MasukAduh Mak, makin digoreng makin gosong! Isu Nayla jadi selir simpanan Sultan sengaja ditiup Selir Safiya pakai koin perak sampai seisi istana heboh. Sultan sih santai kayak singa, tapi sekarang yang terusik malah Sultanah Mariam, sang Sultanah Agung! Waduh, pawang sesungguhnya istana udah mulai ngelirik Nayla nih, seru parah! Gimana nasib Nayla setelah radar Ratu Agung mulai menyala? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW,SUPPORT dan tumpahin KOMENTAR kalian di bawah! Dukungan kalian bener-bener booster utama buat author biar makin ngebut up bab selanjutnya!
Sidang akbar istana hari itu bahkan belum resmi dimulai oleh ketukan palu sang sultan.Namun, gema suara perdebatan yang sengit dan bertekanan tinggi sudah memenuhi setiap sudut ruang sidang utama yang berlantai marmer hitam.Anehnya, tidak ada satu pun menteri agung yang membahas strategi perluasan perang perbatasan, tidak ada yang menyinggung pasokan panen, bahkan tidak ada yang mengaudit anggaran pajak tahunan.Semua orang penting yang mengenakan jubah kebesaran mewah itu justru sedang sibuk membicarakan satu nama yang sama: Nayla Azura, sang pelayan pribadi Sultan.Sultan Azfar belum memasuki ruangan, menyisakan takhta emas yang masih kosong dan tampak mengintimidasi di ujung altar tinggi.Di barisan depan, Sayyid Malik sudah duduk tenang sembari melipat jemarinya, matanya yang culas bergerak mengamati sekeliling.Panglima Rafiq hadir dengan baju zirah lengkap yang berkilau, berdiri kaku di samping para komandan militer berpangkat tinggi.Para menteri, penasihat senior, hingga ben
"Membunuh Nayla?"Selir Layla terkekeh pelan, menyembunyikan kilat culas di matanya sembari menuangkan teh kamomil hangat ke dalam cangkir porselen milik Selir Safiya.Gerakan tangannya teramat anggun, namun aura yang dipancarkannya terasa sedingin es.Ia mengangkat wajahnya perlahan, memamerkan seulas senyuman tipis yang kejam."Itu terlalu mudah dan tidak menantang, Safiya. Jauh lebih menyenangkan melihat semua orang mulai gemetar ketakutan hanya karena mendengar sebaris namanya disebut."Malam kian larut ketika pertemuan rahasia empat selir agung itu digelar di paviliun pribadi milik Selir Safiya.Seluruh pintu jati dan jendela kaca berukir telah ditutup serta dikunci rapat dari dalam, memastikan tidak ada celah bagi suara untuk bocor keluar.Bahkan seluruh pelayan senior maupun dayang pribadi tidak diizinkan melintasi batas selasar luar, menciptakan atmosfer isolasi yang mencekam.Safiya, Layla, Jihan, dan Amira kini duduk melingkar di atas sofa beludru merah, dikelilingi oleh kep
Di luar dinding bangunan istana yang megah, seluruh rakyat dan para menteri percaya bahwa Sultan Azfar dan Sultanah Mariam hidup sebagai pasangan paling berkuasa yang saling mengunci hati untuk saling mencintai.Keagungan nama mereka berdua kerap diagungkan dalam setiap bait puisi pujian para pujangga istana Al-Qamar.Namun, kenyataan pahit di balik tirai sutra jauh dari romantis; ketika pintu tebal kamar paviliun agung itu ditutup rapat dari dunia luar, semua kemegahan itu luruh seketika.Yang tersisa di dalam ruangan dingin tersebut hanyalah dua orang rekan kerja asing yang kebetulan mengabdi demi kestabilan takhta kesultanan yang sama.Sinar matahari pagi yang pucat mulai menembus celah jendela ukir saat Sultan Azfar melangkahkan kaki tegapnya memasuki paviliun resmi Sultanah Mariam.Langkah maskulinnya tidak membawa sebuket bunga segar dari taman, ataupun kotak perhiasan emas bertatahkan berlian langka sebagai hadiah penjinak hati wanita.Alih-alih bersikap manis, sang Sultan just
Untuk pertama kalinya sejak menapakkan kakinya di atas lantai pualam kesultanan sebagai pelayan pribadi Sultan, Nayla Azura mendadak diperintahkan maju.Kali ini langkahnya bukan untuk menggosok noda piring, bukan membawa cangkir teh herbal yang mengepul, dan bukan pula menyusun gulungan dokumen yang kaku.Melainkan, untuk mengiringi dan menemani sultan Azfar berjalan menyusuri kesunyian taman belakang istana yang terasing dari hiruk-pikuk istana.Atmosfer malam itu terasa sangat tenang, dilingkupi kegelapan yang kaku sekaligus misterius di bawah perlindungan langit bertabur bintang.Angin malam yang berembus pelan sesekali membawa aroma manis kelopak bunga melati hutan yang mekar sempurna di sudut-sudut pagar batu.Mereka berdua berjalan perlahan tanpa melontarkan sepatah kata pun, membiarkan bunyi gesekan jubah sutra dan kain kasar menjadi suara beritme tunggal.Nayla senantiasa menundukkan kepala takzim, memastikan langkah kakinya tetap menjaga jarak aman sejauh dua langkah di bela
"Sudah lima belas hari."Suara bariton milik Sultan Azfar memecah kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja utama. Gulungan laporan tebal bersampul beludru itu perlahan ditutupnya, lalu diletakkan di atas meja kayu hitam.Tatapannya yang setajam ujung mata pedang berhenti tepat pada sosok pria perkasa yang berdiri tegap di hadapannya."Apa orang yang mendorong Nayla dari tangga marmer itu sudah kau temukan?" tanya sang Sultan, membuat atmosfer ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.Panglima Rafiq melangkah maju, membawa map kulit berisi berkas hasil penyelidikan.Di belakang punggung tegapnya, beberapa pengawal dalam ikut berdiri kaku dengan posisi siap, menyembunyikan ketegangan mereka di balik baju zirah baja.Sultan Azfar menerima map tersebut, lalu mulai membaca seluruh lembar dokumen tanpa memotong atau menyela sepatah kata pun."Hamba telah memeriksa tiga puluh dua pelayan dapur yang berada di sekitar area tersebut, Yang Mulia," buka Panglima Rafiq dengan suara berat yan
Selama bertahun-tahun lamanya desau angin mengitari pilar-pilar kokoh kesultanan Al-Qamar, tak seorang pun dari kalangan menteri maupun selir agung pernah melihat Sultan Azfar tersenyum hanya karena sebuah percakapan biasa.Wajah tampan sang penguasa timur tengah itu laksana pahatan batu granit purba; dingin, kaku, dan senantiasa memancarkan aura kematian yang mengintimidasi.Namun, pada hari yang diselimuti binar matahari fajar yang menembus celah jendela kaca ruang kerja utama ini, semua hukum kekakuan itu mendadak berubah haluan.Sultan Azfar sedang duduk dengan punggung tegak, memeriksa tumpukan lembar perkamen berisi rincian anggaran pembangunan jembatan logistik di perbatasan luar.Sepasang alis tebalnya bertaut kaku, mendapati sebaris angka kalkulasi yang mendadak terasa membingungkan.Tanpa mengalihkan pandangannya, sang Sultan melambaikan tangan tegapnya ke arah sudut ruangan tempat sang pelayan pribadi sedang membersihkan rak buku."Kemari kau, Nayla. Maju dan bacakan dengan







