LOGIN
Hujan deras memukul tenda putih yang didirikan di atas makam marmer keluarga Atmadja. Tanah basah berbau lumut dan kemewahan yang membusuk. Aisyah berdiri di tepi, gaun hitamnya yang sederhana kontras mencolok dengan ratusan payung mahal dan setelan desainer di sekitarnya. Dia menatap peti mati kayu mahoni yang berkilauan. Di dalamnya, Arif Atmadja, suaminya, konglomerat yang baru dua tahun dinikahinya, kini hanya diam.
Dia tidak menangis, hanya ada kekosongan yang membeku di dadanya. Kekosongan itu adalah ketenangan yang dipaksakan. Aisyah bisa merasakan tatapan tajam yang membedah punggungnya, lebih dingin daripada air hujan yang menusuk kulit. Bisikan-bisikan itu, meski tertahan, jelas terdengar. “Lihat saja dia,” suara wanita yang tajam, jelas dari salah satu bibi Atmadja. “Berdiri seperti patung. Tidak ada air mata, padahal dia sudah mendapatkan semua yang diinginkan.” “Tentu saja tidak ada air mata,” balas pria lain, suaranya berdecis. “Dia sudah mendapatkan apa yang dia buru. Sekarang dia hanya perlu memastikan warisan itu tidak lepas.” “Warisan apa?” sela suara ketiga, yang lebih muda. “Apakah kalian benar-benar berpikir Arif akan memberikan segalanya pada wanita itu? Itu tidak masuk akal.” Aisyah menahan napas, menyerap setiap kata penghakiman itu. Dia bukan hanya kehilangan suami; dia kehilangan pijakan di tengah sarang ular. Tiba-tiba, suara Adrian Atmadja terdengar, lebih dekat dari yang Aisyah duga, berbicara dengan nada pahit kepada ibunya, Rosa Atmadja. “Dua tahun,” katanya, suaranya rendah dan penuh racun, “hanya dua tahun untuk melenyapkan Arif dari kita semua, Bu. Dan sekarang, dia datang dengan drama kesedihan yang mengerikan ini.” Ibu Rosa, berdiri anggun dengan balutan sutra hitam, membalasnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, tetapi mengandung kekuatan yang membuat Aisyah merinding. “Dia akan segera tahu, Adrian, bahwa nama Atmadja bukan hanya tentang uang,” bisiknya, “ini tentang darah dan harga diri. Kita akan membuatnya membayar setiap tatapan sinis yang kita terima hari ini.” “Saya sudah menyiapkan pengacara terbaik, Bu,” Adrian menjanjikan, matanya menatap tajam, tetapi tidak ke arah Aisyah. “Kami akan membongkar setiap jengkal latar belakangnya. Saya tidak peduli apa yang Arif tulis di detik-detik terakhirnya, saya akan membuktikan itu palsu.” Aisyah akhirnya berbalik sedikit, mencari Adrian. Ia menemukan adik iparnya itu berdiri di samping ibunya, memancarkan kebencian yang hampir bisa disentuh. Adrian adalah pria yang didorong oleh ambisi yang tak terkendali, dan kini, ia melihat Aisyah sebagai rintangan terakhir menuju kekuasaan. Seorang kerabat lain, Paman Bima, yang jarang terlihat, kini mendekat ke Adrian. “Jaga ucapanmu, Adrian,” tegur Paman Bima, suaranya sedikit lebih keras. “Ingat siapa yang mengawasi. Kita harus menjaga citra.” Adrian mendengus. “Citra apa, Paman? Keluarga kita sudah hancur sejak Arif menikahinya. Dia ini orang luar, parasit yang datang untuk menguras.” “Tolong, jangan sampai dia dengar,” Ibu Rosa menarik lengan Adrian. Aisyah, lelah dengan peran sebagai pendengar pasif, memutuskan untuk melangkah mundur. Ia merasakan beban nama Atmadja yang baru ia sandang—seberat batu nisan itu sendiri. Kekuatan yang ia perlukan untuk bertahan bukanlah kekuatan fisik, melainkan kekuatan untuk tetap diam. Saat prosesi penurunan peti mati dimulai, hujan sedikit mereda. Para pelayat bergerak maju, memberikan penghormatan terakhir. Aisyah menunggu giliran. Seorang wanita paruh baya yang memakai perhiasan berlebihan, Nyonya Wina, menghampiri Aisyah. “Nyonya Aisyah, saya turut berduka,” katanya, tetapi matanya tidak menunjukkan kesedihan, melainkan keingintahuan dan penghinaan. “Saya dengar, Arif meninggalkan warisan yang sangat besar. Apakah Anda sudah memikirkan bagaimana cara mengelolanya?” Aisyah menatapnya kosong. “Saya baru saja kehilangan suami saya, Nyonya.” “Tentu saja,” Nyonya Wina tersenyum sinis. “Tapi bisnis harus terus berjalan, bukan? Saya harap Anda tidak terlalu naif untuk menjual aset-aset utama Atmadja hanya karena Anda tidak mengerti pasarnya.” “Saya akan mengelola apa pun yang ditinggalkan Arif dengan baik,” jawab Aisyah, suaranya datar, menunjukkan ketenangan yang ia pelajari dari Arif. Nyonya Wina terdiam sejenak, terkejut dengan respons yang tenang itu. Dia menghela napas. “Saya hanya berharap Atmadja Group tidak jatuh ke tangan yang salah. Kami semua mengandalkan perusahaan ini.” Di tengah kerumunan yang mulai bubar, Aisyah kembali fokus pada makam yang tertutup tanah basah. “Dia tidak akan pernah bisa mengurusnya,” Adrian tiba-tiba muncul di samping Aisyah, suaranya selembut sutra tetapi sekeras baja. Aisyah menoleh. Ia melihat Adrian kini berdiri hanya beberapa inci darinya, seolah menantangnya di tepi kuburan suaminya sendiri. “Anda tidak perlu khawatir tentang urusan saya, Adrian,” kata Aisyah, menggunakan pronomina formal, menjaga batas profesional di tengah tragedi pribadi. “Saya adalah istri sah Arif.” Adrian tersenyum, senyum dingin tanpa kehangatan. “Istri sah. Ya, status itu memang menguntungkan, bukan?” “Saya mencintai Arif,” balas Aisyah, merasa terhina oleh tuduhan yang tersirat dalam suaranya. “Cinta?” Adrian tertawa kecil, suara itu seperti bunyi pecahan kaca. “Di lingkaran kita, cinta hanyalah kontrak yang ditandatangani di atas kertas. Saya tahu Anda tidak pernah benar-benar memahami bisnis Atmadja, dan Anda tidak akan bertahan lama di kursi itu.” “Itu bukan urusan Anda,” tegas Aisyah, menaikkan dagu. “Ini menjadi urusan saya saat nasib perusahaan ayah saya dipertaruhkan,” Adrian membalas, matanya memancarkan api kebencian yang murni. Dia mendekat, membungkuk sedikit, membuat Aisyah merasakan napasnya yang dingin di telinga. “Dengarkan saya baik-baik, Aisyah,” bisiknya, suaranya kini berubah menjadi ancaman yang mematikan, “Kau hanya seorang pemburu emas yang kebetulan beruntung. Kau tidak akan pernah menjadi Atmadja. Dan ini—” Adrian berhenti, membiarkan ketegangan itu membengkak di udara basah. “—ini belum berakhir, saya akan buktikan bahwa surat wasiat itu palsu dan saya akan mengambil kembali setiap sen yang Anda curi, bahkan jika saya harus menyeret nama Arif ke lumpur, tunggu dan lihat sa... ...ya. Kau akan kehilangan segalanya, bahkan kehormatan Arif.”Rasa jijik yang mendalam menyelimutinya, lebih kuat daripada rasa hampa. Ia mematikan layar laptopnya. Pencarian ini menyakitkan, menguras tenaga, dan menjijikkan. Ia memutuskan untuk mengambil cuti satu hari penuh, fokus pada sesuatu yang lebih nyata dan tidak berpura-pura.Ia harus mengunjungi satu orang yang paling tidak terduga, satu-satunya orang yang ia rasakan pernah meliriknya tanpa ketamakan—meski hanya sekilas pandang di lantai bawah.Aisyah berdiri, mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar dari kantor eksekutif, menekan tombol lift. Ia tidak menuju rumahnya. Ia menuju sebuah kafe kecil di dekat kawasan perumahan kelas menengah yang terletak beberapa kilometer dari menara Admaja. Kafe itu adalah tempat di mana ia dan mendiang suaminya, Arif, sering menghabiskan waktu sebelum semuanya menjadi terlalu rumit dengan urusan dinasti.Ia perlu meminta maaf pada Arif, secara mental, karena telah mengotori ingatan mereka dengan mencari cinta melalui lensa kekuasaan.Setengah jam
Tiga minggu berlalu sejak malam di mana Aisyah memutuskan untuk mengaktifkan kembali perburuan emosionalnya—dan secara rahasia, memantau setiap pergerakan Narendra. Keputusan untuk "membuka diri" di depan publik perusahaan terasa seperti melemparkan sepotong daging segar ke dalam kolam hiu yang selama ini ia hindari.Malam itu adalah Gala Tahunan Admaja, sebuah pertunjukan kemewahan yang biasanya ia nikmati dengan kewaspadaan seorang jenderal di medan perang. Aisyah berdiri di tengah keramaian, gaun malamnya memancarkan kilau gelap yang mengintimidasi, namun sorot matanya menampik. Pengumuman keterbukaannya telah tersebar seperti api liar."Aisyah, kau terlihat memesona. Dan kabar baiknya... aku lega kau akhirnya mau membuka diri," sebuah suara hangat namun berlebihan menyapa.Itu adalah Pria Pemanfaat A, sebut saja Adrian. Adrian adalah pengusaha properti yang wajahnya terlalu dipoles dan senyumnya terlalu lebar. Ia mendekat, tangannya bergerak halus untuk menyentuh lengan Aisyah—seb
Ia melihat waktu pada log sistem. Pukul 21.45. Sudah lewat waktu makan malam yang ia rencanakan. Ia seharusnya mengirim pesan untuk membatalkan acara sosialnya, namun mata Aisyah terpaku pada nama itu. *Narendra.* Nama yang terasa asing dan begitu dekat.Tiba-tiba, sebuah dorongan yang tidak logis melandanya. Ia membatalkan pesan yang hendak ia kirim ke asistennya. Tidak, ia tidak akan mencari kekacauan sosial sekarang. Ia akan mencari ketenangan.Ia bangkit, merasakan otot-ototnya yang tegang akibat berjam-jam duduk kaku. Ia berjalan menuju pintu ruangannya, mengabaikan rasa lelah yang memukulnya. Alih-alih menuju lift pribadi menuju apartemen mewahnya, langkah kakinya berbelok ke arah sayap timur gedung, tempat unit data dan analisis berada.Ia harus tahu. Mengapa seorang karyawan biasa masih bekerja selarut ini di hari pengukuhannya? Mungkin ia sedang berusaha mencuri data? Pikiran paranoid lima tahun terakhir masih bersemayam kuat. Atau mungkin... hanya mungkin... ia bekerja keras
Ruangan rapat di lantai puncak terasa dingin, seolah suhu di sana diatur untuk meniru kebekuan di hati Aisyah. Lima tahun. Lima tahun ia berperang dalam labirin hukum dan intrik keluarga untuk membersihkan nama dinasti Admaja, dan hari ini, perang itu usai. Cahaya pagi yang tajam menyaring melalui kaca setinggi langit-langit, memantul dari permukaan meja mahoni gelap yang kini dihiasi tumpukan kertas legal yang rapi.Aisyah, dengan blazer gelapnya yang terstruktur sempurna, memandang para direktur yang mengelilinginya. Wajah mereka memancarkan campuran kekaguman dan sedikit ketakutan—kekaguman atas kemenangannya, ketakutan atas kekuatan yang kini ia genggam tanpa cela."Kita telah memverifikasi ulang semua aset, Pak Harsono," suara Aisyah terdengar datar, dipoles oleh bertahun-tahun negosiasi yang melelahkan. "Tidak ada lagi bayang-bayang utang tersembunyi, tidak ada lagi investasi yang tidak jelas. Admaja resmi—*bersih*."Ia mengambil pena emas berat dari tempatnya. Ini adalah dokume
“Tidak bisa, Aisyah,” bisik Laras, wajahnya dipenuhi rasa horor yang sesungguhnya. “Dia sudah mulai membeli saham perusahaan Anda melalui aset tersembunyi Ayah Atmadja. Saham mayoritas Atmadja Group... sekarang milik Amelia!”Aisyah membeku, telinganya mendesis mendengar lonceng kematian dari sisi yang tak terduga: Putri Rahasia itu bukan pemburu warisan biasa, melainkan operator pasar gelap. Semua pertarungan hukumnya—memenangkan wasiat Arif, memenjarakan Adrian, menyaksikan kejatuhan Rosa—semuanya hanya memberikannya sebuah kapal karam yang kini diambil alih oleh sang algojo.“Saya menuntut penundaan keputusan aset Cikandi dan Dermaga Selatan,” seru Tuan Hadi, suaranya memantul penuh kemenangan dari meja, “Tidak boleh ada aset dijual sampai kita mengatasi tuntutan 'Crystala' ini, Nyonya Aisyah! Karena jika Anda kalah, semua aset yang Anda bersihkan justru akan jatuh ke tangan musuh Anda!”Kaki Tuan Hadi sudah hampir mencakup keanginan. Namun, pandangan Aisyah kini tidak tertuju pada
“Atmadja hanyalah takhta kotor yang seharusnya tak pernah ada. Selamat datang, BOS yang baru.”Aisyah membiarkan ponsel Baskara terjatuh di meja kaca ruang rapat darurat. Bunyi benturan pelan itu adalah satu-satunya suara di tengah hiruk pikuk berita TV yang masih menggelegar tentang eksekusi mati Baskara. Lima puluh triliun uang tunai, sisa dari perburuan seumur hidup Arif Atmadja untuk membersihkan nama ayahnya, telah berubah menjadi abu panas di puncak menara itu.“Lima puluh triliun,” bisik Laras, kini telah mendapatkan kembali kendalinya. “Hilang. Amelia Santika—atau siapapun putri rahasia itu—bukan hanya pencuri atau pewaris biasa, Aisyah. Dia adalah eliminator. Dia memberitahu dunia: Uangmu kotor, dan aku akan membakarnya. Kita tidak punya uang tunai, dan ICC sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk dia sebagai pembunuh.”Aisyah berdiri tegak, merapikan jasnya. Kelelahan terpancar jelas, tetapi ada kilatan yang sama tajamnya di matanya. Pertempuran fisik dan hukum me







