بيت / Lainnya / Rahasia Senja / 06 Rahasia Senja

مشاركة

06 Rahasia Senja

مؤلف: Iani_p
last update تاريخ النشر: 2021-09-10 10:41:33

_"Masalah datang tanpa diduga."_

~~~

Sesampainya di atas. Terlihat begitu simple. Kursi tertata sedemikian rupa. Dengan meja bulat berisi kursi untuk empat orang. Karena, hari ini kafe itu lumayan ramai. Mereka berempat akhirnya memilih tempat yang ada paling ujung.

Gaya modern kekinian begitu terasa di kafe kenangan itu. Untuk bagian lantai dua merupakan kafe outdoor. Lebih terlihat alami. Dinding-dinding kafe terlihat seperti batu bata asli. Padahal, itu hanya wallpaper biasa. Di dinding itu juga terpasang bingkai tulisan motivasi dan sejenisnya.

"Urang teh, henteu resep sebenernya. Kalo harus kerja kelompok di dieu," ujar Gafi yang sudah menatap Senja intens. Setelah mereka berempat duduk di bangku paling pojok.

Kerutan di dahi Senja terlihat jelas. "Terus masalahnya apa?"

"Banyak masalahnya da. Salah satunya berisik!" Ucap Gafi yang menekankan kata berisik itu.

Asta yang mendengar ucapan Gafi langsung menatap laki-laki dihadapannya itu. "Ga usah lu dengerin, lah! Gampang, kan? cukup fokus aja," sambung Asta.

"Yang penting pesen makan bebas! Ya ga, Ta?" Imbuh Galuh yang sudah membolak-balik buku menu, yang di angguki oleh Asta dengan malas.

Helaan nafas kasar keluar dari mulut Gafi. "Terserah. Kalo kerjaan bagian urang teh ga bener. Anjeun tiluan henteu usah komen, (Kalian bertiga enggak usah komen)," celetuk Gafi yang sudah bersedekap sambil menyenderkan badannya.

"Gampang. Nanti tinggal kita koreksi. Ya kan, Nja?" Tanya Asta sambil menatap Senja dengan cengirannya.

"Iyaiya. Yaudah, mau makan dulu atau mau ngerjain dulu?" Tanya Senja.

Gadis itu mengambil bukunya di dalam tas, sambil menunggu jawaban ketiga temannya itu.

"Makan!"

"Kerjain!"

Jawaban Gafi dan Galuh bersamaan. "Eh.. kerjain dulu! Makan mulu pikiran lu!" Celetuk Asta.

Galuh menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Kalo laper gua kaga bisa mikir. Jadi, mending makan dulu," jawab Galuh semangat.

"Terus kalo kenyang ngantuk? Kapan dong dikerjainnya!" Kesal Asta.

Gafi dan Senja hanya menghela nafas melihat keributan kedua orang itu. "Yaudah, Luh. Mending lu pesen duluan. Yang mau ngerjain tugas. Silahkan, dikerjain. Nanti baru makan," lerai Senja. Gadis itu sudah meletakkan buku dan pulpen hitamnya di atas meja.

"Yaudah, gua pesen makan. Yok! Fi. Makan dulu," ajak Galuh. Menyodorkan buku menu yang sejak tadi dia pegang.

Gafi menatap buku menu itu dan langsung menggesernya. "Ga bisa gitu atuh, Nja. kalo satu makan semua harus makan. Jadi, kita teh kerjain dulu aja. Masalah makan mah belakangan," jelas Gafi.

Mendengar penjelasan Gafi membuat wajah Galuh yang semangat menjadi cemberut. "Ide bagus. Gua setuju sama Gafi!!" Semangat Asta.

"Ga perlu teriak juga, Ta." Gadis bermata hitam kecoklatan itu menegur Asta. Mereka menjadi pusat perhatian karena suara lantang dari gadis berambut tergerai itu. Yang ditegur hanya menampilkan gigi putihnya.

"Gapapa, Luh?" Tanya Senja yang merasa tidak enak.

"Yaudah, kaga ngapa. Gua masih bisa nahan. Tapi, kalo gua pingsan. Lu semua tanggung jawab!" Ancam Galuh.

"Emang ya. Lu tuh, otaknya makan mulu. Yaudah, mending pesen makan. Daripada lu pingsan bikin repot!" Kesal Asta.

"Yes!! Gitu dong! Gua jadi semangat," ujar Galuh dengan wajah berbinar-binar.

Asta hanya mencebikkan bibirnya. "Pesen makanan yang sama we, biar cepet. Urang teh masih ada urusan," sambung Gafi dengan wajah datarnya.

Senja yang melihat raut wajah Gafi begitu flat, membuat gadis itu merasa tidak enak. "Yaudah. Anterin gua." Ajak Galuh ke arah gadis berambut gelombang itu.

"Mau ngapain? Segala di anter. Kayak cewek!" Ledek Asta.

"Lu kaga mau makan? Yaudah kaga bakal gua pesenin!" Ancam Galuh.

"Iya. Ngancem mulu jadi orang!"

Keduanya berlalu untuk memberikan tulisan pesanan milik mereka. "Lu bete ya?" Tanya Sena dengan hati-hati.

Gafi melirik gadis itu sekilas. Laki-laki berambut hitam pekat belah tengah itu sedikit berpikir dan menatap kembali Senja dengan alis yang berkerut. "Maneh teh, nanya urang?" Tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.

"Enggak. Gua nanya tembok!" Ketus Senja. Kini pandangannya beralih kemana saja. Yang terpenting tidak menatap wajah menyebalkan dihadapannya.

Laki-laki itu terkekeh pelan. Membuat Senja menatap bingung Gafi. "Kenapa lu, ketawa?" Lanjut Senja. Tatapan Senja semakin terlihat bingung.

Gafi meletakkan kedua tangannya bertopang dagu. "Maneh teh, lagi ke sambetnya?" Tanya Gafi yang sudah tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya.

Sejenak Senja terpaku dengan senyum manis laki-laki bermata coklat gelap itu. "Biasa we, atuh. Emang urang mah kasep," sambung Gafi. Tingkah pedenya kembali hadir.

"Geer banget. Biasa aja, tuh!" Jutek Senja.

Senyum Gafi tetap terbit yang kini hanya membentuk bulan sabit. "Ngomong-ngomong. kunaon, maneh teh di bully?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Senja menatap Gafi datar.

Gadis itu tidak suka dengan pertanyaan laki-laki dihadapannya. Terlalu ikut campur. "Bukan urusan lu!" Jawabnya dengan datar.

"Urang da, nanya we. Habis rumorna mah, teu enak didenger. Jatohnya teh pitnah," jelas Gafi. Yang kembali menyenderkan tubuhnya ke kursi.

"Intinya, masalah tadi siang di koridor. Enggak perlu lu denger. Itu semua hoax," tutur Senja. Pipi yang tidak begitu tembam terlihat memerah. Tatapannya terlihat begitu banyak rahasia.

Gafi menghela nafasnya. Tidak habis pikir dengan rumor yang tersebar luas. Padahal, itu hanya berita burung. "Saya enggak percaya. Kalo, saya belum liat yang sebenarnya," imbuh laki-laki berahang tegas itu.

Senja hanya diam, menatap sembarang arah. Moodnya kini sedikit memburuk. Akibat pertanyaan yang dilontarkan Gafi.

Laki-laki beralis tebal itu menatap Senja intens. Tidak ingin merasakan suasana canggung seperti ini. Tapi, Gafi yakin. Gadis dihadapannya malas meladeni ucapannya.

"Maneh teh, suka nasi goreng? Pedes atau asin?" Seru Gafi tiba-tiba.

Gadis berambut hitam bergelombang sebahu itu mengernyitkan dahinya. Sedangkan, yang ditatap hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kenapa? Ada yang salah kitu, sama pertanyaan urang?"

Senja menggelengkan kepalanya. "Enggak. Tapi, lu keliatan engga punya topik," jelas Senja.

Gafi tersenyum mendengar penuturan Senja. "Hahah... Urang da bingung, maneh teh keliatan bete. Udah we atuh, bilang apa yang terlintas di otak urang," imbuhnya dengan senyum yang terlihat begitu manis.

"Wedeh... Ngape lu senyum-senyum, Fi?" Celetuk Galuh yang sudah datang dengan nampan di kedua tangannya.

Beberapa langkah dari Galuh terdapat Asta yang sedang membawa nampan juga berisi nasi goreng milik Senja. Termasuk, minuman dan makanan miliknya.

Wajah Asta terlihat kusut. Namun, di antara ketiganya tidak ada yang menyadari hal itu. "Ini punya urang teh, pedes teu?" Tanya Gafi merubah topik pembicaraan Galuh tadi.

"Kata lu samain. Ye gua pilihin yang pedes," sahut Galuh. Yang sudah menarik kursinya untuk duduk.

"Kenapa?" Tanya Asta yang sudah menatap wajah Gafi.

Laki-laki itu melirik sekilas Asta. "Gapapa," jawabnya singkat.

Sedangkan Senja, gadis itu tidak peduli dengan pembicaraan ketiganya. Saat ini yang ada dipikirannya hanya ingin cepat pergi dari tempat itu.

Iani_p

Selamat membaca...

| 2
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Rahasia Senja    34 - Rahasia Senja

    "Pada akhirnya, aku tetap kehilangan sahabat terbaikku."_Senja Putri Aira. ~~~~~~ Suasana kelas pagi itu terasa begitu gaduh. Gadis bergigi gingsul itu haya bisa meremas tasnya kuat-kuat. Pandangannya hanya menunduk tidak berani menghadap ke depan. Dorongan kuat di pundaknya membuat gadis itu mundur beberapa langkah. "Heh! gue bilang kalo masuk ke kelas ini pake masker, tutupin tuh muka lo yang nggak enak dipandang itu!" ucap seorang gadis berambut gelombang. Senja menaikan kepalanya sedikit, menatap sekilas gadis itu yang sedang bersedekap dada. Ia hanya bisa diam, dan ingin berlalu dari tempat itu. Namun, dorongan kuat itu kembali Ia dapatkan. Tiba-tiba saja dari arah belakang, ada seseorang yang mendorongnya dengan kedua tangan. Senja tersungkur di depan kelas. Semua teman-temannya tertawa. Kecuali Gafi, laki-laki hanya memasang wajah datar. "Hahah... lentoy banget, baru di dorong dikit udah jatoh aja," jelas perempuan berambut tergerai bergelombang itu. Gafi hanya diam

  • Rahasia Senja    33 Rahasia Senja

    "Bagian tersulit dalam hidup adalah berusaha terlihat baik-baik saja. Walaupun dunia terasa begitu menyakitkan." — Senja.~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Gafi berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh siswa-siswi yang baru datang. Tangannya sudah terbebas dari gips yang membelenggunya beberapa waktu lalu. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dan tidak pucat seperti sebelumnya. Rambutnya dipotong rapi, menonjolkan fitur wajahnya yang tegas. Tatapannya terlihat semakin dingin. Ia tahu, setelah kejadian itu, segalanya akan berubah. Terutama bagi gadis berhoodie hitam yang kini berjalan di depannya. Gadis itu melangkah dengan kepala menunduk. Laki-laki berkemeja putih rapi itu tahu betul bahwa gadis di depannya, yang berjarak sekitar sepuluh meter darinya, sangat membencinya. Namun, bagaimana pun keadaannya, Gafi akan tetap mengawasi gadis itu dari jarak jauh dan akan bergerak saat situasi mendesak. Langkah kaki Gafi melambat saat matanya menangkap sosok

  • Rahasia Senja    32 Rahasia Senja

    "Fakta itu menyakitkan. Mau itu jujur atau kebohongan, ujungnya tetap sama."_Rahasia Senja. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Suasana rumah sakit begitu ramai. Ada yang sibuk berjalan sambil menenteng kresek putih berisi makanan, dari roti, minuman, dan lain-lain. Ada yang di dorong dengan kursi roda sambil membawa infusan di tangan kanan. Ada yang memakai oksigen besar yang digeret. Revan, Banu, Arya, dan Tama berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang luas itu. Bertanya kearah resepsionis. Ada gerombolan perawat yang mendorong pasien dengan keadaan yang mengenaskan. Berdarah-darah, dan teriakan kesakitan. Tama yang paling takut darah, hanya menunduk, langkah kakinya berjalan cepat. "Cepetan, kearah mana ini?" tanya Tama. "Masih lurus, nanti ada ruang radiologi nah belok kiri," jelas Revan. mereka berempat berjalan terburu-buru. Semakin dalam memasuki rumah sakit, semakin membuat mereka merasa takut, cemas, dan ya merasa kasihan. Apa lagi, tadi sempat meliha

  • Rahasia Senja    31 Rahasia Senja

    'Orang yang kita anggap akan selalu berpihak pada kita, ternyata malah sebaliknya. Melukai secara diam-diam.' __________________________________ Udara malam semakin dingin. Senja masih saja terisak dalam tangisnya. Menyaksikan Gafi dihajar habis-habisan, membuat tubuhnya gemetar. Rasa takutnya begitu kuat. Tetapi, lelaki berkemeja lilac itu tidak peduli. Matanya yang sipit itu, sama sekali tidak melirik Senja di sampingnya. Tatapan matanya kosong, seakan semua yang terjadi tadi itu membuat pikirannya tertinggal. Senja juga hanya menunduk, atau sesekali menatap jalanan yang mulai sepi. Mobil itu masuk ke kompleks perumahan Senja. Semakin pelan. Dan rem itu diijak dengan kasar oleh Aldi. Laki-laki itu menolehkan kepalanya, tangannya meremas kuat setir mobil sampai kuku-kukunya memutih. Senja menatap Aldi dengan wajah yang berantakan, lelehan air mata di pipinya, hidungnya yang memerah, dan matanya yang terlihat sendu. Aldi mengeraskan rahangnya. "Masih mikirin cowok gila itu?"

  • Rahasia Senja    Bab 30 Rahasia Senja

    _"Kesepian paling menyakitkan adalah ketika kamu meninggalkan satu-satunya orang yang peduli, demi rasa aman yang semu."_ ~~~ "Kenapa?" Tanya Gadis berlesung pipi itu, dengan sorot mata yang sendu. Air matanya tidak keluar, ia benar-benar menahan itu semua agar tidak menetes sedikitpun. Laki-laki itu, menatap Senja dengan mata yang semakin menyipit, senyumnya muncul, "kamu tanya kenapa?" tanyanya dengan nada, seolah mencari pengakuan yang jujur. "Iya! Kenapa tarik aku keluar?" "Aku, ga suka. kalo Gafi jadi sok pahlawan kayak tadi. Muak liatnya, kamu juga kenapa punya masalah sama Viola?" Ujar Aldi sambil menatap Senja tajam. Senja tersenyum getir, entah kenapa Aldi malah memarahinya. Padahal laki-laki ini berada di sana, dan mengetahui apa yang terjadi. "Aku ga habis pikir sama kamu. Aku ga cari masalah, kok. Dia aja, yang selalu cari masalah sama aku." Jelas Senja yang mendongakkan kepalanya menatap kekasihnya itu. Aldi menaruh tangannya di saku celana kremnya, menata

  • Rahasia Senja    29 Rahasia Senja

    _"Harusnya, kamu tidak ikut campur. Semua jadi runyam!"_ ~~~ Senja spontan menutup matanya, mengantisipasi siraman yang akan datang. Aroma manis dan lengket dari minuman itu sidah tercium. Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Mata indahnya itu membuka, perlahan, dan mengintip sedikit demi sedikit. Senyum itu, membuat mata Senja benar-benar terbuka lebar. Ia terkejut, laki-laki bertubuh tinggi itu sedang menghalangi siraman air. Gafi, dengan kemeja hitamnya kini basah dan lengket terkena cairan merah, menempel pada tubuh atletisnya. Senyumnya menampilkan gigi gingsulnya. Wajahnya yang tirus kini sedikit basah, namun mata almondnya yang tajam memancarkan campuran ketegasan dan kepedulian yang mendalam, membuat aura Gafi semakin kuat. Senja terdiam, ia ingin marah pada Gafi karena ikut campur. Merasa kesal karena Gafi justru membuatnya semakin menjadi sorotan. Tetapi ia juga tidak bisa. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menatap nyalang gadis itu—Viola. Ekspresi Gafi berubah dingin, r

  • Rahasia Senja    18 Rahasia Senja

    _"Kecewa itu pasti ada."_~~~"Maneh teh, ada hubungan apa sama itu cewek?" Tanya laki-laki berambut hitam pekat itu.Keduanya sudah berada di gedung belakang. "Lu ga perlu tau! Intinya, gua

  • Rahasia Senja    17 Rahasia Senja

    _"Apa yang kita lihat, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan."_ ~~~ Senja membuka matanya, menatap sekeliling yang terasa asing. Tembok bercat putih, lemari berisi tumpukan file-file, kotak obat-obatan, alat timbangan berat badan, meja yang terdapat secangkir teh hangat, dan juga aroma k

  • Rahasia Senja    16 Rahasia Senja

    _"Cemburu tanpa status itu tidak mengenakan."_ ~~~ Pagi itu cuaca begitu mendukung, untuk kegiatan pelajaran olahraga kelas 10 IPA 2. Semua murid sudah berbaris di lapangan mendengarkan instruksi dari Pak Sanusi—guru olahraga. Guru berbadan tegap bak atlet itu sedang memberikan arahan. "Baik se

  • Rahasia Senja    15 Rahasia Senja

    _"Dibandingkan itu rasanya tidak menyenangkan."_~~~Mobil abu-abu Porsche Macan 2.0. terparkir manis di bagasi rumah Senja. Bersebelahan dengan motor vespa berwarna putih coklat itu. Helaan nafasnya berhembus ber

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status