เข้าสู่ระบบKeesokan paginya, cahaya matahari pagi yang hangat sudah menyelinap masuk lewat celah tirai jendela ruang rawat, membawa suasana yang sedikit lebih segar dibanding hari kemarin. Wajah Arka yang tadi pucat pasi kini sudah mulai kembali cerah, matanya yang bulat bersinar riang begitu melihat pintu ruangan terbuka dan sosok yang sangat ia kenal melangkah masuk sambil tersenyum lebar. "Hai om Dokter !" seru Arka dengan suara lantang penuh kegembiraan, ia langsung duduk tegak di atas kasur, menyambut uluran tangan Satria yang dengan lembut mengelus ubun-ubunnya. "Wah, mainan balok kayu kesukaan Arka! Terima kasih banyak ya Om Dokter!" "Sama-sama, Nak," jawab Satria lembut sambil meletakkan kotak mainan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Matanya yang teduh kemudian melirik sekilas ke arah pintu yang masih terbuka, seolah memberi isyarat halus. "Coba Arka lihat deh... siapa yang datang lagi pagi ini? Beliau juga sudah lama berdiri di sana, i
Suasana di lorong rumah sakit perlahan menjadi tenang kembali setelah kepergian Nadia yang meninggalkan jejak ancaman dan kepahitan. Namun ketenangan itu belum berlangsung lama, ketika suara langkah kaki yang mantap dan tenang terdengar mendekat dari arah berlawanan. Satria datang membawa dua gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap dan sebungkus roti isi di tangannya,kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan selama tiga tahun terakhir ini. Ia tak pernah lupa memastikan Alika tetap makan dan minum saat sedang sedih, lelah, atau sedang menghadapi situasi yang berat seperti sekarang. Satria berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Pertama ia menyodorkan gelas teh hangat dan roti itu ke tangan Alika dengan tatapan lembut dan perhatian. "Minum dulu, makanlah walau sedikit. Jangan sampai tubuhmu ikut ambruk setelah semua kejadian ini," ucapnya pelan penuh keakraban yang sudah terbiasa." Makasih Satria. " ucap AlikaSetelah memastikan Alika men
Punggung Nadia yang menjauh di ujung lorong itu seolah memanggil keinginan untuk membiarkannya pergi begitu saja, membiarkan segalanya selesai seketika. Namun di balik langkahnya yang terburu-buru itu, Arkana bisa merasakan getaran kebencian yang masih tersisa kuat di hati wanita itu. Ia tahu, jika dibiarkan pergi dalam keadaan masih penuh prasangka dan kemarahan yang salah arah, benih-benih masalah baru pasti akan tumbuh dan mengancam ketenangan Alika serta Arka nanti. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berlarut-larut, tak mau lagi Alika terus-menerus menanggung tuduhan yang tidak berdasar hanya karena kebohongan yang selama ini ditutup rapat. "Nadia, tunggu!" panggil Arkana dengan suara lantang namun tidak berteriak, cukup terdengar jelas hingga membuat langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu. Perlahan namun pasti, Arkana melangkah mendekat, langkahnya tenang dan mantap. Wajahnya tidak lag
Keheningan yang baru saja terbangun di ruangan itu belum sempat terasa menenangkan, tiba-tiba dipecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan keras, cepat, dan penuh kemarahan dari ujung lorong rumah sakit yang sepi. Semakin lama suara itu semakin mendekat, seolah setiap langkah membawa badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Belum sempat Alika atau Arkana saling bertukar pandang lebih lama, pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba dengan bantingan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi brakk yang menggetarkan dinding.BRAK Alika dan Arkana serentak menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanitq yang tak lain Nadia, dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu, wajahnya yang biasanya selalu tampil rapi dan manis kini merah padam terbakar amarah yang meluap-luap tak terkendali. Manik matanya yang indah kini menatap tajam, berkilat penuh kebencian, melirik bergantian dari wajah Alika, lalu berhenti lama menatap Arkana, hingga akhir
Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan
Suasana hangat yang tadi sempat terasa di ruangan itu perlahan mendingin kembali, berganti dengan kekakuan yang masih tersisa di antara mereka berdua. Arkana melepaskan cengkeramannya pelan dari bahu Alika, lalu mundur selangkah. Tatapannya yang tadi penuh bahagia dan takjub kini berubah tajam, menyimpan amarah yang tertahan lama—bukan pada Alika, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu menyakitkan. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan napas menyisakan luka baru di dadanya. "Tiga tahun, Alika..." suaranya rendah namun bergetar hebat, setiap kata terasa tertahan di kerongkongan, keluar dengan susah payah. "Tiga tahun lebih kamu menyembunyikan dia dariku. Kamu tahu kan berapa lama waktu itu berlalu? Empat tahun, Alika. Empat tahun aku hidup dalam ketidaktahuan, tanpa pernah menyangka bahwa di luar sana sudah ada darah dagingku sendiri yang tumbuh sehat dan lucu. Empat tahun ibuku yang setiap malam berdoa dengan air mata semoga aku segera diberi ketu







