เข้าสู่ระบบMaya baru saja kembali dari makan malam sendirian di food court bawah kantor. Perutnya kenyang, tapi rasa kantuk mulai menyerang. Jam menunjukkan pukul 20.45 masih lebih awal dari biasanya, tapi ia berharap bisa segera pulang dan merebahkan tubuh di apartemen.
Lift terbuka di lantai 12. Maya melangkah keluar, menyusuri lorong menuju ruang divisi marketing. Sepi. Hanya lampu keamanan yang menyala di beberapa titik. Tapi saat ia mendekati area kerjanya, matanya menangkap sesuatu. Cahaya lampu meja menyala di sudut ruangan. Dan di sana, duduk dengan punggung membungkuk di depan komputer, ada Dion. Maya menggeleng kecil sambil tersenyum. Ia mendekat, meletakkan tasnya di meja, lalu menyapa. "Lah, lembur lagi, Ion?" Dion menoleh. Wajahnya terlihat lelah—mata sedikit sayu, rambut agak berantakan. Tapi ia tersenyum saat melihat Maya. "Iya nih, Mbak Tari minta datanya besok pagi-pagi." Dion menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya dengan jari. "Padahal udah mau kelar, eh ada revisi lagi." Maya tertawa kecil. "Kasian banget, kamu." Dion membalas senyumnya. "Alah, kamu sama aja juga lembur. Baru balik dari mana?" "Makan malam. Laper soalnya tadi nggak sempat makan sore." Dion mengangguk, lalu kembali menatap layar komputernya. Jari-jarinya mengetik beberapa saat, tapi kemudian berhenti. "Kamu mau langsung pulang atau...?" Maya mengedikkan bahu. "Aku nggak buru-buru sih. Apartemen juga sepi sendiri." Ia duduk di kursinya, membuka laptop meski sebenarnya tidak ada pekerjaan mendesak. "Kamu sendiri? Istrimu nggak marah tiap malem lembur begini?" Dion menghela napas, menyandarkan tubuh di kursi. Matanya menerawang sejenak. "Marah sih, kadang. Ya wajar lah, ditinggal terus." Maya mengangguk. "Terus gimana ngatasinnya?" Dion menatap Maya. Setengah nakal, setengah... ada sesuatu yang tidak ia sampaikan. "Ya kadang aku bangunin dia tengah malam. Kamu tahu lah... kebutuhanku." Maya terkejut, lalu tertawa keras. "Sialan kamu, Dion!" Dion ikut tertawa. "Lho, kenapa sih? Daripada cari di luar, mending sama istri sendiri." Dari kejauhan, suara lift berbunyi. Seseorang naik ke lantai mereka. Maya dan Dion refleks mengatur jarak lebih renggang, ekspresi netral. Ternyata hanya Andi yang mengambil dokumen. "Lho, kalian berdua masih di sini?" "Lembur," jawab Dion singkat. Andi mengangguk, lalu pergi. Tapi sebelum masuk lift, ia menoleh sekali lagi. "Kalian berdua sering banget ya lembur bareng. Cocok aja." Dia tersenyum, lalu lift tertutup. Maya baru sadar: kita sudah otomatis menjaga jarak. Seperti punya rahasia. Maya menggeleng-geleng, masih tersenyum. Keheningan mengikuti sejenak, tapi terasa nyaman. Suara AC kantor berdengung pelan, bercampur detak jam dinding. Maya berdiri. "Aku mau bikin kopi, nih. Kamu mau?" Dion mengangkat wajah. "Mau. Yang kayak biasa." "Oke." Maya berjalan ke pantry. Ia sudah hafal kebiasaan kopi Dion tanpa gula, sedikit krimer, harus panas. Tahu karena sering lembur bareng. Kadang Maya yang buat, kadang Dion. Sudah seperti ritual. Kembali ke ruangan, ia meletakkan cangkir di samping meja Dion. "Nih, pesanan." Dion menyeruput kopinya, menghela napas lega. "Hidup aku, nih. Makasih, May." Maya tertawa, kembali ke kursinya. "Sama-sama." Dion memegang cangkirnya, menatap Maya. "Kamu tahu nggak, May. Enak ya bisa ngobrol gini. Kayak... ada temen." Maya mengangguk. "Aku juga ngerasa gitu." "Biasanya kan kita cuma ngomongin kerjaan. Ini jadi... lebih santai." Maya tersenyum. "Mungkin karena kita sering lembur bareng. Jadi lama-lama nyaman." "Iya, mungkin." Hujan mulai turun. Rintiknya terdengar sayup dari jendela kantor. "Maya..." Dion memanggil pelan. "Hm?" "Kamu beneran nggak pernah ngerasa... kesepian? Maksudku, secara fisik? Dengan suamimu yang jauh?" Maya menatapnya. Pertanyaan itu seharusnya terasa aneh. Tapi tidak lagi. Dulu, ia akan merasa risih kalau diajak bahas seks sama rekan kerja. Sekarang? Ia bahkan tidak merasa canggung. Dan itu lebih berbahaya dari sekadar godaan. "Ya... kadang sih. Tapi ya udah, jalani aja." Dion mengangguk, tidak mendesak. "Kita telfonan, kadang VC," lanjut Maya pelan. "Tapi... akhir-akhir ini dia sering lupa. Janji telepon jam 9, tapi baru nelpon jam 11. Itu pun sambil sibuk kerja." Dion diam. Maya tersenyum getir. "Ya cukup lah buat... ngobrol. Tapi virtual sama real itu beda." "Pasti beda." "Tapi ya gimana lagi. Aku nikah sama dia, terima konsekuensinya." Dion menatapnya lama. Matanya lembut. "Kamu kuat, May. Aku kagum." Maya tertawa kecil. "Bukan kuat, Ion. Cuma... nerima keadaan." Hujan semakin deras. Dion memegang cangkirnya, tapi matanya kosong. "May..." "Hm?" "Kamu pernah ngerasa... bersama seseorang, tapi sendirian?" Maya mengerjapkan mata. "Maksud kamu?" Dion tersenyum tipis. Getir. "Nggak apa-apa. Lupakan." Maya ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia menahan diri. Ada sesuatu di balik senyum Dion. Sesuatu yang tidak ia ceritakan. Tapi kenapa aku jadi penasaran? Kenapa aku peduli? Pertanyaan itu menggantung. Tidak terjawab. Dan itu yang paling menakutkan.Dion membuka paha Maya perlahan. Maya hanya bisa meremas seprai putih hotel itu erat-erat. Ia tak berani melihat ke bawah, malu, takut, juga penasaran. Tapi sensasi di sana... aneh. Berdenyut. Cepat sekali. Dan basah. Sangat basah. Dion menunduk. Bibirnya mengecup paha dalam Maya, lembut, hangat, basah. Kecupan itu naik perlahan, mendekati sumber denyut di sana. Tubuh Maya tersentak setiap kali bibir Dion menyentuh kulit sensitifnya. Dion berhenti. Ia menatap Maya dari antara kedua pahanya. "May, aku pegang ya?" Maya mengangguk, tapi matanya masih terpejam erat. Wajahnya memerah, napasnya tersengal. "Buka mata kamu, May." Suara Dion pelan, tapi penuh perintah lembut. "Lihat. Lihat gimana tangan aku dan tubuh kamu bereaksi. Biar kamu tahu nikmat itu kayak apa." Maya membuka mata perlahan. Pandangannya turun, melewati dadanya yang naik turun, melewati perutnya, hingga ke bawah, di mana Dion duduk di antara kedua pahanya yang terbuka. "Lihat sini, May," bisik Dion serak
Maya menggenggam erat ikatan handuknya. Jari-jarinya memutih menahan sesuatu antara keinginan untuk melepaskan atau mempertahankan. Dion mendekat. Langkahnya pelan, tapi pasti. Tubuhnya kini hanya beberapa senti dari Maya. Ia bisa mencium aroma sabun dari kulit Maya yang masih lembab. Rambut basahnya yang setengah kering, wangi sampo bercampur sesuatu yang khas hanya milik Maya. "May..." bisik Dion. Suaranya dalam, serak, seperti menahan sesuatu yang lama terpendam. Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap Dion dengan mata yang berkaca-kaca antara takut, rindu, dan sesuatu yang tak berani ia akui. Dion mengulurkan tangan. Perlahan, ujung jarinya menyentuh wajah Maya. Mengusap lembut pipinya yang merona. Maya menutup mata, napasnya memburu. Lalu Dion mendekat. Wajahnya hanya sejengkal dari Maya. Bibirnya hampir menyentuh. "Aku... gak bisa," bisik Dion. Dan tanpa menunggu lebih lama, ia mencium Maya. Bibir mereka bertemu. Hangat. Lembut di awal, tapi cepat berubah menjadi se
Dion membuka matanya perlahan. Cahaya masuk melalui celah tirai, menciptakan garis-garis tipis di lantai kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyadari di mana ia berada. Lalu ingatan itu kembali Bandung, hotel, kamar Maya. Ia menoleh. Dan napasnya terhenti. Maya sangat dekat. Punggungnya menempel ke tubuh Dion, hangat, lembut, dengan rambut yang sedikit berantakan dan aroma sampo yang samar. Bagaimana Maya bisa sampai sedekat ini? Dion ingat posisi mereka saat tidur tadi: ada jarak, masing-masing di sisi kasur. Sekarang? Hampir tidak ada jarak. Untung saja Dion tidur menghadap Maya, ia bisa melihat punggung Maya, bukan menghadapnya. Kalau tidak, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tapi meski begitu, tangan Dion tidak memeluk. Masih ada kendali. Lalu ia merasakannya. Pantat Maya persis menempel di bagian selangkangannya. Dion menahan napas. Tubuhnya bereaksi. Ini di luar kendalinya. Sial. Ia diam membeku, tidak berani bergerak. Jantungnya berd
Dion mengusap wajahnya kasar. Mata perih, punggung kaku, tapi akhirnya pekerjaan selesai. Ia menekan tombol save sekali lagi, memastikan semua data tersimpan dengan aman. Jam menunjukkan pukul 05.12 pagi. Ia meregangkan badan, lehernya berbunyi krek kecil. Di luar jendela, langit Bandung mulai berubah warna—dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu semburat oranye di ufuk timur. Pemandangan indah yang tidak sempat ia nikmati. Dion menatap layar. File sudah siap, tinggal submit. Tapi sebelum itu, ia janji akan membangunkan Maya untuk cek bareng. Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju pintu kamar yang hanya tertutup geser. Dion berhenti di ambang pintu. Maya tidur dalam posisi miring, menghadap ke arahnya. Selimut hanya menutupi setengah badan, menyisakan bahu dan lengannya yang terbuka. Rambutnya berantakan, sebagian menutupi wajah, sebagian tersebar di bantal. Napasnya teratur, dada naik turun pelan. Dion mengakui bahwa Maya cantik. Bukan kecantikan yang mencolok, tapi yang muncul
Bandung. Kota itu menyambut mereka dengan udara dingin yang langsung terasa begitu kaki menginjak tanah. Maya menarik napas dalam, menikmati sensasi berbeda dari hiruk pikuk Jakarta. Di sampingnya, Dion mendorong koper masing-masing sambil sesekali mengecek ponsel. Dua hari di Bandung. Presentasi dengan calon klien, revisi di tempat, dan deadline yang mepet. Tim kecil mereka, Maya, Dion, dan dua orang lainlangsung menuju hotel setelah meeting pertama. Hari pertama berjalan intens. Meeting dari siang sampai malam. Klien ternyata tipe detail-oriented, minta ini-itu, revisi sana-sini. Saat mereka kembali ke hotel, jam sudah menunjukkan pukul 22.00. "Besok pagi harus submit," ucap Andi sambil menguap lebar. "Aku udah nggak kuat. Lebih baik aku lanjut nanti subuh aja." Rina mengangguk setuju. "Aku juga. Udah pusing." Maya dan Dion saling pandang. "Kita lanjutin aja," ucap Dion akhirnya. "Kalian berdua istirahat dulu. Nanti kalau udah mepet, aku kabarin." "Mantap, Yan. Makasih," An
Keesokan harinya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Kantor sudah sepi. Lampu hanya menyala di beberapa titik. Maya baru saja selesai merapikan mejanya ketika ia mendengar suara kursi berderit dari arah seberang. Ia menoleh. Dion juga berdiri, meraih jaketnya. Mata mereka bertemu. Lalu serempak melihat jam dinding. Lalu kembali bertatapan. Mereka tertawa bersama. "Budak korporat," ucap Dion sambil menggeleng. "Kamu juga," balas Maya. "Kenapa sih malah kita yang sering lembur?" Dion berjalan mendekat, menyandarkan tubuh di pinggir meja Maya. "Ya karena posisi kita penting. Tugas kita lebih banyak dari yang lain. Konsekuensi jadi anak emas bos." Maya menyandarkan tubuh di kursinya, menatap Dion. Matanya menyipit, menggoda. "Kamu kok keliatan seneng banget sih lembur hari ini?" Dion tersenyum lebar. Jawabannya keluar tanpa ragu. "Habis dapat jatah dari istri kemarin. Kamu tahu lah..." Maya memukul lengan Dion pelan. "Idih, dasar nggak bisa nahan hasrat!" "Iya dong, bangga." Dion me
Jam dinding menunjukkan pukul 19.45 ketika Maya akhirnya menghela napas panjang. Di seberang ruangan, Dion masih setia di depan komputernya. pencahayaan dari meja mereka berdua. Beberapa menit kemudian, Dion tiba-tiba berdiri. "Aku bikin kopi. Kamu mau?" Maya mengangguk. "Boleh, makasih."
Jam menunjukkan pukul 12.15 siang. Kantor sedang sepi sebagian besar karyawan memilih makan di luar atau di food court bawah. Maya masih duduk terpaku di depan laptop, alis mengernyit membaca revisi dari klien yang datang tiba-tiba. Dion muncul dari arah pantry, minum di tangan. Ia berhenti di sam







