MasukDokter Maria merasa tidak enak badan hingga memutuskan tidak ke rumah sakit. Meski sebenarnya diam di rumah juga tak membuatnya merasa nyaman di dalam hunian sepi tanpa teman.
Tuan Hong Sang Suami jelas ada di ruang kerjanya di bagian depan rumah besar itu. Bagian yang terpisah oleh sebuah taman dan area parkir dimana dulu itu adalah rumah utama yang dijadikan tempat usaha.
Dokter Maria merasa tidak enak badan hingga memutuskan tidak ke rumah sakit. Meski sebenarnya diam di rumah juga tak membuatnya merasa nyaman di dalam hunian sepi tanpa teman.Tuan Hong Sang Suami jelas ada di ruang kerjanya di bagian depan rumah besar itu. Bagian yang terpisah oleh sebuah taman dan area parkir dimana dulu itu adalah rumah utama yang dijadikan tempat usaha.Diam sendirian dalam sepi membuat anggannya berkelana ke masa beberapa waktu silam. Kisah yang membuatnya jatuh terpuruk sangat dalam.*flashback on“Ma, divisi papa mengurangi pegawai,” kata Pak Hong pada istrinya dengan wajah lesu.“Lalu?”Dr Maria yang sedang sibuk memasak
“Ko, kemarin Karlina tugas luar di rumah Cece,” bisik Untung Pagi itu.“Tugas luar?” aku menggaruk kepala yang tak gatal karena bingung.“Tugas luar seperti apa?”“Koko tak tahu saja, kalau Cece itu suka banget pakai tenaga karyawan seenaknya sendiri. Kalau di rumahnya sibuk pasti ada saja yang disuruh datang kerumahnya untuk membantu. Ada imbalan, sih dengan dalih tugas luar.”Aku mengangguk-angguk paham. Jadi begitu polah tingkah wanita simpanan papa, bukan hanya memanfaatkan harta tapi juga orang-orang yang bekerja pada kami.“Cece juga sering nyuruh anak pabrik bantuin di toko dengan imbalan per jam yang sangat kecil, di hari-hari ramai pengunjung seperti akhir pekan.
Sejak pertemuan di taman, aku diam-diam mengawasi pergerakan gadis itu. Tanpa sepengetahuan Si Koek tentu saja. Biarlah dia mengira aku menyerah meminta bantuan padanya.Lagi pula Untung itu sama sekali tak ada gunanya bagiku. Dia hanya seorang ambisius pada uang dan rela memainkan emosiku sebagai anak papa. Karena kelakuannya bersama wanita gatal itu, dijadikan senjata bagi Si Untung untuk mencari keuntungan. Mungkin kelak aku akan sedikit membuat perhitungan dengannya tentang ini.Tapi sekarang aku justru tertarik pada … Karlina.Gadis aneh yang sebenarnya cantik khas pribumi dan cukup beretika meski rada oneng. Bagaimana tidak kalau dia mudah sekali dimanipulasi hingga mengikutiku sampai rumah. Anehnya aku bahkan sedikit mengkhawatirkannya.Bagaiman
Toko Sukses Makmur baru dibuka setelah papa berhasil di pabrik yang semula hanya taylor kecil.Ulat bulu bernama Rosi itu datang ketika taylor mulai bermetamorfosa menjadi pabrik garmen cukup besar. Karyawan toko sebenarnya tak banyak yang tahu tentang apa yang telah terjadi.Aku sendiri mulai tertarik untuk kembali menarik benang merah itu karena merasa papa semakin tua dan masih saja bucin akut tanpa memikirkan kami yang mungkin saja bakal mengurusnya ketika tubuh tegap itu mulai tumbang.Tak mungkin badannya akan terus sehat, nyatanya sekarang saja beberapa kali orang ku memergokinya mendatangi praktik dokter.-“Ko. Karlina setuju membantu kita memata-matai Tuan Hong dan Cece.” Begitu k
“Bagaimana, Ko?”“Ya, nggak bagaimana-bagaimana.”“Jadi apa yang harus kulakukan?”“Jangan lakukan apapun. Aku akan pelan-pelan saja mendekatinya. Dia anak baik tak mungkin mau mencurangi atasan atau bos di tempat dia cari cuan.”“Jadi Koko akan menyerah? Cuma dia yang bisa diandalkan di area sana.”“Tentu saja tidak. Biarkan aku mendekatinya dengan cara yang berbeda. Kamu orang diam-diam saja pura-pura menyerah dan tak tahu apa-apa.”“Ta-tapi ….”“Aku tetap akan membayarmu tenang saja. Tapi kita jangan ketemu dulu kalau tidak kuminta
Baru kuingat, kalau sejak perjalan Cece dan Tuan Hong ke puncak waktu itu, kami memang jarang mengobrol dekat. Ce Rosi tampak lebih pendiam dan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat tanpa lembur beralasan lelah.Hal yang sebenarnya membuatku senang. Itu sebabnya, aku juga jadi bisa beberapa kali bersantai sampai sempat mengintai tempat tinggal Ko Philip, berlanjut ke beberapa pertemuan setelahnya.“Aku lagi sebel sama Akoh.”Lega rasanya karena wanita mungil di depanku ini bukan cemberut karena tahu apa yang kulakukan di belakangnya.“Ada apa?” tanyaku kepo berbalut simpati.Jadi merasa jahat.“Lu orang tahu nggak. malam itu hari apa?”







