Home / Romansa / Rahasia di Ruang CEO / Pengakuan Tak Terduga

Share

Pengakuan Tak Terduga

Author: moonchiyy
last update publish date: 2026-07-27 08:02:38

“Mbak Maya, aku mau tanya sesuatu, tapi tolong jangan tertawa ya,” bisik Alya sambil menggeser kursi rodanya mendekati kubikel seniornya.

Maya menghentikan gerakannya yang sedang mengetik laporan, lalu menoleh dengan alis bertaut. “Tanya apa, Al? Tumben mukamu tegang begitu seperti mau ujian.”

Alya meremas jemarinya sendiri, melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan staf laboratorium R&D yang lain sedang sibuk dengan komputer masing-masing. Pertemuan dengan Arga di ruang CEO kemarin benar-benar mengacaukan isi kepalanya, terutama tentang misteri malam di kamar hotel yang masih terasa sangat abu-abu.

“Mbak kan baru menikah dua bulan lalu,” Alya berdehem kecil, wajahnya mendadak terasa hangat. “Aku cuma penasaran … bagaimana sih rasanya tubuh kita setelah … malam pertama? Maksudku, apa ada efek aneh yang terasa di badan?”

Maya langsung membelalakkan matanya, lalu tertawa cekikikan sambil menyenggol bahu Alya. “Wah, ada apa ini? Anak polos di lab tiba-tiba tanya soal malam pertama! Kamu sudah punya calon ya, Al?”

“Ih, Mbak Maya, pelan-pelan suaranya!” Alya panik, buru-buru membekap mulut seniornya itu dengan telapak tangan. “Ini murni penasaran saja, Mbak. Tolong jawab yang serius.”

Maya merapikan duduknya, lalu memasang wajah sok tahu. “Okey, okey. Jadi begini, Al. Kalau malam pertama itu, rasanya seluruh badan seakan remuk redam, pegal-pegal semua dari pinggang sampai kaki. Dan yang paling jelas, di bagian bawah sana rasanya sakit sekali sampai besok paginya aku tidak bisa jalan normal. Suamiku kan badannya tinggi besar, jadi ya efeknya dahsyat sekali di kasur. Pokoknya kalau tidak sakit atau tidak berasa apa-apa setelah pertama kali melakukannya, itu tidak logis namanya!”

Alya tertegun di tempatnya, kalimat Maya langsung berdenging keras di otaknya. Dia mengingat kembali kondisinya saat terbangun di kamar VIP Arga tiga hari lalu. Pagi itu, dia memang merasakan pusing di kepala akibat alkohol, namun anggota tubuhnya yang lain sama sekali tidak terasa pegal atau remuk, dan di bagian kemaluannya hanya ada rasa perih yang sangat biasa dan ringan, mirip seperti lecet kecil akibat terlalu lama berjalan.

‘Kalau tubuh Pak Arga segagah dan semantap itu, harusnya efeknya ke badanku berkali-kali lipat lebih dahsyat dari yang dirasakan Mbak Maya,’ batin Alya sambil menggigit bibir bawahnya ragu.

Sekelebat ingatan tentang dada bidang tanpa busana milik Arga, napas panasnya yang berembus di leher, serta sentuhan nakal tangan kekar pria itu di pinggangnya malam itu mendadak melintas begitu saja di kepala Alya. Memori abu-abu itu terasa nyata, namun mengapa efek fisiknya tidak se-ekstrem cerita Maya? Kecurigaan bahwa Arga sedang berbohong demi melindunginya atau justru menyembunyikan sesuatu langsung merayap naik di benak Alya.

‘Aku tidak bisa tenang kalau tidak tahu kepastiannya. Aku harus periksa ke dokter kandungan sore ini juga untuk cek keutuhan selaput daraku,’ putus Alya dalam hati dengan penuh tekad.

Alya segera kembali ke mejanya, mengambil ponsel, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Sinta untuk disampaikan kepada Direktur R&D bahwa dia harus izin pulang lebih cepat sore ini dengan alasan drop akibat kelelahan menemani neneknya di rumah sakit. Akal-akalan ini terpaksa dia lakukan demi menghindari aturan aneh Arga yang menyuruhnya lembur berdua di ruang CEO setelah jam lima sore.

***

“Ibu Alya Paramita, silakan masuk ke ruang periksa,” seru perawat dari balik pintu klinik kandungan swasta di sudut kota.

Alya bangkit dari kursi tunggu dengan jantung yang berdegup kencang, menggenggam tas kainnya erat-erat untuk mengusir rasa takut. Begitu masuk, dia langsung disambut oleh seorang dokter wanita paruh baya yang tampak ramah.

“Ada keluhan apa, Mbak Alya? Mau konsultasi pra-nikah atau ada keluhan lain?” tanya dokter tersebut seraya mempersilakan Alya duduk.

“Saya … saya mau melakukan pemeriksaan fisik, Dok. Saya ingin mengecek keutuhan selaput dara saya setelah mengalami insiden jatuh beberapa hari lalu,” jawab Alya dengan alasan yang sudah dia siapkan sejak di taksi demi menutupi rasa malunya.

Dokter itu mengangguk paham. “Baik, silakan berbaring di ranjang periksa ya, Mbak.”

Alya melangkah dengan kaki gemetar menuju ranjang khusus periksa. Namun, baru saja dia hendak menaikkan kakinya ke penopang ranjang, tirai pembatas ruangan mendadak disibak dengan sangat keras dari luar.

Sret!

“Batalkan pemeriksaannya, Dok. Dia akan pulang bersama saya sekarang,” sebuah suara bariton yang berat tiba-tiba menggelegar di dalam ruangan periksa yang sunyi itu.

Alya terlonjak kaget dan langsung menoleh. Matanya membelalak lebar melihat Arga Mahendra sudah berdiri di sana dengan jas abu-abu yang kancing tengahnya terbuka, menatapnya dengan pandangan mata elang yang teramat tajam dan dingin.

“Pak … Pak Arga?! Kenapa Anda bisa ada di sini?!” pekik Alya panik, buru-buru turun dari ranjang dan merapikan rok kerjanya yang sempat tersingkap sedikit.

Arga tidak menjawab pertanyaan Alya, dia hanya menatap dokter di depan mereka dengan sorot mata yang menekan. “Mohon maaf atas gangguan ini, Dok. Istri saya sedang sedikit emosional.”

“Saya bukan istrinya!” sangkal Alya dengan wajah yang merona merah padam menahan campur aduk antara malu dan marah.

Tanpa memedulikan bantahan Alya, Arga langsung mencengkeram pergelangan tangan Alya dengan erat namun tidak sampai menyakitinya, lalu menarik wanita itu keluar dari ruang periksa menuju area parkir mobil yang sepi di belakang klinik.

“Lepaskan saya, Pak Arga! Anda keterlaluan! Kenapa Anda membuntuti saya sampai ke klinik?!” amuk Alya sambil berusaha menghentikan langkah tegap Arga di samping mobil sedan mewah milik sang CEO.

Arga akhirnya melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik dan memojokkan tubuh Alya hingga punggung wanita itu membentur pintu mobilnya. Jarak mereka kembali terkikis habis, membuat aroma parfum tembakau mahal milik Arga langsung menguasai indra penciuman Alya.

“Kamu berani membohongi direksi dengan alasan sakit hanya untuk datang ke tempat seperti ini, Alya?” cerca Arga dengan nada suara yang merendah, menatap lurus ke dalam manik mata Alya yang bergetar. “Apa yang sebenarnya ingin kamu cari tahu dari dokter tadi, hm?”

Alya mendongak dengan berani, mencoba menutupi kegugupannya di balik tatapan menantang Arga. “Saya hanya ingin mencari kebenaran yang tidak bisa Anda berikan, Pak! Saya mau tahu apakah hari itu Anda berbohong atau tidak tentang kita yang tidak melakukan apa-apa!”

Arga menarik sudut bibirnya tipis, memajukan wajahnya hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja, memicu sekelebat memori panas malam itu di otak Alya.

“Jika dokter tadi bilang kita benar-benar melakukannya, apa yang akan kamu tuntut dariku, Karyawan Kecil? Apa kamu mau meminta uang lebih, atau kamu mau menuntutku untuk menikahimu?”

“Saya tidak butuh uang Anda dan saya tidak sudi menikah dengan pria pemeras seperti Anda!” balas Alya dengan napas yang kian memburu akibat kedekatan fisik mereka dan rasa marahnya. “Tapi jika memang benar terjadi sesuatu pada malam itu, saya berhak tahu demi harga diri saya!”

Arga terdiam sesaat, tatapan mata elangnya mendadak berubah menjadi sedikit rumit dan tidak sedingin sebelumnya. “Aku siap bertanggung jawab dan menikahimu kapan saja jika itu memang benar terjadi, Alya.”

Alya membeku, jantungnya seolah melompat keluar mendengar pernyataan tegas yang keluar dari bibir sang CEO. Alya menyipitkan matanya, menangkap ada sesuatu yang aneh dari gelagat pria di hadapannya ini.

“Kenapa Anda mendadak bicara seperti itu, Pak Arga?” tanya Alya dengan dahi berkerut rapat penuh selidik. “Sebelumnya di hotel Anda begitu percaya diri bilang kalau Anda tidak menyentuh wanita yang pingsan. Tapi sekarang Anda kelihatan ketakutan seolah ada hal yang Anda sembunyikan. Bicarakan dengan jujur, ada apa sebenarnya dengan malam itu?!”

Arga menghela napas pendek, lalu memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain sebelum kembali menatap Alya dengan sorot mata yang sarat akan teka-teki misterius.

“Malam itu … aku juga mabuk, Alya. Ingatanku tentang akhir malam itu tidak sepenuhnya bersih,” aku Arga dengan suara yang kian serak dan berat, membuat seluruh dunia Alya seketika runtuh mendengar pengakuan tak terduga yang merusak semua keyakinannya selama ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Ruang CEO   Teka-Teki Baru

    “Kalau Anda sendiri saja tidak ingat kejadian malam itu, saya batalkan kontraknya! Saya mau menarik kembali resep Nenek saya sekarang juga!” seru Alya dengan napas tersengal-sengal menahan amarah yang meledak di dadanya.Arga tidak bergerak dari posisinya, namun tatapan mata elangnya semakin menajam, mengunci pergerakan Alya di antara pintu mobil mewah miliknya. “Kontrak kerja sama sudah sah secara hukum, Alya. Kamu tidak bisa menariknya kembali begitu saja hanya karena emosi.”‘Enak saja dia bicara begitu! Jadi pelunasan utang seratus lima puluh juta itu murni jebakan biar aku menyerahkan satu-satunya harta berharga milik keluargaku?’ batin Alya merutuk kasar. Air matanya hampir saja tumpah karena merasa harga diri dan warisan neneknya dipermainkan seperti barang dagangan murah.“Saya tidak peduli! Anda sengaja memanfaatkan kondisi saya yang sedang hancur untuk kepentingan bisnis Anda sendiri!” tuduh Alya sambil memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap wajah tampan pria di dep

  • Rahasia di Ruang CEO   Pengakuan Tak Terduga

    “Mbak Maya, aku mau tanya sesuatu, tapi tolong jangan tertawa ya,” bisik Alya sambil menggeser kursi rodanya mendekati kubikel seniornya.Maya menghentikan gerakannya yang sedang mengetik laporan, lalu menoleh dengan alis bertaut. “Tanya apa, Al? Tumben mukamu tegang begitu seperti mau ujian.”Alya meremas jemarinya sendiri, melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan staf laboratorium R&D yang lain sedang sibuk dengan komputer masing-masing. Pertemuan dengan Arga di ruang CEO kemarin benar-benar mengacaukan isi kepalanya, terutama tentang misteri malam di kamar hotel yang masih terasa sangat abu-abu.“Mbak kan baru menikah dua bulan lalu,” Alya berdehem kecil, wajahnya mendadak terasa hangat. “Aku cuma penasaran … bagaimana sih rasanya tubuh kita setelah … malam pertama? Maksudku, apa ada efek aneh yang terasa di badan?”Maya langsung membelalakkan matanya, lalu tertawa cekikikan sambil menyenggol bahu Alya. “Wah, ada apa ini? Anak polos di lab tiba-tiba tanya soal malam pertama! Kamu

  • Rahasia di Ruang CEO   Ingatan Liar

    “Anda mengancam saya dengan nyawa nenek saya?” tanya Alya sambil mengepalkan tangan kuat-kuat di atas pangkuannya.Arga tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Alya dengan pandangan lurus yang sangat tenang. “Aku tidak mengancam, Alya. Aku sedang menawarkan kerja sama bisnis yang saling menguntungkan.”‘Kerja sama bisnis apa yang modelnya memakai jebakan seperti ini? Sialan, dia benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai bos besar,’ amuk Alya dalam hati. Dadanya naik-turun menahan emosi yang meluap, mengalahkan rasa canggung yang sempat tersisa dari kejadian di kamar hotel malam itu.“Resep itu milik keluarga saya, Pak. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya di divisi R&D perusahaan ini,” kata Alya dengan nada suara yang bergetar namun tegas.“Sekarang ada hubungannya karena perusahaan yang membayar biaya rumah sakit pemilik resep tersebut,” jawab Arga seraya memajukan tubuhnya ke depan meja marmer hitam. “Warung mi nyemek legendaris milik Nenek Aminah di sudut kota lama. Apa

  • Rahasia di Ruang CEO   Di Balik Pintu Kedap Suara

    “Al, kamu dengar tidak? Pak Arga memanggilmu ke atas!” bisik Sinta sambil menyenggol lengan Alya dengan keras.Suasana di aula utama mendadak berubah riuh oleh bisikan ratusan karyawan yang menatap langsung ke arah Alya. Alya merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap habis. Pandangan matanya masih terkunci pada sosok tegap Arga Mahendra yang kini melangkah turun dari podium dengan langkah tenang namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar.‘Mati aku … dia benar-benar bos besar di sini,’ jerit Alya dalam hati, meremas map dokumen di dadanya hingga melengkung kusut.“I—iya, Sin. Aku dengar,” jawab Alya dengan suara yang bergetar menahan panik.“Kamu punya masalah apa sampai langsung diincar di hari pertama dia menjabat?” tanya Sinta lagi, matanya penuh rasa ingin tahu yang besar.“Tidak ada. Aku juga tidak tahu,” bohong Alya, buru-buru membalikkan badannya untuk menghindari tatapan penuh selidik dari rekan-rekan divisinya.Sepanjang jalan menuju lift khusus karyawan, kaki

  • Rahasia di Ruang CEO   Malam yang Salah di Kamar VIP

    “Mbak Alya, operasi nenek Anda harus dilakukan besok pagi sesuai kesepakatan kemarin, biayanya seratus lima puluh juta rupiah,” suara dokter rumah sakit tadi siang terus berputar di kepala Alya Paramita seperti kaset yang rusak.Alya menatap gelas berisi cairan merah pekat di tangannya dengan pandangan yang mulai kabur. Aula hotel berbintang malam ini terasa begitu bising oleh gelak tawa ratusan karyawan PT Rasa Nusantara Food yang sedang merayakan sukses besar produk baru mereka. Namun, dada Alya justru terasa sesak setengah mati.‘Seratus lima puluh juta … aku harus cari pinjaman ke mana lagi dalam semalam?’ ratap Alya dalam hati sambil meneguk habis isi gelasnya.“Alya! Ayo minum lagi! Kamu kan pahlawan tim riset bulan ini!” seru Sinta sambil kembali menuangkan minuman ke gelas Alya.“Ah, iya, terima kasih, Sin,” jawab Alya dengan senyum yang dipaksakan.Alya tidak menolak gelas berikutnya yang disodorkan oleh temannya. Dia hanya ingin mati rasa malam ini. Otaknya sudah terlalu lel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status