LOGIN
Surabaya, 2022.
Suasana ruang kerja pengacara terasa dingin, meski kipas angin gantung sudah berputar kencang. Di atas meja kayu gelap yang mengilap, terbentang selembar dokumen tebal dengan segel merah di setiap sudutnya. Dokumen tebal itu berisi surat Perjanjian Pernikahan Berjangka. Alika Adhistya Maheswari, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, menatap lembar demi lembar tulisan itu. Tangannya yang memegang pulpen sedikit gemetar. Di sampingnya terlihat seorang pria yang sedang duduk. Pria paruh baya itu adalah ayahnya yang menunduk lesu, matanya penuh rasa bersalah. Perusahaan keluarga hampir bangkrut, dan satu-satunya jalan keluar adalah dengan pernikahan ini, yaitu menikah dengan Arkana Zayyan Adhiraga, pria berusia tiga puluh tahun, seorang pewaris tunggal dari perusahaan ternama yaitu PT Adhiraga Corp. Group. Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang pria melangkah masuk. Posturnya tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam yang mempertegas garis rahangnya yang tegas. Wajahnya tampan, tapi matanya sedingin es. Pria itu adalah Arkana. Ia duduk di kursi seberang, menatap dokumen tanpa melirik sekilas ke arah Alika. "Gimana? Apa kamu sudah baca semuanya?" Suaranya berat, tenang, tapi tak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Alika mengangguk pelan. "Sudah." "Bagus. Kamu sudah paham syarat utamanya, kan? Kalau kita menikah hanya satu tahun. Setelah itu, bercerai dengan cara baik-baik. Selama masa pernikahan, hanya aku yang berhak mengatur hidupku sendiri. Aku juga tidak akan menyentuhmu, tidak akan tidur sekamar denganmu, dan tidak akan pernah ada ikatan hati di antara kita." Arkana akhirnya menoleh, menatap tajam ke manik mata Alika. "Karena hatiku sudah jadi milik orang lain. Dan itu selamanya," ucap Arkana tegas tanpa keraguan. Deg! Kata-kata itu seperti jarum halus yang menusuk dada Alika. Ia menelan ludah, berusaha rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Ia tahu ini bukan pernikahan atas dasar cinta, tapi mendengarnya diucapkan langsung begitu dingin tetap saja terasa menyakitkan. "Saya mengerti," jawabnya lirih. "Uang untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu akan cair setelah tanda tangan ini selesai." Arkana mengambil pulpen, lalu dengan santai menuliskan namanya di kolom yang tersedia. Tulisannya tegak, tegas, tak ada keraguan sedikit pun. Alika menarik napas panjang. Ia mengingat wajah ibunya yang sudah tiada, mengingat usaha ayahnya yang hancur perlahan. Demi mereka, demi nama keluarga yang harus diselamatkan. Ia menekan pulpen ke kertas, menuliskan namanya dengan tangan yang kini berhenti gemetar. Alika Adhistya Maheswari. Tinta hitam meresap ke kertas. Selesai. Hidupnya kini terikat perjanjian dengan pria yang tak pernah memandangnya sebagai wanita. "Sudah?" tanya Arkana memastikan wanita di depannya itu menandatangani surat kontrak perjanjian. Alika hanya membalas dengan anggukan kepala, sedangkan Arkana mengukir senyum tipis saja. Sore itu juga, Alika pindah ke kediaman utama keluarga Adhiraga. Sebuah rumah besar bergaya modern klasik di kawasan perumahan elite Surabaya, yang terlihat megah dari luar tapi terasa kosong dan sunyi di dalamnya. Arkana menyerahkan kunci kamar tamu utama di sayap kanan rumah. "Ini kamarmu. Kamar sebelah di sayap kiri adalah kamar milikku. Kita tinggal satu atap, tapi jangan pernah berharap aku akan menganggapmu lebih dari sekadar tamu atau perjanjian bisnis," ucap Arkana dengan penuh penekanan. Ia berbalik hendak pergi, tapi Alika memberanikan diri bertanya. "Siapa wanita itu? Maksud saya, wanita yang Anda maksud milik Anda selamanya?" Langkah Arkana terhenti sejenak. Ia menoleh sedikit, senyum tipis yang menyimpan rindu mengembang di bibirnya. "Nadia. Dia cinta pertamaku. Dan satu-satunya wanita yang akan kucintai seumur hidupku," balas Arkana dengan tegas. Tanpa menunggu jawaban Alika, ia berjalan pergi, menghilang di balik pintu kamarnya. Alika berdiri sendirian di lorong yang panjang. Hanya menyisakan suara langkah kaki Arkana yang bergema pelan lalu menghilang. Ia menatap bayangannya sendiri di pantulan kaca jendela. "Baiklah Arkana, satu tahun. Aku akan bertahan satu tahun ini. Setelah itu aku akan pergi, dan tidak akan pernah mengganggu kamu dan Nadia lagi," bisiknya pelan pada diri sendiri. Malam itu, hujan turun membasahi kota Surabaya. Alika terbaring di kasur empuk yang sepi. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan dingin yang bukan hanya datang dari cuaca, tapi juga dari hati pria yang kini resmi menjadi suaminya di atas kertas. Di kamar seberang, Arkana justru sedang menatap foto lama di meja samping tempat tidurnya, foto dirinya berpelukan erat dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Foto itu milik Nadia, cinta pertama Arkana, wanita yang dia puja-puja selama ini. "Sebentar lagi, Sayang. Sabar, ya," bisiknya lembut pada foto itu. "Cuma satu tahun saja. Lalu setelah itu aku bebas kembali padamu." Tak ada yang tahu, di antara dinding rumah mewah itu, dua hati sedang berjalan di jalan yang berbeda, terikat tali pernikahan yang seharusnya menyatukan, tapi justru memisahkan lebih jauh dari sebelumnya.Pagi itu udara terasa begitu sejuk, menyelinap lembut lewat celah jendela kamar yang sedikit terbuka. Langit di luar bersih bersih tanpa sepotong awan gelap pun seolah semesta pun ikut tersenyum menyambut hari yang begitu berarti bagi keluarga kecil itu. Tidak ada lagi rasa cemas yang menggelayut, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan yang menyusup ke sela-sela tidur. Yang ada hanya kedamaian, hangat dan nyata. Alika berdiri di depan cermin, jari-jarinya bergerak pelan menata bunga melati yang tersangkut rapi di saku bajunya. Hatinya berdebar pelan, campuran antara rindu yang mendalam dan rasa syukur yang meluap-luap. Sudah begitu lama sejak terakhir kali dia ke sana. Terlalu lama dia menunda, karena rasanya belum pantas untuk pulang dengan tangan yang masih kosong dan hati yang masih penuh luka. Namun hari ini berbeda. Hari ini dia datang bukan sendirian. Arkana melangkah mendekat dari belakang, lengannya melingkar lembut di pinggang rampin
Sore berganti malam, suasana rumah kini tenang dan damai tanpa bayang ancaman. Setelah membantu Arka Kecil mencuci muka dan berganti pakaian, Alika membacakan dongeng sampai anak itu terlelap pulas di tempat tidurnya. Setelah menutup pintu kamar anak itu perlahan, Alika berdiri diam sejenak di lorong, tangannya meremas ujung daster pelan. Bayangan kejadian di gua kemarin seketika melintas kembali, membuat tubuhnya tiba-tiba gemetar pelan. Arkana yang melihat itu segera menghampiri, memeluk bahu istrinya lembut. "Ayo sayang. Kita masuk ke kamar kita. Aku di sini. Tenang ya nggak akan ada yang akan menyakitimu lagi." Alika membalas dengan anggukan pelan Akhirnya Mereka berjalan masuk ke kamar utama. Pintu tertutup rapat, dikunci pelan, menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat. Saat Arkana menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang yang begitu dalam, napas Alika justru tercekat. Ketika sua
Arkana terus menggendong Alika erat di pelukannya sepanjang jalan keluar dari gua. Wanita itu masih sesekali tersentak kaget, tubuhnya gemetar hebat seolah sisa ketakutan belum sepenuhnya hilang. Arkana sesekali mencium puncak kepala istrinya, berbisik lembut berulang kali untuk menenangkan: "Semua sudah selesai sayang.tenanglah..nggak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Aku di sini."bisik Arkana Di mulut gua, tim polisi sudah menunggu lengkap dengan borgol dan mobil tahanan. Reynad diseret keluar dengan kondisi wajah bengkak dan penuh darah, langkahnya terseret-seret tak berdaya. Namun matanya masih sempat melirik ke arah Alika dan Arkana.tapi bukan lagi dengan tatapan obsesi yang membara, melainkan tatapan kosong yang menyadari bahwa dia telah kalah telak. "Kalian pikir ini sudah berakhir?" gumam Reynad pelan saat lewat di dekat mereka, suaranya parau dan tak bertenaga. "Aku akui aku memang kalah.hanya...karena terlambat sedikit saja..."
Langkah kaki Arkana terhenti seketika di mulut gua. Dunia seolah runtuh di hadapan matanya, napasnya tertahan di kerongkongan hingga terasa menyakitkan. Cahaya senter yang dipegangnya bergetar hebat, menyorot jelas pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika. Di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, Alika terbaring tak berdaya di atas tanah berbatu. Tangan istrinya masih terikat kuat di belakang punggung, gaun putih pengantinnya sudah robek di beberapa bagian, menampakkan kulit bahu yang pucat dan penuh goresan. Dan di atas tubuh mungil itu, Reynad menindihnya dengan berat badannya, kedua tangan pria jahat itu menahan pergelangan kaki Alika sementara wajahnya mendekat berusaha mencium leher wanita yang terus meronta sekuat tenaga. "Tolong... lepaskan..aku...Dasar. kau binatang!" isak Alika histeris, air mata bercampur debu membasahi wajahnya. Dia menendang dengan kaki yang bebas, memutar kepala menghindar, namun tenaganya tak sebanding dengan Reynad
Suara deru mesin makin terdengar jelas, memecah kesunyian hutan yang mencekam. Reynad mengangkat kepala tajam, matanya menyala liar mendengar tanda kedatangan orang-orang yang dia benci. Namun bukannya panik atau menyerah, bibirnya justru menyunggingkan senyum licik yang makin lebar. "Apa Kau pikir mereka akan bisa menyelamatkanmu begitu saja?hmm?!" bisiknya dingin ke telinga Alika. "tidak semudah itu sayan.karena aku sudah menyiapkan jalan keluar lain. Dan sebelum mereka sempat mendapatkanmu lagi..akan ku pastikan kau akan benar-benar jadi milikku!"Krakkkk Dengan gerakan cepat, dia merobek ikatan kaki Alika namun tetap membiarkan tangan wanita itu terikat kuat di belakang punggung. Tanpa memberi kesempatan Alika untuk berteriak, dia menyambar tubuh wanita itu dan menyeretnya lewat pintu belakang rumah tua yang menuju ke jalur setapak tersembunyi.jalur yang hanya dia dan mendiang kakeknya yang tahu." Aku mohon lepaskan aku, aku istr
Deru mesin mobil perlahan mereda, digantikan suara ranting kering yang patah terinjak ban kendaraan. Pintu mobil pun terbuka, dan udara dingin beraroma tanah basah serta daun kering langsung menyergap tubuh Alika yang hanya mengenakan gaun pengantin tipis. Di hadapannya berdiri bangunan kayu tua yang sudah lapuk dimakan waktu, dindingnya berlumut gelap, jendelanya tertutup papan.seolah bangunan ini sudah lama dikubur oleh kesunyian hutan pinus. "Turun," perintah Reynad singkat, tangannya mencengkeram lengan Alika kuat sekali hingga meninggalkan bekas merah di kulit putihnya." Akhhhh sakit. " Pekik Alika meringis kesakitan saat mendapat perlakuan kasar dari paman suaminya. " Ayo buruan turun! " Bentak Reynad tak sabaran. Alika melangkah gemetar, kakinya terasa lemas namun dia berusaha tetap tegak. Matanya menyapu sekelilingtak ada jalan keluar lain selain hutan lebat yang gelap gulita. Pria di sampingnya ini bukan lagi manusia, mela







