INICIAR SESIÓN“Dari mana kamu, Mbak? Kak Marcel dari tadi nungguin kamu, lho.”
Keterkejutan Rihana akibat menubruk dada bidang Marcel seketika buyar begitu mendengar suara manja yang teramat familier itu. Di ruang tamu rumahnya yang temaram, Nita tampak sedang duduk santai di atas sofa. Kemeja putih longgar yang dikenakannya dibiarkan terbuka satu kancing atasnya. Setiap kali gadis itu menunduk sedikit saja, renda pakaian dalam di sebaliknya terekspos jelas tanpa rasa canggung. Alih-alih menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Marcel maupun Nita, Rihana justru melangkah masuk dengan napas memburu. “Ke mana Ibu sama Nenek?” suaranya terdengar dingin dan bergetar. “Pergi ke pasar dari tadi pagi. Kenapa?” Nita tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya santai sebelum akhirnya bangkit berdiri. Dengan gerakan perlahan yang terkesan disengaja, ia mengibas rambut panjangnya yang terurai ke belakang bahu. Gerakan itu spontan mempertontonkan leher jenjangnya secara gamblang. Kening Rihana mengernyit hebat. Dua matanya memicing meneliti satu titik yang tak bisa disembunyikan: ada noda kemerahan segar—berbentuk jejak gigitan intim—di kulit leher sisi kanan Nita. Melihatnya, tanpa sadar Rihana memeluk erat helm di dadanya semakin kuat, hingga jemarinya memutih menahan guncangan di dalam dada. Ada gemuruh hebat yang seketika membuat seluruh rongga dadanya terasa terbakar. Curiga yang tadinya hanya sebatas sangkaan, kini mendesak logika berpikirnya hingga batas paling kritis. Kedekatan Marcel dengan Nita selama ini, perlakuan calon ibu mertuanya yang selalu membedakan dirinya dengan Nita, hingga pemandangan di restoran semalam … semuanya mendadak terhubung menjadi satu kesimpulan yang menyakitkan. “Siapa laki-laki tadi?” suara berat Marcel memecah keheningan. Laki-laki berjaket biru yang semula mengamati kepergian motor Bara di depan pagar itu kini kembali melangkah masuk ke ruang tamu, berdiri menjulang di hadapan Rihana dengan raut wajah menuntut. Rihana mengerling jengkel, menatap tunangannya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya ketus. “Ngapain kalian berdua di rumah yang kosong ini? Ada bangku di teras depan, kan? Kenapa harus berdua di dalam?” “Lho, aku tuh cuma nemenin Kak Marcel ngobrol dari tadi, Mbak! Kamunya aja yang pergi dari pagi nggak balik-balik. Kok sekarang malah jutek sama kita?” Nita berdalih tak terima, memajukan bibirnya sok teraniaya. “Kamu nggak usah coba-coba mengalihkan pembicaraan, Rihana! Siapa laki-laki yang mengantar kamu tadi, hah?! Kamu pergi berdua sama dia dari pagi?” Alih-alih berusaha meredam gejolak emosi di dada Rihana, Marcel justru kian sibuk mengedepankan sikap posesif dan cemburu buta. “Jawab, Ri! Kamu … selingkuh di belakang aku?” Tawa hambar keluar dari mulut Rihana. Tawa frustrasi yang menyuarakan betapa ironisnya situasi saat ini. Dua matanya mulai berkaca-kaca, menahan riak air mata panas yang mendesak ingin tumpah. “Aku selingkuh?” Rihana mengulang kalimat itu dengan nada tak percaya. Dadanya makin sesak. “Kamu sendiri gimana, Cel?” tunjuk Rihana dengan suara bergetar hebat. “Kok jadi nuduh aku, sih?! Aku di sini nungguin kamu hampir dua jam, Ri! Khawatir kamu kenapa-kenapa!” Marcel yang tersulut emosi mendadak maju dan mendorong bahu kanan Rihana cukup keras. Bruk! Rihana hampir saja terpelanting ke belakang kalau saja ia tak cepat-cepat menjaga keseimbangan kaki. Punggungnya menghantam pinggiran lemari pajangan. Perlakuan kasar fisik dari laki-laki yang telah lima tahun menemaninya itu membuat benteng pertahanan Rihana runtuh total. Tawa frustrasinya kian pecah di sela isak tangis. Ia menyeka kasar titik bening yang luruh membasahi pipinya tanpa permisi. “Suka kamu sama adik tiriku, hah?” Rihana akhirnya memberanikan diri menguliti setiap prasangka busuk yang selama ini membakar hatinya. “Mbak! Jaga mulut kamu, ya!” Nita membentak tak terima, wajahnya merah padam. Sementara Marcel mendadak membeku. Ekspresi wajahnya mengeras dalam keterkejutan yang nyata. “Dan kamu, Nit?” Telunjuk Rihana berganti mengarah langsung pada wajah gadis ber-hot pants yang berdiri di samping Marcel. “Bangga banget dapat ‘oleh-oleh’ dari tunangan kakak kamu sendiri di leher, hah?! Jijik tahu nggak kamu!” Nita refleks tersentak. Dengan panik, jemarinya buru-buru menutup sisi leher kanannya yang berhias noda memerah itu. “Mbak jangan ngaco dan fitnah ya! Ini digigit serangga!” Marcel yang mulai kebingungan melihat ketegangan yang kian tak terkendali itu memijat pangkal hidungnya. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang, mencoba menurunkan tensi yang membakar ruangan. “Ri … kayaknya kamu akhir-akhir ini lagi banyak pikiran dan kecapekan, makanya jadi berpikiran ngaco gini.” Marcel merendahkan suaranya, mencoba melunak. Ia melangkah mendekat, mengulurkan kedua tangan berusaha merengkuh pelan bahu Rihana yang bergetar. “Nita itu udah aku anggap kayak adik aku sendiri, Sayang. Nggak mungkin aku ada apa-apa sama dia.” Hening sejenak. “Maaf, aku kelewatan dorong kamu. Jangan begini lagi, ya?” bujuk Marcel dengan nada manis yang selama ini selalu berhasil meluluhkan Rihana. Namun, kali ini berbeda. Sentuhan tangan Marcel justru terasa bagai lelehan timah panas yang membakar kulit Rihana. Rasa mual dan jijik membuncah di dadanya. Dengan tepukan keras, Rihana refleks menampik kedua tangan Marcel hingga terhempas. “Jangan sentuh aku!” jerit Rihana lantang. Marcel mengusap wajahnya gusar. “Please, Ri. Jangan bikin drama kayak gini. Kita perlu bicara lagi dengan kepala dingin nanti. Kamu istirahat dulu, ya. Aku pulang sekarang. Oke?” Rihana menatap kepergian langkah Marcel dengan tatapan kosong. Selalu begitu, batin Rihana pahit. Menghindar, melarikan diri, dan menganggap semua masalah akan selesai hanya dengan kata ‘nanti’. Benar-benar laki-laki tak bertanggung jawab. “Kak Marcel nggak salah apa-apa, Mbak! Kamu yang salah!” Nita kembali menyambar dengan nada sewot, berusaha membela Marcel yang hendak melangkah ke pintu. “Mbak yang pergi berjam-jam sama cowok lain nggak jelas! Kamu nggak perlu selemah ini menghadapi Mbak Rihana, Kak!” “Diam kamu, Nit!” gertak Marcel tiba-tiba dengan suara menggelegar. Nita terperanjat hebat mendengar bentakan keras dari laki-laki yang biasanya selalu memanjakannya itu. Mata gadis itu seketika mendung berkaca-kaca, wajahnya memerah menahan malu dan kekalahan. Merasa gagal mendapat pembelaan, Nita membalikkan badan dan berlari kencang menaiki tangga menuju kamarnya. Brak! Pintu kamar di lantai atas berdebum keras, menggetarkan dinding rumah. Sebuah pemandangan dramatis yang sudah terlampau biasa dihadapi Rihana setiap kali adik tirinya itu merajuk atau tak mendapatkan keinginannya. Kini, tinggal Rihana dan Marcel yang tersisa di ruang tamu yang mendadak hening mencekam. Rihana tertunduk. Isakan pelan lolos dari bibirnya yang gemetar. Tenggorokannya terasa tercekik dan perih luar biasa menahan tumpukan emosi, kekecewaan, serta rasa lelah yang terkumpul selama bertahun-tahun. Ia lelah selalu menjadi pihak yang mengalah, lelah dianggap angin lalu, dan lelah memaklumi pengkhianatan yang dibungkus rapi dengan alasan ‘keluarga’. “Ri ….” Marcel memanggil pelan, mengulurkan tangan ragu-ragu. Rihana menggelengkan kepala lambat. Ia menyeka habis air mata di pipi sembapnya dengan punggung tangan. Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa martabatnya, Rihana mendongak. Matanya menatap Marcel lurus-lurus, tanpa ada lagi keraguan maupun ketakutan di sana. “Cel .…” “Ya, Sayang?” sahut Marcel penuh harap, mengira Rihana akan melunak seperti biasanya. “Aku … mau kita putus.” Kalimat itu terucap tegas, tanpa getaran. Marcel terpaku di tempatnya, seolah lidahnya mendadak kelu. Sementara bagi Rihana, setelah kata itu terucap, beban berat yang menindih dadanya selama ini seketika terangkat. Hatinya sudah terlanjur mati rasa. Ia tidak akan pernah mau mempertaruhkan sisa hidupnya untuk menikah dengan laki-laki yang hanya memberinya luka. ***“Kalau … Mama rujuk sama Papa gimana, Bar?”Pertanyaan dari seberang melalui panggilan video itu membuat Bara menghela napas panjang. Ia mengamati raut keibuan di layar ponsel dalam genggaman. Ada gelenyar enggan membahas perihal hubungan kedua orang tuanya.“Kalau itu bikin Mama bahagia dan kembali menemukan hidup yang Mama impikan, aku … nggak keberatan,” sahutnya tetap berusaha tenang.“Papamu semalam datang. Dia ngajakin Mama dinner lalu … melamar … Mama lagi.” Maira terlihat gugup. Ia merasa canggung setiap membahas perihal mantan suami.Bukan karena malu-malu mengakui masih ada sisa-sisa rasa yang ia pendam. Perasaan tak enak hati itu muncul justru karena perempuan itu takut melukai putranya setiap membahas usaha-usaha mantan suami kembali.“Mama langsung terima?” Bara meletakkan ponsel di atas phone holder di atas meja. Ia mulai bersiap menata isi ransel untuk berangkat bekerja pagi ini.“Ck, belumlah! Mama selalu nungguin kamu siap. Kalau Mama kembali ke keluarga Kalingga, kam
“Kalau pernikahan Marcel dan Rihana batal, apa kata keluarga besar nanti? Saya nggak mau ngurusin buntut perkara yang bikin malu keluarga. Iya, kan, Nek?” Nyonya Diana meminta dukungan.Nenek Saidah mengangguk-angguk paham. Ibu pun tersenyum maklum. Sementara Nita hanya duduk di kursi pojok ruangan dengan tatapan enggan. Gadis itu memainkan kuku-kuku jari yang baru selesai ia kikir hingga mengilap.Rihana hanya duduk terdiam. Ia sudah terlalu lelah untuk sekadar menanggapi semua tekanan keluarga. Beginilah cara Marcel bekerja menyelesaikan setiap masalah yang ia buat sendiri. Laki-laki itu akan menghadirkan maminya untuk turun tangan, mendesak Nenek Saidah dan Ibu untuk membujuk Rihana.“Saya juga sudah telpon beberapa kolega bisnis papinya Marcel yang punya usaha WO buat atur pernikahan. Malah udah sempat ke butik buat pesan gaun pengantin. Tolonglah, saya kira ini hanya pre-wedding blues aja, kok, Ri.”Nyonya Diana mengulurkan tangan, mengusap punggung Rihana untuk menguatkan tekad
“Dari mana kamu, Mbak? Kak Marcel dari tadi nungguin kamu, lho.”Keterkejutan Rihana akibat menubruk dada bidang Marcel seketika buyar begitu mendengar suara manja yang teramat familier itu.Di ruang tamu rumahnya yang temaram, Nita tampak sedang duduk santai di atas sofa. Kemeja putih longgar yang dikenakannya dibiarkan terbuka satu kancing atasnya. Setiap kali gadis itu menunduk sedikit saja, renda pakaian dalam di sebaliknya terekspos jelas tanpa rasa canggung.Alih-alih menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Marcel maupun Nita, Rihana justru melangkah masuk dengan napas memburu. “Ke mana Ibu sama Nenek?” suaranya terdengar dingin dan bergetar.“Pergi ke pasar dari tadi pagi. Kenapa?” Nita tersenyum simpul, menyandarkan punggungnya santai sebelum akhirnya bangkit berdiri. Dengan gerakan perlahan yang terkesan disengaja, ia mengibas rambut panjangnya yang terurai ke belakang bahu.Gerakan itu spontan mempertontonkan leher jenjangnya secara gamblang. Kening Rihana mengernyit heb
“Are you okay?”Satu kalimat tanya sederhana yang keluar dari mulut Bara itu cukup untuk menyentak Rihana. Sendok di tangannya mendadak berhenti berputar di atas mangkuk bubur ayam yang asapnya masih mengepul halus.Bara tahu Rihana sedang tidak baik-baik saja. Itu sebab pukul setengah 6 pagi tadi, ia sengaja menjemputnya untuk sekadar membuang sebal dengan jogging.Pertanyaan perhatian itu hanya Rihana jawab dengan satu desahan napas lelah yang teramat berat. Pandangannya terpaku pada mangkuk bubur ayam tanpa daun bawang pesenannya yang kini tampak tak lagi menggugah selera.“Nggak ngerti lagi gue, Bar. Kadang gue suka bertanya-tanya sendiri, kenapa Ibu sama Nenek Saidah nggak pernah kasih gue kesempatan membela diri waktu bertengkar sama Nita.”Mendengar nama Nita disebut, kilasan kejadian semalam mendadak berputar kembali di kepala Bara.Semalam, saat Bara sedang makan malam seorang diri di sebuah restoran cukup mewah di pusat kota, ia tak sengaja melihat pemandangan yang mengganj
“Kamu tahu, kan, Marcel itu anak saya satu-satunya?”Kalimat itu meluncur dingin sebagai pembuka pertemuan yang dijanjikan Marcel. Malam Minggu ini, Rihana dibawa ke sebuah private room bermeja bundar di resto mewah khusus kalangan VIP. Ruangan itu terasa terlalu melompong karena pada kenyataannya, hanya ada mereka berdua di sana.Marcel? Laki-laki itu dengan entengnya pergi begitu saja dengan alasan ada urusan mendadak bersama klien.Cih, klien katanya? Di Sabtu malam seperti ini?Pada akhirnya, Marcel hanya berperan sebagai sopir yang menjemput Rihana di rumah, mengantarnya ke restoran, lalu menyerahkan seluruh urusan pembicaraan kepada maminya.Sebagai wujud sopan santun yang diajarkan keluarganya, Rihana hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pembuka dari calon mertuanya itu.“Marcel itu manja, Ri. Dia butuh istri yang bisa melayaninya all the time. Makan aja pilih-pilih, harus maminya yang turun tangan. Untuk itu, misal kamu benar bersedia serius menikah, kamu … mau m
“Nikah aja belum, udah merencanakan kehamilan kamu, Ri?” Bu Jihan, ketua tim kreatif di perusahaan tempat Rihana dan Bara bekerja, tiba-tiba muncul di ambang pintu pantry.Entah perempuan bertubuh sintal itu mendengar seluruh obrolan sensitif keduanya atau tidak. Namun, dilihat dari raut wajahnya yang santai dan tanpa kecurigaan, sepertinya situasi masih aman.Rihana menyunggingkan senyum masam demi menutupi kepanikannya, sementara Bara diam-diam mengembuskan napas lega yang menumpuk di dada.“Cepetan nikah, dong, Ri! Entar saya bawa anak-anak satu tim buat ngeramein. Jangan kelamaan. Nggak bosan ya, pacaran terus tapi nggak nikah-nikah?”Lagi. Entah ini desakan ke berapa yang harus Rihana dengar dalam sepekan terakhir. Tidak di rumah, tidak di kantor, topik pernikahan seolah menjadi hantu yang terus mengejarnya. Usia Rihana bulan lalu genap 29 tahun, seumuran dengan Bara. Posisi Bara jauh lebih aman dari gunjingan hanya karena laki-laki itu belum berkeluarga. Rumor sinis seperti







