Masuk“Kalau Anda sendiri saja tidak ingat kejadian malam itu, saya batalkan kontraknya! Saya mau menarik kembali resep Nenek saya sekarang juga!” seru Alya dengan napas tersengal-sengal menahan amarah yang meledak di dadanya.
Arga tidak bergerak dari posisinya, namun tatapan mata elangnya semakin menajam, mengunci pergerakan Alya di antara pintu mobil mewah miliknya. “Kontrak kerja sama sudah sah secara hukum, Alya. Kamu tidak bisa menariknya kembali begitu saja hanya karena emosi.” ‘Enak saja dia bicara begitu! Jadi pelunasan utang seratus lima puluh juta itu murni jebakan biar aku menyerahkan satu-satunya harta berharga milik keluargaku?’ batin Alya merutuk kasar. Air matanya hampir saja tumpah karena merasa harga diri dan warisan neneknya dipermainkan seperti barang dagangan murah. “Saya tidak peduli! Anda sengaja memanfaatkan kondisi saya yang sedang hancur untuk kepentingan bisnis Anda sendiri!” tuduh Alya sambil memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap wajah tampan pria di depannya yang mendadak terasa seperti monster korporasi yang kejam. “Aku butuh resep itu untuk membuktikan kinerja pertamaku di depan Kakek,” kata Arga dengan nada suara yang berwibawa namun terdengar ada sedikit tekanan emosi yang tertahan di dalamnya. “Beliau sudah menyerahkan seluruh perusahaan ini kepadaku dan memercayakan masa depannya di tanganku. Proyek premium ini adalah harga mati bagiku untuk menunjukkan kalau aku layak memimpin PT Rasa Nusantara Food.” “Lalu apa urusannya dengan saya?! Kenapa saya yang harus jadi tumbal untuk ambisi Anda ke kakek Anda?!” teriak Alya frustrasi, tenaganya mendadak habis untuk meladeni teka-teki pria ini. “Minggir, Pak Arga! Saya mau pulang! Saya tidak jadi periksa!” Alya mendorong dada bidang Arga dengan seluruh sisa kekuatannya. Arga sempat bergeming sesaat sebelum akhirnya melangkah mundur, memberikan jalan bagi Alya untuk melarikan diri. Tanpa membuang waktu, Alya langsung berlari menuju jalan raya dan mencegat taksi yang kebetulan lewat, mengabaikan seruan Arga yang memanggil namanya dari belakang. *** Langkah kaki Alya mendadak terpaku di ujung gang menuju rumah kecilnya, tas kain di genggamannya merosot jatuh ke atas tanah. Di depannya, kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit, berpadu dengan kobaran api merah yang melalap habis bangunan kayu peninggalan orang tuanya. Suara teriakan warga sekitar yang panik mencoba memadamkan api dengan peralatan seadanya terdengar sangat bising dan kacau. “Rumahku … Nenek ….” gumam Alya dengan bibir bergetar hebat. ‘Tunggu, Nenek kan masih dirawat di ICU rumah sakit, jadi tidak ada siapa-siapa di dalam,’ batin Alya mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup gila-gilaan. Namun, sedetik kemudian, bayangan wajah ayah kandungnya yang bajingan langsung terlintas di kepalanya. Pria buronan itu akhir-akhir ini memang masih bersembunyi di dalam rumah. “Biarkan saja … biar pria berengsek itu mati hangus di dalam. Dia yang bikin hidup kami hancur,” bisik Alya kejam di dalam hatinya, ingatan tentang rentenir yang merusak rumahnya dan membuat neneknya terkena serangan jantung membuat rasa simpati Alya hilang total. Alya berbalik, berniat meninggalkan tempat itu dan membiarkan takdir menghukum ayahnya sendiri. Namun, langkah kakinya kembali terhenti saat dia teringat akan satu hal yang teramat penting. Buku catatan resep kuno bersampul kulit milik neneknya masih tersimpan di dalam laci kamar tidurnya yang berada di bagian belakang rumah. ‘Buku resep Nenek … satu-satunya peninggalan berharga yang tersisa … aku tidak boleh membiarkannya terbakar!’ jerit Alya di dalam batinnya, mengabaikan akal sehatnya sepenuhnya. Alya berbalik arah dan langsung berlari kencang menerobos kerumunan warga yang berteriak menahannya. Dia menutup hidung dan mulutnya menggunakan lengan baju kerjanya, lalu nekat melompat masuk ke dalam pintu depan rumah yang sudah mulai runtuh dimakan api. Suasana di dalam rumah terasa sangat panas menyengat, asap tebal langsung menusuk mata dan paru-parunya hingga dia terbatuk-batuk hebat. “Uhuk! Uhuk! Nenek … Alya harus ambil bukunya ….” rintih Alya, berjalan merangkak di atas lantai yang panas menuju area kamar tidur belakang. Setelah bersusah payah menerobos kobaran api, Alya berhasil mencapai kamarnya dan menyambar buku catatan usang itu dari dalam laci. Dia memeluk buku itu erat-erat di dadanya dengan perasaan lega. Namun, saat dia berbalik untuk keluar, langkahnya terhenti ketika melihat sesosok tubuh pria paruh baya tergeletak di dekat pintu dapur dalam kondisi setengah sekarat dan tidak sadarkan diri akibat menghirup terlalu banyak asap. Itu adalah ayahnya. ‘Tinggalkan saja dia, Alya. Dia cuma parasit di hidupmu,’ hasut sisi gelap di kepala Alya, menatap dingin ke arah pria yang telah membuangnya belasan tahun lalu. Alya melangkah maju selangkah untuk melewati tubuh ayahnya. Namun, ketika matanya menatap wajah tua yang dipenuhi jelaga hitam itu, hatinya seolah menolak keras untuk menjadi seorang pembunuh. Bagaimanapun juga, darah pria ini mengalir di tubuhnya. “Sialan! Kenapa aku harus punya hati selembek ini?!” umpat Alya frustrasi. Alya menjatuhkan dirinya di samping tubuh ayahnya, lalu menggunakan seluruh kekuatannya yang kecil untuk memeluk dan membopong tubuh pria paruh baya itu dengan susah payah. Dia menyeret kaki ayahnya perlahan menuju arah pintu keluar, namun bobot tubuh ayahnya terlalu berat untuk ukuran tubuh Alya yang mungil. Jarak menuju pintu depan terasa seperti ribuan kilometer di tengah kepungan api yang kian membesar. KRETEK .… Suara kayu atap rumah yang retak terdengar keras tepat di atas kepala Alya. Alya mendongak dan membelalakkan matanya ketakutan saat melihat sebuah balok kayu berapi ukuran besar patah dan siap jatuh lurus ke arah tubuhnya yang sudah tidak punya tenaga lagi untuk menghindar. ‘Mati aku … Maafkan Alya, Nek ….’ batin Alya pasrah, menutup matanya erat-erat sambil memeluk buku resep neneknya. BRUK! Sebuah hantaman keras dari tubuh kekar seseorang tiba-tiba menabrak tubuh Alya hingga mereka berdua bergulingan di atas lantai yang panas, tepat satu detik sebelum balok kayu berapi itu jatuh menghantam tempat Alya berdiri tadi dengan suara ledakan api yang dahsyat. Alya membuka matanya dengan terengah-engah, merasakan sepasang lengan yang sangat kokoh dan lebar sedang mendekapnya dengan posisi melindungi kepalanya dari reruntuhan. Aroma parfum tembakau mahal yang bercampur dengan bau asap kayu terbakar langsung merasuk ke indra penciumannya, memicu detak jantung Alya yang kian menggila. “Pak … Pak Arga?!” pekik Alya tidak percaya, menatap wajah tegas Arga Mahendra yang kini sudah kotor oleh abu hitam namun tetap memancarkan aura wibawa yang teramat kuat di tengah kobaran api. “Diam dan pegang erat resepmu, Karyawan Kecil,” perintah Arga dengan suara baritonnya yang berat, terdengar batuk kecil di sela kalimatnya akibat asap pekat. Tanpa membuang waktu, Arga langsung bangkit berdiri, menyambar tubuh ayah Alya yang pingsan dengan satu tangan kekarnya, lalu menggunakan tangan satunya lagi untuk merangkul pinggang Alya dengan sangat protektif. Dengan satu gerakan dominan dan penuh perhitungan yang matang, Arga membawa mereka berdua menerobos sisa kobaran api depan dan melompat keluar dari rumah yang sedetik kemudian runtuh total rata dengan tanah di belakang mereka. Alya jatuh terduduk di atas rumput halaman luar dengan napas yang memburu dan dada yang naik-turun hebat, memeluk buku resep neneknya di depan dadanya yang gemetar.“Saya hanya perlu waktu, Pak Arga!” jawab Alya setengah berteriak tepat di depan permukaan bibir tebal Arga yang mengunci ruang geraknya.Napas Alya memburu cepat, menerpa langsung rahang kokoh sang CEO yang berada terlampau dekat dengan wajahnya. “Kemarin malam saya sebenarnya berniat membalas pesan Anda dan menjelaskan semuanya. Tapi saya ketiduran saking capeknya setelah lembur dan membersihkan laboratorium R&D semalaman!”Alya memajukan sedikit wajahnya, menunjuk penampilannya sendiri dengan gerakan kesal. “Lihat penampilan saya sekarang! Rambut saya berantakan, baju saya kusut, bahkan kantung mata saya tebal sekali karena semalam hanya bisa tidur sebentar dan sangat lelah sekali! Saya bukan robot yang bisa Anda todong pekerjaan harian dan urusan pribadi sekaligus!”Arga t
Alya melangkah kaku melewati pintu jati besar ruang kerja CEO, memeluk erat map draf laporan laboratorium Nusantara Premium di depan dadanya. Begitu kakinya menapak di atas lantai karpet tebal, terdengar bunyi klik pelan dari luar. Sekretaris Doni benar-benar mengunci pintu itu sesuai perintah. Suasana ruangan luas ber-AC dingin ini mendadak terasa teramat sunyi sepi, menyergap seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Alya hingga kepalanya mendadak pening karena gugup.‘Sial, dia benar-benar mengunci pintunya dari luar. Ruangan ini kedap suara, apa pun yang terjadi di sini tidak akan ada orang luar yang tahu,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika didera rasa cemas yang teramat menghimpit ulu hati.Alya mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru ruangan, namun dia tidak melihat siluet tubuh tegap Arga di balik meja kerja marmer hitam. Tepa
Alya terbangun dengan rambut yang berantakan di atas bantal putih hote. Begitu kesadarannya terkumpul, hal pertama yang dia rasakan adalah getaran berulang kali dari gawai di samping kepalanya karena alarm. Dengan mata yang masih sepet, Alya menyalakan layar ponselnya yang semalam sempat mati total.Ada tiga buah pesan beruntun dari Arga Mahendra yang dikirim sejak pukul tiga subuh tadi.Pesan pertama:‘Alya, aku masih menunggu jawabanmu.’Pesan kedua:‘Kalau kamu memang membutuhkan waktu sendiri, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu untuk pulang ke apartemen.’Pesan ketiga:‘Tapi j
Alya langsung tertidur lelap saking capeknya begitu punggungnya menyentuh kasur empuk hotel. Matanya terpejam rapat, tidak menyadari bahwa beberapa menit kemudian, lampu indikator ponselnya yang sedang diisi daya berubah menjadi hijau redup, menandakan gawai itu sudah menyala kembali secara otomatis. Deretan pesan baru yang menggantung di ruang obrolannya bersama Arga terbiarkan begitu saja tanpa ada jawaban lanjutan.‘Aku cuma mau tenang semalam saja, jangan ada gangguan dulu,’ cicit Alya di dalam alam bawah sadarnya yang teramat lelah menghadapi kegilaan bosnya sepanjang hari.Sementara itu, di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer, suasana di dalam apartemen mewah milik Arga terasa sangat sunyi dan menekan. Arga Mahendra masih duduk tegak di tepi sofa ruang tengah dengan kemeja hitam yang belum diganti.
“Aduh, Al, keputusanmu tadi beneran bikin senam jantung tau,” keluh Maya sambil menghempaskan tumpukan draf tabel riset ke atas meja laboratorium R&D dengan bunyi ketukan yang tegas.Alya menoleh kaku, mendapati tatapan tidak enak dan wajah cemberut dari ketiga rekan satu tim tugasnya yang baru saja duduk di kubikel. Suasana laboratorium yang sejuk setelah jam lima sore ini mendadak terasa sedikit menekan. Alya meremas ujung jas laboratoriumnya, merasa sangat bersalah karena keputusan akal-akalan daruratnya di ruang rapat direksi tadi siang telah menyeret teman-temannya untuk ikut terjebak dalam kerja lembur malam ini.“Maafkan aku ya, teman-teman. Aku terpaksa mengambil keputusan ini,” kata Alya dengan nada suara yang penuh rasa tidak enak. Dia mencoba memasang senyuman terbaik demi menyemangati mereka. “Tapi tenang saja, Pak Arga sudah berjanji bahwa akan ada tunjangan lembur khusus yang sangat besar untuk tim tugas kita tanpa ada potongan satu rupiah pun dari kantor pusat.”Menden
Alya segera melangkah keluar dari ruangan kerja CEO dan menutup pintu jati besar itu dengan sangat keras. Di koridor luar yang sepi, dia bersandar pada dinding marmer seraya menghela napas panjang berulang kali untuk menenangkan debaran jantungnya yang berantakan. Rasa panik dan salah tingkah akibat konfrontasi tegasnya dengan Arga barusan masih menyisakan hawa panas di pipinya.‘Hampir saja aku kelewatan lagi menghadapi pria itu,’ batin Alya seraya merapikan kemeja kerjanya yang agak kusut.Namun, saat Alya sedang sibuk menepuk dadanya sendiri, dia tersentak kaku ketika menyadari sekretaris pribadi Arga sedang memperhatikannya dengan dahi berkerut bingung dari balik meja komputer lobi atas. Alya langsung salah tingkah, buru-buru membetulkan letak rambutnya yang berantakan dan menyapa pria itu dengan c







