MasukElena berjalan keluar dari restoran dengan langkah cepat. Udara sore terasa sedikit menusuk, tetapi tidak sebanding dengan perasaan yang mendidih di dadanya.
Kata-kata Alexander tadi terus terngiang di kepalanya. Elena berhenti di tepi jalan dan mengepalkan jemarinya. Ingin rasanya ia berbalik, menuntut jawaban, dan menanyakan semua hal yang selama ini menggerogoti pikirannya, bahkan setelah lima tahun, Alexander selalu merasa benar dan selalu percaya bahwa dunia harus mengerti dirinya tanpa perlu menjelaskan apa pun dan Elena tidak akan jatuh ke dalam perangkap itu lagi. Sebuah mobil hitam berhenti di depan restoran. Elena tahu itu adalah mobil Alexander. Jendela belakang terbuka dan suara dingin pria itu terdengar. "Masuk, Elena!" Elena menghela napas panjang. Ia bisa saja menolak dan pulang dengan taksi, tetapi mereka masih dalam jam kerja, jadi tanpa berkata apa-apa, ia masuk ke dalam mobil. Perjalanan kembali ke kantor dipenuhi dengan keheningan yang nyaris menyiksa. Alexander duduk di sampingnya dan menatap lurus ke depan, sementara Elena menatap keluar jendela dan mencoba mengabaikan keberadaan pria itu. Elena tidak tahu apakah ia ingin mendengar alasannya atau justru lebih baik tidak pernah tahu. Mobil berhenti di depan kantor. Elena hampir membuka pintu untuk keluar ketika suara Alexander menghentikannya. "Kita harus bicara." Elena memejamkan matanya sejenak, lalu menoleh. "Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan, Pak Alexander." "Datang ke ruanganku setelah ini," ucapnya dengan suara rendah. Elena ingin menolak, tetapi ada sesuatu dalam tatapan Alexander yang membuatnya ragu, jadi dengan perasaan enggan, ia mengangguk pelan. Lima belas menit kemudian, Elena berdiri di depan ruangan Alexander. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengetuk dan masuk. Alexander berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Cahaya matahari senja menyoroti siluetnya dan membuatnya tampak lebih sendu. Elena tidak ingin terpengaruh. "Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanyanya dingin. Alexander menoleh dan lagi-lagi menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Lima tahun lalu aku tidak pergi karena aku menginginkannya." Elena terkesiap, tetapi ia menahan diri untuk tidak bereaksi lebih jauh. Alexander berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya. "Ada sesuatu yang terjadi." Elena tertawa kecil dan nada suaranya sarkastik. "Sesuatu yang cukup penting sampai kau memilih menghilang tanpa sepatah kata pun?" Alexander tidak langsung menjawabnya. Tatapannya melembut, tetapi ada sesuatu yang gelap di sana. "Ya." Jawaban singkat, tetapi cukup untuk membuat Elena terdiam, karena ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Alexander, kesedihan, dan itu membuat hatinya mencelos. "Apa yang sebenarnya terjadi, Alexander?" bisiknya dan hampir tidak sadar bahwa ia baru saja menyebut nama pria itu tanpa embel-embel formalitas. Alexander menatapnya, lalu akhirnya berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Aku terpaksa pergi, karena seseorang mengancam nyawamu." Elena membelalak. "Apa?" Alexander menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Lima tahun yang lalu, seseorang memberiku peringatan. Jika aku tetap bersamamu, mereka akan menyakitimu." Elena merasakan tubuhnya melemas. "Dan kamu mempercayainya begitu saja?" tanyanya dengan suara bergetar. Alexander menatapnya dengan mata penuh penyesalan. "Aku tidak bisa mengambil risiko. Aku lebih memilih kamu membenciku daripada melihatmu terluka." Elena merasakan dadanya sesak. Selama ini, ia berpikir bahwa Alexander pergi karena sudah tidak mencintainya lagi, tapi kenyataannya jauh lebih rumit. Ada seseorang di luar sana yang ingin memisahkan mereka entah apa alasannya. Selama ini, Elena berpikir bahwa Alexander meninggalkannya karena bosan dan sudah tidak menginginkannya lagi. "Elena." Suara Alexander membuyarkan lamunannya. "Katakan sesuatu." Elena menelan ludahnya dengan susah payah. "Siapa?" Alexander mengerjap. "Apa?" "Siapa yang mengancamku?" suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan, tapi ia tidak peduli. Alexander menghela napas panjang, lalu berjalan ke belakang meja kerjanya. Ia menekan jemarinya ke pelipisnya seolah tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. "Aku tidak tahu pasti." Elena mencibir. "Jadi kamu pergi hanya, karena seseorang melempar ancaman tanpa tahu siapa mereka sebenarnya?" Tatapan Alexander mengeras. "Aku tidak bisa mengambil risiko, Elena." "Dan kamu pikir meninggalkanku tanpa penjelasan adalah pilihan yang lebih baik?" suara Elena meninggi. "Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku setelah kamu pergi! Aku ...." Ia menggigit bibirnya, menahan emosi yang hampir meluap. Ia tidak akan menangis di depan Alexander. "Elena." Alexander melangkah ke arahnya dan Elena secara refleks berjalan mundur. Pria itu menghela napas berat. "Aku tahu aku salah." Elena tertawa sumbang. "Salah? Itu saja?" Alexander menatapnya dengan rasa bersalah. "Aku tidak bisa menghubungimu saat itu," katanya pelan. “Aku tidak tahu siapa yang memburuku, siapa yang menginginkan kamu pergi dari hidupku, tapi mereka memberiku bukti bahwa mereka bisa menyakitimu." Elena mengerutkan kening. "Bukti?" Alexander mengangguk, lalu berjalan ke lemari di sudut ruangan. Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah amplop cokelat, lalu meletakkannya di atas meja. Elena memandangnya ragu sebelum akhirnya mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya. Saat ia melihat foto itu, dadanya langsung terasa sesak.Mobil Alexander menyatu dengan arus pagi hari di kota. Dari luar segalanya tampak normal, suara klakson mobil, lampu lalu lintas, dan wajah-wajah lelah yang mengejar rutinitas. Gedung Quantum Vale Corporation menjulang di hadapan mereka dengan menara kaca dan logo berbentuk heliks terbelah dua, simbol riset kehidupan dan batas yang berani mereka langgar. Perusahaan itu bergerak di bidang teknologi eksperimental rekayasa sel, simulasi jaringan saraf makhluk hidup, dan terapi regeneratif yang masih berada di wilayah abu-abu etika. Di sinilah harapan penyakit langka diuji dan di sinilah pula rahasia-rahasia disimpan terlalu rapi. Alexander memarkirkan mobilnya di area khusus dan begitu mereka turun, pintu kaca terbuka secara otomatis. Sensor retina memindai Alexander ada sepersekian detik jeda yang membuat Elena menahan napas, lalu lampu hijau menyala. Sistem masih mengenalinya. Ia belum benar-benar dihapus dari dunia ini. Lobi dipenuhi cahaya putih. Beberapa karyawan menoleh dan memb
Elena mengangguk, lalu menatap serbet itu seolah sedang melihat peta menuju bencana. "Kita mencari siapa yang diuntungkan saat kamu kehilangan segalanya dan saat aku menghilang," lanjut Alexander. Elena melipat serbet itu perlahan-lahan dan menyimpannya di dalam tasnya seolah menyimpan rahasia yang bisa membunuh. "Kalau begitu aku akan mulai dari orang yang paling aku percaya." Alexander menatapnya lama, lalu mengangguk sekali. Ia berdiri lebih dulu dan meraih mantel Elena dari sandaran kursi, lalu menyampirkannya ke pundaknya dengan gerakan pelan seolah takut mengejutkannya. "Kita tidak akan mendapatkan jawaban malam ini, tapi ada satu orang yang tahu lebih banyak dari yang ia akui." Elena menatapnya. " Maksudmu Victor Langley?" Alexander mengangguk dan rahangnya mengeras. "Besok pagi kita temui dia sebelum dia sempat mengatur cerita." Elena menarik napas panjang, lalu mengangguk dengan mantap. "Baik. Kita temui dia dulu." Mereka keluar dari kafe dan hujan sudah berubah menj
Audrey menegang. Matanya beralih ke Elena, lalu kembali ke Alexander. Ada sesuatu di wajahnya, ketakutan yang tidak berhasil ia sembunyikan. "Audrey," kata Elena tegas, "Kamu terkejut dan lebih terkejut daripada yang seharusnya." Audrey menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya kaget. Siapa pun akan kaget melihat seseorang yang menghilang begitu saja tiba-tiba muncul lagi." Alexander menyandarkan satu tangan di sandaran kursi di hadapan Audrey dan tubuhnya condong sedikit ke depan. "Biasanya iya, tapi tidak semua orang tahu bahwa aku seharusnya masih menghilang." Jari Audrey mencengkeram tepi meja. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud." Elena menarik kursi dan duduk di hadapannya. Tatapannya lembut, tapi sorot matanya tajam. "Lima tahun lalu, kamu yang menyuruhku berhenti mencari Alexander. Kamu bilang aku harus percaya bahwa dia pergi atas pilihannya sendiri." Audrey terdiam. "Dan sekarang," lanjut Elena, suaranya sedikit bergetar, "Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana dia bisa kem
Pintu menutup pelan di belakang Ethan hanya menyisakan keheningan diantara mereka. Alexander akhirnya menjauh dan menurunkan tangannya dari dinding. Senyumnya memudar, lalu berganti dengan ekspresi serius. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan. Elena mengangguk, meskipun jemarinya saling menggenggam tanpa sadar. "Aku hanya masih mencoba memahami semuanya. Lima tahun lalu kamu pergi tanpa penjelasan dan sekarang muncul nama Lucedra, seseorang yang ingin memisahkan kita . Hidupku ternyata jauh lebih dramatis daripada yang kukira." Alexander melangkah mendekat lagi dan kali ini tanpa nada menggoda. Ia meraih tangan Elena dengan lembut seolah memastikan wanita itu benar-benar ada di hadapannya. "Itulah sebabnya aku kembali. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupmu atau hidup kita lagi," kata Alexander serius. Elena menatap tangan mereka yang saling bertaut. Jantungnya berdebar oleh ketakutan yang nyata. "Bagaimana kalau Lucedra tidak berhenti, Alexander? Bagaimana kalau
Alexander berbalik pada Elena. "Namanya Ethan. Dia adalah orang yang membantuku lima tahun lalu."Elena merasakan dadanya menegang. "Membantumu dalam hal apa?"Ethan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Membantunya menghilang."Elena terkejut. "Apa?"Ethan mengabaikan keterkejutannya dan melanjutkan, "Lima tahun lalu, seseorang menginginkan Alexander pergi. Mereka tidak hanya mengancammu, Elena, tapi mereka juga menginginkan dia mati."Mata Elena membelalak. "Apa maksudmu?"Alexander mengepalkan tangannya. "Elena aku tidak hanya pergi, karena ancaman padamu. Aku pergi karena ada seseorang yang ingin menyingkirkanku juga."Elena merasa kepalanya berputar tiba-tiba semuanya menjadi semakin rumit."Siapa mereka?" tanyanya pelan.Ethan menghela napas panjang. "Aku belum tahu pasti, tapi aku bisa memberitahumu satu hal."Elena menelan ludah dan menunggu. Ethan menatapnya tajam, lalu berkata dengan suara rendah, "Orang yang mengancammu adalah Lucedra."Elena merasakan tubuhnya menegan
Alexander berdiri dan ekspresinya mengeras. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."Elena mengangkat wajahnya dan menatap mata pria itu yang penuh dengan tekad.Dulu Alexander memilih untuk pergi, tapi kali ini, ia memilih untuk bertahan.Elena hanya berharap bahwa itu bukan sebuah kesalahan. Ia masih menatap foto di layar ponsel Alexander dan tubuhnya masih membeku. Seseorang benar-benar mengawasinya.Ia merasakan tengkuknya meremang. Tadi malam ia pikir itu hanya paranoia, tapi sekarang bukti nyata ada di hadapannya."Elena," suara Alexander lebih lembut dari sebelumnya, "Kenapa kamu tidak meneleponku?"Elena menelan ludah. "Aku aku tidak ingin merepotkanmu."Alexander mengepalkan rahangnya. "Merepotkanku?"Nada suaranya meninggi dan berbahaya membuat Elena sedikit mundur, karena pria itu terdengar benar-benar marah."Ada seseorang yang mungkin mengincarmu, mengirimiku foto ini sebagai peringatan, dan kamu berpikir itu bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan?"Elena menggi







