LOGINKarlina duduk santai di depan televisi sambil memeluk toples camilan. Sudah dua pekan dirinya tak beraktifitas.
Selain memulihkan kondisinya yang sempat drop dan dirawat di rumah sakit, dirinya juga belum mendapatkan pekerjaan baru setelah memberikan surat pengunduran diri pada Tuan Hong.
BIP!
Notifikasi dari benda kota
Dengan tetap mengabaikan istrinya, Tuan Hong memarkir kendaraan dan segera turun. Memandang berkeliling seolah meneliti. Tak peduli bagaimana Sang Istri histeris dan berlarian ke sana ke mari memastikan atribut gedung itu yang benar-benar berciri J-fashion.Pabrik garment kebanggaan yang semula kecil dan menjadi berkembang besar di tangannya.“Akoh!!” Rosi kembali berteriak dengan wajah yang kini telah memerah.“Rosi tenanglah. Ayo masuk.” Dengan mencekal lengan istrinya Tuan Hong memasuki gedung yang masih sepi. Gambaran dari Johan tentang ruang kantor yang diperuntukkan baginya telah dikirim via aplikasi pesan jadi tak bingung lagi meski pos penjagaan kosong, entah di mana penghuninya.Sebuah ruangan coba dibukanya yang terny
Aku mematut diri di depan cermin.Kemeja putih lengan panjang agak longgar, agar tak mencetak bentuk badan, dipadu dengan celana kulot hitam formal.Kerudung segi empat diatur sedemikian rupa agar terlihat ringkas dan tetap menutupi bagian yang seharusnya dan mengulurkan bagian dada lebih ke bawah. Dengan penampilan ini aku cukup percaya diri juga merasa aman.“Beres.”Setelah merasa cukup kusandang tas hitam berisi segala perlengkapan. Sementara map berisi berkas lamaran hanya kupeluk di dada. Aku takut akan lecek nanti kalau dimasukkan ke dalam tas.Kukunci pintu kamar kost dengan mengapit terlebih dahulu map yang kupegang di ketiak.Mengintip
Karlina bekerja di garment milik Tuan Hong sejak tempat itu keadaanya masih sederhana. Konon, Ce Rosi baru setahun berada di sana.Perkembangan perusahaan mulai maju pesat dan pabrik mengalami perombakan di sana sini. Menyaksikan perkembangan itu, di hati para karyawan yang ikut merasa memiliki pun jadi tumbuh semacam rasa bangga. Keadaan sekarang, membuat mereka juga ikut merasa tak nyaman, begitupun Karlina, ikut merasa sedih.Sambungan telepon masih terhubung. Namun, dari keduanya hanya terdengar tarikan napas panjang yang berulang. Mereka terdiam sesaat mencari kata yang tepat.“Karlina, kau sekarang bukan bagian dari mereka. Jangan ikut memikirkannya ya, nanti kamu tertekan lagi dan sakit lagi.Biar saja mereka atasi sen
Karlina duduk santai di depan televisi sambil memeluk toples camilan. Sudah dua pekan dirinya tak beraktifitas.Selain memulihkan kondisinya yang sempat drop dan dirawat di rumah sakit, dirinya juga belum mendapatkan pekerjaan baru setelah memberikan surat pengunduran diri pada Tuan Hong.BIP!Notifikasi dari benda kotak yang tergeletak di meja kaca kecil dekat TV membuat getaran cukup kencang. Karlina hanya menoleh sedikit lalu kembali fokus pada layar di samping meja itu. Namun notifikasi pesan beruntun kembali berbunyi.“Hiih! Ganggu aja sih,” gerutu gadis yang masih mengenakan piyama tidur tapi tak membuat penampilannya tampak buruk.Disambarnya ponsel yang tak berhenti bergetar.
Lelaki yang mendapatkan amanat dari Tuan Hong untuk mengatasi bagian produksi menggantikan Ce Rosi sementara waktu, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.Selain tak begitu paham seluk beluk produksi busana, dirinya tak mendapat arahan lengkap hanya disuruh memantau dan memastikan produksi berjalan. Nampak mudah saja tetapi siapa mengira heboh di grup obrolan aplikasi hijau mengakibatkan perdebatan dan berkembang menjadi pertengkaran sengit adu argumen dan berakhir saling hujat di beberapa bagian.Perintah Sang Tuan yang menginstruksikan agar membuat list dan mengeluarkan mereka yang bermasalah dengan iming-iming pesangon justru menjadi musibah berkepanjangan. Terlalu banyak yang mengisi list dari berbagai bagian hingga beberapa bagian kosong dan membuat proses produksi tersendat-sendat.Perinta
Paginya, Tuan Hong menggosok mata yang sulit dibuka. Semalam dirinya duduk terpekur mencari cara untuk menghadapi hari kembalinya Rosi ke pabrik.Dini hari baru bisa terlelap.“Sayang, sebaiknya besok jangan cepat-cepat kerja langsung. Bersantailah karena sekarang, Rosi bukan lagi pegawai tapi nyonya yang halus menyesuaikan diri.” kata Tuan Hong saat mereka berdua sedang sarapan pagi di resto hotel tempat mereka menginap.Si Cece yang terus saja dihujani perhatian merasa sangat bahagia dan hatinya berbunga-bunga oleh perlakuan manis Sang Suami Dia hanya mengangguk dengan wajah berbinar cerah.“Apa semua akan baik-baik saja kalau Rosi nggak handle, Koh?” tanyanya yang langsung pada mode serius jika tela







