تسجيل الدخولKabut hitam bergerak perlahan di antara reruntuhan batu itu.Ayla masih berdiri di depan dua patung besar yang menjulang di tengah bangunan kuno tersebut. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya terus berusaha memahami semua hal yang baru saja ia dengar.Penjaga.Gerbang.Dunia lain.Dan sekarangorang tuanya.Tatapannya tidak lepas dari wajah batu ibunya yang retak sebagian. Meski hanya patung, ada sesuatu dalam ekspresi itu yang terasa hidup. Familiar. Menyedihkan.“Ayah dan ibuku…” bisiknya pelan. “Siapa sebenarnya mereka…?”Angin hangat berembus perlahan di belakangnya.Dan saat Ayla menolehia membeku.Makhluk itu berdiri beberapa langkah darinya.Namun sekarang… berbeda.Tubuh tinggi itu masih sama, namun bayangan liar yang sebelumnya menyelimutinya mulai memudar sedikit demi sedikit. Kabut hitam bergerak mengitari tubuhnya seperti asap hidup, sebelum akhirnya perlahan menghilang.Dan untuk pertama kalinyaAyla melihatnya dengan jelas.Wujud manusia sepenuhnya.Rambut hitam p
Ayla masih berdiri diam di depan pohon besar itu.Napasnya belum stabil.Pikirannya terasa penuh oleh potongan-potongan kenangan yang datang terlalu cepat dan terlalu kabur untuk dipahami sepenuhnya. Suara makhluk itu masih terdengar di telinganya, bercampur dengan bayangan hujan, jeritan samar, dan tangan hangat yang pernah menariknya menjauh dari sesuatu yang gelap.Namun semuanya terasa tidak nyata.Seperti mimpi.Mimpi yang terlalu jelas.Ayla memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan dirinya.“Aku pasti sedang bermimpi…” bisiknya pelan.Kalimat itu terdengar lebih seperti usaha mempertahankan kewarasannya sendiri.Karena tidak ada bagian dari tempat ini yang masuk akal.Langit yang bergerak seperti air.Kabut hangat.Bisikan-bisikan tanpa bentuk.Dan makhluk yang berdiri di dekatnya—setengah manusia, setengah sesuatu yang bahkan tidak memiliki nama dalam dunia yang ia kenal.Namun anehnyatubuhnya perlahan mulai menerima semua ini.Dan itu justru lebih menakutkan.Makhluk itu
Ayla tidak langsung menjawab.Kata kata itu masih menggantung di kepalanya, berat dan sulit dipahami.“Kau hanya tidak mengingat bagaimana kau pergi.”Angin hangat kembali bergerak di antara kabut hitam yang melingkari tanah aneh itu. Langit keunguan di atas mereka tampak hidup, bergerak perlahan seperti permukaan air yang gelap dan dalam.Ayla berdiri diam.Tubuhnya masih tegang, namun rasa takutnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.Kebingungan.Dan kebutuhan untuk tahu.Matanya kembali menatap makhluk di depannya.Kini ia terlihat berbeda di tempat ini. Bukan hanya karena bayangan kuda besar yang bergerak samar di belakang tubuhnya, melainkan karena seluruh dunia ini terasa… mengenalnya.Seolah tempat ini memang bagian darinya.“Atau mungkin…” suara Ayla pelan, “…aku memang tidak pernah benar-benar pergi.”Makhluk itu menatapnya beberapa detik lebih lama.Lalu perlahan, ia berbalik.“Ikut denganku.”Mereka berjalan melewati hamparan tanah hitam itu.Kabut bergerak pelan di
Ayla tidak segera menjawab.Ia hanya berdiri di sana, menatap sosok di depannya dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. Lorong sempit itu terasa semakin sunyi sekarang, seolah seluruh peternakan menahan diri untuk mendengarkan.Makhluk itu masih menatapnya.Tenang.Diam.Namun kehadirannya memenuhi seluruh ruang.Ayla menelan ludah pelan.Ia sudah terlalu jauh untuk terus berpura-pura tidak ingin tahu.Dan rasa penasaran itu kini tumbuh lebih besar daripada rasa takutnya sendiri.“Apa sebenarnya tempat ini…?” tanyanya akhirnya.Suaranya pelan, namun cukup jelas di tengah keheningan lorong.Makhluk itu tidak langsung menjawab.Tatapannya sedikit bergeser ke dinding kayu tua di sekitar mereka, lalu kembali pada Ayla.“Tempat yang dilupakan,” katanya pelan.Jawaban itu membuat Ayla mengernyit.“Itu bukan jawaban.”“Aku tahu.”Nada suaranya tetap tenang, hampir membuat Ayla kesal.Ia melangkah satu langkah lebih dekat.“Kalau kau ingin aku mengingat semuanya,” katanya pelan namun lebih
Langit yang sejak siang cerah mulai berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga redup yang tertahan di balik deretan pepohonan tua. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah lembap dan rumput liar yang tumbuh terlalu tinggi di beberapa sisi jalan desa.Dari jendela rumahnya, Ayla berdiri diam sambil memandangi jalan kecil menuju peternakan.Sejak pagi tadi, ia mencoba menjalani hari seperti biasa.Membersihkan rumah.Merapikan barang-barang lama.Membuka jendela agar cahaya masuk.Melakukan semua hal sederhana yang seharusnya membuat pikirannya tenang.Namun tidak ada yang benar-benar berhasil.Karena setiap kali ia berhenti bergerak—pikirannya kembali ke tempat itu.Lorong gelap.Udara dingin.Dan mata hitam yang menatapnya seolah mampu melihat jauh melewati dirinya.Ayla memeluk lengannya sendiri pelan.Ia masih bisa mengingat suara itu dengan jelas.“Ayla…”Suara itu tidak terdengar seperti ancaman.Justru itu yang membuatnya semakin sulit dilupakan.Ia menghela napas panjang, l
Ayla tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur.Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang menekan tubuhnya, dan bayangan samar tentang sesuatu yang tidak benar-benar pergi saat ia memejamkan mata.Cahaya pagi masuk perlahan melalui celah tirai, membentuk garis tipis di lantai kayu. Hangat, tenang, dan seharusnya menenangkan. Namun ketika Ayla membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukanlah ketenangan melainkan keheningan.Ia berbaring beberapa saat tanpa bergerak, menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang masih setengah tertinggal di antara mimpi dan kenyataan. Lalu perlahan, semuanya kembali. Lorong gelap itu. Sentuhan yang tidak seharusnya ada. Dan mata gelap yang menatapnya seolah mengenalnya lebih dari dirinya sendiri.Napas Ayla tertahan sesaat sebelum akhirnya ia duduk. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin ingin temukan.Kosong.Tidak ada siapa pun.Namun jantungnya tetap berdetak lebih cepat dari biasanya.Ia menunduk







