หน้าหลัก / Rumah Tangga / Rahasia Cece / Bab 5. Benarkah Begitu Jauh?

แชร์

Bab 5. Benarkah Begitu Jauh?

ผู้เขียน: Wening
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-01 21:44:16

Hari-hari berlalu begitu cepat.

Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena.

Mana mungkin?

Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.

Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.

Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.

“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.

Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.

Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.

“Koko!”

Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di ujung lorong membuatku cukup tersembunyi untuk mengintip. Lagipula mereka tak mungkin memperhatikan area produksi yang sumpek ini.

Biasanya juga seperti itu, tapi …

Dari balik punggung Meyling, mata hazel itu menatapku tajam dengan ujung bibir yang terangkat tipis.

Deg!

Aku segera meraup kertas kraft yang teronggok di kotak pojok ruang, dan berlalu cepat ke ruangan Cece.

Suara renyah dari luar masih terdengar samar. Aku menyibukkan diri membantu menghamparkan kertas-kertas pola yang kubawa untuk kembali dicoret-coret oleh Cece Rosi, hanya saja pikiranku ada diluar sana.

Anehnya sekali. Semua kehebohan di halaman rumah belakang itu tampaknya tak pernah menarik perhatian Tuan Hong.

Terbukti, lelaki yang menurutku berkulit pucat seperti mayat itu tak pernah terlihat melibatkan diri. Hanya suara Meyling yang terdengar, diselingi suara Dokter Maria yang mengingatkan putrinya agar berhati-hati supaya tidak terpeleset dan jatuh karena tingkahnya sendiri.

Sang kakak biasanya hanya tersenyum kalem tanpa banyak suara. Hanya tangannya yang bergerak cepat merengkuh adik kesayangannya yang tampak memiliki selisih usia lumayan jauh.

Memikirkan interaksi mereka, membuatku yang juga jarang bertemu keluarga semenjak bekerja menjadi terharu. Pertemuan dengan orang tua atau saudara yang tidak tinggal bersama selalu menimbulkan rasa yang luar biasa.

Hanya saja tentang metreka…, kenyataannya, sang kakak tinggal hanya beberapa langkah dari pusat kerinduan keluarganya.

Yang benar saja. Benarkah mereka tinggal berjauhan atau sebenarnya bahkan sangat dekat?

Menyadari hal itu tanpa sadar aku mencebik.

Pletak!

“Aduh!”

Refleks aku mencari sumber benda yang mungkin saja membuat kepalaku benjol.

Kapur?

Takut-takut aku melirik ke arah Cece yang tengah mencoba melebarkan mata sipitnya.

“Jangan melamun terus, Karlina! Kau sedang bekerja. Apa kau orang mau kupecat atau potong gaji, ha?”

Bukannya terlihat seram, Cece malah terlihat lucu. Aku sekuat tenaga menahan tawa.

“Karlina! Aku serius.”

“Iya, Ce … maaf.”

Yah, kami memang sedekat itu.

Meski hubungan kami terbilang atasan dan bawahan, terkadang kami bisa seperti teman yang hangat. Cece cukup menyenangkan saat bergaul dan tidak pelit ilmu ketika mengajariku tentang desain baju yang sedang kami kerjakan.

Dengan hubungan kami yang seperti itu, bagaimana mungkin aku tega mencuranginya dari belakang?

Terlepas dari bagaimana kehidupan pribadi dan kisah percintaannya dengan Tuan Hong atau siapa pun, Cece termasuk atasan, rekan kerja, sekaligus teman yang baik.

Bahkan aku banyak dibantu sejak awal bekerja pada Tuan Hong. Mulai dari mencarikan teman sekamar untuk kos sampai meminjamkan uang makan ketika aku kekurangan. Di awal bekerja, aku harus membayar biaya tempat tinggal.

Membantu Mas Untung hanya akan membuatku merasa seperti pengkhianat.

Aku tidak pernah bilang setuju untuk membantu mereka mematai Cece dan Tuan Hong, tapi pikiranku selalu tertuju ke sana.

Memperhatikan pergerakan mereka dan tanpa sadar merekam semuanya dengan jelas di kepala.

Rasa penasaranku melebihi ketakutan akan ketahuan dan membuat pekerjaan terancam.

Ada semacam kesenangan tersendiri saat berhasil menemukan sesuatu yang baru tentang mereka.

Bukan untuk bahan laporan pada Mas Untung dan Ko Philip, tapi untuk memuaskan rasa penasaranku yang meronta ingin tahu lebih banyak.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rahasia Cece   Bab 15. Si Untung

    “Bagaimana, Ko?”“Ya, nggak bagaimana-bagaimana.”“Jadi apa yang harus kulakukan?”“Jangan lakukan apapun. Aku akan pelan-pelan saja mendekatinya. Dia anak baik tak mungkin mau mencurangi atasan atau bos di tempat dia cari cuan.”“Jadi Koko akan menyerah? Cuma dia yang bisa diandalkan di area sana.”“Tentu saja tidak. Biarkan aku mendekatinya dengan cara yang berbeda. Kamu orang diam-diam saja pura-pura menyerah dan tak tahu apa-apa.”“Ta-tapi ….”“Aku tetap akan membayarmu tenang saja. Tapi kita jangan ketemu dulu kalau tidak kuminta

  • Rahasia Cece   Bab 14. Menunggu Janji

    Baru kuingat, kalau sejak perjalan Cece dan Tuan Hong ke puncak waktu itu, kami memang jarang mengobrol dekat. Ce Rosi tampak lebih pendiam dan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat tanpa lembur beralasan lelah.Hal yang sebenarnya membuatku senang. Itu sebabnya, aku juga jadi bisa beberapa kali bersantai sampai sempat mengintai tempat tinggal Ko Philip, berlanjut ke beberapa pertemuan setelahnya.“Aku lagi sebel sama Akoh.”Lega rasanya karena wanita mungil di depanku ini bukan cemberut karena tahu apa yang kulakukan di belakangnya.“Ada apa?” tanyaku kepo berbalut simpati.Jadi merasa jahat.“Lu orang tahu nggak. malam itu hari apa?”

  • Rahasia Cece   Bab 13. Tawaran Perjanjian

    Aku bingung harus melakukan apa jika tuan rumah telah meninggalkan ruangan. Aku merasa diusir secara halus. Jadi tanpa memikirkan hal lain aku juga segera bergegas ke ruang depan dan berniat keluar dari rumah ini.Pulang.“Hei! Kau mau pergi begitu saja setelah numpang makan?”Ya ampun bahasanya sungguh tak enak didengar. Memangnya aku harus apa ketika tuan rumah pergi ke kamar apa iya aku juga mengikutinya untuk membayar makanan yang telah masuk ke perutku?Yang benar saja. Aku menepuk kepalaku yang mulai berpikiran kemana-mana.“Memangnya saya harus apa? Kalau Koko sudah mau istirahat aku juga harus pulang,kan?”“Siapa bilang aku mau masuk kamar dan

  • Rahasia Cece   Bab 12. Bukan Mata-Mata

    Ko Philip telah berganti pakaian dari kaos berlengan panjang menjadi pendek. Sepertinya sempat membasuh muka juga sehingga tampak basah dan segar menambah kesan maskulin yang sungguh mempesona.Aku mengalihkan pandangan menghindar dari magnet yang begitu kuat. Dadaku berdebar riuh.“Kenapa? Aku ganteng , ya?”“Cih kepedean,” semburku ketus.Ko Philip terbahak lagi.Duh jantungku sungguh tak aman. Ketika sedang mengatur sesuatu di dalam sini agar normal kembali justru malah perutku ikut berulah.Kruyukkkk!Degg!! Semburat merah kembali menyebar di kedua pipiku dan tawa Ko Philip semakin keras.

  • Rahasia Cece   Bab 11. Bukan Orang Jahat

    “Aku akan mencurigaimu sebagai mata-mata wanita jalang itu!” Teriak Ko Philip dari arah punggungku.Suasana sepi membuat suaranya seolah menggema dan aku ketakutan akan ada orang-orang keluar dari rumah mahal mereka lalu mengurungku untuk mencari kebenaran.Aku seperti terseret dalam permainan Mas Untung dan lelaki tampan di belakang sana membuat tanpa sadar dihantui ketakutan yang tak jelas.Aku tahu siapa yang dia maksud dengan wanita jalang. Siapa lagi kalau bukan Cece Rossi yang menurutnya telah merebut sosok ayah dari keluarganya?Meski cara menyebutnya sangat keterlaluan, aku bisa apa?Mungkin kalau aku berada di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kurasa kehilangan dan rasa

  • Rahasia Cece   Bab 10. Rumah Ko Philip

    Pulang kerja aku langsung jatuh tertidur begitu menemukan bantal di kasur. Rasa lelah menyerang seluruh tubuh, termasuk persendian yang terasa teramat pegal. Tanpa mengganti baju, apalagi menyempatkan diri mandi agar lebih segar, aku langsung merebahkan diri. Soal makan yang kubayangkan saat masih di pabrik kalah oleh tubuh yang minta diistirahatkan. Apalagi aku masih harus membuat atau membelinya di luar terlebih dahulu.Sungguh sulit hidup merantau seorang diri.Bayangan wajah teduh Ibu terlintas sebelum semuanya menjadi samar dan hilang dalam lelap. Untung saja aku sudah menunaikan salat Asar sebelum pulang ke kost.Azan Magrib membuatku tergagap.Sambil memicingkan mata, aku melihat ke luar melalui kaca jendela yang gordennya sedikit terbuka. Langit sudah berubah pek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status