Home / Romansa / Rahasia Istri Yang Disakiti / Bab 96 : Setelah Garis Ditarik

Share

Bab 96 : Setelah Garis Ditarik

Author: qia
last update Last Updated: 2026-02-03 10:20:42

Tidak semua dampak datang dengan suara keras. Sebagian muncul sebagai perubahan kecil yang konsisten dan justru itu yang paling sulit diabaikan.

Seeyana merasakannya pada hari Senin berikutnya. Kalender kerjanya tidak lagi penuh rapat, tetapi setiap rapat yang ada kini menuntut keputusan final. Tidak ada ruang abu-abu. Tidak ada “kita lihat nanti” yang aman. Orang-orang datang kepadanya bukan untuk meminta izin, melainkan untuk memastikan arah.

Ia duduk di ujung meja, menden
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 178 : Nama Dirahasiakan

    “Clarisa!”Suara Arkan menggema di lorong gelap yang kini dipenuhi bau mesiu.Tak ada jawaban.Hanya napas berat. Dan seseorang yang tergeletak di lantai. Lampu darurat menyala kembali perlahan—berkedip, lalu stabil.Raka berdiri beberapa langkah dari Arkan, wajahnya tegang. Di dekat kaki mereka, pria yang tadi mengacungkan senjata itu meringis kesakitan, peluru bersarang di bahunya.Bibi Arkan bersandar pada dinding, pucat.“Ke mana dia?” suara Arkan berubah rendah. Berbahaya.Raka menunjuk ke cabang kanan lorong. “Pintu servis kecil. Aku lihat sekilas.”Arkan sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai.Ia berlari.Langkahnya cepat, nyaris tanpa suara.Lorong kanan lebih sempit. Ujungnya berakhir pada pintu besi tua dengan sistem kunci manual.Terkunci.Arkan mencoba memutar tuasnya.Tak bergerak.Ia mengumpat pelan, lalu menekan jam di pergelangan tangannya—mengaktifkan panel k

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 177 : Lorong Tanpa Cahaya

    Brak!Raka menghantam dinding baja dengan tinjunya. “Kau gila, Arkan!”Asap semakin tebal, meski belum cukup untuk membuat mereka pingsan. Sistem pemadam otomatis memang tidak mematikan tapi cukup untuk melumpuhkan dalam hitungan menit.Arkan tidak menjawab. Ia menarik Clarisa masuk lebih dulu ke lorong sempit yang terbuka di balik panel.“Masuk,” katanya tegas.Lorong itu gelap. Hanya lampu darurat kecil menyala redup setiap beberapa meter. Udara di dalamnya lebih bersih.Bibi Arkan ragu sesaat, tapi akhirnya melangkah juga. Raka menyusul terakhir, jelas tidak punya pilihan lain.Begitu keempatnya masuk, panel dinding kembali menutup otomatis.Gelap.Hanya suara napas mereka yang terdengar.Clarisa berusaha menenangkan detak jantungnya. “Lorong ini menuju ke mana?”“Keluar dari area utama,” jawab Arkan singkat. “Jalur darurat lama.”

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 176 : Darah dan Arsip

    “Tidak mungkin.”Suara itu keluar begitu saja dari bibir Clarisa.Di layar monitor, wajah wanita yang selama ini mereka cari—yang diyakini sebagai sandera—menatap lurus ke kamera dengan ekspresi tenang.Bukan wajah orang yang ketakutan. Bukan wajah korban.Bibi Arkan terlihat secara sadar. Dan sepenuhnya tahu apa yang sedang ia lakukan.Arkan tidak bergerak.Tatapannya terkunci pada layar.“Ruang arsip,” gumamnya pelan.Tanpa menunggu, ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu menuju tangga bawah tanah. Clarisa menyusul di belakangnya.Langkah mereka menggema di lorong sempit.Alarm masih berbunyi.Piip. Piip. Piip.Setiap bunyi seperti menghantam dada Clarisa. Saat mereka tiba di depan pintu baja ruang arsip, pintu itu sudah terbuka beberapa sentimeter.Lampu di dalam menyala redup. Arkan mendorong pintu perlahan.Ckrek!.Ruangan kecil itu dipenuh

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 175 : Orang Kepercayaan

    “Aku ingin nama.”Suara Clarisa terdengar lebih tajam daripada angin malam yang melintas. Arkan tidak langsung menjawab. Ia masih menatap jalan kosong tempat mobil Raka menghilang, seolah sedang menghitung ulang seluruh langkah yang sudah mereka ambil.“Dimas,” katanya akhirnya.Clarisa membeku. “Kepala keamanan?”Arkan mengangguk pelan.Nama itu tidak asing. Dimas sudah bersama Arkan sejak lima tahun lalu. Orang yang memimpin sistem pengamanan rumah, kantor, bahkan pergerakan pribadi mereka.Orang yang paling tahu celah.“Itu sebabnya sistem rumah bisa offline dari dalam,” gumam Clarisa.“Dan itu sebabnya Raka begitu percaya diri,” tambah Arkan.Clarisa mengingat kembali rekaman tadi. Postur pria bersarung tangan hitam. Gerakan tenang. Tidak tergesa.Bukan gerakan penyusup.Melainkan seseorang yang merasa berhak berada di sana.“Kenapa?” tanyanya pelan.Arkan menggel

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 174 : Yang Tidak Terlihat

    “Berhenti.”Suara Clarisa sendiri membuat Arkan menekan rem mendadak. Mobil berhenti dengan decitan tajam di tengah jalan sepi menuju kawasan industri barat.Arkan menoleh cepat. “Apa?”Clarisa menatap layar tablet di tangannya.Rekaman terakhir yang mereka tonton tadi yang menunjukkan gudang dan sandera—ia putar ulang dalam kecepatan lambat.“Ini,” bisiknya.Arkan mendekat.Di sudut layar, tepat sebelum video terputus, ada pantulan kecil di permukaan logam.Siluet.Bukan satu orang.Dua.Salah satunya memiliki postur dan potongan rambut yang sangat familiar.Jantung Clarisa berdetak lebih keras, “Itu bukan bibi,” katanya pelan.Arkan mengangguk. “Aku tahu.”“Tapi itu juga bukan direktur.”Arkan menatap lebih tajam.Clarisa memperbesar gambar.Wajah di kursi itu memang buram. Tapi garis rahangnya. Bentuk hidungnya.Terlalu

  • Rahasia Istri Yang Disakiti   Bab 173 : Pilihan Salah

    Jam digital di layar ruang kerja menunjukkan 52:13.Waktu terus berjalan.Clarisa berdiri di depan meja kerja Arkan, membuka laci rahasia yang selama ini hanya ia lihat sekali. Tangannya bergerak cepat, tapi pikirannya jauh lebih cepat.“Kita tidak tahu lokasi asli bibi,” katanya tanpa menoleh. “Tapi kita tahu pola mereka.”Arkan berdiri di belakangnya, memantau layar tablet yang menampilkan pergerakan timnya. “Mereka ingin aku datang sendiri. Itu berarti sandera utama bukan direktur itu.”“Direktur hanya distraksi,” balas Clarisa. “Emosi kita diarahkan ke dua titik. Gudang pelabuhan dan rumah.”Arkan mengangguk tipis.“Kalau aku Raka,” lanjut Clarisa pelan, “aku akan memastikan kita memilih yang salah.”Sunyi sesaat.Lalu Arkan bertanya, “Menurutmu mana yang salah?”Clarisa menutup laci, menatapnya.“Pelabuhan.”Arkan terdiam.“Kenapa?”“Karena terlalu jelas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status