LOGINAvertissement : Ce roman contient des scènes de violences, de tueries, de violes et d'abus sous différentes formes.... Eva Thorne, maltraité depuis son enfance, par un père qui la déteste, la torture et qui trouve son existence étant une malédiction infâmes, jugé que celle-ci était un fardeau et qu'elle devrait lui rendre tout ce qu'il a fait pour elle, il l'a vendu aux enchères a un vieux riche homme d'affaires pour 1 millions. Eva vivait un enfer, violé, maltraité et abusé par son acheteur, le pire, il la forçait à se prostituer et à satisfaire d'autres hommes, puis ce fameux jour, dans un couloir sombre, il heurta cet homme au visage froid et au regard féroce, qui ira tout chamboulé. Il la veut à tout prix, il pourrait s'en approprié avec force, rien ne peut lui résister, il peut tout posséder dans un claquement doigts, il veut la posséder, et fera tout pour en parvenir. Elle a été racheté par cet homme, son acheteur avait peut-être changé, mais son destin était toujours la même, être la propriété de quelqu'un, l'objet sexuel d'un homme riche, son esclave. Elle apprend ensuite que cet homme n'était nulle autre que le roi de la mafia Russe, Malcovich Yasikov, l'homme le plus puissant et le plus cruel qui soit, rien ne lui échappe, il veut tout sur son contrôle. Va-t-elle survivre à son destin ? que se passera-t-il lorsqu'elle deviendra l'obsession de ce mafia? et que plusieurs obstacles commenceront à faire leurs apparitions ? Entre l'amour et la haine il n'y a qu'un seul pas à franchir!!!
View More"Aku talak kamu, Rania! Ayo keluar sekarang. Biar keluarga kita menjadi saksi talakku ini!" ucap Mas Gaza begitu ketus saat aku baru saja melipat mukena. Hatiku berdebar tak karuan mendengar ucapannya.
Apakah detik ini aku sedang bermimpi? Mengapa tiba-tiba Mas Gaza menjatuhkan talaknya padaku, padahal baru tadi pagi dia mengucapkan qabul itu? Apa yang membuatnya berubah sedrastis ini? Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa setelah membaca pesan dari ponselnya itu dia langsung menjatuhkan talaknya? Dia dapat pesan apa dan dari siapa?
Seharusnya, malam pertama adalah malam yang membahagiakan bagi setiap pengantin, siapa pun itu. Malam penuh warna atas bersatunya dua hati yang saling mencintai. Apalagi pernikahan ini bukanlah pernikahan akibat sebuah perjodohan, melainkan pernikahan atas dasar cinta, suka sama suka dan komitmen untuk saling mengisi dan menjaga. Sebuah mimpi bersama demi menjalankan separuh agama yang diridhoiNya.
Namun apa daya, malam ini justru menjadi malam terburuk dalam hidupku. Malam kelam yang bahkan sekadar membayangkannya saja aku tak mampu. Aku sendiri tak paham kenapa Mas Gaza tiba-tiba begitu jijik menatapku. Dia bahkan menamparku dua kalian tanpa kutahu penyebabnya. Teganya dia. Tak kusangka dia bisa sekasar ini tanpa bertanya padaku terlebih dahulu apa permasalahannya. Kenapa dia bertindak sesukanya tanpa meberiku kesempatan untuk bicara.
Air mataku tumpah membanjiri pipi. Sesak ini semakin menjadi apalagi saat Mas Gaza dengan tega mempermalukan aku di depan banyak orang, di hadapan keluarga besar kami yang masih asyik bercengkerama di ruang keluarga. Seolah aku hanya sebutir barang menjijikkan yang layak dimasukkan dalam tong sampah. Dia menarikku paksa dan mendorongku kasar. Tega sekali memperlakukanku seperti itu. Lagi-lagi tanpa kutahu apa salahku.
Saat ibu dan kakak lelakiku masih asyik bercengkerama di ruang keluarga bersama umi dan abah, di saat para saudara masih duduk lesehan sambil menikmati hidangan, saat itu juga Mas Gaza keluar kamar dengan murka. Menarik lenganku begitu kasar lalu mendorongku tersungkur begitu saja di depan mereka semua.
"Gaza! Apa-apaan kamu?! Bisa-bisanya memperlakukan Rania seperti ini. Kamu amnesia siapa dia? Dia baru saja bergelar menjadi istrimu tadi pagi!" bentak Abah dengan sorot mata penuh amarah. Abah pasti tak pernah menyangka jika anak lelakinya itu bisa sekasar ini pada istrinya sendiri. Ah, istri? Bukankah aku sudah ditalaknya tadi?
"Kamu kenapa, Za? Kesurupan?" Bang Alif ikut menimpali. Dia membantuku berdiri lalu memelukku. Mengusap kepalaku yang masih tertutup hijab. Mas Alif berusaha memberi perlindungan untukku dari amukan Mas Gaza yang mungkin saja akan dilakukannya kembali. Setelah itu, Mas Alif memapahku perlahan menuju sofa di samping Ummi.
"Gaza melakukan semua ini juga ada sebabnya, Bah. Gaza sangat mencintai Rania, karena itu pula Gaza mau menikahinya lebih dulu sebelum melanjutkan S2 ke Kairo. Tapi apa? Dia justru mempermalukan Gaza di depan semua orang! Istri macam apa ini?!" Pekik Mas Gaza lagi. Dia menunjukku dengan tatapan tajam. Kemarahannya seolah mencapai puncak tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Air mataku terus mengalir deras. Dadaku terasa semakin sesak. Perih sekali rasanya. Ingin aku bertanya apa salahku, tapi lidah ini terasa begitu kelu. Hanya bulir bening yang terus mengalir di kedua pipiku.
Semua orang di ruangan ini pun menatapku penuh tanda tanya. Ummi bahkan menciumi pucuk kepalaku sedari tadi. Seolah minta maaf atas perlakuan anaknya yang semena- mena. Sedangkan ibu masih duduk terpaku di samping Mas Alif, menangis tersedu di pundak anak sulungnya sembari menatapku iba. Ibu mana yang tak terluka hatinya melihat anak perempuan satu-satunya dipermalukan seperti ini. Bahkan tepat di hari pertama pernikahannya.
"Mulai malam ini, Gaza talak Rania, Bah. Gaza nggak sudi menjadi suaminya. Mau ditaruh di mana muka ini jika teman-teman Gaza tahu siapa dia. Sekarang, biar dia pulang bersama keluarganya dan lupakan saja pernikahan yang baru saja digelar pagi tadi!"
"Astaghfirullah ... Gaza!"
Semua yang hadir berteriak bersamaan. Ibuku sampai jatuh pingsan setelah mendengar talak yang keluar dari bibir Mas Gaza. Tega sekali dia melakukan ini semua padaku, di saat keluarga besar masih menikmati suasana bahagia atas pernikahanku. Di saat aku baru saja sujud syukur karena DIA mengabulkan doa-doaku selama ini, untuk bersanding dengan orang yang kucintai pun mencintaiku.
Kupikir, mulai detik ini aku akan menjadi salah satu perempuan paling bahagia di dunia. Menjadi istri seorang Muhammad Gaza Ramadhan. Laki-laki tampan, beriman dan cukup mapan. Bahkan aku sangat bersyukur akhirnya dia lebih memilih aku yang biasa saja dibandingkan perempuan-perempuan lain di luar sana yang menurutku jauh lebih sempurna. Tapi apa? Impianku itu musnah seketika. Bahkan kini hatiku remuk dan hancur berkeping-keping dengan keegoisannya.
"Apa-apaan kamu, Za!" Abah menampar pipi Mas Gaza dua kali saking jengkelnya.
"Abah nggak pernah mengajarimu seceroboh ini, Za. Ucapan lelaki yang sudah bergelar menjadi suami itu harus benar-benar dijaga, bukan seenaknya. Jangan pernah mengambil keputusan di saat kepala mengebul, jika kamu tak ingin menyesal setelahnya. Tenangkan hati, berpikir jernih, salat istikharah baru mengambil keputusan dengan benar, apalagi menyangkut talak!" Bentakan Abah kembali kudengar.
Namun Mas Gaza seolah acuh. Dia tak peduli dengan omelan abah. Bahkan saat Ummi ikut menasehati, hati Mas Gaza seolah masih penuh dengan benci. Dia tetap bersikukuh tak ingin menjadikanku sebagai istri. Keputusan Mas Gaza untuk menalakku tak bisa ditarik kembali.
Kebahagiaanku sebagai istri nyatanya tak sampai sehari. Hanya beberapa jam saja, setelahnya justru hati ini benar-benar patah karenanya. Aku yang bahkan belum sempat merasakan malam indah bersamanya, harus berlapang dada untuk pergi selamanya. Menanggalkan semua mimpi yang pernah dirajut bersama.
"Katakan pada abah, pada kami semua. Sebesar apa kesalahan Rania sampai kamu tega menalak dia di malam pertama kalian!" Mas Gaza menatapku tajam. Aku yang masih tenggelam di pangkuan umi.
Hampir semua orang yang ada di ruangan ini menitikkan air mata melihatku begitu terluka. Mungkin ikut merasakan bagaimana sesak dadaku saat ini. Saat yang tak pernah kubayangkan akan terjadi dalam malam pertama pernikahan kami. Malam yang seharusnya diisi dengan tawa bahagia justru berganti dengan air mata luka.
"Kamu mau cerita sendiri atau aku yang menceritakan, Ran!" Mas Gaza berucap kasar sembari melotot lebar.
Perih sekali rasanya. Baru kali ini kudengar Mas Gaza sekasar itu padaku. Dia yang biasanya begitu manis dan sopan, tak kusangka bisa bersikap bar-bar.
"Ran, ceritakan pada abah dan umi, juga pada semua yang masih ada di sini. Biar semuanya jelas. Tak akan ada asap kalau tak ada api!" bentak Mas Gaza lagi. Dia benar- benar dirasuki emosi. Giginya bergemeletuk menahan geram bahkan rahangnya tampak mengeras menatapku begitu tajam.
***
-Je te présente ton premier client ma chérie... avait déclaré mon bourreau, que j'étais littéralement sur le choc, qu'est-ce qu'il veut dire par mon premier client ? est-ce que cet homme va aussi utiliser mon corps tout comme lui l'avait fait, va t-il me prendre de force ? vais-je encore être souillé par un vieux dégoûtant et sans scrupule ?-Mon cher ami! je dois dire pour la première fois que tu m'as obtenu une perle rare, elle a l'air si appétissante... a ricané l'autre homme.-Calme-toi un peu mon cher Carlo! ne t'emballe pas trop vite, ce ne sera pas exclusif, ce n'est que pour quelques jours, le temps de la dresser, tu sais, ma chérie est un peu rebelle, je veux que tu l'apprenne quelques petits trucs, tu peux même employer tes petites méthodes habituelle s'il résiste, mais ne va pas trop fort, car elle est spéciale.... de quoi sont-ils en train de parler? je ne comprenais un traître mot de ce qu'ils disaient mais j'avais un mauvais pressentiment, tout ça ne présageait rien de b
Lorsqu'on se retrouve dans l'obscurité, on a tendance à rechercher la lumière au bout de ce long tunnel obscur, même une toute petite éclats suffirait à ranimer l'espoir en nous, qui est synonyme de vie, mais dans mon cas c'était nettement différents, je suis cloîtré dans cette obscurité, je ne sais combien de temps. J'aimerais y rester pour toujours, je ne veux plus jamais voir la lumière du jour, je ne veux plus sentir la vie en moi, ainsi je m'échapperais de tout, de la douleur, de la souffrance constante, de la honte et de toute trace de cicatrice laissé par mon passé, qui vont me hanter à jamais.Je me retrouve perdu dans l'au-delà, je ne sais pas si c'est l'enfer ou le paradis, je ne sais pas non plus si je suis morte ou en vie, mais je souhaite tout simplement ne plus jamais vivre les mêmes traumatisme, je veux cesser d'être Eva Thorne, d'avoir un père qui me méprise, d'être vendu comme un objet, et être traité comme un animal. Là où je suis, j'avais la sentation d'être piqué
-Je vous promets que je ferai tout ce que vous voulez, mais je vous en supplie, ne me fais pas de mal.... ai-je supplié.-De mal tu dis? c'est plutôt du bien que je te ferai, Oh ma chérie ! Désolé de te décevoir ! c'est moi qui décide et qui impose des règles ici, tu n'as pas ton mot à dire, ça fait longtemps que j'avais envie de te baiser, tu me résistais, maintenant tu es tout à moi ! ...Cet homme se jetta sur moi, je le repousse instinctivement, et m'enfoui la seconde qui suit, j'atteins la porte, je l'ai poussé mais, c'était bloqué, je ne pouvais pas sortir, j'étais piégé avec lui à l'intérieur et personne ne pourra me venir en aide.-Qu'est-ce que tu croyais ma jolie, que tu pouvais m'échapper comme ça ?... Il s'avança en ma direction, j'ai reculé, n'ayant aucun issue possible, cet homme allait me prendre sans mon consentement, j'allais être marqué par cet animal, et je ne pourrais rien y faire, j'ai regardé à côté, il y avait une petite vase sur un meuble, je l'ai saisi, il co
Il m'emmena ensuite sur la piste, tout les regards étaient braqué sur nous, il a fait un signe de la main et la musique s'était arrêté.-Bonsoir à tous! j'espère que vous passez une agréable soirée, aujourd'hui est un jour spécial, j'ai fait de très bonnes affaires, j'ai l'honneur de vous présenter mon nouveau joyau que je viens tout juste de décrocher, elle m'a coûté une petite fortune, mais ça en valle la peine n'est-ce pas ?Ils acclamèrent tous, certains me dévisageaient avec leurs regards malsains, et d'autres gloussaient en me jetant de l'argent, j'avais la sensation d'être une bête de foire. Il y a trois jours de cela, si on m'avait dit que je me retrouverais dans cette situation, vendu et traiter comme un objet, je me moquerais sûrement de cette personne. J'avais une vie normale même si ce n'était pas parfaite, je m'efforçais à vivre avec le peu que j'avais, mais au moins j'étais libre, à présent je suis prisonnière à jamais, et tout mes rêves ont été brisés. Je croyais avoir






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.