Share

5. KELUARGA WIWAHA

Author: Ahgisa
last update publish date: 2026-04-08 20:19:12

“Bagaimana Anda tahu nama ibu saya?” tanya Juna, suaranya menegang.

Pria tua itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Saat ia kembali mengangkat wajahnya, air mata sudah mengalir deras di pipinya.

Dengan suara yang penuh emosi karena menahan campuran rindu dan penyesalan yang tak terbendung. Pria itu pun berkata dengan parau, “Di mana Karinku…? Katakan, di mana Karinku!”

Juna terdiam.

Tubuhnya seolah membeku. Pikirannya berputar liar, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Tatapannya tertuju pada pria tua itu, penuh ketidakpercayaan.

“Apa maksud Anda…?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang bermunculan di kepalanya.

Termasuk satu pikiran yang membuat dadanya sesak, bagaimana jika pria ini adalah alasan ayahnya menghilang?

Juna menggeleng pelan. Tidak. Itu terlalu jauh.

Tangisan pria tua itu, terdengar begitu pilu untuk seseorang yang hanya sekedar singgah.

Jantungnya berdegup tak karuan.

“Sebenarnya Anda siapa?” tanya Juna lagi, kali ini lebih tegas. “Kenapa Anda bisa mengenal ibu saya?”

Pria tua itu menarik napas berat, berusaha menahan tangisnya. Matanya yang memerah menatap Juna lekat, seolah tak ingin kehilangan satu detik pun.

“Aku… ayah Karina,” ucapnya lirih, namun jelas. “Satya Wiwaha.”

Deg.

“Apakah benar kamu anaknya?” lanjutnya, suaranya kembali bergetar. “Lalu… di mana ibumu? Tolong… pertemukan aku dengannya. Aku sangat merindukannya, Nak. Aku rindu Karinaku”

Juna masih mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria bernama Satya, nama yang kini terasa begitu dekat dan begitu asing dalam waktu yang bersamaan.

Nama belakang itu sama dengannya.

“Kakek…?” suara Juna nyaris tak terdengar. “Kamu… kakekku?”

Satya mengangguk pelan. Air matanya belum berhenti mengalir. Tanpa ragu, ia menangkup wajah pria muda didepannya dan kemudian memeluk Juna erat, seolah takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan kembali.

Namun Juna tetap kaku.

Tidak ada balasan.

Tidak ada pelukan.

Ia hanya diam, tubuhnya tegang, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu.

Suaranya lirih.

Hampir tak terdengar.

“Maaf… tapi ibuku sudah meninggal… bertahun-tahun lalu.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Satya membeku.

Perlahan, pelukannya terlepas. Ia mundur dan menyandarkan Kembali tubuhnya, menatap Juna dengan mata membesar, tak percaya.

“Ti… tidak mungkin…” bisiknya.

Wajahnya pucat.

Napasnya terputus-putus.

Seolah dunia yang baru saja ia temukan kembali hancur dalam sekejap.

Tubuhnya limbung.

Dan detik berikutnya, Satya jatuh pingsan di hadapan Juna.

***

Kini, Juna berada di lantai paling atas hotel.

Sebuah penthouse mewah yang tampaknya milik Satya. Beberapa pria berjas tampak sibuk di sekeliling, suasana masih dipenuhi ketegangan sisa kejadian tadi.

“Namamu… Arjuna Wiwaha?” tanya salah satu pria berjas rapi yang berdiri di dekatnya. Nada suaranya terdengar ragu, seolah memastikan sesuatu yang sulit dipercaya.

Sebagai seseorang yang telah bekerja bertahun-tahun di lingkungan profesional, ia merasa janggal. Nama itu terlalu spesifik untuk sekadar kebetulan. Apalagi tersemat pada seorang sopir taksi.

“Ya… apakah beliau baik-baik saja?” tanya Juna, duduk tegak, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Pria itu mengangguk. “Namaku Vicky. Aku sekretaris Tuan Satya.”

Ia berhenti sejenak, menatap Juna lebih dalam.

“Kami sudah memeriksa seluruh kejadian. Maaf karena kamu sampai terlibat dalam hal ini dan taksimu sepertinya mengalami kerusakan cukup parah.”

Juna mengembuskan napas pelan. “Ya… dan maaf, saya harus meminta ganti rugi.”

“Tentu,” jawab Vicky tanpa ragu. “Kami juga akan mengantarmu pulang. Mobilmu akan selesai diperbaiki besok. Selain itu, kami akan memberikan kompensasi.”

Ia menyodorkan sebuah kartu nama. “Ini, kalau ada hal lain.”

Juna menerimanya dengan anggukan singkat.

Namun pikirannya tidak ada di sana.

Ia berdiri perlahan, berniat pergi. Malam ini terlalu banyak hal yang terjadi. Terlalu banyak yang belum bisa ia pahami.

Tentang kejaran itu.

Tentang pria tua bernama Satya.

Dan yang paling mengganggu tentang ibunya.

Juna menahan napas.

Tidak.

Bukan malam ini.

Ia sudah terlalu lelah untuk menggali semuanya.

Saat hendak beranjak pergi, langkah Juna tiba-tiba terhenti.

Matanya menangkap sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja kaca di sudut ruangan.

Entah kenapa, ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat.

Di dalam foto itu, tampak sebuah keluarga kecil yang terlihat utuh.

Seorang pria berdiri tegap.

Juna mengernyit.

Ada kemiripan. Samar, tapi nyata.

Di samping pria itu, berdiri seorang wanita muda dengan senyum lembut. Wajahnya terasa sangat familiar.

Bukan ibunya, tapi mirip.

Sangat mirip.

Juna menelan ludah.

Dan saat pandangannya turun, ia membeku.

Seorang gadis kecil berada dalam gendongan wanita itu.

Wajah kecil itu–

Jantung Juna berdegup kencang.

Ia mengenal wajah itu.

Itu adalah wajah yang sama yang selama ini ia lihat di dalam liontinnya.

Ibunya, saat masih kecil.

Napas Juna tertahan.

Pikirannya mulai menyusun potongan-potongan yang selama ini hilang.

Wanita dalam foto itu bukan ibunya, tapi mungkin saja neneknya.

Dan pria yang berdiri di sana adalah Satya Wiwaha, pria yang mengaku kakeknya.

Tangannya gemetar.

Tanpa sadar, ia mundur satu langkah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   18. JUNGKIR BALIK DUNIA JUNA

    “Tapi sekretaris saya yang cantik ini… sangat mengenal siapa pria di depan saya ini.”Suasana di ruangan Satya yang tadinya hanya terasa kaku, kini berubah menjadi medan perang dingin yang tidak nyaman. Satya, yang memang belum mengetahui detail masa lalu pernikahan Juna, menatap Aleya dengan sorot penuh rasa ingin tahu.Di matanya, Aleya terlihat seperti wanita terpelajar dengan pembawaan elegan dan penampilan yang pantas berada di lingkungan elite seperti ini.“Betulkah?” tanya Satya pelan. “Siapa nona muda yang cantik ini?”Gala jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menyunggingkan senyum menyeringai penuh kemenangan. Tatapannya melirik Juna sekilas, seolah sudah memegang kartu as untuk mempermalukan pria itu habis-habisan di depan Satya.“Oh, jadi Anda menerimanya tanpa mencari tahu latar belakangnya sama sekali, Tuan Satya?” ucap Gala dengan nada pura-pura prihatin. “Wanita ini a

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   17. DINGIN

    Salva memasukkan laptop dan beberapa berkas penting ke dalam tas jinjingnya dengan gerakan cepat namun rapi. Kamar hotel yang sekaligus dijadikan kantor sementara itu terasa begitu sunyi malam ini, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di sudut ruangan. Namun berbeda dengan suasana kamar yang tenang, isi kepala Salva justru terasa penuh dan bising.Sebagai sekretaris pribadi keluarga Wiwaha, pihak hotel memang menyediakan kamar khusus untuknya agar ia tidak perlu bolak-balik pulang saat pekerjaan menumpuk. Apalagi sejak kedatangan Juna, jadwal kerjanya benar-benar berubah total. Hampir setiap hari ia harus berada di dekat pria itu.Dan entah sejak kapan, hal itu mulai terasa berbahaya bagi dirinya sendiri.Salva mengembuskan napas pelan lalu duduk di tepi ranjang yang rapi. Tatapannya kosong menatap lantai marmer di depannya, sementara pertanyaan Juna tadi siang terus terngiang di kepalanya.“Menurutmu… apa yang sebenarnya sedang dia

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   16. TAKHTA WIWAHA

    “Apakah kamu siap, cucuku?” tanya Satya dengan senyum yang mengembang hangat di bibirnya.Juna mengangguk mantap.Pagi itu, udara di koridor lantai teratas Hotel La Grande terasa tipis, hingga membuat Juna merasa dingin di sekujur tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya ia melangkah di atas karpet beludru merah tanpa kunci mobil di tangan atau seragam safari yang kaku. Sebagai gantinya, ia mengenakan jas abu gelap potongan slim-fit yang dipilihkan Salva.Juna sempat bercermin di lift tadi. Rambutnya yang biasa berantakan kini tertata rapi, jambangnya dirapikan tipis hingga mempertegas garis rahangnya. Ia merasa asing dengan pantulan dirinya sendiri."Saya harap Anda bisa sedikit lebih santai, Tuan Juna," bisik Salva yang berjalan satu langkah di belakangnya. "Tarik napas, tahan, lalu buang. Anda tidak perlu terlalu gugup, saya akan menemani Anda."Juna mengangguk kecil. Ia mulai menghirup udara sebanyak-banyaknya, menahannya selama tiga deti

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   15. SISI LAIN ALEYA (21+)

    Raga membukakan pintu sebuah President Suite. Aleya memasuki ruangan itu, dan napasnya langsung terasa tersangkut.Kemewahan yang tersaji di depan matanya seperti adegan di film. Kristal-kristal berkilauan, perabotan berdesain elegan, dan pemandangan kota dari jendela kaca lebar membuatnya merasa sangat kecil.Hidupnya yang sederhana, bahkan cenderung kekurangan sejak menikah dengan Juna, terasa seperti dunia yang berbeda sama sekali.“Ada masalah?” tanya Raga suara rendah, memecah keheningan Aleya.Aleya menggeleng cepat, berusaha menyembunyikan rasa kikuknya. “Tidak, tidak. Hanya saja… kamarnya sangat bagus.”Raga menyeringai singkat sebelum bertanya dengan nada yang membuat Aleya tegang, “Apa kamu tahu kenapa Gala menyuruhmu bertemu aku?”Aleya mengangguk gugup. Tangannya yang gemetar merogoh tas tuanya, berusaha mengeluarkan selembar proposal kerjasama bisnis yang disiapkan Gala, “Ini… ini proposal dari Gala—”Sebelu

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   14. SESAK

    Salva menatap pergelangan tangannya sejenak, memperhatikan tangan kekar yang sejak tadi menyentuh kulit tangannya dengan ekspresi yang sulit ditebak.Senyum tipis sempat muncul di wajahnya, cepat dan hampir tak terlihat, sebelum ia kembali memasang wajah datarnya seperti biasa.“Tuan… maaf, bisa kita berjalan sedikit lebih pelan?” ucapnya tenang. “Sepertinya kita sudah cukup jauh dari hotel.”Juna baru menyadarinya.Langkahnya terhenti.Ia menoleh, lalu menatap tangannya sendiri yang masih menggenggam pergelangan tangan Salva.Refleks Juna segera melepaskannya.Pria itu berdehem kecil sebelum akhirnya bersuara, “Maaf, Sal. Aku refleks.”“Tidak masalah, Tuan.”Nada suara Salva tetap datar seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang sejak tadi belum juga tenang.“Sal, kamu mau makan sesuatu?” tanya Juna ringan, seolah kejadian barusan tidak pernah ada.

  • Rahasia Mantan Suami Miskin   13. RANJANG UNTUK WANITA MANIS

    “Apapun yang aku lakukan di sini, tidak ada hubungannya denganmu, Aleya. Jadi urus saja urusanmu sendiri. Jangan ikut campur, apalagi sampai membuat masalah yang justru merugikanmu sendiri,” ucap Juna dengan nada dingin.Matanya pun tak kalah dingin menatap Wanita yang sudah menemaninya selama beberapa tahun terakhir.Aleya langsung mengernyit, jelas tidak terima dengan sikap itu. Baginya, Juna tidak pernah berbicara setenang dan setinggi itu kepadanya.“Hey! Jangan ajari aku!” balasnya tajam, suaranya meninggi tanpa ditahan. “Kita kebetulan bertemu dua kali di tempat ini, dan kamu pikir aku akan percaya begitu saja?! Jawab aku, apa yang kamu lakukan?!”Seolah tak puas, Aleya melangkah mendekat, matanya menyipit penuh curiga.“Mengakulah, Juna. Kamu pasti sedang merencanakan sesuatu, kan? Kamu mau apa sebenarnya?!”Suara melengking itu membuat beberapa orang di sekitar mereka berhenti dan menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar, sua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status