LOGIN“Are you okay?”
Satu kalimat tanya sederhana yang keluar dari mulut Bara itu cukup untuk menyentak Rihana. Sendok di tangannya mendadak berhenti berputar di atas mangkuk bubur ayam yang asapnya masih mengepul halus. Bara tahu Rihana sedang tidak baik-baik saja. Itu sebab pukul setengah 6 pagi tadi, ia sengaja menjemputnya untuk sekadar membuang sebal dengan jogging. Pertanyaan perhatian itu hanya Rihana jawab dengan satu desahan napas lelah yang teramat berat. Pandangannya terpaku pada mangkuk bubur ayam tanpa daun bawang pesenannya yang kini tampak tak lagi menggugah selera. “Nggak ngerti lagi gue, Bar. Kadang gue suka bertanya-tanya sendiri, kenapa Ibu sama Nenek Saidah nggak pernah kasih gue kesempatan membela diri waktu bertengkar sama Nita.” Mendengar nama Nita disebut, kilasan kejadian semalam mendadak berputar kembali di kepala Bara. Semalam, saat Bara sedang makan malam seorang diri di sebuah restoran cukup mewah di pusat kota, ia tak sengaja melihat pemandangan yang mengganjal. Marcel—tunangan Rihana—berjalan beriringan dengan Nita, adik tiri Rihana. Mereka berdua tampak teramat akrab. Bahkan Nita tanpa canggung bergelayut manja di bahu calon kakak iparnya itu, tertawa renyah seolah dunia hanya milik mereka berdua. Menjelang pulang—setelah Bara menghabiskan kopi dan merapikan sketsa pesanan desain milik klien—ia kembali menyaksikan adegan aneh itu di area parkir. Marcel, Nita, dan calon ibu mertua Rihana berjalan bertiga sambil sesekali tertawa renyah. Sementara Rihana? Perempuan itu berjalan paling belakang, mengekor pasrah seperti orang asing yang tak dianggap keberadaannya. Raut wajah Rihana yang kesepian dan tersisihkan malam itulah yang membuat Bara memberanikan diri mengirimkan pesan singkat beberapa jam kemudian, mengajak perempuan itu melarikan diri sejenak pagi ini. “Gue rasa, lo yang kurang berani,” tanggap Bara tenang. Ia meremas pelan botol minuman isotonik dingin yang dibawanya dari rumah sebelum meneguknya beberapa kali. Rihana seketika mendongak, matanya membulat menatap Bara. “Gimana caranya berani kalau tiap kali gue mau buka suara, obrolan gue selalu disela?! Baru napas aja udah dipotong!” “Nenek Saidah, lo makin tua kok makin nyolot. Bisa diem nggak?! Gue mau ngomong?!” Bara memperagakan cara menggertak dengan mata memelotot garang. Tawa Rihana meledak seketika. Ia menyemburkan tawa pertama yang akhirnya muncul setelah semalaman hatinya dibelit mendung tebal. Perempuan berkaus putih polos itu menutup mulut, menyadari bahwa Bara baru saja melakukan hal konyol hanya demi melihatnya tersenyum. “Gitu caranya, Ri. Bisa?” Bara tersenyum seraya mengedikkan kedua alis tebalnya. “Lo harus berani karena lo juga punya hak bicara yang sama di rumah. Ngerti maksud gue?” Rihana hanya mengangguk-angguk pasrah, walau sisa tawa masih menghiasi bibir. “Kalau memang situasinya nggak nyaman, lo juga berhak pergi buat cari kebahagiaan lo sendiri.” Kali ini Bara terdiam setelah mengatakannya. Menatap intens ke dalam manik kelam Rihana. Kalimat itu terucap begitu dalam. Laki-laki itu sedang berusaha menyampaikan peringatan terselubung atas apa yang ia lihat semalam, tanpa perlu mempermalukan Rihana dengan mengatakan secara gamblang betapa menyedihkannya posisi perempuan itu di mata keluarga Marcel. Rihana mendadak teringat betapa dinginnya perlakuan calon mertuanya semalam. Rasa sesak itu kembali mencubit dadanya. “Semalam … lo tahu dari mana gue ….” “Tahu ….” Rihana mendongak. Ada tatap terkejut saat menyadari Bara mengetahui apa yang sedang terjadi. Lalu mengaitkan penyebab Bara mengirimnya pesan di saat yang tepat semalam. “Nggak perlu lo ceritain lagi kalau emang bikin nggak nyaman. Gue liat semua yang terjadi semalam di resto.” “Kok, bisa?” “Lagi cari makan aja. Nggak sengaja liat,” ujar Bara santai, meski dalam hati ada denyut cemburu dan marah yang berusaha ia tekan rapat-rapat ketika mengingat betapa Marcel menyia-nyiakan Rihana. Rihana terdiam beberapa saat. “Lo jadi tahu, deh, kalau hubungan gue sama Marcel lagi nggak baik-baik aja.” “Bagus, sih ….” Bara meneguk lagi minuman dalam botolnya. “Maksudnya?” Rihana menatapnya bingung. “Seenggaknya gue jadi tahu kalau ada kesempatan buat ngejar lo lagi.” Laki-laki itu berkata santai sambil bangkit dari kursi plastik milik penjual tukang bubur. “Balik, yuk! Udah mulai panas ini.” Belum sempat Rihana menanggapi, lagi-lagi Bara sudah mengalihkan pembicaraan. Nyatanya, Bara selalu paham betul bagaimana membuat Rihana bungkam tanpa diberi kesempatan untuk bertanya perihal maksud kalimat-kalimat itu. Rihana yang bernyali ciut dan gampang denial. Dua watak yang serasi dan Bara pandai menguasai kapan obrolan berlanjut dan kapan perlu dihentikan. Dan matahari pagi itu memang mulai terik, memaksa mereka untuk segera meninggalkan GOR yang mulai terasa panas. Jadi, Rihana menurut mengekor Bara menuju parkiran motor. Sialnya lagi, Bara cukup pandai mencairkan suasana agar tidak lantas canggung. Ia tak henti-hentinya mengajak bicara. Mengobrol apa saja sambil terus membawa motor matic-nya bersama Rihana di boncengan belakang. Pun setelah setahun mengenal Bara versi dewasa, Rihana sama sekali tak pernah melihat gelagat kurang ajar pada perempuan. Ia tak keberatan membatasi punggungnya dan tubuh Rihana dengan tas ransel setiap berboncengan. Ia juga tak segan mengulurkan jaket agar tubuh Rihana tertutup lebih rapat saat bersamanya. Tak pernah meninggi meski Rihana paham betul status Bara bukan orang biasa, jika mengingat kehidupan masa kecil Bara dan orang tuanya sebelum bercerai. Laki-laki ini pandai berbaur. Sedetik pun saat bersama Bara, Rihana tak pernah merasa perlu merasa menjadi kaum rendahan seperti saat bersama keluarga tunangannya. Obrolan dan gelak tawa sepanjang perjalanan mereka terhenti begitu sampai di depan pagar rumah setinggi dada orang dewasa. “Yup, sampai! Thanks udah nemenin gue jogging.” Bara mengerem motornya perlahan. “Gue yang makasih udah ditraktir sarapan.” Rihana turun dari motor sambil melepas pengait helm. Namun, pengait helm yang dikenakan Rihana mendadak rewel dan tersangkut. Ia meringis kecil sambil terus mencongkelnya kesal. Paham perempuan itu kesulitan, Bara mengulurkan tangan. Membantunya melepas pengunci hingga berbunyi klik sekali. Tangan Bara yang masih memegang tali helm tertahan di udara. Jarak mereka tak lebih dari sepuluh senti. Dua pasang manik sehitam jelaga itu saling kunci dalam diam. Sekali lagi, desir aneh yang berbahaya itu hadir menghantam dada keduanya. Pandangan Bara yang tadinya terkunci pada mata Rihana, mendadak turun bergulir menuju bibir tipis berpoleskan lip balm merah muda di hadapannya. Kilasan ingatan malam rahasia itu—tentang sentuhan memabukkan, rintihan panas, dan malam di mana mereka saling memiliki di bawah pengaruh alkohol—menyeruak hebat di kepala Bara. Jakun laki-laki itu bergerak naik turun menelan ludah. Sisi primitif seorang pria dewasa mendadak berontak hebat di dada Bara saat ini. Rihana yang menyadari perubahan atmosfer yang mendadak sarat akan ketegangan intim itu, langsung tersadar. Ketakutan menyengat sistem sarafnya. Ia cepat-cepat menurunkan pandangan, tak berani menatap Bara lebih lama. Jantung di dalam dadanya berdegup begitu kencang dan bergemuruh hebat, hingga ia takut Bara bisa mendengar. “Gu-gue … masuk dulu, Bar. Sampai ketemu besok di kantor,” pamitnya cepat tanpa menunggu reaksi Bara dan membawa serta helm di kepala masuk ke rumah. Tanpa menunggu tanggapan dari Bara, Rihana menarik helmnya lepas dari kepala, lalu berbalik dan berlari kecil melangkahi ambang pagar. Ia membawa serta helm tersebut dalam pelukan dada, berlari terburu-buru menghindar seolah sedang dikejar hantu. Kepanikan yang membuncah membuat fokus Rihana kabur total. Ia bahkan tidak menyadari ada sebuah mobil sedan hitam yang terparkir anggun di halaman rumahnya, sampai ketika ia hendak melewati pintu utama …. Bruk! “Aw …!” Rihana mengaduh kemudian saat menubruk dada bidang seseorang. Ia mendongak, menemukan gelagat tidak suka. Laki-laki itu bersedekap dada, menatapnya dengan raut wajah penuh intimidasi, rahang terkatup rapat, dan kilatan mata posesif yang dingin mengerikan. “Pulang sama siapa kamu?” ***“Kok, bengong? Dingin, Ri. Gue … boleh masuk sebentar nggak?”Suara Bara yang agak parau membuyarkan keheningan malam, membuat Rihana terperanjat kaget. Lamunannya seketika buyar menatap sosok jangkung yang masih membeku di luar pagar.“A-eh, iya! Sebentar!”Pelan-pelan Rihana membuka gembok besi pagar agar tak menimbulkan suara dentang yang keras. Ia mengajak Bara melangkah pelan menuju teras rumah, lalu menunjuk sebuah kursi kayu panjang.“Duduk yang tenang di sini. Gue ambilin kaos ganti buat lo,” bisik Rihana tegas.Bara hanya mengangguk pasrah. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding teras, menyadari tubuhnya mulai tak sanggup lagi menerima tumpukan hawa dingin dari baju yang basah dan rambutnya yang mulai setengah kering.Tak sampai dua menit, Rihana kembali ke teras membawa selembar kaos oversize milik pribadinya. Namun, saat Bara memegang kain katun itu dan menemukan gambar kepala beruang berwarna merah muda yang lucu tercetak di bagian dada, alis tebalnya langsung berta
“Nyonya Besar, toloooongg! Den Bara terjun ke kolam dari balkon, Nyonya!"Teriakan histeris dari para pelayan membelah keheningan malam, membuat perempuan tua yang hampir memejamkan mata di kamarnya itu berjengit kaget. Mendengar kabar cucunya melompat dari balkon lantai dua sontak membuat dadanya ditubruk rasa cemas dan ketakutan yang membuncah.Dengan napas terengah-engah, Oma Suhita bergegas bangkit. Langkah kakinya tertatih menepuk lantai marmer karena usianya yang mulai renta. Dua pelayan perempuan mengekor di belakang dengan raut wajah sama cemasnya, takut sang Nyonya Besar tersandung kakinya sendiri akibat terburu-buru.Tepat ketika Oma Suhita sampai di teras belakang yang menghadap kolam, Bara sudah berhasil berenang ke tepi. Cucu badungnya itu benar-benar nekat, keras kepala, dan tak kenal takut. Bara tahu betul apa kelemahan terbesar Oma Suhita: perempuan tua itu tidak akan pernah rela satu-satunya pewaris harapannya terluka parah atau cacat akibat kenekatannya sendiri
“Lepasin! Gue bisa jalan sendiri!”Bara berkelit kasar dari cekalan dua pengawal bertubuh kekar. Dua pria berbaju serba hitam itu baru melepas lengannya begitu mereka melintasi halaman rumah megah bergaya Mediterania.Rumah yang sangat familier. Deretan bunga bougenville tampak cantik membingkai pagar depan. Air mancur berdiri megah di tengah taman, dikelilingi rumput hijau yang tertata rapi di sepanjang jalan setapak.Bara mendengkus jengkel saat matanya melirik deretan mobil mewah yang berjajar di carport samping. Ada dua mobil sport yang dulu pernah ditawarkan padanya, dan semuanya sudah ia kembalikan.Manik tajam Bara menelisik ke segala sudut, mencari celah untuk meloloskan diri. Namun, ia mendesah kecewa. Selama dua pria tegap di sisinya ini belum enyah, kesempatan untuk kabur nyaris nol. Ia memilih menurut untuk sementara sampai bertemu sang pemilik rumah.Langkahnya terhenti di sebuah ruang tamu yang luas. Di sofa panjang berwarna cokelat muda, seorang perempuan tua duduk sant
“Berhenti, Cel,” perintah Rihana tiba-tiba. Suaranya tidak tinggi, tetapi sarat dengan nada perintah yang dingin.Marcel yang tengah memegang kemudi mendadak kaku. Matanya melirik Rihana lewat kaca spion tengah sebelum kembali menatap jalanan sore yang padat.“Kita belum sampai, Sayang. Sebentar lagi sampai di butik. Mami udah nunggu.”“Hentikan mobil di taman kota depan saja,” potong Rihana tanpa memandang Marcel. Ia mengalihkan tatapan lurus ke kaca depan. “Berhenti juga bertingkah sok manis. Aku muak.”Rihana bersiap membenarkan posisi tas bahunya, menegakkan punggung demi bersiap keluar.Marcel mengentakkan napas pendek. Dengan gerakan kasar, ia memutar kemudi dan menghentikan mobil di pinggir jalan dekat deretan pohon taman kota.“Oh, kamu minta berhenti buat nyariin rekan kerja cowok kamu itu, ya?” tuding Marcel sinis. Wajah ramahnya yang tadi dipasang seketika luntur, berganti raut meremehkan.“Ngapain, sih, kamu ngarep sama karyawan baru itu? Lagaknya sok iya, padahal k
“Bara dipanggil ke ruangan HRD,” celetuk Bu Jihan usai meletakkan revisi naskah copywriting untuk brand voice yang Rihana buat.“Hah? Kenapa?” Rihana sontak mendongak dengan raut cemas.Perempuan berbalut blazer merah bata itu mengibas tangan seraya memutar bola mata jengah.“Ck, kamu ini! Gara-gara kamu, tahu. Anak-anak magang bilang sewaktu pulang dari acara makan-makan kantor itu kalian mabuk dan pulang bareng. Si Bela anak magang sempat cerita ke aku juga. Kamu jangan sembarangan, dong, Ri.”Bu Jihan menjelaskan dengan suara berbisik seraya menarik kursi milik karyawan lain yang kubikelnya kosong. Jam pulang kantor sudah tiba, sebagian orang bersiap-siap melangkah keluar.“Seantero kantor udah pada tahu kamu punya tunangan. Kamu sama Bara, kok, makin ke sini makin deket. Bela bilang tadi pagi kamu berangkat bareng? Boncengan? Bener itu? Tunangan kamu tahu dan kasih izin?”“Ya Tuhan, Bu. Kenapa mesti dibawa ke HRD, sih? Ibu bisa tanya saya dulu atau tanya Bara. Lagian Bela kurang k
“Kalau … Mama rujuk sama Papa gimana, Bar?”Pertanyaan dari seberang melalui panggilan video itu membuat Bara menghela napas panjang. Ia mengamati raut keibuan di layar ponsel dalam genggaman. Ada gelenyar enggan membahas perihal hubungan kedua orang tuanya.“Kalau itu bikin Mama bahagia dan kembali menemukan hidup yang Mama impikan, aku … nggak keberatan,” sahutnya tetap berusaha tenang.“Papamu semalam datang. Dia ngajakin Mama dinner lalu … melamar … Mama lagi.” Maira terlihat gugup. Ia merasa canggung setiap membahas perihal mantan suami.Bukan karena malu-malu mengakui masih ada sisa-sisa rasa yang ia pendam. Perasaan tak enak hati itu muncul justru karena perempuan itu takut melukai putranya setiap membahas usaha-usaha mantan suami kembali.“Mama langsung terima?” Bara meletakkan ponsel di atas phone holder di atas meja. Ia mulai bersiap menata isi ransel untuk berangkat bekerja pagi ini.“Ck, belumlah! Mama selalu nungguin kamu siap. Kalau Mama kembali ke keluarga Kalingga, kam







