LOGIN
“Yura, kamu dan tim duluan aja ke Bandara. Aku mau ke apartemen Leo dulu,” ucap Ella melalui sambungan telepon kepada menejernya.
“Hah? Harus banget malam ini? Ga bisa nunggu balik Paris aja?” balas Yura sedikit emosi melihat jalan pikiran model yang dia handle. ”Engga! Harus hari ini, bentar aja kok. Janji bakal sampai Bandara tepat waktu,” ucap Ella memelas. ”Baiklah. Kabari aku kalau sudah sampai,” ucap Yura mengalah, lalu segera mengajak timnya menuju Bandara untuk menghadiri acar Paris Fashion Week. Senyum Ella merekah saat sampai di gedung apartemen. Sebuah lensa kamera terbaru sudah berada digenggamannya sebagai kado anniversary ke lima tahun hubungannya dengan Leo. Dia sengaja singgah sebentar untuk memberikan kejutan sebelum terbang menuju Paris demi merayakan hari jadi mereka. ”Loh? Kenapa ga kekunci?” ucap Ella pelan ketika mendapati pintu apartemen Leo tidak terkunci. Tatapan matanya langsung beralih ke bagian bawah pintu. Perlahan Ella berjongkok untuk memastikan benda apa yang mengganjal pintu apartemen. ”Sepatu hills?” tanyanya di dalam hati sembari memegang sepatu hills berwarna merah. Pikiran buruk langsung merasuki pikiran Ella. Hatinya menjadi gelisah dan rasa penasaran dengan siapa Leo saat ini membuatnya memberanikan diri masuk ke dalam apartemen. Langkah Ella terhenti saat mendapati pakaian laki-laki dan perempuan yang sudah berserakan di lantai lorong pintu masuk apartemen. Napasnya tercekik melihat situasi yang tidak pernah dia bayangkan. Sebuah adegan ranjang dari laki-laki yang dia cintai bersama dengan perempuan yang selama ini dia anggap sahabat. ”Tamara? Kenapa?” batinnya pilu. Ella berusaha melawan tubuhnya yang bergetar. Tangannya merogoh ponsel di saku. Dia segera merekam adegan panas yang sedang dinikmati oleh Leo dan Tamara, mereka berdua tidak menyadari kehadiran Ella karena telah dikuasai nafsu dan kelewat mabuk. “Menjijikkan!” maki Ella di dalam hatinya. Setelah merekam selama satu menit, Ella segera melangkah keluar, pergi sejauh-jauhnya dari apartemen Leo. Dia segera memasang masker hitam dan topi hitam untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis. ”Jalan, Pak,” pinta Ella kepada supir taksi. ”Tujuannya ke mana, Mba?” Ella diam sejenak, pandangannya menerawang ke luar jendela mobil. Dia mengambil napas pelan untuk menenangkan diri. “Ke Bandara, Pak,” ucapnya putus asa. --- Selama di perjalanan menuju Paris kondisi Ella terlihat sangat muram. Dia tidak banyak berbicara dan memilih tidur di pesawat. Hal itu menjadi tanda tanya bagi menejer dan anggota tim karena sebelumnya dia yang paling semangat karena terpilih menjadi model dalam peragaan brand Louis Vuitton pada acara Paris Fashion Week. Namun, mereka memilih untuk diam, berniat memberikan waktu tenang kepada Ella. Selama di Paris Ella sibuk melakukan pemotretan untuk majalah Louis Vuitton. Kesibukannya cukup membantu mengalihkan pikiran dari bayangan adegan ranjang Leo dan Tamara. ”Nice pose, Ell,” puji fotografer kepada Ella yang sedang lihai berpose di depan kamera. Ella tersenyum hangat. “Thanks Kevin,” ucapnya, lalu melangkah menuju meja rias. ”Setelah ini kita ke gedung L’Etoile du Nord untuk persiapan catwalk nanti malam,” ucap Yura menjelaskan skedul hari terakhir Ella di Paris. Ella mengangguk pelan, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah oval dengan bentuk mata almond miliknya sedang dirias dengan sentuhan western, membuat tatapannya terlihat tajam dan wajahnya menjadi lebih tegas. ”Kamu bisa Ella! Kamu harus bersinar lebih terang lagi!” ucap Ella di dalam hati, menyemangati diri yang sedang rapuh. Sore telah tiba, suasana di luar gedung L’Etoile du Nord terlihat ramai dengan para awak media. Sorakan para penggemar dari berbagai kalangan selebriti menggema di setiap sudut. Jepretan serta flash kamera terlihat sibuk mengabadikan kedatangan para aktor, aktris, penyanyi, CEO brand fashion terkenal serta kolektor fashion dari berbagai penjuru dunia. Peragaan busana brand Louis Vuitton terlaksanakan dengan sangat glamor dan sukses. Para model yang berpartisipasi dipuji sangat profesional dan elegan dengan daya tarik masing-masing. Salah satu model yang menarik banyak perhatian adalah Ella, mewakili darah Asia Tenggara yang kental dengan pesona eksotis. ”Ell! Berita besar!” Suara teriakan Yura sudah terdengar dari luar ruang ganti busana. Beberapa model melirik Ella, sedangkan yang dilirik hanya bisa tersenyum segan karena teriakan menejernya. Kening Ella mengerut dan matanya memberi kode kepada Yura agar lebih kalem. ”Sorry,” ucap Yura pelan. Perempuan yang berusia sama dengan Ella itu tidak bisa menyembunyikan rasa semangatnya setelah diajak berbicara oleh Austin, seorang asisten pribadi dari CEO brand fashion terkenal di Indonesia. ”Ada apa?” tanya Ella penasaran. ”Kamu harus banget iyain tawaran bertemu CEO kali ini,” jawab Yura semangat. ”Yakin, nih? Nanti CEO aneh-aneh kaya sebelumnya lagi,” ucap Ella curiga. “Katanya buat kerja sama, eh ujung-ujungnya malah ngajak ke hotel,” lanjutnya kesal. ”Yakin banget! Yang ngajak kamu ketemu itu Kenny!” jelas Yura lebih semangat dari sebelumnya. Kening Ella kembali berkerut, berusaha mencari tahu informasi tentang siapa Kenny di dalam pikirannya. “Kenny?” ”Iya, CEO brand Jelita yang lagi menguasai pasar asia itu,” jelas Yura. ”A ... Dia!” ucap Ella sembari menjentikkan jarinya. ”Ini kesempatan besar kamu Ell, dan tau ga? Dia juga calon tunangan Tamara, jadi kamu bisa manfaatin itu buat negosiasi. Ya ... embel-embel sahabat dekat calonnya lah,” ucap Yura menggebu-gebu. Ella diam sejenak mendengar informasi dari Yura. Hitungan detik hatinya ngilu saat mendengar nama Tamara, tetapi dalam hitungan detik juga sebuah keinginan balas dendam kepada sahabatnya itu mencul di pikiran Ella. ”Ya ... kamu benar, ini kesempatan besar,” ucap Ella perlahan, senyum tipis tergores di bibirnya."Terimakasih atas kerjasamanya hari ini. Sampai jumpa besok," ucap Dita mengakhiri pemotretan hari pertama.Para model dan seluruh kru sedang bersiap-siap untuk pulang dari lokasi pemotretan. Termasuk Ella yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Celana jeans dipadukan dengan baju off shoulder bewarna broken white. Rambutnya diikat halfbun, memberikan kesan dandy."Ell, boleh bicara sebentar?" Suara bariton yang sudah bertahun-tahun Ella dengar berhasil menghentikan langkahnya saat akan berbelok dari ruang ganti menuju pintu lift. Dia berbalik badan, dihadapannya sudah berdiri Leo dengan raut wajah lesuh."Silakan," ucap Ella ketus. Raut wajahnya datar seperti tidak tertarik untuk mengobrol dengan lelaki dihadapannya.Leo tersenyum kecut. "Aku ga pernah nyangka bakal liat ekspresi seperti itu dari kamu, Ell," ucapnya berusaha terdengar pilu."Cuma mau bilang itu?" respon Ella sinis. "Kalau gitu aku cabut dulu, ga ada waktu buat obrolin hal-hal ga penting.
Ruangan pemotretan langsung heboh setelah Kenny menjawab pertanyaan Dita. Sedangkan Ella terlihat bingung, kedua alisnya menyatu, kepalanya sedikit bergerak sebagai kode bertanya maksud dari ucapan Kenny barusan.Sebuah kedipan mata sebelah kanan, disusul senyum manis menjadi jawaban dari kode Ella. Tangannya mengangkat cup holder yang berisi jus segar."Aku bawain kamu dan kru jus. Lagi istirahat kan? Yuk minum dulu!" ucap Kenny hangat."Wih! Asik, kita juga dapat nih!" seru kru pemotretan serentak. Ella tersenyum hangat. Kakinya melangkah ringan ke arah Kenny, mengabaikan Leo dan Tamara yang terlihat jengkel ketika pusat perhatian tidak lagi kepada mereka."Orange jus?" tanya Kenny, memastikan informasi yang dia dapat dari Yura tentang jus kesukaan Ella memang benar."Of course," jawab Ella hangat, tangannya mengambil jus yang disodorkan oleh Kenny."Kamu kenapa bisa tau jus favorit aku?" tanya Ella setelah meminum jusnya."Dikasih tau menejer kamu," jawab Kenny santai, dia juga m
"Selamat pagi! Saya Dion, produser yang memimpin proyek photoshoot dan pembuatan video iklan untuk brand GlowUp kali ini." Briefing sebelum syuting dibuka oleh seorang laki-laki berusia dua puluh delapan tahun dengan stelan kemeja flanel hitam dan dalaman baju kaos krem, bawahannya celana hitam dilengkapi dengan sepatu sport bewarna campuran coklat dan krem. Dia tersenyum hangat kepada anggota tim yang hadir dan tiga orang model yang direkrut oleh tim GlowUp. "Untuk keseluruhan skedul proses syuting kita ke depan akan dijelaskan oleh asisten produser. Silakan, Dita," ucap Dion, lalu memberikan kesempatan asisten produser mengambil alih brifing. "Halo semua! Senang akhirnya kita bisa berkumpul untuk proyek kali ini, meski minus Mas Ryan yang biasanya jadi fotografer tim kita, tapi dia ga bisa karena harus ngerjain proyek lain," sapa Dita hangat. "Yah ... sayang banget, padahal Mas Ryan salah satu fotografer favorit aku," ucap salah satu model berkulit kuning langsat. "Iya lag
Sudah tiga puluh menit Ella menatap layar ponselnya. Sebuah notifikasi "Panggilan Tak Terjawab dari Leo" masih terpampang di sana. Dia mengambil napas berat untuk kesekian kalinya. Pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan, kenapa Leo menelponnya kemarin? Apakah dia akan siap jika kembali bertemu dengan laki-laki itu? Seandainya mereka benar-benar bertemu, apa yang akan Leo lakukan kepadanya? Lagi-lagi Ella kembali mengambil napas berat. "Ell?" Panggilan dari Yura mengalihkan pandangan Ella. Sorot matanya sayu dan lelah."Iya?" balas Ella dengan suara yang pelan tak bertenaga."Skedul photoshoot dan video iklan buat brand GlowUp udah keluar," jelas Yura."Oh ya? Kapan mulainya dan berapa lama?" tanya Ella dengan rasa cemas di dalam dirinya."Untuk photoshoot dimulai besok dan akan dilakukan selama tiga hari. Sedangkan video iklan minggu depan selama seminggu," jelas Yura. "Hmm, oke," balas Ella lesuh. Dia segera bersandar di sandaran sofa, lalu menutup wajahnya dengan majalah.Yur
Leo memasukkan kombinasi password di pintu apartemen milik Tamara. Namun yang berbunyi alarm penolakan bahwa kombinasi password yang dimasukkan salah. "Sial! Sejak kapan passwordnya diganti!" umpat Leo, lalu tangannya menggedor pintu apartemen dengan kasar. Tamara bergegas membukakan pintu. "Kamu kenapa sih? Sabar bentar," ucapnya sedikit terbawa emosi. Wajah Leo sudah merah padam. Dia masuk tanpa memandang Tamara, lalu berjalan ke arah sofa dan melempar tas ransel berisi perlengkapan forografi miliknya ke atas sofa. "Kamu yang kenapa?! Ga bisa nahan diri sebentar! Jelas berita tentang putusnya aku dan Ella masih hangat. Bisa-bisanya kamu buat rusuh di agensi!" bentak Leo penuh emosi. Kedua tangannya menggantung di pinggang. "Iya aku salah, tapi--" "Tapi apa?! Gara-gara video kamu yang ngaku jadi orang ketiga bikin aku dipecat hari ini!" lanjut Leo meledak-ledak.Melihat emosi Leo yang meledak-ledak membuat Tamara kehilangan akal. Dia tidak bisa membiarkan Leo ikut membencinya d
Ella keluar dari mobilnya di parkiran salah satu restoran Jepang yang terkenal di Jakarta. Dia bergegas masuk menuju seorang laki-laki yang sudah duduk menunggunya di salah satu meja."Hai! Maaf banget karena ngajak ketemuan mendadak," sapa Ella kepada Kenny yang mengenakan baju kaus bewarna hitam dengan bawahan celana abu-abu."Iya gapapa, sesuai perjanjian aku selalu siap sedia kapanpun kamu butuh," balas Kenny santai.Ella tersenyum manis mendengar jawaban Kenny. Tiba-tiba laki-laki itu berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah Ella. Perlahan kursi yang akan diduduki Ella sudah ditarik ke belakang oleh Kenny."Silakan duduk," ucap Kenny lembut."Terimakasih," balas Ella hangat. "Siapa sangka CEO yang terkenal dingin seperti kulkas dua pintu bisa melakukan hal romantis begini." Lanjutnya memuji sekaligus meledek Kenny.Suara tawa Kenny menyembur mendengar ucapan Ella. "Ya, namanya juga usaha. Biar orang-orang liat kalau model satu ini sedang diperjuangkan oleh CEO Jelita," jawabny







