مشاركة

Bab 4

مؤلف: AmeeraKa94
last update تاريخ النشر: 2026-07-11 00:00:59

Siang itu hujan turun deras, membuat udara di dalam rumah terasa semakin sejuk. Alika masuk ke ruang kerja Arkana untuk meletakkan berkas tagihan yang baru datang, sebelumnya pelayan bilang itu tugas yang harus ia kerjakan sebagai istri sah.

Ruangan itu sangat rapi, berbau wangi parfum yang sama dengan yang dipakai Arkana. Saat hendak menaruh kertas di atas meja, sikunya tak sengaja menyenggol laci bawah yang sedikit terbuka. Sebuah bingkai foto tua tergelincir keluar dan jatuh ke lantai.

Prang!

Alika buru-buru memungutnya. Seketika napasnya tertahan.

Di dalam foto itu, Arkana terlihat jauh lebih muda, tersenyum lebar sambil memeluk erat pinggang seorang wanita cantik berambut panjang. Wanita dalam foto itu ternyata adalah perempuan bernama Nadia. Mereka berdua tertawa bahagia di depan air terjun, wajah mereka penuh cinta yang tak perlu diucapkan dan diragukan lagi.

"Kau sedang apa di sana?"

Suara berat Arkana tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Alika terlonjak kaget, bingkai foto itu masih tergenggam erat di tangannya.

"Saya... saya hanya mau meletakkan berkas tagihan," jawab Alika gugup, menyodorkan foto itu. "Maaf, tadi laci ini terbuka sedikit, dan tidak sengaja bingkai foto itu jatuh sendiri," sambungnya lagi dengan napas terbata-bata karena gugup.

Arkana berjalan cepat mendekat, menyambar foto itu dari tangan Alika dengan gerakan kasar, lalu mengelap kacanya pelan seolah takut benda itu rusak. Tatapannya berubah tajam menatap Alika.

"Sudah kubilang berapa kali! Kamu tidak berhak melihat barang pribadiku," ucapnya dingin. "Dan kamu juga tidak berhak masuk ke sini kalau aku sedang tidak ada di ruangan ini! Paham kamu?!" ucap Arkana dengan tegas.

"A-aku tidak bermaksud untuk mengintip, Arkana. Aku hanya..."

"Cukup!" potong Arkana keras. Ia menaruh foto itu kembali ke laci, lalu menguncinya rapat. "Sudah kubilang berkali-kali, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku! Termasuk hal tentang Nadia. Dia memang hanya masa lalu, tapi sekarang, dia akan jadi masa depanku. Karena tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Termasuk kamu," ucap Arkana lagi dengan nada penuh ketegasan sekaligus penekanan.

Dada Alika terasa sangat sesak. Ia menatap mata Arkana yang tak menyisakan sedikit pun rasa iba. "Aku tahu, aku hanya istri di atas kertas, kan? Aku paham itu. Tapi tolong... jangan perlakukan aku seolah aku bukan manusia yang tidak punya perasaan."

Arkana terdiam sejenak, lalu tertawa kecil tanpa senyum. "Perasaan? Kamu bilang perasaan? Hei, bukankah kamu yang datang sendiri dan meminta pernikahan terjadi, demi uang keluargamu? Lalu sekarang kamu malah bicara soal perasaan? Jangan konyol, Alika," seru Arkana sembari menatap remeh perempuan di depannya.

Kalimat itu menampar Alika lebih keras dari apa pun. Ia menelan ludah yang terasa pahit, lalu menunduk dalam. "Benar juga... mungkin aku yang lupa dengan posisiku."

Ia berbalik hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara mobil berhenti di halaman depan, diikuti suara tawa wanita yang sangat Alika kenal.

Arkana melirik jam di dinding, lalu berjalan mendahului Alika menuju pintu depan.

"Kamu tunggu di sini," perintahnya singkat. "Nadia datang. Aku tidak mau ada pertengkaran yang merusak suasana di rumah ini, paham kamu!"

Jantung Alika berdegup kencang. Nadia datang ke rumah ini? Ke rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya sebagai istri Arkana?

Dari balik dinding lorong, Alika melihat Arkana membuka pintu lebar-lebar, menyambut wanita itu dengan senyum paling lembut yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Sayang... kau sudah sampai," sapa Arkana hangat, langsung menarik Nadia masuk dan memeluknya erat.

"Ya dong, kan aku sangat merindukanmu, Arkana," jawab Nadia manja, lalu menoleh ke sekeliling ruangan seolah mencari sesuatu. "Ngomong-ngomong... si wanita penggantiku itu ada di sini tidak? Aku dengar dia masih menumpang tinggal di rumah kita?"

Arkana mengecup kening Nadia sekilas, lalu menjawab pelan tetapi tegas—tepat di mana Alika bisa mendengarnya dengan jelas.

"Dia hanya tamu sementara, Sayang. Tidak usah khawatir ya, karena tidak lama lagi dia juga akan pergi selamanya dari rumah ini. Karena rumah ini, masa depan ini, semuanya hanya milik kita berdua."

"Oh, so sweet, Sayang. I love you. Muach!"

Alika menutup mulutnya erat-erat menahan isak tangis. Saat itulah, ia melihat tangan Nadia yang melingkar di lengan Arkana dan di jari manis wanita itu, sudah terpasang cincin berlian yang besar.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 50

    Punggung Nadia yang menjauh di ujung lorong itu seolah memanggil keinginan untuk membiarkannya pergi begitu saja, membiarkan segalanya selesai seketika. Namun di balik langkahnya yang terburu-buru itu, Arkana bisa merasakan getaran kebencian yang masih tersisa kuat di hati wanita itu. Ia tahu, jika dibiarkan pergi dalam keadaan masih penuh prasangka dan kemarahan yang salah arah, benih-benih masalah baru pasti akan tumbuh dan mengancam ketenangan Alika serta Arka nanti. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman yang berlarut-larut, tak mau lagi Alika terus-menerus menanggung tuduhan yang tidak berdasar hanya karena kebohongan yang selama ini ditutup rapat. "Nadia, tunggu!" panggil Arkana dengan suara lantang namun tidak berteriak, cukup terdengar jelas hingga membuat langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu. Perlahan namun pasti, Arkana melangkah mendekat, langkahnya tenang dan mantap. Wajahnya tidak lag

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 49

    Keheningan yang baru saja terbangun di ruangan itu belum sempat terasa menenangkan, tiba-tiba dipecah oleh suara langkah kaki yang dihentakkan keras, cepat, dan penuh kemarahan dari ujung lorong rumah sakit yang sepi. Semakin lama suara itu semakin mendekat, seolah setiap langkah membawa badai yang siap meluluhlantakkan segalanya. Belum sempat Alika atau Arkana saling bertukar pandang lebih lama, pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba dengan bantingan yang sangat keras hingga menimbulkan bunyi brakk yang menggetarkan dinding.BRAK Alika dan Arkana serentak menoleh ke arah pintu. Di sana sudah berdiri seorang wanitq yang tak lain Nadia, dadanya naik turun hebat menahan napas yang memburu, wajahnya yang biasanya selalu tampil rapi dan manis kini merah padam terbakar amarah yang meluap-luap tak terkendali. Manik matanya yang indah kini menatap tajam, berkilat penuh kebencian, melirik bergantian dari wajah Alika, lalu berhenti lama menatap Arkana, hingga akhir

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 48

    Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama, begitu pekat hingga seolah suara detak jam dinding saja terdengar begitu nyaring dan berat. Arkana berdiri diam mematung di tempatnya, seolah dipukul bongkahan batu besar yang menghantam dadanya berkali-kali, membuat napasnya tersendat-sendat. Kata-kata tajam namun penuh kepedihan yang baru saja meluncur dari mulut Alika terus berputar tanpa henti di dalam kepalanya, menampar keras setiap sisi hati yang dulu tertutup rapat oleh ego buta dan penyangkalan yang konyol. Dia baru benar-benar sadar sekarang selama ini, selama bertahun-tahun lamanya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Hanya memikirkan betapa perihnya hatinya saat melihat bayang-bayang masa lalu, betapa rindunya dia pada sosok yang salah dia letakkan di hati, betapa sakitnya melihat Alika begitu dekat dengan Satria, betapa menyesalnya dia telah melewatkan hari-hari tumbuh kembang putra kandungnya sendiri. Namun dalam keegoisan itu, dia lupa satu hal yan

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 47

    Suasana hangat yang tadi sempat terasa di ruangan itu perlahan mendingin kembali, berganti dengan kekakuan yang masih tersisa di antara mereka berdua. Arkana melepaskan cengkeramannya pelan dari bahu Alika, lalu mundur selangkah. Tatapannya yang tadi penuh bahagia dan takjub kini berubah tajam, menyimpan amarah yang tertahan lama—bukan pada Alika, melainkan pada kenyataan yang terasa begitu menyakitkan. Napasnya terdengar berat, seolah setiap tarikan napas menyisakan luka baru di dadanya. "Tiga tahun, Alika..." suaranya rendah namun bergetar hebat, setiap kata terasa tertahan di kerongkongan, keluar dengan susah payah. "Tiga tahun lebih kamu menyembunyikan dia dariku. Kamu tahu kan berapa lama waktu itu berlalu? Empat tahun, Alika. Empat tahun aku hidup dalam ketidaktahuan, tanpa pernah menyangka bahwa di luar sana sudah ada darah dagingku sendiri yang tumbuh sehat dan lucu. Empat tahun ibuku yang setiap malam berdoa dengan air mata semoga aku segera diberi ketu

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 46

    Pelukan hangat itu terasa begitu nyata, begitu menenangkan, namun di dalamnya tersimpan ribuan luka lama yang belum sempat benar-benar kering. Arkana tak melepaskan rangkulan pada tubuh Alika sedetik pun, seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu dan segala kebahagiaan barunya akan lenyap kembali bagaikan kabut pagi yang hilang tertiup angin. Hatinya bergejolak hebat, tak menentu,separuh jiwanya terasa hancur lebur menjadi debu menyadari betapa bodoh dan butanya ia selama ini, sementara separuh sisanya meledak dalam kebahagiaan luar biasa yang tak terlukiskan karena menyadari bahwa takdir ternyata masih menyisakan keajaiban terindah dalam hidupnya. "Arka... anakku..." bisiknya berulang kali dengan suara parau dan bergetar, matanya tak lepas dari pintu ruang rawat tempat anak itu berbaring tenang. "Dia ada di sana... darahku baru saja mengalir di tubuhnya... dia benar-benar darah dagingku sendiri..." Ia perlahan melepaskan pelukann

  • Rahasia Dibalik Kontrak Pernikahan   Bab 45

    Suasana di dalam ruang rawat inap sementara itu hening, hanya terdengar suara teratur dari alat pemantau jantung yang kini berdetak tenang.menjadi bukti bahwa kondisi Arka perlahan namun pasti semakin membaik. Arkana masih duduk diam di kursi dekat ranjang, tangannya masih menekan sedikit kapas di bekas pengambilan darah tadi, namun sorot matanya tak pernah beralih sedetik pun dari wajah Alika yang berdiri kaku tak jauh dari situ. Wanita itu tampak gugup, matanya terus menunduk menghindari tatapan tajam yang seolah menembus masuk hingga ke dalam jiwanya. Tak lama berselang, pintu ruang terbuka perlahan. Dokter yang menangani Arka masuk sambil membawa berkas hasil pemeriksaan di tangannya. Wajahnya tampak lega bercampur senyum hangat melihat perkembangan kondisi pasiennya yang sangat positif. "Boleh saya masuk?" sapa dokter itu lembut sambil melangkah mendekat ke tengah ruangan. "Silakan, Dok," jawab Arkana pelan, suaranya terdengar masih

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status