LOGINSeeyana duduk di tepi ranjang kamar tamu rumah sahabatnya, Alya. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Lampu kamar redup, tapi matanya enggan terpejam. Pikirannya berisik, dipenuhi potongan kejadian yang belum sempat ia cerna sepenuhnya.
Ponselnya bergetar.
Nama Ravent muncul di layar.
Ia menatapnya lama, lalu meletakkan ponsel kembali ke meja tanpa menjawab.
Beberapa menit kemudian, layar kembali menyala.
Kamu di mana?
Seeyana menarik napas panjang. Ia tidak ingin lari, tapi juga tidak ingin kembali ke percakapan yang berujung menyalahkan. Ia mengetik pelan.
Aku aman. Aku cuma butuh waktu.
Balasan datang hampir seketika.
Kamu lebay. Pulang. Kita bicarakan baik-baik.
Ia tersenyum getir. Baik-baik versi Ravent selalu berarti ia yang harus mengalah.
Seeyana mengunci ponsel.
***
Pagi harinya, Alya menyeduh teh hangat di dapur kecil apartemennya. Seeyana duduk di kursi, memeluk cangkir dengan kedua tangan.
“Kamu kelihatan capek,” kata Alya lembut.
Seeyana mengangguk. “Aku nggak nyangka sejauh ini.”
Alya duduk di seberangnya. “Kamu nggak salah ambil jarak.”
Seeyana menatap permukaan teh yang beruap. “Aku takut dibilang istri durhaka.”
Alya tersenyum tipis. “Menjaga diri bukan durhaka.”
Kalimat itu mengendap pelan, tapi hangat.
Sementara itu, di rumah, Ravent mondar-mandir di ruang tamu. Tangannya menggenggam ponsel erat. Beberapa panggilan tak terjawab. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras.
Ia menekan nomor ibunya.
“Bu, Seeyana pergi,” katanya begitu sambungan tersambung.
“Apa?” suara Suryani meninggi. “Ke mana?”
“Ke rumah temannya, katanya.”
Suryani mendengus. “Lihat? Ibu sudah bilang. Dia itu perempuan keras kepala.”
Ravent menghela napas kasar. “Ibu bisa bantu ngomong sama dia?”
“Biar ibu yang urus,” jawab Suryani dingin. “Perempuan itu harus dikasih pelajaran.”
Kata pelajaran membuat Ravent terdiam sejenak. Tapi ia tidak menghentikannya.
Menjelang siang, ponsel Seeyana kembali berdering. Nama Suryani muncul.
Ia ragu sejenak, lalu mengangkat. “Iya, Bu.”
“Kamu ke mana?” suara itu tajam.
“Ke rumah teman.”
“Kamu itu istri. Tempatmu di rumah suami,” Suryani membentak. “Pulang sekarang.”
Seeyana menarik napas dalam. “Bu, saya cuma butuh waktu.”
“Waktu apa?” Suryani tertawa sinis. “Bikin malu keluarga saja. Orang-orang bisa ngomong macam-macam.”
Seeyana menutup mata sejenak. “Yang saya butuhkan sekarang bukan omongan orang, Bu. Tapi dihargai.”
“Kamu kurang ajar,” suara Suryani meninggi. “Ravent itu sabar menghadapi kamu.”
Seeyana membuka mata. “Bu, saya tidak pergi untuk mencari masalah. Saya pergi supaya masalahnya tidak makin besar.”
“Kalau kamu tidak pulang hari ini, jangan salahkan ibu kalau ibu turun tangan,” ancam Suryani.
Seeyana menelan ludah. “Saya pulang kalau saya siap bicara dengan kepala dingin.”
Ia menutup telepon sebelum Suryani menjawab.
Tangannya gemetar, tapi hatinya justru terasa lebih kokoh dari kemarin.
***
Sore hari, Seeyana keluar sebentar ke minimarket. Udara dingin, langit mendung. Saat ia melangkah keluar, sebuah mobil berhenti pelan di pinggir jalan.
Victor membuka kaca jendela. “Mau ke mana?”
“Minimarket,” jawab Seeyana.
“Sekalian,” kata Victor. “Aku lewat.”
Di dalam mobil, mereka tak banyak bicara. Hening terasa nyaman, tidak menekan.
“Ravent nelpon terus?” tanya Victor akhirnya, hati-hati.
Seeyana mengangguk. “Dan ibunya.”
Victor menghela napas pelan. “Kamu berhak ambil jarak.”
Seeyana menatap jalan di depan. “Aku baru sadar, selama ini aku hidup dari kata ‘harus’. Harus sabar. Harus ngerti. Harus ngalah.”
Victor meliriknya sekilas. “Sekarang?”
“Sekarang aku pengin hidup dari kata ‘cukup’,” jawab Seeyana.
Victor tersenyum kecil, tidak menanggapi berlebihan.
Malamnya, Seeyana kembali ke apartemen Alya. Ponselnya sunyi beberapa jam, lalu sebuah pesan masuk.
Dari Ravent.
Kalau kamu nggak pulang, jangan salahkan aku kalau ibu marah besar.
Seeyana membaca pesan itu berulang kali. Ancaman terselubung. Ia mengetik balasan, kali ini lebih tegas dari sebelumnya.
Aku akan pulang untuk bicara. Bukan untuk disalahkan. Kalau itu tidak bisa, aku memilih pergi lebih lama.
Ia menekan kirim.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada balasan.
Seeyana meletakkan ponsel dan berdiri di depan jendela. Lampu kota berpendar di kejauhan. Dadanya berdebar, tapi ia tidak lagi merasa kecil.
Ia tahu, keputusannya akan memicu sesuatu yang lebih besar. Tapi untuk pertama kalinya, ia siap menghadapi akibatnya.
Karena kali ini, ia tidak melawan dengan teriakan melainkan dengan batas yang jelas.
Ada fase dalam hidup ketika keputusan tidak lagi terasa berat, justru karena ia telah dipikirkan terlalu matang. Seeyana memasuki fase itu tanpa upacara.Mandat barunya mulai berjalan minggu itu. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada perubahan jabatan di kartu nama. Tapi arah kerjanya berubah signifikan. Ia tidak lagi diminta hadir di semua rapat, hanya yang menentukan. Ia tidak lagi mengoreksi detail kecil, melainkan menyusun garis besar yang akan diikuti banyak orang.Pagi-paginya kini lebih sunyi. Ia tiba lebih awal, membuka jendela ruang kerja, dan membiarkan udara masuk sebelum menyalakan layar. Ia membaca laporan tanpa terburu, mencatat bukan apa yang salah melainkan apa yang berisiko jika dibiarkan.Beberapa rekan merasa kikuk dengan gaya barunya.“Kamu jadi dingin,” celetuk seseorang setengah bercanda.Seeyana menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku jadi jelas.”Tidak semua orang menyukai kejelasan. Ia tahu itu. T
Tidak semua konsekuensi datang dengan suara keras. Sebagian hadir diam-diam, menetap, lalu mengubah lanskap tanpa meminta izin.Seeyana merasakannya pada minggu berikutnya. Setelah jeda yang ia pilih dengan sadar, ritme kerjanya tidak kembali seperti semula dan ia tidak memaksanya. Ia bekerja lebih fokus, tetapi juga lebih selektif. Setiap “ya” yang ia ucapkan kini melewati satu pertanyaan sederhana “apakah ini selaras, atau hanya kebiasaan lama? “Pagi itu, sebuah email dari manajemen pusat masuk. Subjeknya singkat, nyaris formal. Permintaan pertemuan lanjutan, tertutup, dengan agenda yang tidak dijabarkan.Dulu, pesan semacam itu akan membuat dadanya mengencang. Sekarang, ia membaca ulang dengan kepala dingin.Ia membalas setuju, menetapkan waktu, lalu menutup laptop tanpa spekulasi berlebih.Ravent menghadapi konsekuensi yang berbeda. Bukan dari pekerjaan, melainkan dari lingkaran sosial yang mulai menyempit dengan sendirinya. Beberapa
Ada jeda yang tercipta karena ragu, dan ada jeda yang dipilih dengan sadar. Seeyana mulai membedakan keduanya dengan sangat jelas.Pagi itu ia menunda satu rapat internal bukan karena tidak siap, melainkan karena ia ingin memberi ruang pada pikirannya sendiri. Jadwalnya tetap penuh, tanggung jawab tidak berkurang, tetapi ia belajar satu hal penting: bergerak terus-menerus tidak selalu berarti maju.Ia duduk di kafe kecil dekat kantor, memesan kopi yang sama seperti biasanya. Tidak membuka laptop. Tidak menatap ponsel. Hanya mengamati orang-orang yang datang dan pergi. Ada yang tergesa, ada yang santai, ada yang terlihat seolah membawa beban tak terlihat.Seeyana menyadari: ia pernah berada di semua posisi itu.Pesan masuk dari timnya muncul satu per satu. Ia membaca tanpa membalas. Semua masih bisa menunggu satu jam.Untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, ia membiarkan dirinya tidak responsif tanpa rasa bersalah.***
Tidak semua tekanan datang dalam bentuk konflik. Sebagian hadir sebagai pertanyaan yang terdengar wajar, bahkan peduli namun menuntut jawaban yang tidak selalu ingin kita berikan.Seeyana mengalaminya pada sebuah forum profesional yang awalnya terasa rutin. Diskusi berjalan lancar, presentasi disambut baik, dan jaringan baru terbuka. Hingga seseorang mengajukan pertanyaan di sesi penutup.“Dengan peran sebesar ini,” kata seorang panelis, “apa rencana jangka panjangmu? Stabil di sini, atau mengikuti arah personal tertentu?”Pertanyaan itu netral. Tapi ruangnya publik. Dan Seeyana tahu, banyak mata menunggu jawaban yang bisa dikutip.Ia tersenyum tipis sebelum menjawab. “Saya membangun sistem yang bisa berjalan dengan atau tanpa saya. Soal arah personal itu bukan sesuatu yang saya jadikan strategi profesional.”Beberapa orang mencatat. Beberapa tersenyum. Beberapa tampak kecewa karena tidak mendapatkan narasi yang bisa dibingkai.S
Komitmen sering disalahartikan sebagai genggaman. Padahal, bagi mereka yang telah belajar menjaga diri, komitmen justru berarti memberi ruang tanpa kehilangan arah.Seeyana menyadarinya pada awal minggu ketika ia menerima satu pertanyaan sederhana dari timnya.“Kalau nanti kamu pindah,” tanya seorang staf dengan nada hati-hati, “siapa yang akan menggantikanmu?”Pertanyaan itu tidak menyerang. Tidak juga mendesak. Tapi cukup untuk membuat Seeyana berhenti sejenak.“Akan ada transisi,” jawabnya tenang. “Dan aku akan memastikan sistemnya berdiri, bukan bergantung padaku.”Ia mengatakan itu tanpa drama. Namun setelah rapat usai, ia duduk sendiri lebih lama dari biasanya. Bukan karena ragu pada pilihannya, melainkan karena ia menyadari: hidupnya kini benar-benar bergerak tanpa jaminan kelekatan apa pun.Dan anehnya, itu tidak menakutkan.Di meja kerjanya, ia membuka kembali catatan lama bukan yang penuh emosi, melainkan daftar prinsip yang ia tulis setelah periode tergelap hidupnya. Salah
Ada perbedaan besar antara jarak yang terjadi dan jarak yang dipilih. Yang pertama bisa diterima dengan sabar. Yang kedua menuntut kejujuran.Seeyana menyadarinya pada Selasa pagi, saat ia menolak satu undangan makan malam yang sebenarnya tidak memberatkannya. Alasannya bukan jadwal melainkan intuisi. Ia tidak ingin mengisi malam dengan sesuatu yang tidak ia pilih sepenuh hati.Ia menutup kalender, mematikan notifikasi, lalu kembali ke laporan di depannya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ia tidak hanya mengatur waktu, tapi juga kedekatan.Di kantor, proyek memasuki fase validasi. Semua keputusan sebelumnya diuji oleh hasil nyata. Tidak ada ruang untuk improvisasi emosional. Seeyana berdiri di depan tim dengan nada yang tetap tenang.“Kita akan bertahan di jalur ini,” katanya. “Bukan karena ini paling aman, tapi karena ini paling jujur.”Tidak semua orang terlihat yakin. Tapi tidak ada yang mundur.Usai rapat, Livia menghamp







