Share

9. Ini baru awal

Penulis: Bianca bee
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 12:21:34

Dion membuka paha Maya perlahan.

Maya hanya bisa meremas seprai putih hotel itu erat-erat. Ia tak berani melihat ke bawah, malu, takut, juga penasaran. Tapi sensasi di sana... aneh. Berdenyut. Cepat sekali. Dan basah. Sangat basah.

Dion menunduk. Bibirnya mengecup paha dalam Maya, lembut, hangat, basah. Kecupan itu naik perlahan, mendekati sumber denyut di sana. Tubuh Maya tersentak setiap kali bibir Dion menyentuh kulit sensitifnya.

Dion berhenti. Ia menatap Maya dari antara kedua paha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   9. Ini baru awal

    Dion membuka paha Maya perlahan. Maya hanya bisa meremas seprai putih hotel itu erat-erat. Ia tak berani melihat ke bawah, malu, takut, juga penasaran. Tapi sensasi di sana... aneh. Berdenyut. Cepat sekali. Dan basah. Sangat basah. Dion menunduk. Bibirnya mengecup paha dalam Maya, lembut, hangat, basah. Kecupan itu naik perlahan, mendekati sumber denyut di sana. Tubuh Maya tersentak setiap kali bibir Dion menyentuh kulit sensitifnya. Dion berhenti. Ia menatap Maya dari antara kedua pahanya. "May, aku pegang ya?" Maya mengangguk, tapi matanya masih terpejam erat. Wajahnya memerah, napasnya tersengal. "Buka mata kamu, May." Suara Dion pelan, tapi penuh perintah lembut. "Lihat. Lihat gimana tangan aku dan tubuh kamu bereaksi. Biar kamu tahu nikmat itu kayak apa." Maya membuka mata perlahan. Pandangannya turun, melewati dadanya yang naik turun, melewati perutnya, hingga ke bawah, di mana Dion duduk di antara kedua pahanya yang terbuka. "Lihat sini, May," bisik Dion serak

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   8. Janji nikmat

    Maya menggenggam erat ikatan handuknya. Jari-jarinya memutih menahan sesuatu antara keinginan untuk melepaskan atau mempertahankan. Dion mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tubuhnya kini hanya beberapa senti dari Maya. Ia bisa mencium aroma sabun dari kulit Maya yang masih lembab. Rambut basahnya yang setengah kering, wangi sampo bercampur sesuatu yang khas hanya milik Maya. "May..." bisik Dion. Suaranya dalam, serak, seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap Dion dengan mata yang berkaca-kaca antara takut, rindu, dan sesuatu yang tak berani ia akui. Dion mengulurkan tangan. Perlahan, ujung jarinya menyentuh wajah Maya. Mengusap lembut pipinya yang merona. Maya menutup mata, napasnya memburu. Lalu Dion mendekat. Wajahnya hanya sejengkal dari Maya. Bibirnya hampir menyentuh. "Aku... gak bisa," bisik Dion. Dan tanpa menunggu lebih lama, ia mencium Maya. Bibir mereka bertemu. Hangat. Lembut di awal, tapi cepat berubah menjadi se

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   7. Jarak yang Hilang

    Dion membuka matanya perlahan. Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya. Ia menoleh. Dan napasnya terhenti. Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur. Sekarang? Hampir tidak ada jarak. Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali. Lalu ia merasakannya. Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya. Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya. Sial. Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berd

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   6. Satu Kamar, Satu Kasur

    Dion mengusap wajahnya kasar. Mata perih, punggung kaku, tapi akhirnya pekerjaan selesai. Ia menekan tombol save sekali lagi, memastikan semua data tersimpan dengan aman. Jam menunjukkan pukul 05.12 pagi. Ia meregangkan badan, lehernya berbunyi krek kecil. Di luar jendela, langit Bandung mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu semburat oranye di ufuk timur. Pemandangan indah yang tidak sempat ia nikmati. Dion menatap layar. File sudah siap, tinggal submit. Tapi sebelum itu, ia janji akan membangunkan Maya untuk cek bareng. Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu kamar yang hanya tertutup geser. Dion berhenti di ambang pintu. Maya tidur dalam posisi miring, menghadap ke arahnya. Selimut hanya menutupi setengah badan, menyisakan bahu dan lengannya yang terbuka. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi wajah, sebagian tersebar di bantal. Napasnya teratur, dada naik turun pelan. Dion mengakui bahwa Maya cantik. Bukan kecantikan yang mencolok, tapi yang muncul

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   5. Bandung 3 Pagi

    Bandung. Kota itu menyambut mereka dengan udara dingin yang langsung terasa begitu kaki menginjak tanah. Maya menarik napas dalam, menikmati sensasi berbeda dari hiruk pikuk Jakarta. Di sampingnya, Dion mendorong koper masing-masing sambil sesekali mengecek ponsel. Dua hari di Bandung. Presentasi dengan calon klien, revisi di tempat, dan deadline yang mepet. Tim kecil mereka, Maya, Dion, dan dua orang lainlangsung menuju hotel setelah meeting pertama. Hari pertama berjalan intens. Meeting dari siang sampai malam. Klien ternyata tipe detail-oriented, minta ini-itu, revisi sana-sini. Saat mereka kembali ke hotel, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. "Besok pagi harus submit," ucap Andi sambil menguap lebar. "Aku udah nggak kuat. Lebih baik aku lanjut nanti subuh aja." Rina mengangguk setuju. "Aku juga. Udah pusing." Maya dan Dion saling pandang. "Kita lanjutin aja," ucap Dion akhirnya. "Kalian berdua istirahat dulu. Nanti kalau udah mepet, aku kabarin." "Mantap, Yan. Makasih," An

  • Rahasia Di Balik Meja Kerja   4. Budak Korporat

    Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Kantor sudah sepi. Lampu hanya menyala di beberapa titik. Maya baru saja selesai merapikan mejanya ketika ia mendengar suara kursi berderit dari arah seberang. Ia menoleh. Dion juga berdiri, meraih jaketnya. Mata mereka bertemu. Lalu serempak melihat jam dinding. Lalu kembali bertatapan. Mereka tertawa bersama. "Budak korporat," ucap Dion sambil menggeleng. "Kamu juga," balas Maya. "Kenapa sih malah kita yang sering lembur?" Dion berjalan mendekat, menyandarkan tubuh di pinggir meja Maya. "Ya karena posisi kita penting. Tugas kita lebih banyak dari yang lain. Konsekuensi jadi anak emas bos." Maya menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Dion. Matanya menyipit, menggoda. "Kamu kok keliatan seneng banget sih lembur hari ini?" Dion tersenyum lebar. Jawabannya keluar tanpa ragu. "Habis dapat jatah dari istri kemarin. Kamu tahu lah..." Maya memukul lengan Dion pelan. "Idih, dasar nggak bisa nahan hasrat!" "Iya dong, bangga." Dion me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status