Share

Ini... Apa?

Author: BWOLU KWETAN
last update publish date: 2026-07-15 00:27:12

Tanpa aba-aba, Baskara melompat ke atas kasurnya. Ia memosisikan diri di tepi ranjang, lalu mulai melompat-lompat kecil dengan ritme konstan. Per-per kasur itu langsung berderit keras.

"Plan B. Kita lakuin manual," kata Baskara sambil terus menggoyangkan kasur dengan kakinya. "Ayo, desah!"

Mata Joana membelalak hampir keluar dari sarangnya. "Hah?! Kamu gila?!"

"Cepat, Jo! Keburu mereka selesai!" Baskara mulai memukul-mukul bantalan sandaran ranjang ke arah dinding yang berbatasan langsung dengan kamar tetangga mesum itu.

Brak! Brak! Brak!

Bunyinya menggelegar, sangat mirip dengan suara ranjang yang sedang dihantam secara brutal.

"Ayo dong, pura-pura aja! Bikin mereka juga keberisikan!"

Rasa malu luar biasa kembali menyerang Joana. Namun, suara tetangga di sebelah yang tak kunjung berhenti entah mengapa memicu adrenalin dan jiwa kompetitifnya yang sedang lelah.

Ia pastikan tetangga kurang ajar itu ikut hancur dengan gangguan desahan yang tiap malam Ia dengar.

Dengan wajah semerah tomat, Joana meremas tangannya dan mencoba mengeluarkan suara.

"Ah... ah... mmphh..."

Baskara menghentikan goyangan kasurnya sejenak dan menatap Joana dengan tatapan datar. "Jo, itu lagi desah atau lagi kejepit pintu? Yang bener dikit dong! Lebih mendesah, ahhh... lebih dramatis!"

"Aku nggak pernah lakuin ginian, bodoh!" desis Joana murka.

"Bayangin aja kamu lagi acting! Lebih kencang!" tantang Baskara sambil kembali menggenjot kasurnya lebih bar-bar dan memukul dinding makin keras.

"Ahhh, goyang terus, Jo! Ohhh!"

Pria itu bahkan ikut mengeluarkan suara berat dan seraknya yang dibuat-buat, "Oh... oh, ah, lagi!"

Joana menggigit bibir bawahnya. Ia menarik napas panjang, membuang urat malunya jauh-jauh. Biarin sekalian, batinnya.

"Ahhh! I-iya! Lebih kencang, sayang!" teriak Joana tiba-tiba dengan nada melengking dan desahan panjang yang sengaja dilebih-lebihkan.

Baskara nyaris terpeleset dari pinggiran kasur mendengar kata 'sayang' meluncur dari bibir Joana. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan, tapi ia tak mau kalah. Ia membalas dengan suara erangan berat yang memenuhi ruangan.

"Ahhh! Kayak gitu?! Ahhh! Oh My God!" Joana semakin lepas kendali. Ia bahkan ikut mengambil bantal sofa dan memukulkannya ke dinding untuk menambah efek suara tamparan daging.

Plak! Plak! Plak!

Keduanya kini berkolaborasi menciptakan orkestra keributan palsu yang luar biasa. Suara derit ranjang, bantingan di tembok, erangan berat Baskara, dan desahan dramatis Joana bersatu demi mengalahkan suara apa pun dari unit sebelah.

Joana memejamkan mata, berteriak sekencang mungkin sambil tertawa geli di dalam hati karena betapa absurdnya situasi ini.

Beberapa menit konser palsu itu berlangsung, tiba-tiba terdengar suara deburan keras dari kamar sebelah, seperti seseorang yang terjatuh dari kasur karena kaget, disusul bunyi bantingan jendela yang ditutup dengan sangat kasar.

Hening.

Baskara menghentikan gerakannya. Joana menurunkan bantal di tangannya. Keduanya berdiri mematung dalam diam, memasang telinga baik-baik. Suara menjijikkan dari tetangga sebelah benar-benar lenyap tak berbekas, kalah telak oleh performa bar-bar mereka.

Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik, sebelum akhirnya meledak dalam tawa yang tertahankan.

"Yakan!" bisik Baskara sambil tertawa puas, memegangi perutnya. Ia menjatuhkan diri telentang di atas kasur dengan napas terengah-engah seperti orang yang benar-benar habis berolahraga berat.

Joana ikut tertawa lega. Tanpa sadar, karena terlalu lelah dan geli, ia ikut menjatuhkan diri dan duduk di tepi kasur di samping tubuh Baskara. "Otak kamu bener-bener rusak, Bas. Tenggorokanku sampai kering."

Tawa mereka perlahan mereda. Keheningan malam kini kembali mengambil alih kamar tersebut. Namun, saat Joana menoleh untuk melihat Baskara, ia menyadari bahwa posisi mereka kini sangat dekat. Pria itu terbaring menatapnya dengan dada yang naik-turun seiring napasnya.

Tatapan Baskara perlahan turun, menyadari posisi Joana yang duduk di tepi ranjang dengan daster tipis setengah paha yang sedikit tersingkap karena gerakannya barusan.

Udara di kamar itu mendadak berubah padat. Candaan konyol barusan menguap begitu saja, digantikan oleh kesadaran fisik yang sangat intens. Suara desahan palsu tadi seolah masih menggema di telinga mereka, memberi sugesti aneh pada saraf-saraf keduanya.

Baskara menelan ludah, matanya menatap lekat pada mata Joana. "Jo..." panggilnya pelan, suaranya terdengar serak yang bukan pura-pura.

Wajah Joana kembali memanas, sadar sepenuhnya akan keintiman mendadak di ruangan itu, dan fakta bahwa malam ini, ia datang mengenakan pakaian yang salah.

Joana melangkah terburu-buru saat suasana mulai berubah.

"Udah kan? Kalau begitu saya balik dulu Mas."

Baskara mengangguk. "Ya, sudah sana pergi."

Joana melangkah terburu-buru. Namun karena ia tidak begitu memperhatikan, kakinya tersangkut pada lipatan karpet yang sedikit terangkat. Gadis itu kehilangan keseimbangan secara mendadak dan tubuhnya terlempar ke depan.

"Awas jatuh!"

Baskara yang berdiri tepat di belakangnya, refleks meraih lengan Joana hingga tubuhnya berbalik. Namun, momentum jatuh gadis itu terlalu berat. Bukannya berhasil menahan tubuh gadis itu, Baskara malah ikut kehilangan keseimbangannya.

"Aw!" pekik Joana.

Gadis itu jatuh terlentang di karpet lembut. Matanya melotot saat melihat tubuh Baskara menyusul ambruk tepat di atas dadanya. Waktu seakan telah berhenti.

Joana syok. Baskara mematung tidak berani bergerak saat merasakan detak jantung Joana yang berdebar kencang tepat di pipinya. Sensasi hangat dan kenyal, menyergap wajah pria yang perlahan memerah. Apalagi saat netranya menangkap sebuah tonjolan kecil yang tertutup pakaian di dada Joana, membuat pikiran pria itu blank seketika.

"Ini... Apa?" gumam Baskara tanpa sadar telah menggerakkan jari telunjuknya menyentuh tonjolan kecil itu.

Wajah Joana padam seketika. Tubuhnya seperti tersengat listrik. Ia menggertakkan giginya dengan perasaan campur aduk sekaligus merutuki kebiasaan melepaskan bra saat mau tidur. Tangannya terangkat menyentuh rambut Baskara dan menjambaknya dengan keras.

"Ba... ji... ngan!" desis Joana marah.

"Aduh."

Baskara mengerang kesakitan dengan kepala mendongak. Pria itu berguling ke samping, mencoba melepaskan tangan Joana dari rambutnya. Gadis itu bangkit, tetapi tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Melainkan meraih jari Baskara dan menggigitnya tanpa ampun.

"Kamu gila? Sakit!"

Baskara mendorong wajah Joana agar melepaskan gigitannya. Namun tetangga barunya itu tidak menggubris dan malah menambah kekuatan gigitan di jarinya. Sakit sekali, batin Baskara.

Pria itu pun menjepit hidung Joana berniat mengganggu jalur pernafasan agar melepaskan gigitan di jarinya.

"Kamu ini anjing atau apa? Kenapa menggigit jari saya?!"

Joana tidak menjawab. Namun, wajah kesal dan marahnya terlihat jelas. Sambil melepas gigitannya, ia mendorong Baskara dan saat pria itu menolak jatuh, Joana melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria itu.

Suara 'bugh' terdengar nyaring. Baskara memegangi pipinya yang mendadak kebas. Ia tidak menyangka akan menerima pukulan sekeras itu dari seorang gadis.

"Saya berniat menolong kamu agar tidak jatuh, siapa yang tahu kalau saya juga bakalan jatuh di atas dada kamu!"

"Ya terus kenapa kamu malah megang ... Argh! Ngeselin!" Joana mendelik kesal tidak sanggup mengucapkan kata selanjutnya.

Mendengar hal itu, Baskara menyeringai kemudian terkekeh pelan. "Salah siapa kamu tidak memakai bra? Mau menggoda saya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Lengan Bertato

    Langkah kaki Joana terasa berat. Setiap kali tumitnya mendarat, rasa pegal merambat naik dari telapak kaki, menjalar ke betis, paha, hingga menumpuk di pinggangnya. Hari ini, menaiki tangga rusunawa serasa berjalan dua kali lebih panjang dari biasanya. "Capek," ucap Joana tak sanggup berjalan dan berakhir duduk di anakan tangga. Ia menyelonjorkan kakinya dan memijat betisnya pelan. Di hari pertama bekerja, ia telah menerima omelan dari atasan, serta teriakan untuk menyuruhnya lebih cepat saat mengantar dan mengambilkan barang. Ia berusaha menahan diri agar tenaganya tidak terkuras habis. "Pengen cepat rebahan, tapi malas banget naik tangganya." Joana mendesah berat. Ia bangkit dengan gontai sembari memikirkan satu fokus di kepalanya yaitu kasur. Ia tidak memikirkan makan malam, tidak memikirkan tumpukan pakaian kotor yang belum dicuci, apalagi memikirkan kerumitan hidup yang terus menghantuinya belakangan ini. Otaknya seakan mendoktrin dengan membisikkan kata "tidur" berulang-ul

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Day 1

    Pagi itu, suasana hati Joana secerah langit di atas rusunawa. Ia berdiri di depan cermin kecil unit Baskara, sembari merapikan celana kain hitam dan kerah kemejanya agar rapinya dengan teliti. Hari pertama bekerja di sebuah gedung perkantoran megah di kawasan Sudirman akhirnya tiba. Setelah berbagai kekacauan dan teror yang menimpanya, pekerjaan ini terasa bagai angin segar yang melenyapkan tumpukan beban di dada Joana. "Sempurna," bisik Joana pada pantulan dirinya, mengulas senyum terbaik sembari mengikat rambut panjangnya rapi ke belakang. Rasa bahagia yang membuncah membuat energi positif gadis itu meluap-luap. Begitu keluar dari unit dan melangkah menyusuri lorong rusunawa, bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Setiap kali berpapasan dengan salah seorang penghuni rusunawa, ia menyapa mereka dengan sangat ramah dan ceria. "Pagi, Bu Sri!!" sapa Joana renyah sembari mengangguk sopan. Beberapa tetangga sempat mengedip bingung melihat perubahan sikap Joana yang biasanya agak p

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Di Terima Kerja

    Seperti ucapan Baskara, Joana kini menempati unit milik pria itu. Kini ia berbaring menatap langit-langit sembari berpikir mengapa Baskara baik dan mau bertukar unit dengannya. "Tukaran unit lho bukan tukar kado silang. Kok dia baik banget," gumam Joana heran. "Apa jangan-jangan dia punya maksud lain? Kayak... dia suka sama aku misalnya?" Joana menggeleng. "Dih jangan kepedean... Joana." Tapi... bukankah aneh? Mereka berdua kenal juga belum terlalu lama. Hubungannya juga aneh. Awal-awal dirinya dan Baskara adalah partner desah, tapi karena Pak Bagas sudah di usir, otomatis partner desah itu sudah bubar. Sedangkan beberapa waktu yang lalu mereka seperti orang asing yang tidak saling kenal, kemudian akur dan saling perhatian. "Tiba-tiba baik... apa dia siluman ya?" Seketika Joana mengingat sebuah kalimat yang di ucapkan kera sakti di salah satu episodenya. "Tau deh, pusing," ucap Joana sambil mematikan lampu. Sementara itu di unit samping, Baskara berguling-guling men

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Teror Lagi

    "Tamatlah sudah," gumam Joana saat dirinya, lagi-lagi menjadi pusat perhatian dan bahan gosip karena interaksinya dengan Baskara terlalu intens sejak kemarin. Baskara menyeringai. "Yah, selamat datang di duniaku, Joana. Perlu kubuatkan grup bersamaku?" Joana memasang wajah melas. Tangannya reflek menabok punggung Baskara yang tidak terpengaruh sama sekali. "Kuatkan mentalmu, karena mungkin... nanti sore atau besok pagi kamu akan mendengar rumor luar biasa aneh tentang dirimu," tambahnya lagi semakin membuat Joana menggeram rendah. "Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Joana sambil menggigiti kuku jarinya. "Hentikan!" ucap Baskara menarik tangan Joana. "Kotor, jangan sembarangan menggigiti kuku jari begitu? Mau cepet mati ya?" "Tapi aku di omongin orang, astaga!" erang Joana ke sana ke mari, karena gugup. "Ya bagus dong." "Bagus dari mana?" Erang Joana setengah berteriak. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Tenang sajalah, cuma di omongin doang. Anggap aja resiko j

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Perhatian

    "Bas, yang sakit kepalaku," ucap Joana seraya menatap tangan Baskara yang menggenggam lengannya. "Aku masih bisa jalan sendiri, enggak perlu di tuntun." "Aku tahu." Baskara tidak perduli. Ia tidak melepaskan tangannya di lengan Joana dan terus menuntun gadis itu seperti sedang membantu lansia berjalan. Bedanya, kali ini ia menuntun Joana keluar dari rumah sakit. Mau tidak mau, Joana merotasi matanya. Ia muak dengan tingkah Baskara yang tiba-tiba baik dan perhatian. Gejalanya terlihat sejak semalam, setelah pria itu menangis sambil memeluknya. "Tunggu, di sini sebentar," kata Baskara menyuruh Joana duduk di kursi tunggu depan rumah sakit. Pria itu lalu pergi ke parkiran. Joana hanya menunggu pasrah sambil membuka kamera ponsel Baskara yang sengaja di tinggalkan. Gadis itu mengambil beberapa foto random dan foto selfie. "Buset, bening banget kameranya," puji Joana saat melihat hasil jepretannya sangat jernih tidak seperti kamera ponselnya yang blur. Tak lama kemudi

  • Rahasia di Ranjang Tetanggaku   Rasa Bersalah

    "Hah? Serius Bu?" Joana spontan duduk, tetapi langsung meringis saat kepalanya berdenyut. "Aaaduh," gumamnya sambil memegang kepala. Bu Salma yang duduk sambil makan keripik, geleng-geleng. "Hati-hati kamu Jo, masih basah jahitannya." Joana nyengir, tapi wajahnya kembali serius. "Tapi beneran Bu? Baskara hampir ngelempar Tina dari lantai lima?" "Beneran Jo!" ucap Bu Salma kembali terpancing dengan pembahasan Baskara yang marah beberapa saat lalu. Joana duduk senyamannya. Ia menatap Bu Salma antusias. "Terus Bu?" Bu Salma meletakkan keripiknya kemudian minum. Setelahnya, ia menggebu-gebu menceritakan apa yang terjadi. "Wuuuh, heboh banget tadi Jo! Pak Rony aja sampai ke lempar, padahal niatnya mau nahan Baskara agar nggak mukul Tina. Suwer, Ibu nggak bohong, ramai parah pol!" "Ada yang mati nggak Bu?" Tak! "Sembarangan kalau ngomong," tukas Bu Salma reflek menyentil kening Joana. Gadis itu mengaduh. Mulutnya mendesis lirih. "Ya, kan cuma nanya Bu. Kok di sentil s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status