Home / Romansa / Rahasia Di Balik Meja Kerja / 7. Jarak yang Hilang

Share

7. Jarak yang Hilang

Author: Bianca bee
last update publish date: 2026-04-29 06:25:36

Dion membuka matanya perlahan.

Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya.

Ia menoleh.

Dan napasnya terhenti.

Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur.

Sekarang? Hampir tidak ada jarak.

Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali.

Lalu ia merasakannya.

Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya.

Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya.

Sial.

Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berdebar kencang. Napas Maya teratur, masih tidur pulas, tidak sadar dengan posisi mereka.

Dion mencoba menggeser tubuhnya perlahan. Tapi Maya bergerak sedikit, semakin merapat.

Sial, sial, sial.

Dengan sangat hati-hati, Dion menarik napas panjang. Ia menunggu beberapa detik hingga reaksi tubuhnya sedikit mereda. Lalu perlahan, ia menggeser tubuh ke belakang, menciptakan jarak.

Begitu ada ruang, ia segera duduk.

Napasnya memburu. Keringat dingin di kening.

Ia meraih ponsel di nakas. Layar menyala, pukul 14.17. Tujuh jam sejak mereka tidur.

Tujuh jam.

Dion mengusap wajah kasar. Ia membuka ponsel, membaca pesan-pesan yang masuk.

"Kamu dimana? Kapan pulang? Mama kamu nanyain. Aku bingung mau jawab apa."

"Kenapa kamu gak angkat telfon aku?."

Dion menghela napas.

Padahal sudah bilang dari kemarin. Aku ke Bandung, ketemu klien. Tapi dia tidak pernah benar-benar mendengar.

Dion mengetik balasan cepat.

"Maaf Sayang, baru aja selesai meeting. Capek bgt. Nanti aku telepon mama ya."

Ia berbohong. Tapi apa yang bisa ia katakan? "Aku baru bangun tidur sekasur sama rekan kerja"?

Ponsel kembali diam. Dion menatap Maya yang masih tidur. Punggungnya naik turun pelan, rambut berantakan menutupi sebagian wajah. Tanpa sadar, Dion tersenyum kecil.

Tapi segera ia sadar. Ini berbahaya.

Maya harus bangun. Mereka belum makan sejak semalam. Kopi terakhir jam 3 pagi, makan terakhir... Dion bahkan lupa kapan terakhir mereka makan.

"May..." panggilnya pelan.

Maya bergumam, tidak bergerak.

"May..." sedikit lebih keras.

"Eumhh..." Maya menggerakkan tubuh, bergeser. Kali ini menjauh. Dion bisa bernapas lega.

"May, bangun. Kita belum makan."

Maya mengerjapkan mata, berbalik menghadap Dion. Matanya masih sayu, rambut makin berantakan. "Jam berapa, Ion?"

"Jam 2, May."

Maya duduk tegak, refleks. Ia menatap Dion, lalu ke sekeliling, lalu ke posisi mereka yang berdekatan. Matanya membelalak.

"Ion, kok aku di sini?"

Dion tertawa kecil, gugup. "Aku nggak tahu. kamu yang geser-geser kali."

Maya memukul lengan Dion pelan. "Ngaco! Masa aku nggak sadar?"

"Kamu tidurnya kayak gasing, May. Muter-muter."

Maya mencibir, tapi pipinya merona. Ia menarik rambutnya yang berantakan, mencoba memperbaiki penampilan.

"Udah lah, aku mau cuci muka. kamu pesen makanan aja. Laper banget."

Dion mengangguk. "Oke."

Maya turun dari kasur, berjalan menuju kamar mandi. Pintu tertutup, suara air mengalir.

Dion menghela napas panjang, bersandar di kepala tempat tidur. Ia menatap langit-langit, berpikir.

Ini mulai keterlaluan.

Tapi di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri ada sesuatu yang membuatnya ingin terus berada di dekat Maya.

Lalu ia memesan makanan melalui aplikasi. Mie ayam dan bakso, makanan sederhana untuk mengisi perut yang kosong sejak kemarin.

Maya keluar dari kamar mandi, wajah segar, rambut diikat rapi. Ia duduk di kursi, masih dengan piyama.

"Udah pesen?"

"Udah. Mie ayam sama bakso."

Maya tersenyum. "Makasih, Ion."

Dion mengangguk. Mereka duduk diam, menunggu makanan datang. Tapi di kepala masing-masing, pertanyaan yang sama bergema.

Apa yang sebenarnya terjadi di antara kita?

Mereka selesai makan. Dua bungkus mie ayam dan bakso ludes dalam waktu singkat. Bukti betapa laparnya mereka setelah hampir 24 jam hanya dengan kopi.

Maya meregangkan badan, lalu berdiri. "Aku mau mandi dulu, Ion. Udah gerah."

Dion mengangguk, matanya tetap pada ponsel. "Ya udah."

Maya berjalan menuju kamar mandi, mengambil handuk bersih dari lemari. Pintu kamar mandi tertutup, suara air mengalir terdengar samar-samar.

Dion duduk di sofa ruang tamu, mencoba fokus pada ponselnya. Tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ke posisi mereka saat bangun tadi. Kehangatan tubuh Maya yang masih terasa di ingatan.

Stop, katanya dalam hati. Ini nggak benar.

Tapi tubuhnya tidak mendengar.

Di kamar mandi, Maya membiarkan air dingin menguyur tubuhnya. Ia memejamkan mata, mencoba menjernihkan pikiran. Tapi pikirannya juga kacau.

Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia?

Ia selesai mandi, mengeringkan tubuh dengan handuk. Rambut panjangnya basah, meneteskan air. Ia meraih hairdryer, mengeringkan rambut setengahnya, cukup agar tidak terlalu basah, tapi masih lembab dan wangi.

Maya berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri. Handuk membalut tubuh dari dada sampai paha. Tidak terlalu terbuka, tapi juga tidak menutup banyak.

Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kamar mandi dan keluar.

Dion yang sedang bersiap pamit berdiri, meraih jaketnya menoleh.

Matanya terhenti.

Maya berdiri di ambang pintu kamar mandi, rambut basah setengah kering, handuk membalut tubuhnya, kulitnya masih lembab dan segar. Tetesan air masih ada di leher, di bahu yang terbuka.

Dion membeku.

Maya melihat reaksinya. Baru sadar bagaimana penampilannya. Tapi entah kenapa, ia tidak buru-buru menutup diri atau mencari pakaian. Kakinya seperti terpaku.

"Aku mau balik ke kamar, May," suara Dion serak, berusaha terdengar normal.

Maya mengangguk. "Oh, oke, Ion."

Dion tidak bergerak. Matanya masih menatap Maya, seolah sulit berpaling. Lalu tanpa sadar, kata-kata keluar dari mulutnya.

"Kamu lagi nggak godain aku, kan, May?"

Maya terkejut. Wajahnya merona. "Ion! Kamu gila ya?"

Dion tersentak, sadar apa yang baru ia ucapkan. Ia mengusap wajah, kesal pada dirinya sendiri.

"May, sorry, aku... aku nggak maksud..."

Maya masih berdiri di sana, handuknya terasa makin tipis tiba-tiba. Jantungnya berdebar kencang.

Dion melangkah mundur, meraih gagang pintu. "Aku balik dulu. Nanti kita ketemu... di meeting atau..."

"Ion."

Suara Maya menghentikannya.

Dion menoleh. Maya menatapnya dengan mata yang sulit diartikan, campuran antara ragu, takut, dan sesuatu yang lain.

"Kamu mau balik... beneran?"

Udara di ruangan itu berubah. Pertanyaan Maya menggantung di antara mereka, berat, penuh arti.

Dion tidak menjawab. Tangannya masih di gagang pintu. Tapi kakinya tidak bergerak.

Maya melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Jarak mereka semakin dekat.

"May..." suara Dion hampir berbisik, "ini bahaya."

Maya berhenti. Tapi matanya tidak lepas dari Dion.

Gempita di dada mereka masing-masing. Dua insan yang tahu ini salah, tahu ini akan membawa petaka, tapi juga tahu di saat seperti ini, logika sering kalah oleh sesuatu yang lebih primitif.

Detik-detik berlalu dalam keheningan yang pekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   9. Ini baru awal

    Dion membuka paha Maya perlahan. Maya hanya bisa meremas seprai putih hotel itu erat-erat. Ia tak berani melihat ke bawah, malu, takut, juga penasaran. Tapi sensasi di sana... aneh. Berdenyut. Cepat sekali. Dan basah. Sangat basah. Dion menunduk. Bibirnya mengecup paha dalam Maya, lembut, hangat, basah. Kecupan itu naik perlahan, mendekati sumber denyut di sana. Tubuh Maya tersentak setiap kali bibir Dion menyentuh kulit sensitifnya. Dion berhenti. Ia menatap Maya dari antara kedua pahanya. "May, aku pegang ya?" Maya mengangguk, tapi matanya masih terpejam erat. Wajahnya memerah, napasnya tersengal. "Buka mata kamu, May." Suara Dion pelan, tapi penuh perintah lembut. "Lihat. Lihat gimana tangan aku dan tubuh kamu bereaksi. Biar kamu tahu nikmat itu kayak apa." Maya membuka mata perlahan. Pandangannya turun, melewati dadanya yang naik turun, melewati perutnya, hingga ke bawah, di mana Dion duduk di antara kedua pahanya yang terbuka. "Lihat sini, May," bisik Dion serak

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   8. Janji nikmat

    Maya menggenggam erat ikatan handuknya. Jari-jarinya memutih menahan sesuatu antara keinginan untuk melepaskan atau mempertahankan. Dion mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tubuhnya kini hanya beberapa senti dari Maya. Ia bisa mencium aroma sabun dari kulit Maya yang masih lembab. Rambut basahnya yang setengah kering, wangi sampo bercampur sesuatu yang khas hanya milik Maya. "May..." bisik Dion. Suaranya dalam, serak, seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap Dion dengan mata yang berkaca-kaca antara takut, rindu, dan sesuatu yang tak berani ia akui. Dion mengulurkan tangan. Perlahan, ujung jarinya menyentuh wajah Maya. Mengusap lembut pipinya yang merona. Maya menutup mata, napasnya memburu. Lalu Dion mendekat. Wajahnya hanya sejengkal dari Maya. Bibirnya hampir menyentuh. "Aku... gak bisa," bisik Dion. Dan tanpa menunggu lebih lama, ia mencium Maya. Bibir mereka bertemu. Hangat. Lembut di awal, tapi cepat berubah menjadi se

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   7. Jarak yang Hilang

    Dion membuka matanya perlahan. Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya. Ia menoleh. Dan napasnya terhenti. Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur. Sekarang? Hampir tidak ada jarak. Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali. Lalu ia merasakannya. Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya. Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya. Sial. Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berd

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   6. Satu Kamar, Satu Kasur

    Dion mengusap wajahnya kasar. Mata perih, punggung kaku, tapi akhirnya pekerjaan selesai. Ia menekan tombol save sekali lagi, memastikan semua data tersimpan dengan aman. Jam menunjukkan pukul 05.12 pagi. Ia meregangkan badan, lehernya berbunyi krek kecil. Di luar jendela, langit Bandung mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu semburat oranye di ufuk timur. Pemandangan indah yang tidak sempat ia nikmati. Dion menatap layar. File sudah siap, tinggal submit. Tapi sebelum itu, ia janji akan membangunkan Maya untuk cek bareng. Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu kamar yang hanya tertutup geser. Dion berhenti di ambang pintu. Maya tidur dalam posisi miring, menghadap ke arahnya. Selimut hanya menutupi setengah badan, menyisakan bahu dan lengannya yang terbuka. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi wajah, sebagian tersebar di bantal. Napasnya teratur, dada naik turun pelan. Dion mengakui bahwa Maya cantik. Bukan kecantikan yang mencolok, tapi yang muncul

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   5. Bandung 3 Pagi

    Bandung. Kota itu menyambut mereka dengan udara dingin yang langsung terasa begitu kaki menginjak tanah. Maya menarik napas dalam, menikmati sensasi berbeda dari hiruk pikuk Jakarta. Di sampingnya, Dion mendorong koper masing-masing sambil sesekali mengecek ponsel. Dua hari di Bandung. Presentasi dengan calon klien, revisi di tempat, dan deadline yang mepet. Tim kecil mereka, Maya, Dion, dan dua orang lainlangsung menuju hotel setelah meeting pertama. Hari pertama berjalan intens. Meeting dari siang sampai malam. Klien ternyata tipe detail-oriented, minta ini-itu, revisi sana-sini. Saat mereka kembali ke hotel, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. "Besok pagi harus submit," ucap Andi sambil menguap lebar. "Aku udah nggak kuat. Lebih baik aku lanjut nanti subuh aja." Rina mengangguk setuju. "Aku juga. Udah pusing." Maya dan Dion saling pandang. "Kita lanjutin aja," ucap Dion akhirnya. "Kalian berdua istirahat dulu. Nanti kalau udah mepet, aku kabarin." "Mantap, Yan. Makasih," An

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   4. Budak Korporat

    Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Kantor sudah sepi. Lampu hanya menyala di beberapa titik. Maya baru saja selesai merapikan mejanya ketika ia mendengar suara kursi berderit dari arah seberang. Ia menoleh. Dion juga berdiri, meraih jaketnya. Mata mereka bertemu. Lalu serempak melihat jam dinding. Lalu kembali bertatapan. Mereka tertawa bersama. "Budak korporat," ucap Dion sambil menggeleng. "Kamu juga," balas Maya. "Kenapa sih malah kita yang sering lembur?" Dion berjalan mendekat, menyandarkan tubuh di pinggir meja Maya. "Ya karena posisi kita penting. Tugas kita lebih banyak dari yang lain. Konsekuensi jadi anak emas bos." Maya menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Dion. Matanya menyipit, menggoda. "Kamu kok keliatan seneng banget sih lembur hari ini?" Dion tersenyum lebar. Jawabannya keluar tanpa ragu. "Habis dapat jatah dari istri kemarin. Kamu tahu lah..." Maya memukul lengan Dion pelan. "Idih, dasar nggak bisa nahan hasrat!" "Iya dong, bangga." Dion me

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   3. Soto dan Kebiasaan

    Jam menunjukkan pukul 12.15 siang. Kantor sedang sepi sebagian besar karyawan memilih makan di luar atau di food court bawah. Maya masih duduk terpaku di depan laptop, alis mengernyit membaca revisi dari klien yang datang tiba-tiba. Dion muncul dari arah pantry, minum di tangan. Ia berhenti di sam

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja    2. Lembur bersama

    Maya baru saja kembali dari makan malam sendirian di food court bawah kantor. Perutnya kenyang, tapi rasa kantuk mulai menyerang. Jam menunjukkan pukul 20.45 masih lebih awal dari biasanya, tapi ia berharap bisa segera pulang dan merebahkan tubuh di apartemen. Lift terbuka di lantai 12. Maya mela

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   1. Awal dari Segalanya

    Jam dinding menunjukkan pukul 19.45 ketika Maya akhirnya menghela napas panjang. Di seberang ruangan, Dion masih setia di depan komputernya. pencahayaan dari meja mereka berdua. Beberapa menit kemudian, Dion tiba-tiba berdiri. "Aku bikin kopi. Kamu mau?" Maya mengangguk. "Boleh, makasih."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status