เข้าสู่ระบบRatih menghentikan langkah kakinya tepat di bawah remang lampu taman belakang. Wanita paruh baya berpakaian sutra biru tua itu perlahan membalikkan tubuhnya, lalu sedetik kemudian seulas tawa sinis yang teramat dingin meledak da
“Kau sengaja melakukan semua akal-akalan ini hanya untuk bisa bertemu denganku di rumah ini? Ibu?” tanya Alya dengan nada suara yang bergetar hebat menahan luapan emosi.Ratih menghentikan langkah kakinya tepat di bawah remang lampu taman belakang. Wanita paruh baya berpakaian sutra biru tua itu perlahan membalikkan tubuhnya, lalu sedetik kemudian seulas tawa sinis yang teramat dingin meledak dari bibirnya yang bergincu merah menyala. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Alya dari atas ke bawah tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.“Tentu saja, Alya. Ini semua memang bagian dari rencanaku,” jawab Ratih dengan nada suara yang teramat santai. “Aku sudah melihat kebersamaanmu dengan Arga waktu belanja di supermarket kemarin malam. Aku sengaja mengompori Kakek Mahendra agar Arga membawamu ke mari sore ini. Aku
‘I-ibu?’Jeritan batin Alya tertahan di tenggorokan, membuat dadanya terasa sesak seakan dihantam batu besar. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas sampai dia harus bertumpu lebih berat pada lengan jas abu-abu milik Arga.Bagaimana mungkin wanita yang belasan tahun lalu kabur membawa seluruh tabungan keluarga dan membiarkannya hidup melarat bersama Nenek, sekarang berdiri di sini sebagai nyonya besar keluarga konglomerat?‘Kalau dia istri dari ayahnya Pak Arga, secara otomatis … Pak Arga adalah kakak tiriku?’ Pikiran gila itu berputar liar di kepala Alya, membuatnya linglung dan mematung di tempat. Skenario kekasih palsu yang mereka susun mendadak terasa seperti lelucon paling tabu dan menjijikkan sedunia.
“Pak Arga, ini beneran rumah keluarga Anda?” tanya Alya seraya menatap lurus keluar jendela kaca sedan mewah yang mulai melambat.Sedan hitam itu baru saja melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh tiga orang satpam berbadan tegap. Begitu masuk ke area pekarangan, Alya dibuat takjub setengah mati melihat kemegahan di depan matanya. Rumah utama Keluarga Mahendra berdiri megah bak istana dengan pilar-pilar putih raksasa, dikelilingi taman bunga yang terawat rapi dengan lampu-lampu taman yang menyala terang benderang menembus remang malam.‘Gila, rumah ini besar sekali. Apartemen Pak Arga yang mewah itu bahkan ukurannya tidak ada setengahnya dari luas bangunan ini,’ batin Alya seraya meremas tas jinjing barunya dengan tangan yang mendadak sedingin es.“Kenapa Anda punya rumah ya
“Buka matamu, Alya,” perintah Arga dengan suara baritonnya yang berat tepat di depan wajahnya.Alya berdiri kaku setelah ditarik paksa masuk melewati batas pintu kamar mandi yang hangat beruap air sabun. Dia terus-menerus memejamkan kedua matanya rapat-rapat, meremas sehelai handuk tebal di genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Bau wangi maskulin yang pekat bercampur aroma uap air panas langsung mengurung seluruh indra penciumannya.“Saya tidak mau membuka mata! Kenapa Pak Arga malah menyuruh saya membantu? Kan tangan Anda katanya sudah sehat dan bahkan bisa menyetir sendiri!” seru Alya dengan nada suara yang meninggi karena panik dan ketakutan setengah mati.“Buka saja, aku tidak menyuruhmu melihat yang tidak-tidak,” jawab Arga dengan nada datar yang penuh wibawa seorang
“Bawa ini ke dalam, Alya,” kata Arga seraya meletakkan tiga kotak hadiah berukuran besar di atas meja marmer ruang tengah.Alya mengembuskan napas panjang dengan dada yang naik-turun hebat akibat kelelahan. Langkah kakinya terasa teramat lemas setelah berjalan mengitari pertokoan elite tadi, ditambah lagi dia harus membawa dua kantong belanjaan berisi sepatu dan tas.Namun, beban yang dibawa Arga jauh lebih banyak; pria tegap itu membawa sisa kotak lainnya di tangan kanan dan kirinya tanpa mengeluh sedikit pun.‘Gila, banyak banget belanjaannya. Ini sih bukan persiapan makan malam biasa, tapi mirip seperti orang mau pindahan rumah,’ batin Alya seraya menjatuhkan tubuh lemasnya ke atas sofa kulit apartemen yang empuk.Alya memalingkan wajahnya, mel
Alya segera membuka pintu mobil dengan gerakan terburu-buru, lalu melompat masuk ke kursi penumpang sebelah kemudi. Jantungnya berdegup kencang seiring bunyi debukan pintu sedan hitam itu yang tertutup rapat.Dia buru-buru menundukkan kepalanya, mengintip dari balik kaca gelap untuk memastikan tidak ada satu pun anak divisi riset yang melihatnya masuk ke dalam mobil sang CEO.‘Selamat, tidak ada orang. Bisa mati berdiri aku kalau sampai ketahuan,’ batin Alya seraya mengembuskan napas panjang untuk meredakan kepanikannya.Mobil sedan mewah itu mulai bergerak membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan jam pulang kantor. Alya menoleh ke samping, menatap profil samping wajah tegas Arga yang sedang fokus mengemudikan setir.“Pak Arga, saya k







