Share

Bab 2

Author: AmeeraKa94
last update publish date: 2026-07-10 23:45:57

Pagi pertama sebagai Nyonya Adhiraga terasa sunyi senyap bagi Alika. Cahaya matahari pagi menembus tirai sutra tebal, menyinari ruangan kamar yang luasnya melebihi seluruh rumah tempat Alika tumbuh besar. Ia sudah bangun sejak pukul lima pagi, merapikan barang-barangnya sendiri, lalu berjalan perlahan menuju ruang makan.

Meja panjang dari kayu jati sudah tertata rapi. Ada lima jenis sarapan berbeda, segar dan hangat, namun tak ada satu pun kehangatan yang menyambutnya. Alika duduk di kursi paling ujung, menunggu dengan tenang. Sepuluh menit kemudian, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat.

Arkana masuk dengan setelan jas abu-abu yang rapi. Wajahnya segar, tetapi matanya tetap dingin seperti kemarin. Ia duduk di kursi kepala meja, tak melirik sedikit pun sekilas ke arah Alika yang duduk tak jauh darinya. Pelayan menuangkan teh hangat ke gelasnya, namun tak ada percakapan sedikit pun.

"Selamat pagi, Mas," ucap Alika pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan dada.

Arkana baru mengangkat wajah saat suapannya sudah setengah habis. Tatapannya datar, tanpa ekspresi. "Di rumah ini, kamu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan Mas. Panggil nama saya saja. Atau kalau bisa, jangan pernah panggil sama sekali kalau tidak terlalu penting!" ucap Arkana yang kini tatapannya berubah tajam ke arah Alika.

"Ingat! Kita di sini hanya menjalankan kesepakatan! Tidak lebih," sambungnya lagi dengan nada dingin namun tegas.

Deg!

Dada Alika terasa tertusuk tajam. Ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. "Baik... Arkana. Saya hanya ingin bilang, barangkali ada yang bisa saya bantu atau saya kerjakan di rumah ini..."

"Kau tak perlu melakukan apa-apa," potong Arkana dengan cepat, menaruh sendoknya dengan bunyi beradu piring yang cukup keras. "Ingat, Al, kau di sini hanya sebagai pelengkap status di mata publik dan keluarga. Urusan rumah tangga sudah ada pelayan. Urusanku sendiri, ataupun urusan pribadiku, itu adalah hak penuh dan jadi tanggung jawabku sendiri! Dan aku tegaskan sekali lagi sama kamu, bahwa hati ini sudah tertutup rapat untuk wanita lain selain Nadia. Termasuk kamu!" sambung Arkana dengan nada suara tegas dan juga dingin.

Ia langsung berdiri, menyeka mulutnya dengan tisu, lalu melangkah pergi menuju pintu keluar.

"Pintu kamar di sayap kiri itu sudah kukunci dari dalam. Jadi, jangan pernah mencoba mendekat ke sana. Dan jangan pernah berharap aku akan tidur di kamarmu," tambahnya sebelum menghilang, meninggalkan Alika sendirian di ruangan besar itu.

Alika menunduk, menatap sarapannya yang tak tersentuh. Matanya memanas, tetapi ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Ia sudah tahu ini bukan pernikahan cinta. Tetapi, mendengarnya ditegaskan berulang kali dengan nada sedingin itu, rasanya tetap seperti dihantam bongkahan es.

Seharian itu ia menghabiskan waktu berjalan-jalan di halaman belakang yang luas. Ada kolam renang bersih, taman bunga yang terawat indah, dan pemandangan kota yang menakjubkan dari ketinggian. Semuanya terlihat sangat sempurna, namun terasa seperti penjara emas. Setiap kali pelayan menyapanya dengan sopan, ia hanya tersenyum tipis. Ia tak berani berharap lebih.

Sore berganti malam. Jam dinding berdentang pukul sebelas malam saat suara mobil Arkana terdengar memasuki halaman. Alika masih duduk di teras depan, entah kenapa tak sengaja menunggu. Arkana turun dari mobil, wajahnya terlihat lelah, namun matanya berbinar senang, ekspresi yang belum pernah Alika lihat selama ini.

Ia memegang ponselnya erat, tersenyum saat berbicara di telepon.

"Iya, Sayang... aku sudah sampai. Maaf ya, baru menelepon sekarang... Aku janji minggu depan aku pasti meluangkan waktu untuk kamu... Sabar ya, Sayang, sebentar lagi aku akan bebas dan kita bisa bersama..." bisiknya lembut di ujung telepon.

Itu suara yang begitu lembut, penuh rindu, suara yang tak pernah ditujukan untuk Alika.

Alika segera memunggunginya dan masuk ke dalam rumah sebelum Arkana menyadari keberadaannya. Ia berlari masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu bersandar di balik daun pintu itu. Air mata yang ditahan seharian akhirnya menetes membasahi pipinya.

Satu tahun. Hanya satu tahun. Itu janji yang ia ucapkan berkali-kali dalam hati. Ia akan bertahan satu tahun ini, tak akan menuntut lebih, tak akan mencuri hati yang bukan miliknya.

"Ya Tuhan, berikanlah hamba kesabaran yang tiada batasnya, sampai tiba waktunya nanti," gumam Alika dalam batinnya.

Malam itu, angin bertiup kencang mengguncang jendela. Di rumah besar itu, dinding pemisah bukan hanya sekadar tembok antara dua kamar. Ada dinding tebal yang dibangun oleh Arkana dinding yang terbuat dari cinta masa lalu, kesetiaan pada Nadia, dan ketidakpedulian yang begitu dalam terhadap Alika.

Dan Alika tahu, untuk menembus dinding itu, ia tak punya kekuatan apa pun...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 50

    Punggung Nadia yang menjauh di ujung lorong itu seolah memanggil keinginan untuk membiarkannya pergi begitu saja, membiarkan segalanya selesai seketika. Namun di balik langkahnya yang terburu-buru itu, Arkana bisa merasakan getaran kebencian yang masih tersisa kuat di hati wanita itu. Ia tahu, jika dibiarkan pergi dalam keadaan masih penuh prasangka dan kemarahan yang salah arah, benih-benih masalah baru pasti akan tumbuh dan mengancam ketenangan Alika serta Arka nanti. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berlarut-larut, tak mau lagi Alika terus-menerus menanggung tuduhan yang tidak berdasar hanya karena kebohongan yang selama ini ditutup rapat. "Nadia, tunggu!" panggil Arkana dengan suara lantang namun tidak berteriak, cukup terdengar jelas hingga membuat langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu. Perlahan namun pasti, Arkana melangkah mendekat, langkahnya tenang dan mantap. Wajahnya tidak lag

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 49

    Keheningan yang baru saja terbangun di ruangan itu belum sempat terasa menenangkan, tiba-tiba dipecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan keras, cepat, dan penuh kemarahan dari ujung lorong rumah sakit yang sepi. Semakin lama suara itu semakin mendekat, seolah setiap langkah membawa badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Belum sempat Alika atau Arkana saling bertukar pandang lebih lama, pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba dengan bantingan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi brakk yang menggetarkan dinding.BRAK Alika dan Arkana serentak menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanitq yang tak lain Nadia, dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu, wajahnya yang biasanya selalu tampil rapi dan manis kini merah padam terbakar amarah yang meluap-luap tak terkendali. Manik matanya yang indah kini menatap tajam, berkilat penuh kebencian, melirik bergantian dari wajah Alika, lalu berhenti lama menatap Arkana, hingga akhir

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 48

    Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 47

    Suasana hangat yang tadi sempat terasa di ruangan itu perlahan mendingin kembali, berganti dengan kekakuan yang masih tersisa di antara mereka berdua. Arkana melepaskan cengkeramannya pelan dari bahu Alika, lalu mundur selangkah. Tatapannya yang tadi penuh bahagia dan takjub kini berubah tajam, menyimpan amarah yang tertahan lama—bukan pada Alika, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu menyakitkan. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan napas menyisakan luka baru di dadanya. "Tiga tahun, Alika..." suaranya rendah namun bergetar hebat, setiap kata terasa tertahan di kerongkongan, keluar dengan susah payah. "Tiga tahun lebih kamu menyembunyikan dia dariku. Kamu tahu kan berapa lama waktu itu berlalu? Empat tahun, Alika. Empat tahun aku hidup dalam ketidaktahuan, tanpa pernah menyangka bahwa di luar sana sudah ada darah dagingku sendiri yang tumbuh sehat dan lucu. Empat tahun ibuku yang setiap malam berdoa dengan air mata semoga aku segera diberi ketu

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 46

    Pelukan hangat itu terasa begitu nyata, begitu menenangkan, namun di dalamnya tersimpan ribuan luka lama yang belum sempat benar-benar kering. Arkana tak melepaskan rangkulan pada tubuh Alika sedetik pun, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu dan segala kebahagiaan barunya akan lenyap kembali bagaikan kabut pagi yang hilang tertiup angin. Hatinya bergejolak hebat, tak menentu,separuh jiwanya terasa hancur lebur menjadi debu menyadari betapa bodoh dan butanya ia selama ini, sementara separuh sisanya meledak dalam kebahagiaan luar biasa yang tak terlukiskan karena menyadari bahwa takdir ternyata masih menyisakan keajaiban terindah dalam hidupnya. "Arka... anakku..." bisiknya berulang kali dengan suara parau dan bergetar, matanya tak lepas dari pintu ruang rawat tempat anak itu berbaring tenang. "Dia ada di sana... darahku baru saja mengalir di tubuhnya... dia benar-benar darah dagingku sendiri..." Ia perlahan melepaskan pelukann

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 45

    Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status