LOGINLangkah Max tergesa menembus lorong rumah sakit. Wajahnya tegang, mata merah menahan emosi yang bergolak seperti badai. Bau antiseptik menusuk hidungnya, menyayat seperti kenyataan yang tak bisa ditolak.
Pintu kamar rawat terbuka perlahan. Di sana, Celine terbaring lemah dengan infus di tangan dan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya pucat, matanya sembab. Saat pandangan mereka bertemu, air mata langsung mengalir di pipi wanita itu. “Max, anak kita ... dia ... dia pergi, Max,” isaknya terputus-putus. “Aku tidak bisa menjaganya, aku ... aku gagal.” Max langsung memeluknya erat, mendekap Celine seolah jika ia cukup kuat, ia bisa mengembalikan waktu. “Jangan katakan itu, ini bukan salahmu ... bukan.” Tapi ia sendiri tak tahu kepada siapa kata-kata itu ditujukan. Pada Celine? Atau pada dirinya sendiri? Tangis Celine pecah di dadanya, mengguncang tubuh yang seharusnya ia lindungi dengan seluruh jiwanya. Max menutup mata rapat, berusaha menahan air matanya, tapi gagal. “Kita sudah menunggu anak ini sejak hari pertama pernikahan kita, Max,” Celine berbisik lirih, suaranya nyaris tak terdengar. “Tuhan memberinya sebentar, lalu merenggutnya dariku, dari kita.” Max mengecup keningnya, matanya basah. “Aku tahu ... aku tahu, Sayang. Aku juga kehilangan. Dunia terasa, hampa tanpanya.” Ia menarik nafas berat, berusaha menguatkan diri sebelum berbisik lirih, “Tapi kau masih bersamaku, dan itu satu-satunya alasan aku tidak ikut hancur sepenuhnya.” Celine menggeleng lemah. “Tapi aku tidak bisa memberi keturunan lagi, Max. Dokter bilang rahimku diangkat. Aku ... aku tidak bisa menjadi ibu.” Kalimat itu menghantam Max seperti palu godam. Napasnya tercekat. Dunia yang tadi sudah runtuh, kini seperti menguburnya hidup-hidup. Tangannya mencengkeram selimut putih itu kuat. “Tidak,” bisiknya pelan. “Tidak.” ulangnya, namun ia tahu itu kenyataan. Dan untuk sesaat, ia merasa seluruh dunianya telah dicabut darinya. Ia memeluk Celine lebih erat, mencoba memindahkan seluruh rasa sakitnya ke dalam dekapan itu. Tapi tak ada pelukan di dunia ini yang bisa menyembuhkan luka seperti itu. Di dalam hatinya, amarah yang menghitam mulai tumbuh. Pada Athena. Pada wanita yang kini ia yakini telah menghancurkan segalanya. Celine duduk bersandar di ranjang rumah sakit, wajahnya masih pucat namun matanya kini tak lagi sekadar sendu karena ada bara di sana. Bara yang tumbuh dari kehilangan, dari luka yang tak bisa diobati siapa pun. Max duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan istrinya erat. “Max,” suara Celine nyaris berbisik, namun dingin, “aku ingin membalas Athena atas semuanya. Atas apa yang dia perbuat padaku.” Max menatapnya, raut wajahnya keras, namun dia tetap diam, menunggu. “Aku kehilangan semuanya.” Suara Celine pecah. “Anak kita, harapan kita, masa depan kita. Hancur, Max. Semua hancur.” “Celine.” Max berbisik, menyentuh pipinya lembut. “Aku tidak bisa menjadi ibu.” Celine menoleh, tatapannya tajam menusuk. “Dan aku ingin dia merasakannya juga. Tapi lebih buruk. Jauh lebih buruk.” Max mengerutkan dahi, suara hatinya mulai bergetar. “Apa maksudmu?” Celine menarik napas dalam, lalu mengepalkan tangannya. “Aku tahu keluarga Gregory butuh penerus. Dan aku tidak bisa lagi memberikannya.” Ia menoleh padanya. “Hamili Athena. Buat dia mengandung anakmu. Tapi anak itu akan menjadi milikku.” Max menatapnya tak percaya. “Dia tidak akan pernah menggendongnya, tidak akan pernah menyusuinya, tidak akan pernah mendengarnya memanggil Ibu.” Suaranya bergetar karena amarah yang ia tekan begitu lama. “Aku ingin dia menyaksikan anak yang dia lahirkan tumbuh dalam pelukanku. Mencintaiku. Memanggilku ibu, sementara dia tidak punya siapa-siapa.” “Celine.” Max tampak goyah, untuk sesaat. Namun pelukan Celine menghentikannya. Ia bersandar di dada Max, berbisik dengan penuh luka dan kebencian, “Kau pernah bilang akan melakukan apa pun demi aku. Sekarang waktunya.” Max mengatup rahangnya. Di dadanya, amarah yang semula diarahkan pada takdir mulai menemukan bentuknya. Athena. Ia membelai rambut Celine dan berkata dengan dingin, “Kau tenang saja. Athena akan tahu artinya kehilangan. Bahkan sebelum sempat merasakan apa itu bahagia.” Celine tersenyum miring. Bukan senyum lembut yang dulu dikenalnya. Tapi senyum seorang wanita yang telah kehilangan segalanya dan ingin membuat orang lain kehilangan lebih banyak. Malam itu, di kamar rumah sakit yang sunyi, dua jiwa yang porak poranda bersatu untuk merancang neraka bagi seseorang yang bahkan belum tahu apa dosanya. * Langkah kaki para penjaga terdengar tergesa di koridor panjang rumah Gregory. Di antara mereka, Athena diseret pelan. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat seperti mayat. Nafasnya pendek-pendek, namun matanya tetap terbuka. Ia belum mati, tapi nyaris kehilangan segalanya. Ketika pintu besar ruang tamu terbuka, cahaya lampu gantung menyilaukan pandangannya. Di sana, duduklah Max dan Celine dengan penampilan rapi, angkuh, dan seakan tak pernah disentuh oleh luka. Celine menyilangkan kakinya, duduk tenang dengan jubah satin warna gading. Sementara Max berdiri di belakangnya, seperti raja yang tengah memutuskan nasib seorang budak. Athena jatuh terduduk di lantai. Tangannya menumpu tubuhnya yang nyaris ambruk. Ia mendongak, menatap wajah Max ... wajah yang dulu ia cintai, kini menjadi sosok paling menakutkan dalam hidupnya. Athena terjatuh di lantai marmer, lututnya menghantam keras. Tangannya menumpu tubuhnya yang nyaris ambruk, nafasnya tersengal. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya awut-awutan, dan seluruh tubuhnya bergetar karena trauma dan kedinginan yang belum hilang dari ruang bawah tanah. “Lama tidak bertemu,” ucap Max datar, seolah menyapa tamu tak diundang. “Ternyata kau masih hidup.” Athena memaksakan diri menegakkan tubuhnya. “Kau yang mengurungku di sana.” “Seharusnya aku membiarkanmu membusuk lebih lama di sana.” Mata Max dingin, penuh luka yang ia jadikan senjata. Athena memandangnya, berharap setitik pengampunan. Tapi tak ada. “Kau merenggut anak kami!” seru Celine, suaranya melengking penuh duka dan amarah. “Aku kehilangan bayiku karena kau!” Athena menangis. “Itu bukan salahku. Kau jatuh karena ulahmu sendiri.” Max melangkah pelan, lalu berdiri tepat di hadapan Athena. Ia menatapnya dalam-dalam, lalu berkata lirih namun kejam: “Kau akan membayarnya. Dengan tubuhmu. Dengan hidupmu.” Athena menggeleng cepat. “T-tidak.” “Kau akan mengandung anakku, Athena,” lanjut Max tajam. “Dan anak itu akan menjadi milik Celine. Bukan milikmu.” Dunia seperti berhenti berputar. “Apa maksudmu?” suara Athena tercekat. “Benar.” Celine berdiri, berjalan mendekat dan berlutut tepat di depan Athena. “Aku akan menjadi ibunya. Dan kau? Akan menjadi wadah. Tidak lebih dari itu. Bayi itu tidak akan mengenalmu. Tidak akan memanggilmu ibu. Tidak akan menyentuhmu.” Athena menggeleng lemah. “Tidak, itu tidak adil untukku apalagi aku tidak melakukan apa pun.” “Kau bisa menolak,” Max menyela tenang, lalu melemparkan satu berkas di lantai. “Tapi Hans akan berhenti bernapas saat ini juga.” Athena menatap map itu. Matanya membelalak saat melihat nama rumah sakit ayahnya di sana dan rincian medis tentang pengobatan yang hanya bisa dibayar oleh Gregory Group. “Tidak,” bisiknya pelan. “Aku telah mengambil alih semua saham sisa Harrington,” lanjut Max. “Satu kata dariku, dan warisan keluargamu akan tenggelam lebih dalam dari namamu yang sudah busuk.” Air mata Athena jatuh tanpa suara. “Pilihanmu sederhana,” Max berbisik di telinganya. “Kandungkan anakku, lalu serahkan. Atau melihat ayahmu mati, dan keluargamu hancur.” Athena terisak hebat. Tubuhnya tak sanggup menopang beban itu. Ia membungkuk, memeluk lututnya, menahan gemuruh sesak yang menghantam dari segala arah. “Aku mencintaimu, Max,” lirihnya, nyaris tak terdengar. “Kenapa ... kenapa kau lakukan ini padaku?” Max menatapnya. Dingin. Tidak ada belas kasih, hanya dendam dan kehilangan yang ia arahkan ke satu-satunya orang yang tak bersalah. “Karena aku tidak suka melihat hidupmu bahagia di atas penderitaan kami, terlebih kau hanyalah alat untuk balas dendam.” Kata-kata itu menusuk dada Athena lebih tajam dari sembilu. Dunianya runtuh. Detik itu juga. Ia menatap Max dengan mata merah dan berlinang, mencoba menemukan secercah kebenaran, harapan atau apa pun yang bisa ia pegang. Tapi tak ada. Yang berdiri di hadapannya kini bukan lagi suami yang pernah dia kagumi. Bukan laki-laki yang diam-diam dia doakan setiap malam. Yang berdiri di sana adalah iblis berwajah cinta. Athena terdiam, tubuhnya menggigil hebat. Bibirnya bergetar, menahan teriakan yang ingin keluar, tapi suara itu terperangkap di tenggorokan. Tenggelam bersama luka yang tak bisa ia tangisi lagi. “Katakan keputusanmu,” desak Celine pelan tapi tajam. Athena menunduk, memejamkan mata. Butuh waktu lama sebelum ia membuka suara. Ini adalah keputusan besar berisiko tinggi.Max masih berdiri tegak di tengah aula, posturnya sama sekali tidak menunjukkan tanda terdesak. Tatapannya justru tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Sorot mata itu membuat beberapa pemegang saham tanpa sadar menelan ludah.“Apa kau yakin stempel dan berkas itu asli?” tanya Max santai, seolah mereka sedang membicarakan kontrak kecil, bukan kepemilikan seluruh keluarga Gregory.Rosetta mendengus, dagunya terangkat penuh percaya diri. “Tentu saja. Aku tidak sebodoh itu membawa barang palsu ke hadapan semua orang.”Max terkekeh pelan. Suara tawanya pendek, namun sarat ejekan.“Kau memang licik,” ucapnya, lalu menatap Rosetta lurus-lurus, “tapi rupanya licik tidak selalu sejalan dengan cerdas.”Suasana aula langsung menegang. Beberapa orang saling berpandangan, bingung dengan perubahan arah percakapan ini.“Bermain dengan orang sepertimu,” lanjut Max dengan senyum miring, “tentu aku harus lebih licik lagi. Kau benar-benar berpikir aku akan menyimpan barang sepenting itu di rumah,
Langkah Max menggema begitu ia memasuki aula utama perusahaan Gregory. Suasana yang semula riuh mendadak menegang. Beberapa orang spontan menoleh, sebagian menahan napas, sebagian lain saling bertukar pandang. Di sisi lain ruangan, Rosetta berdiri dengan tenang, diapit beberapa pria berpakaian hitam—pengawalnya. Tak jauh darinya, beberapa pemegang saham senior terlihat berdiri di belakang Rosetta, jelas menunjukkan keberpihakan mereka.“Kau cepat sekali datang, Max,” sapa Rosetta, nada suaranya ringan, nyaris mengejek.Max melangkah maju tanpa tergesa. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Dadanya bergemuruh, amarah dan kecemasan berkelindan, namun ia memaksa semuanya tetap tersembunyi.“Aku sudah tahu permainan licik yang kau mainkan,” ucapnya dingin. “Sekarang katakan di mana Athena.”Rosetta tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanyalah lelucon. “Wah, di saat seperti ini kau malah lebih mementingkan wanita itu.” Ia memiringkan kepala, tersenyum tipis. “Hebat juga pengaruhny
Athena duduk di sisi ranjang Hans, jemarinya menggenggam tangan ayahnya yang terasa lebih hangat dibanding terakhir kali ia sentuh di rumah sakit. Mereka kini berada di sebuah vila tersembunyi milik Rosetta, jauh dari kota, dikelilingi pepohonan tinggi dan penjagaan ketat. Tempat itu sunyi, terlalu sunyi, seolah dunia luar tak pernah ada.Hans masih tertidur karena efek obat penenang, napasnya teratur meski wajahnya tampak jauh lebih pucat. Athena menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan ayahnya.“Pa… akhirnya kita lepas,” bisiknya lirih, suaranya bergetar. “Kali ini Max tidak akan bisa menemukan kita.”Janji Rosetta ternyata bukan omong kosong. Hans benar-benar dibawa pergi, dijauhkan dari jangkauan Max. Dan kesadaran itu membuat dada Athena terasa sesak antara lega, bersalah, dan hancur bersamaan.Ketukan pelan terdengar di pintu.Athena menoleh. Pintu terbuka perlahan dan Athala masuk dengan langkah tenang, wajahnya tetap datar seperti biasa.“Nyonya Rosetta menunggumu,” u
Max tiba di perusahaan Harrington dengan langkah tergesa, rahangnya mengeras sejak kaki pertama menginjak lantai lobi. Nalurinya berteriak ada sesuatu yang salah. Ia bahkan tak sempat menyapa siapa pun, langsung menuju lantai atas, ruang kerja Athena.Namun begitu pintu terbuka, ruangan itu kosong. Tidak ada Athena. Tidak ada suara ketikan. Tidak ada aroma kopi yang biasa menemani perempuan itu bekerja.Max berhenti tepat di ambang pintu.“Di mana Athena?” tanyanya dingin, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.Norah yang berdiri tak jauh darinya tampak terkejut. “Nyonya tidak ada, Tuan.”“Apa maksudmu tidak ada?” Max berbalik tajam. “Sejak kapan?”Norah menelan ludah. “Tadi siang Nyonya masih di sini. Beliau meminta saya keluar sebentar untuk membelikan minuman. Tapi saat saya kembali, kantor ini sudah kosong.”Dada Max terasa mengencang. “Kau tidak melihat dia pergi?”Norah menggeleng cepat. “Tidak, Tuan. Saya juga heran. Biasanya Nyonya akan memberi tahu jika hendak kelua
Ia memejamkan mata, namun bayangan itu tak mau pergi. Wajah Max yang tersenyum samar di tengah tragedi. Keheningan yang disengaja. Penantian sampai nyawa benar-benar hilang.Ia berharap, sungguh berharap bahwa kecelakaan itu hanyalah kecelakaan yang diperintahkan oleh orang lain, permainan kotor bisnis, atau tangan pihak lain. Ia masih bisa menerima itu. Masih bisa berdamai.Tapi ini. Ini adalah Max.Pria yang ia peluk semalam. Pria yang berjanji memulai segalanya dari awal. Pria yang berkata membenci pengkhianat.Athena tertawa kecil di sela isaknya, tawa pahit yang terdengar rapuh. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Bukan hanya karena kehilangan tapi karena pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.Hatinya remuk. Kepercayaannya hancur. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Athena menyadari satu hal yang membuat tubuhnya menggigil ketakutan bahwa pria yang ia cintai adalah monster yang sesungguhnya.Athena menghapus sisa air matanya denga
Athala.Nama itu membuat Athena terdiam sejenak.Ia menoleh saat pintu ruang kerjanya terbuka, dan benar saja Athala berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Athena segera berdiri, menyembunyikan keterkejutannya, lalu memberi isyarat halus agar Norah tidak masuk.“Masuk,” ucap Athena tenang. “Duduklah.”Athala melangkah masuk tanpa basa-basi, duduk di kursi di depan meja Athena. Tatapannya tajam, seolah sedang menimbang setiap gerak-gerik wanita di hadapannya.“Ada apa kau ke sini?” tanya Athena, suaranya terkendali meski dadanya terasa mengencang.Athala tidak langsung menjawab. Ia menautkan jarinya, lalu menatap Athena lurus-lurus.“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” katanya akhirnya. “Apa benar kau sudah berbaikan dengan Tuan Max?”Pertanyaan itu membuat Athena terdiam. Ia menunduk perlahan. Bukan karena takut melainkan karena ia tahu, pertanyaan itu memang harus dijawab. Ini di luar rencana. Di luar skema yang selama ini ia bangun bersama Rosett







