Masukya. Kau akan kehilangan segalanya, bahkan kehormatan Arif.”
Adrian mundur, membiarkan ancaman itu mengambang di udara dingin pemakaman. Tiga hari kemudian, kata-kata itu masih menggema di benak Aisyah, namun ia memilih untuk membiarkan wajahnya kosong, sebuah topeng ketenangan di tengah badai. Aisyah duduk di kursi berlapis beludru di ruang perpustakaan utama Kediaman Atmadja. Udara terasa tipis, dipenuhi aroma kulit tua dan ketegangan yang menyesakkan. Di sekeliling meja mahoni yang panjang, berkumpul keluarga inti Atmadja: Adrian, Ibu Rosa, dan dua paman yang memegang saham minoritas. Di ujung meja, Notaris Wijaya, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, terlihat berkeringat dingin meskipun ruangan berpendingin. Matanya terus menghindari tatapan Aisyah dan Adrian bergantian. “Baiklah, Bapak dan Ibu sekalian,” ujar Wijaya, suaranya serak dan formal, “sesuai permintaan mendiang Bapak Arif Atmadja, kita akan melanjutkan pembacaan surat wasiat terakhir yang disiapkan dan ditandatangani pada dua bulan lalu.” Ibu Rosa berdeham keras. “Langsung saja pada intinya, Bapak Notaris. Kami tidak punya waktu untuk mendengarkan basa-basi hukum.” Wijaya mengangguk cepat, tangannya gemetar saat membalik halaman tebal dokumen berstempel resmi. “Surat wasiat ini menyatakan pembatalan seluruh surat wasiat sebelumnya dan menetapkan keinginan terakhir mendiang terkait pembagian aset, saham, dan kepemimpinan Atmadja Group.” Adrian menyandarkan diri di kursinya, memasang ekspresi jijik yang ia tunjukkan kepada Aisyah. “Kami semua tahu bahwa Arif sangat mencintai keluarganya. Kami berharap warisan ini dibagi secara adil, sesuai dengan kontribusi kami selama bertahun-tahun.” Aisyah tidak merespons, hanya menatap Notaris Wijaya. Wijaya membaca beberapa klausa kecil terkait dana amal dan aset pribadi yang tidak signifikan. Kemudian, ia sampai pada bagian inti. Ia menarik napas dalam-dalam. “Mengenai kepemilikan saham mayoritas Atmadja Group, seluruhnya, sebesar 51 persen, termasuk hak suara penuh, dialihkan kepada istri sah mendiang, Nyonya Aisyah.” Ruangan itu hening sesaat. Keheningan yang lebih memekakkan daripada ledakan apa pun. Wajah Ibu Rosa yang tadinya anggun seketika memucat, berubah menjadi abu-abu. Paman-paman Atmadja saling pandang dengan mata tak percaya. Adrian-lah yang pertama bereaksi. “Apa?” suaranya hanya desisan rendah, tetapi penuh racun. “Ulangi, Notaris. Anda pasti salah baca.” Wijaya menelan ludah. “Saya ulangi, Bapak Adrian. Seluruh saham mayoritas perusahaan, aset bergerak dan tidak bergerak yang utama, serta kepemimpinan Atmadja Group, dialihkan kepada Nyonya Aisyah.” Adrian melonjak dari kursinya, membuat kursinya terbalik dan menghantam lantai marmer dengan suara keras. “Palsu!” teriak Adrian, tangannya menunjuk ke arah Wijaya. “Itu tidak mungkin. Ayah saya—ayah kami—sudah menetapkan bahwa saham mayoritas harus tetap dipegang oleh anak kandung, oleh darah Atmadja!” Ibu Rosa kini berdiri, matanya berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. “Bapak Notaris, Anda harus menjelaskan ini. Arif sudah sakit selama beberapa bulan terakhir. Dia pasti menandatangani ini di bawah pengaruh obat bius atau paksaan. Atau mungkin—” Rosa menatap tajam Aisyah, “—di bawah manipulasi wanita ini.” Aisyah akhirnya berbicara, suaranya tenang dan tegas, kontras dengan kekacauan yang terjadi. “Saya tidak pernah memaksa Arif untuk menulis wasiat apa pun, Ibu Rosa. Itu adalah keputusan mendiang suami saya.” “Jangan berbohong!” Adrian membentak, berjalan mengelilingi meja dan berhenti tepat di depan Wijaya. “Anda tahu betul Arif tidak akan melakukan ini. Dia tidak sebodoh itu untuk menyerahkan seluruh kerajaan kepada orang luar!” “Bapak Notaris,” pinta Ibu Rosa, kembali ke nada formal yang dingin, “kami menuntut Anda membatalkan pembacaan ini sampai kami bisa membuktikan kondisi mental almarhum saat penandatanganan.” Wijaya gemetar. “Saya bersumpah, Ibu, Bapak Arif dalam kondisi sadar dan jernih saat menandatangani dokumen ini. Saya bahkan merekam proses penandatanganan dan ada saksi yang menguatkannya.” “Saksi bayaran!” Adrian menuding. “Kami tahu bagaimana Anda bermain, Wijaya. Berapa yang dibayar wanita ini?” “Saya tidak menerima apa pun selain biaya profesional, Bapak Adrian,” jawab Wijaya, hampir berbisik. Aisyah merasa mual. Kekuatan uang dan kebencian keluarga ini begitu nyata. “Cukup, Adrian,” kata Aisyah, berdiri dan menatap adik iparnya lurus-lurus. “Wasiat ini sah. Saya adalah pewarisnya. Anda harus menerimanya.” Adrian tertawa, tawa yang kejam. “Menerimanya? Tidak akan. Anda pikir saya akan membiarkan Anda, seorang social climber tanpa nama, mengambil apa yang sudah menjadi hak saya sejak lahir?” Ia membungkuk ke arah Aisyah, amarahnya mencapai titik didih. “Saya adalah Adrian Atmadja. Saya telah mengelola perusahaan ini selama sepuluh tahun. Anda hanya boneka.” Adrian kemudian berbalik ke arah Wijaya. “Saya sudah mengajukan tuntutan hukum pagi ini, Notaris. Tuntutan pembatalan wasiat, dengan dasar ketidakmampuan mental dan pemalsuan. Anda tahu apa artinya itu, bukan?” Wijaya mengatupkan bibirnya erat-erat. Ia tampak seperti akan muntah. “Jawab!” Adrian menggeram. Wijaya mengangkat tangannya yang gemetar, memegang dokumen itu. “Berdasarkan tuntutan yang diajukan oleh Bapak Adrian Atmadja melalui pengacaranya, Tuan Harris, hari ini juga, atas nama aset Atmadja Group yang terikat dalam surat wasiat ini, seluruh aset tersebut...” Adrian tersenyum penuh kemenangan. Wijaya menarik napas, matanya memohon maaf kepada Aisyah, "...seluruh aset tersebut dibekukan sementara hingga keputusan pengadilan final dikeluarkan.” Aisyah terkejut. Pembekuan? Secepat ini? Adrian kembali ke kursinya yang terbalik, mengambilnya, dan meninju permukaan meja mahoni itu dengan keras, meninggalkan bekas retakan yang jelas. “Anda lihat, Aisyah,” Adrian berkata, suaranya kini kembali tenang, namun lebih mematikan dari teriakan, “saya tidak perlu menunggu proses hukum. Saya sudah mengunci Anda. Anda mendapatkan nama, tetapi Anda tidak mendapatkan kekuasaan. Ini hanya permulaan. Saya akan buktikan bahwa surat wasiat itu—” Adrian berhenti, mengambil napas, dan menatap dingin Aisyah. “—adalah palsu. Dan saya akan memastikan, Anda tidak bisa menyentuh sepeser pun uang Atmadja sampai Anda keluar dari rumah ini. " Opsi Logi Struktur CeritaRasa jijik yang mendalam menyelimutinya, lebih kuat daripada rasa hampa. Ia mematikan layar laptopnya. Pencarian ini menyakitkan, menguras tenaga, dan menjijikkan. Ia memutuskan untuk mengambil cuti satu hari penuh, fokus pada sesuatu yang lebih nyata dan tidak berpura-pura.Ia harus mengunjungi satu orang yang paling tidak terduga, satu-satunya orang yang ia rasakan pernah meliriknya tanpa ketamakan—meski hanya sekilas pandang di lantai bawah.Aisyah berdiri, mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar dari kantor eksekutif, menekan tombol lift. Ia tidak menuju rumahnya. Ia menuju sebuah kafe kecil di dekat kawasan perumahan kelas menengah yang terletak beberapa kilometer dari menara Admaja. Kafe itu adalah tempat di mana ia dan mendiang suaminya, Arif, sering menghabiskan waktu sebelum semuanya menjadi terlalu rumit dengan urusan dinasti.Ia perlu meminta maaf pada Arif, secara mental, karena telah mengotori ingatan mereka dengan mencari cinta melalui lensa kekuasaan.Setengah jam
Tiga minggu berlalu sejak malam di mana Aisyah memutuskan untuk mengaktifkan kembali perburuan emosionalnya—dan secara rahasia, memantau setiap pergerakan Narendra. Keputusan untuk "membuka diri" di depan publik perusahaan terasa seperti melemparkan sepotong daging segar ke dalam kolam hiu yang selama ini ia hindari.Malam itu adalah Gala Tahunan Admaja, sebuah pertunjukan kemewahan yang biasanya ia nikmati dengan kewaspadaan seorang jenderal di medan perang. Aisyah berdiri di tengah keramaian, gaun malamnya memancarkan kilau gelap yang mengintimidasi, namun sorot matanya menampik. Pengumuman keterbukaannya telah tersebar seperti api liar."Aisyah, kau terlihat memesona. Dan kabar baiknya... aku lega kau akhirnya mau membuka diri," sebuah suara hangat namun berlebihan menyapa.Itu adalah Pria Pemanfaat A, sebut saja Adrian. Adrian adalah pengusaha properti yang wajahnya terlalu dipoles dan senyumnya terlalu lebar. Ia mendekat, tangannya bergerak halus untuk menyentuh lengan Aisyah—seb
Ia melihat waktu pada log sistem. Pukul 21.45. Sudah lewat waktu makan malam yang ia rencanakan. Ia seharusnya mengirim pesan untuk membatalkan acara sosialnya, namun mata Aisyah terpaku pada nama itu. *Narendra.* Nama yang terasa asing dan begitu dekat.Tiba-tiba, sebuah dorongan yang tidak logis melandanya. Ia membatalkan pesan yang hendak ia kirim ke asistennya. Tidak, ia tidak akan mencari kekacauan sosial sekarang. Ia akan mencari ketenangan.Ia bangkit, merasakan otot-ototnya yang tegang akibat berjam-jam duduk kaku. Ia berjalan menuju pintu ruangannya, mengabaikan rasa lelah yang memukulnya. Alih-alih menuju lift pribadi menuju apartemen mewahnya, langkah kakinya berbelok ke arah sayap timur gedung, tempat unit data dan analisis berada.Ia harus tahu. Mengapa seorang karyawan biasa masih bekerja selarut ini di hari pengukuhannya? Mungkin ia sedang berusaha mencuri data? Pikiran paranoid lima tahun terakhir masih bersemayam kuat. Atau mungkin... hanya mungkin... ia bekerja keras
Ruangan rapat di lantai puncak terasa dingin, seolah suhu di sana diatur untuk meniru kebekuan di hati Aisyah. Lima tahun. Lima tahun ia berperang dalam labirin hukum dan intrik keluarga untuk membersihkan nama dinasti Admaja, dan hari ini, perang itu usai. Cahaya pagi yang tajam menyaring melalui kaca setinggi langit-langit, memantul dari permukaan meja mahoni gelap yang kini dihiasi tumpukan kertas legal yang rapi.Aisyah, dengan blazer gelapnya yang terstruktur sempurna, memandang para direktur yang mengelilinginya. Wajah mereka memancarkan campuran kekaguman dan sedikit ketakutan—kekaguman atas kemenangannya, ketakutan atas kekuatan yang kini ia genggam tanpa cela."Kita telah memverifikasi ulang semua aset, Pak Harsono," suara Aisyah terdengar datar, dipoles oleh bertahun-tahun negosiasi yang melelahkan. "Tidak ada lagi bayang-bayang utang tersembunyi, tidak ada lagi investasi yang tidak jelas. Admaja resmi—*bersih*."Ia mengambil pena emas berat dari tempatnya. Ini adalah dokume
“Tidak bisa, Aisyah,” bisik Laras, wajahnya dipenuhi rasa horor yang sesungguhnya. “Dia sudah mulai membeli saham perusahaan Anda melalui aset tersembunyi Ayah Atmadja. Saham mayoritas Atmadja Group... sekarang milik Amelia!”Aisyah membeku, telinganya mendesis mendengar lonceng kematian dari sisi yang tak terduga: Putri Rahasia itu bukan pemburu warisan biasa, melainkan operator pasar gelap. Semua pertarungan hukumnya—memenangkan wasiat Arif, memenjarakan Adrian, menyaksikan kejatuhan Rosa—semuanya hanya memberikannya sebuah kapal karam yang kini diambil alih oleh sang algojo.“Saya menuntut penundaan keputusan aset Cikandi dan Dermaga Selatan,” seru Tuan Hadi, suaranya memantul penuh kemenangan dari meja, “Tidak boleh ada aset dijual sampai kita mengatasi tuntutan 'Crystala' ini, Nyonya Aisyah! Karena jika Anda kalah, semua aset yang Anda bersihkan justru akan jatuh ke tangan musuh Anda!”Kaki Tuan Hadi sudah hampir mencakup keanginan. Namun, pandangan Aisyah kini tidak tertuju pada
“Atmadja hanyalah takhta kotor yang seharusnya tak pernah ada. Selamat datang, BOS yang baru.”Aisyah membiarkan ponsel Baskara terjatuh di meja kaca ruang rapat darurat. Bunyi benturan pelan itu adalah satu-satunya suara di tengah hiruk pikuk berita TV yang masih menggelegar tentang eksekusi mati Baskara. Lima puluh triliun uang tunai, sisa dari perburuan seumur hidup Arif Atmadja untuk membersihkan nama ayahnya, telah berubah menjadi abu panas di puncak menara itu.“Lima puluh triliun,” bisik Laras, kini telah mendapatkan kembali kendalinya. “Hilang. Amelia Santika—atau siapapun putri rahasia itu—bukan hanya pencuri atau pewaris biasa, Aisyah. Dia adalah eliminator. Dia memberitahu dunia: Uangmu kotor, dan aku akan membakarnya. Kita tidak punya uang tunai, dan ICC sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk dia sebagai pembunuh.”Aisyah berdiri tegak, merapikan jasnya. Kelelahan terpancar jelas, tetapi ada kilatan yang sama tajamnya di matanya. Pertempuran fisik dan hukum me







