Share

Bab 3

Author: AmeeraKa94
last update publish date: 2026-07-10 23:47:58

Hari-hari pun berlalu dalam kesunyian yang sama. Setiap pagi Alika bangun lebih awal, kadang menyiapkan teh hangat di meja makan, tetapi tak pernah sekalipun ia berpapasan dengan Arkana saat sarapan. Pria itu sudah pergi sejak subuh, entah ke kantor atau ke mana.

Siang berganti sore hingga langit berubah gelap. Jam dinding di ruang tengah sudah berdentang pukul sepuluh malam, tetapi rumah besar itu masih sepi. Alika duduk di sofa ruang tamu, membaca buku sebentar, lalu melamun menatap pintu utama. Ia tahu tak seharusnya menunggu, tetapi hatinya entah kenapa selalu berharap ada hal kecil yang berubah.

Hingga pukul dua belas malam, suara mesin mobil akhirnya terdengar. Alika segera berdiri, berniat sekadar menyapa sebentar, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Arkana masuk dengan wajah lelah, pakaiannya sedikit berantakan, dan senyum samar yang masih tersisa di bibirnya. Pasti saja ia baru saja bertemu Nadia.

Arkana melempar kunci mobil ke meja, lalu berjalan lewat di depan Alika seolah-olah ia tak melihatnya.

"Kenapa kau belum tidur?" tanyanya sekilas, tanpa berhenti melangkah.

"Belum mengantuk... aku cuma mau bilang, makan malamnya sudah disiapkan di kulkas, biar saya hangatkan dulu," jawab Alika pelan.

"Tidak perlu! Aku sudah makan di luar," potongnya singkat. Tanpa menoleh lagi, ia langsung naik ke lantai atas, masuk ke kamarnya yang terkunci rapat.

Hati Alika kembali terasa perih. Ia menghela napas panjang, lalu mematikan lampu ruang tamu satu per satu. Benar kata Arkana, mereka memang seperti orang asing yang kebetulan menumpang tinggal di rumah yang sama. Kadang seharian penuh mereka tak saling bertemu, dan kalaupun berpapasan, hanya sapaan dingin yang tak sampai hati.

Kadang Alika bertanya dalam hati, "Apakah seburuk itu aku di matanya? Atau memang hatinya sudah tertutup rapat sampai tak ada celah sedikit pun untuk melihat orang lain?"

Suatu sore Alika memutuskan keluar sebentar untuk membeli kebutuhan pribadi. Saat pulang, ia melihat mobil Arkana terparkir di halaman, akan tetapi ada mobil lain di sebelahnya. Dia yakin sekali mobil itu milik Nadia.

Alika masuk lewat pintu samping, berniat langsung ke kamar, tetapi suara percakapan di ruang tengah menahannya sejenak.

"Bukankah aku sudah bilang, tidak usah sering ke sini, nanti ketahuan orang," suara Arkana terdengar sangat lembut.

"Aku cuma kangen, kangen banget sama kamu, Mas... rasanya aku sudah tidak sabar menunggu setahun ini cepat habis," jawab Nadia manja sembari bergelayut di lengan Arkana.

"Sabar ya... sebentar lagi kok. Nanti aku pasti menceraikannya, lalu kita bisa menikah secepatnya," ucap Arkana.

Nadia tersenyum girang, lalu mengucup pipi kanan dan kiri, hingga ciuman terakhir di bibir Arkana.

Cup.

Cup.

Cup.

"Aku jadi semakin cinta sama kamu," ujar Nadia dengan suara manja.

Arkana tersenyum hangat pada gadis pujaannya itu.

"Yang benar? Kamu serius cinta sama aku?" tanya Arkana memastikan.

Nadia langsung mengangguk cepat, lalu tangannya mengalung di leher Arkana. Keduanya saling menatap penuh dengan rasa cinta.

"Serius dong, Sayang. Mau bukti?" tanya Nadia dengan suara terdengar parau bercampur dengan napas yang memburu saat menarik wajah Arkana supaya tidak berpaling darinya. "Bukannya kamu juga cinta sama aku? Jadi, aku tidak salah kan, kalau aku menginginkan hal lebih darimu?" sambung Nadia.

Arkana tersenyum lembut membalas tatapan hangat kekasihnya itu, "Tentu saja, Sayang. Apa pun yang kamu mau, akan aku berikan."

"Termasuk tidur denganku?"

Deg!

Kalimat itu menembus dada Alika, lebih sakit dari biasanya. Ia tak tinggal diam lagi, melangkah pelan menuju kamarnya, menutup pintu dengan hati-hati.

Tak ingin tahu lebih banyak hal tentang sepasang kekasih yang sedang dilanda kasmaran itu. Di balik pintu itu, ia duduk bersandar, menahan isak tangis yang sebentar lagi meledak.

Arkana tak pernah menyapanya dengan nada selembut itu. Tak pernah sekalipun menatapnya dengan mata yang berbinar penuh rindu. Semua kelembutan pria itu sudah habis diberikan untuk Nadia.

Malam itu hujan turun deras sekali. Suara angin memukul kaca jendela terdengar seperti tangisan yang tak berhenti. Alika memeluk lututnya erat, berjanji lagi pada dirinya sendiri, "Sabar, Alika. Waktu berjalan cepat kok. Nanti setelah satu tahun ini berakhir, kamu bisa bebas pergi dari sini, dan tidak perlu mendengar janji manis untuk orang lain lagi," gumamnya dengan suara lirih.

Dan begitulah hari demi hari berlalu. Arkana selalu pulang larut, kadang tak pulang sama sekali, dan tak pernah sekalipun menyapa Alika lebih dari dua kata. Rumah mewah itu semakin terasa dingin, seolah tak pernah ada penghuni yang benar-benar tinggal di dalamnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 93

    Pagi itu udara terasa begitu sejuk, menyelinap lembut lewat celah jendela kamar yang sedikit terbuka. Langit di luar bersih bersih tanpa sepotong awan gelap pun seolah semesta pun ikut tersenyum menyambut hari yang begitu berarti bagi keluarga kecil itu. Tidak ada lagi rasa cemas yang menggelayut, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan yang menyusup ke sela-sela tidur. Yang ada hanya kedamaian, hangat dan nyata. Alika berdiri di depan cermin, jari-jarinya bergerak pelan menata bunga melati yang tersangkut rapi di saku bajunya. Hatinya berdebar pelan, campuran antara rindu yang mendalam dan rasa syukur yang meluap-luap. Sudah begitu lama sejak terakhir kali dia ke sana. Terlalu lama dia menunda, karena rasanya belum pantas untuk pulang dengan tangan yang masih kosong dan hati yang masih penuh luka. Namun hari ini berbeda. Hari ini dia datang bukan sendirian. Arkana melangkah mendekat dari belakang, lengannya melingkar lembut di pinggang rampin

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 92

    Sore berganti malam, suasana rumah kini tenang dan damai tanpa bayang ancaman. Setelah membantu Arka Kecil mencuci muka dan berganti pakaian, Alika membacakan dongeng sampai anak itu terlelap pulas di tempat tidurnya. Setelah menutup pintu kamar anak itu perlahan, Alika berdiri diam sejenak di lorong, tangannya meremas ujung daster pelan. Bayangan kejadian di gua kemarin seketika melintas kembali, membuat tubuhnya tiba-tiba gemetar pelan. Arkana yang melihat itu segera menghampiri, memeluk bahu istrinya lembut. "Ayo sayang. Kita masuk ke kamar kita. Aku di sini. Tenang ya nggak akan ada yang akan menyakitimu lagi." Alika membalas dengan anggukan pelan Akhirnya Mereka berjalan masuk ke kamar utama. Pintu tertutup rapat, dikunci pelan, menyisakan cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat. Saat Arkana menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang yang begitu dalam, napas Alika justru tercekat. Ketika sua

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 91

    Arkana terus menggendong Alika erat di pelukannya sepanjang jalan keluar dari gua. Wanita itu masih sesekali tersentak kaget, tubuhnya gemetar hebat seolah sisa ketakutan belum sepenuhnya hilang. Arkana sesekali mencium puncak kepala istrinya, berbisik lembut berulang kali untuk menenangkan: "Semua sudah selesai sayang.tenanglah..nggak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Aku di sini."bisik Arkana Di mulut gua, tim polisi sudah menunggu lengkap dengan borgol dan mobil tahanan. Reynad diseret keluar dengan kondisi wajah bengkak dan penuh darah, langkahnya terseret-seret tak berdaya. Namun matanya masih sempat melirik ke arah Alika dan Arkana.tapi bukan lagi dengan tatapan obsesi yang membara, melainkan tatapan kosong yang menyadari bahwa dia telah kalah telak. "Kalian pikir ini sudah berakhir?" gumam Reynad pelan saat lewat di dekat mereka, suaranya parau dan tak bertenaga. "Aku akui aku memang kalah.hanya...karena terlambat sedikit saja..."

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 90

    Langkah kaki Arkana terhenti seketika di mulut gua. Dunia seolah runtuh di hadapan matanya, napasnya tertahan di kerongkongan hingga terasa menyakitkan. Cahaya senter yang dipegangnya bergetar hebat, menyorot jelas pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika. Di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, Alika terbaring tak berdaya di atas tanah berbatu. Tangan istrinya masih terikat kuat di belakang punggung, gaun putih pengantinnya sudah robek di beberapa bagian, menampakkan kulit bahu yang pucat dan penuh goresan. Dan di atas tubuh mungil itu, Reynad menindihnya dengan berat badannya, kedua tangan pria jahat itu menahan pergelangan kaki Alika sementara wajahnya mendekat berusaha mencium leher wanita yang terus meronta sekuat tenaga. "Tolong... lepaskan..aku...Dasar. kau binatang!" isak Alika histeris, air mata bercampur debu membasahi wajahnya. Dia menendang dengan kaki yang bebas, memutar kepala menghindar, namun tenaganya tak sebanding dengan Reynad

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 89

    Suara deru mesin makin terdengar jelas, memecah kesunyian hutan yang mencekam. Reynad mengangkat kepala tajam, matanya menyala liar mendengar tanda kedatangan orang-orang yang dia benci. Namun bukannya panik atau menyerah, bibirnya justru menyunggingkan senyum licik yang makin lebar. "Apa Kau pikir mereka akan bisa menyelamatkanmu begitu saja?hmm?!" bisiknya dingin ke telinga Alika. "tidak semudah itu sayan.karena aku sudah menyiapkan jalan keluar lain. Dan sebelum mereka sempat mendapatkanmu lagi..akan ku pastikan kau akan benar-benar jadi milikku!"Krakkkk Dengan gerakan cepat, dia merobek ikatan kaki Alika namun tetap membiarkan tangan wanita itu terikat kuat di belakang punggung. Tanpa memberi kesempatan Alika untuk berteriak, dia menyambar tubuh wanita itu dan menyeretnya lewat pintu belakang rumah tua yang menuju ke jalur setapak tersembunyi.jalur yang hanya dia dan mendiang kakeknya yang tahu." Aku mohon lepaskan aku, aku istr

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 88

    Deru mesin mobil perlahan mereda, digantikan suara ranting kering yang patah terinjak ban kendaraan. Pintu mobil pun terbuka, dan udara dingin beraroma tanah basah serta daun kering langsung menyergap tubuh Alika yang hanya mengenakan gaun pengantin tipis. Di hadapannya berdiri bangunan kayu tua yang sudah lapuk dimakan waktu, dindingnya berlumut gelap, jendelanya tertutup papan.seolah bangunan ini sudah lama dikubur oleh kesunyian hutan pinus. "Turun," perintah Reynad singkat, tangannya mencengkeram lengan Alika kuat sekali hingga meninggalkan bekas merah di kulit putihnya." Akhhhh sakit. " Pekik Alika meringis kesakitan saat mendapat perlakuan kasar dari paman suaminya. " Ayo buruan turun! " Bentak Reynad tak sabaran. Alika melangkah gemetar, kakinya terasa lemas namun dia berusaha tetap tegak. Matanya menyapu sekelilingtak ada jalan keluar lain selain hutan lebat yang gelap gulita. Pria di sampingnya ini bukan lagi manusia, mela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status