam-diam. Tangannya meraih ponsel di atas meja. Jemarinya ragu sejenak sebelum menekan nama Helena. Nada panggil terdengar, satu, dua, tiga. Rai
BAGAIMANA CARANYA? ☘️☘️☘️ Malam turun perlahan di jantung perkotaan, sekitar pukul tujuh. Lampu-lampu jalan menyala berderet, memantul di aspal yang masih menyimpan panas siang hari. Klakson kendaraan bersahutan, bercampur dengan dengung mesin dan langkah-langkah orang yang keluar masuk gedung perkantoran, seolah kota tak pernah benar-benar memberi jeda untuk bernapas. Di salah satu toserba yang buka dua puluh empat jam, Rai Adhinatha duduk sendirian di kursi plastik dekat rak minuman. Sebuah mie instan cup mengepul tipis di hadapannya. Uap hangat itu naik, lalu menghilang, tak berbeda jauh dari pikirannya yang terasa kosong. Sendok plastik di tangannya bergerak lambat, lebih sering terhenti di udara daripada benar-benar menyuapkan mie ke mulut. Tatapannya menerawang, menembus dinding kaca toserba, memandangi lalu lintas malam tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu hal: Helena. Bagaimana caranya ia bisa memahami putrinya sendiri? Siang tadi, telepon d
AYAH TIDAK MENGERTI ☘️☘️☘️ Pintu ruang BK SMPN I Harapan terbuka perlahan setelah Bu Yasmine, wali kelas tiga, memberi isyarat agar Rai masuk. Aroma khas ruangan sekolah- campuran kertas, kayu tua, dan pendingin ruangan yang bekerja setengah hati- menyambut langkah pria itu. Rai Adhinatha menghentikan langkahnya sesaat di ambang pintu. Di dalam, Helena telah duduk lebih dulu. Gadis itu menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Seragam sekolahnya tampak sedikit acak-acakan, namun bahunya tegar seolah tidak terjadi sesuatu. Di hadapannya duduk seorang guru BK laki-laki paruh baya, rambutnya mulai memutih di sisi pelipis. Sebuah kacamata bertengger di hidungnya, namun sorot matanya tetap tajam- tegas, terbiasa membaca kegelisahan murid-murid yang duduk di kursi itu. "Silakan, Pak Rai," ucap Bu Yasmine singkat sebelum menutup pintu dari luar. "Silakan, Pak Rai," ucap Bu Yasmine singkat sebelum menutup pintu dari luar. Suasana menjadi canggung seketika. Rai mel
PANGGILAN DARI SEKOLAH ☘️☘️☘️ Lampu ruang operasi menyala putih menyilaukan, memantul pada permukaan baja dan instrumen bedah yang tersusun rapi. Suara monitor jantung berdetak stabil, berpacu dengan napas mesin anestesi. Operasi sudah berjalan hampir satu jam ketika Rai Adhinatha menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Klem," ucap Rai tegas, tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan operasi. Namun darah di area perut pasien justru tampak lebih banyak dari seharusnya. Bukan semburan, melainkan rembesan halus yang tak kunjung berhenti, membuat kasa cepat menggelap. Alis Rai mengerut. "Tekanan darah?" tanyanya. "Masih dalam batas aman, Dok," jawab perawat anestesi, meski suaranya terdengar ragu. Rai berhenti sejenak. Tatapannya beralih ke monitor suhu tubuh pasien. Angkanya turun perlahan- terlalu perlahan untuk disadari, tapi cukup untuk membuat pembekuan darah terganggu. "Suhu pasien berapa?" suara Rai kini lebih rendah, namun tajam. Dokter magang yang bertugas mengawasi ba
PANGGILAN ☘️☘️☘️ Tepat pukul setengah empat sore, suasana ruang kerja Anasera terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari sore menembus jendela, jatuh lembut di atas meja dan menyentuh layar ponsel yang kini berada di genggamannya. Ia menatap nama Rai Adhinatha di layar cukup lama, seolah menimbang-nimbang sesuatu, sebelum akhirnya jempolnya bergerak pelan. { Dokter Rai, maaf mengganggu. Sore ini… apakah Anda sedang sibuk?} Pesan itu terkirim. Anasera menghela napas kecil, lalu menunggu. Detik-detik berjalan lebih lambat dari biasanya, hingga ponselnya bergetar. {Tidak sama sekali. Jadwal saya kosong sampai malam. Ada apa?} Sudut bibir Anasera terangkat tipis. Ia melirik ke arah meja kerjanya, tempat selembar kertas bergambar capung itu tersimpan rapi. {Saya ingin memberikan sesuatu. Hadiah dari Naveen untuk Anda. Katanya, ini penting.} Balasan dari Rai datang tak lama kemudian, seakan pria itu memang tengah menunggu. {Kalau begitu… bagaimana kalau kita bertem







