ログイン“Mbak Maya, aku mau tanya sesuatu, tapi tolong jangan tertawa ya,” bisik Alya sambil menggeser kursi rodanya mendekati kubikel seniornya.
Maya menghentikan gerakannya yang sedang mengetik laporan, lalu menoleh dengan alis bertaut. “Tanya apa, Al? Tumben mukamu tegang begitu seperti mau ujian.” Alya meremas jemarinya sendiri, melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan staf laboratorium R&D yang lain sedang sibuk dengan komputer masing-masing. Pertemuan dengan Arga di ruang CEO kemarin benar-benar mengacaukan isi kepalanya, terutama tentang misteri malam di kamar hotel yang masih terasa sangat abu-abu. “Mbak kan baru menikah dua bulan lalu,” Alya berdehem kecil, wajahnya mendadak terasa hangat. “Aku cuma penasaran … bagaimana sih rasanya tubuh kita setelah … malam pertama? Maksudku, apa ada efek aneh yang terasa di badan?” Maya langsung membelalakkan matanya, lalu tertawa cekikikan sambil menyenggol bahu Alya. “Wah, ada apa ini? Anak polos di lab tiba-tiba tanya soal malam pertama! Kamu sudah punya calon ya, Al?” “Ih, Mbak Maya, pelan-pelan suaranya!” Alya panik, buru-buru membekap mulut seniornya itu dengan telapak tangan. “Ini murni penasaran saja, Mbak. Tolong jawab yang serius.” Maya merapikan duduknya, lalu memasang wajah sok tahu. “Okey, okey. Jadi begini, Al. Kalau malam pertama itu, rasanya seluruh badan seakan remuk redam, pegal-pegal semua dari pinggang sampai kaki. Dan yang paling jelas, di bagian bawah sana rasanya sakit sekali sampai besok paginya aku tidak bisa jalan normal. Suamiku kan badannya tinggi besar, jadi ya efeknya dahsyat sekali di kasur. Pokoknya kalau tidak sakit atau tidak berasa apa-apa setelah pertama kali melakukannya, itu tidak logis namanya!” Alya tertegun di tempatnya, kalimat Maya langsung berdenging keras di otaknya. Dia mengingat kembali kondisinya saat terbangun di kamar VIP Arga tiga hari lalu. Pagi itu, dia memang merasakan pusing di kepala akibat alkohol, namun anggota tubuhnya yang lain sama sekali tidak terasa pegal atau remuk, dan di bagian kemaluannya hanya ada rasa perih yang sangat biasa dan ringan, mirip seperti lecet kecil akibat terlalu lama berjalan. ‘Kalau tubuh Pak Arga segagah dan semantap itu, harusnya efeknya ke badanku berkali-kali lipat lebih dahsyat dari yang dirasakan Mbak Maya,’ batin Alya sambil menggigit bibir bawahnya ragu. Sekelebat ingatan tentang dada bidang tanpa busana milik Arga, napas panasnya yang berembus di leher, serta sentuhan nakal tangan kekar pria itu di pinggangnya malam itu mendadak melintas begitu saja di kepala Alya. Memori abu-abu itu terasa nyata, namun mengapa efek fisiknya tidak se-ekstrem cerita Maya? Kecurigaan bahwa Arga sedang berbohong demi melindunginya atau justru menyembunyikan sesuatu langsung merayap naik di benak Alya. ‘Aku tidak bisa tenang kalau tidak tahu kepastiannya. Aku harus periksa ke dokter kandungan sore ini juga untuk cek keutuhan selaput daraku,’ putus Alya dalam hati dengan penuh tekad. Alya segera kembali ke mejanya, mengambil ponsel, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Sinta untuk disampaikan kepada Direktur R&D bahwa dia harus izin pulang lebih cepat sore ini dengan alasan drop akibat kelelahan menemani neneknya di rumah sakit. Akal-akalan ini terpaksa dia lakukan demi menghindari aturan aneh Arga yang menyuruhnya lembur berdua di ruang CEO setelah jam lima sore. *** “Ibu Alya Paramita, silakan masuk ke ruang periksa,” seru perawat dari balik pintu klinik kandungan swasta di sudut kota. Alya bangkit dari kursi tunggu dengan jantung yang berdegup kencang, menggenggam tas kainnya erat-erat untuk mengusir rasa takut. Begitu masuk, dia langsung disambut oleh seorang dokter wanita paruh baya yang tampak ramah. “Ada keluhan apa, Mbak Alya? Mau konsultasi pra-nikah atau ada keluhan lain?” tanya dokter tersebut seraya mempersilakan Alya duduk. “Saya … saya mau melakukan pemeriksaan fisik, Dok. Saya ingin mengecek keutuhan selaput dara saya setelah mengalami insiden jatuh beberapa hari lalu,” jawab Alya dengan alasan yang sudah dia siapkan sejak di taksi demi menutupi rasa malunya. Dokter itu mengangguk paham. “Baik, silakan berbaring di ranjang periksa ya, Mbak.” Alya melangkah dengan kaki gemetar menuju ranjang khusus periksa. Namun, baru saja dia hendak menaikkan kakinya ke penopang ranjang, tirai pembatas ruangan mendadak disibak dengan sangat keras dari luar. Sret! “Batalkan pemeriksaannya, Dok. Dia akan pulang bersama saya sekarang,” sebuah suara bariton yang berat tiba-tiba menggelegar di dalam ruangan periksa yang sunyi itu. Alya terlonjak kaget dan langsung menoleh. Matanya membelalak lebar melihat Arga Mahendra sudah berdiri di sana dengan jas abu-abu yang kancing tengahnya terbuka, menatapnya dengan pandangan mata elang yang teramat tajam dan dingin. “Pak … Pak Arga?! Kenapa Anda bisa ada di sini?!” pekik Alya panik, buru-buru turun dari ranjang dan merapikan rok kerjanya yang sempat tersingkap sedikit. Arga tidak menjawab pertanyaan Alya, dia hanya menatap dokter di depan mereka dengan sorot mata yang menekan. “Mohon maaf atas gangguan ini, Dok. Istri saya sedang sedikit emosional.” “Saya bukan istrinya!” sangkal Alya dengan wajah yang merona merah padam menahan campur aduk antara malu dan marah. Tanpa memedulikan bantahan Alya, Arga langsung mencengkeram pergelangan tangan Alya dengan erat namun tidak sampai menyakitinya, lalu menarik wanita itu keluar dari ruang periksa menuju area parkir mobil yang sepi di belakang klinik. “Lepaskan saya, Pak Arga! Anda keterlaluan! Kenapa Anda membuntuti saya sampai ke klinik?!” amuk Alya sambil berusaha menghentikan langkah tegap Arga di samping mobil sedan mewah milik sang CEO. Arga akhirnya melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik dan memojokkan tubuh Alya hingga punggung wanita itu membentur pintu mobilnya. Jarak mereka kembali terkikis habis, membuat aroma parfum tembakau mahal milik Arga langsung menguasai indra penciuman Alya. “Kamu berani membohongi direksi dengan alasan sakit hanya untuk datang ke tempat seperti ini, Alya?” cerca Arga dengan nada suara yang merendah, menatap lurus ke dalam manik mata Alya yang bergetar. “Apa yang sebenarnya ingin kamu cari tahu dari dokter tadi, hm?” Alya mendongak dengan berani, mencoba menutupi kegugupannya di balik tatapan menantang Arga. “Saya hanya ingin mencari kebenaran yang tidak bisa Anda berikan, Pak! Saya mau tahu apakah hari itu Anda berbohong atau tidak tentang kita yang tidak melakukan apa-apa!” Arga menarik sudut bibirnya tipis, memajukan wajahnya hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja, memicu sekelebat memori panas malam itu di otak Alya. “Jika dokter tadi bilang kita benar-benar melakukannya, apa yang akan kamu tuntut dariku, Karyawan Kecil? Apa kamu mau meminta uang lebih, atau kamu mau menuntutku untuk menikahimu?” “Saya tidak butuh uang Anda dan saya tidak sudi menikah dengan pria pemeras seperti Anda!” balas Alya dengan napas yang kian memburu akibat kedekatan fisik mereka dan rasa marahnya. “Tapi jika memang benar terjadi sesuatu pada malam itu, saya berhak tahu demi harga diri saya!” Arga terdiam sesaat, tatapan mata elangnya mendadak berubah menjadi sedikit rumit dan tidak sedingin sebelumnya. “Aku siap bertanggung jawab dan menikahimu kapan saja jika itu memang benar terjadi, Alya.” Alya membeku, jantungnya seolah melompat keluar mendengar pernyataan tegas yang keluar dari bibir sang CEO. Alya menyipitkan matanya, menangkap ada sesuatu yang aneh dari gelagat pria di hadapannya ini. “Kenapa Anda mendadak bicara seperti itu, Pak Arga?” tanya Alya dengan dahi berkerut rapat penuh selidik. “Sebelumnya di hotel Anda begitu percaya diri bilang kalau Anda tidak menyentuh wanita yang pingsan. Tapi sekarang Anda kelihatan ketakutan seolah ada hal yang Anda sembunyikan. Bicarakan dengan jujur, ada apa sebenarnya dengan malam itu?!” Arga menghela napas pendek, lalu memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain sebelum kembali menatap Alya dengan sorot mata yang sarat akan teka-teki misterius. “Malam itu … aku juga mabuk, Alya. Ingatanku tentang akhir malam itu tidak sepenuhnya bersih,” aku Arga dengan suara yang kian serak dan berat, membuat seluruh dunia Alya seketika runtuh mendengar pengakuan tak terduga yang merusak semua keyakinannya selama ini.“Saya hanya perlu waktu, Pak Arga!” jawab Alya setengah berteriak tepat di depan permukaan bibir tebal Arga yang mengunci ruang geraknya.Napas Alya memburu cepat, menerpa langsung rahang kokoh sang CEO yang berada terlampau dekat dengan wajahnya. “Kemarin malam saya sebenarnya berniat membalas pesan Anda dan menjelaskan semuanya. Tapi saya ketiduran saking capeknya setelah lembur dan membersihkan laboratorium R&D semalaman!”Alya memajukan sedikit wajahnya, menunjuk penampilannya sendiri dengan gerakan kesal. “Lihat penampilan saya sekarang! Rambut saya berantakan, baju saya kusut, bahkan kantung mata saya tebal sekali karena semalam hanya bisa tidur sebentar dan sangat lelah sekali! Saya bukan robot yang bisa Anda todong pekerjaan harian dan urusan pribadi sekaligus!”Arga t
Alya melangkah kaku melewati pintu jati besar ruang kerja CEO, memeluk erat map draf laporan laboratorium Nusantara Premium di depan dadanya. Begitu kakinya menapak di atas lantai karpet tebal, terdengar bunyi klik pelan dari luar. Sekretaris Doni benar-benar mengunci pintu itu sesuai perintah. Suasana ruangan luas ber-AC dingin ini mendadak terasa teramat sunyi sepi, menyergap seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Alya hingga kepalanya mendadak pening karena gugup.‘Sial, dia benar-benar mengunci pintunya dari luar. Ruangan ini kedap suara, apa pun yang terjadi di sini tidak akan ada orang luar yang tahu,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika didera rasa cemas yang teramat menghimpit ulu hati.Alya mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru ruangan, namun dia tidak melihat siluet tubuh tegap Arga di balik meja kerja marmer hitam. Tepa
Alya terbangun dengan rambut yang berantakan di atas bantal putih hote. Begitu kesadarannya terkumpul, hal pertama yang dia rasakan adalah getaran berulang kali dari gawai di samping kepalanya karena alarm. Dengan mata yang masih sepet, Alya menyalakan layar ponselnya yang semalam sempat mati total.Ada tiga buah pesan beruntun dari Arga Mahendra yang dikirim sejak pukul tiga subuh tadi.Pesan pertama:‘Alya, aku masih menunggu jawabanmu.’Pesan kedua:‘Kalau kamu memang membutuhkan waktu sendiri, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu untuk pulang ke apartemen.’Pesan ketiga:‘Tapi j
Alya langsung tertidur lelap saking capeknya begitu punggungnya menyentuh kasur empuk hotel. Matanya terpejam rapat, tidak menyadari bahwa beberapa menit kemudian, lampu indikator ponselnya yang sedang diisi daya berubah menjadi hijau redup, menandakan gawai itu sudah menyala kembali secara otomatis. Deretan pesan baru yang menggantung di ruang obrolannya bersama Arga terbiarkan begitu saja tanpa ada jawaban lanjutan.‘Aku cuma mau tenang semalam saja, jangan ada gangguan dulu,’ cicit Alya di dalam alam bawah sadarnya yang teramat lelah menghadapi kegilaan bosnya sepanjang hari.Sementara itu, di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer, suasana di dalam apartemen mewah milik Arga terasa sangat sunyi dan menekan. Arga Mahendra masih duduk tegak di tepi sofa ruang tengah dengan kemeja hitam yang belum diganti.
“Aduh, Al, keputusanmu tadi beneran bikin senam jantung tau,” keluh Maya sambil menghempaskan tumpukan draf tabel riset ke atas meja laboratorium R&D dengan bunyi ketukan yang tegas.Alya menoleh kaku, mendapati tatapan tidak enak dan wajah cemberut dari ketiga rekan satu tim tugasnya yang baru saja duduk di kubikel. Suasana laboratorium yang sejuk setelah jam lima sore ini mendadak terasa sedikit menekan. Alya meremas ujung jas laboratoriumnya, merasa sangat bersalah karena keputusan akal-akalan daruratnya di ruang rapat direksi tadi siang telah menyeret teman-temannya untuk ikut terjebak dalam kerja lembur malam ini.“Maafkan aku ya, teman-teman. Aku terpaksa mengambil keputusan ini,” kata Alya dengan nada suara yang penuh rasa tidak enak. Dia mencoba memasang senyuman terbaik demi menyemangati mereka. “Tapi tenang saja, Pak Arga sudah berjanji bahwa akan ada tunjangan lembur khusus yang sangat besar untuk tim tugas kita tanpa ada potongan satu rupiah pun dari kantor pusat.”Menden
Alya segera melangkah keluar dari ruangan kerja CEO dan menutup pintu jati besar itu dengan sangat keras. Di koridor luar yang sepi, dia bersandar pada dinding marmer seraya menghela napas panjang berulang kali untuk menenangkan debaran jantungnya yang berantakan. Rasa panik dan salah tingkah akibat konfrontasi tegasnya dengan Arga barusan masih menyisakan hawa panas di pipinya.‘Hampir saja aku kelewatan lagi menghadapi pria itu,’ batin Alya seraya merapikan kemeja kerjanya yang agak kusut.Namun, saat Alya sedang sibuk menepuk dadanya sendiri, dia tersentak kaku ketika menyadari sekretaris pribadi Arga sedang memperhatikannya dengan dahi berkerut bingung dari balik meja komputer lobi atas. Alya langsung salah tingkah, buru-buru membetulkan letak rambutnya yang berantakan dan menyapa pria itu dengan c







