تسجيل الدخولTOK! TOK! TOK!
Citra mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara ketukan di pintu kamar. Ia meregangkan kedua lengannya, lalu memijat tengkuknya yang terasa sedikit pegal. "Berapa lama aku tidur?" gumamnya lirih dengan mata yang masih setengah terpejam. "Lebih dari empat jam." Suara bariton yang dingin menjawab dari arah lain ruangan."Lama sekali!" Devan menggerutu kesal karena menunggu Citra. Dia mulai menyesali keputusannya menunggu sang istri untuk makan malam bersama. Ketukan jemari Devan pada permukaan meja kaca terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Di hadapannya, makan malam mewah yang disiapkan pelayan pribadi sudah mendingin. Di kepalanya, emosi sudah mencapai ubun-ubun. "Sialan. Kenapa aku harus sebodoh ini sampai mau menunggunya?" umpat Devan pelan, melirik jam tangan Rolex-nya yang sudah melewati angka sembilan malam. Devan adalah pria yang tidak suka membuang waktu. Baginya, menunggu adalah penghinaan. Dengan sentakan kasar, ia mendorong kursi makannya ke belakang hingga berdecit nyaring. Ia berdiri, merapikan kaos rumahan abu-abunya yang sedikit kusut dengan rahang mengeras. Cukup. "Akan ku seret dia sekarang juga! Beraninya membuatku menunggu!" Ia tidak akan duduk di sini seperti orang bodoh lagi. Devan memutuskan untuk berjalan ke lantai atas, mendobrak pintu kamar Citra,
TOK! TOK! TOK! Citra mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara ketukan di pintu kamar. Ia meregangkan kedua lengannya, lalu memijat tengkuknya yang terasa sedikit pegal. "Berapa lama aku tidur?" gumamnya lirih dengan mata yang masih setengah terpejam. "Lebih dari empat jam." Suara bariton yang dingin menjawab dari arah lain ruangan. "Oh..." Citra ber-oh ria sambil masih mengucek matanya. Namun beberapa detik kemudian, otaknya baru benar-benar mencerna suara itu. Tunggu... Suara itu... Bukan suaranya sendiri. Ada seseorang lagi di ruangan ini. Mata Citra langsung terbuka lebar. Dia menoleh cepat ke arah sumber suara. Di dekat jendela, Devan sedang berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan ke s
"Bagaimana? Ada perkembangan?" tanya Devan sambil memijit pelipisnya pelan. Kini Devan berada di ruang kerja pribadinya di vila bersama Johan yang sudah menunggunya sedari tadi untuk memberikan semua info yang dia dapat. Johan mengangguk. "Saya sudah menelusuri berita yang beredar." "Hasilnya?" "Unggahan pertama berasal dari akun anonim. Identitasnya belum terlacak." Johan meletakkan tablet di atas meja. "Tapi saya sudah menghubungi beberapa media yang mengutip berita tersebut. Sebagian besar sudah menghapus artikel dan menurunkan pemberitaannya karena tidak memiliki bukti pendukung selain satu foto." Devan mengembuskan napas pelan. "Bagus." Ia kembali memijat pelipisnya. Johan melanjutkan laporannya.
Mobil hitam itu akhirnya memasuki gerbang besi tinggi kawasan Vila Arunika, kediaman pribadi Devan di kawasan elite Sentosa Hills. Setelah melewati jalan berpohon yang rapi, mobil berhenti tepat di depan bangunan bergaya modern dengan dominasi kaca dan batu alam. Belum sempat Johan mematikan mesin sepenuhnya, ia sudah turun lebih dulu. Dengan sigap, ia membukakan pintu belakang. "Silakan, Pak." Kemudian ia beralih membuka pintu di sisi Citra. "Bu." Citra turun perlahan. Tatapannya langsung terpaku pada vila megah di hadapannya. Bangunan tiga lantai itu berdiri anggun dengan taman yang tertata rapi, kolam refleksi di bagian depan, dan balkon luas yang menghadap perbukitan. Dalam hati, Citra sempat terpukau. "Jadi... ini vila milik Devan?" Namun kekagumannya hanya berlangsung sesaat. Pergelangan tangannya kembali digenggam. "Ayo." Suara Devan terdengar datar. "Dev—" Belum selesai berbicara, langkah Devan sudah lebih dulu membawa Citra memasuki vila. Be
Di meja makan, suasana yang semula kembali hangat mendadak berubah ketika langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. "Permisi, Pak." Johan berhenti di samping Devan. Napasnya sedikit memburu, tanda ia datang terburu-buru. Ia lebih dulu membungkukkan badan kepada seluruh investor. "Maaf mengganggu jam makan siang Bapak dan Ibu." Para investor mengangguk maklum. Johan kemudian menunduk kepada Devan. "Pak... ada sesuatu yang harus Anda lihat. Ini mendesak." Devan mengangkat pandangan. "Apa?" Tanpa banyak bicara, Johan menyerahkan tablet perusahaan yang dibawanya. Begitu layar menyala, sepasang mata Devan langsung tertuju pada sebuah foto. Foto itu memperlihatkan dirinya? Bukan... Melainkan Citra. Citra sedang berada di lantai koridor kantor, dengan Alex berada tepat di atas tubuhnya. Sudut pengambilan gambar yang sengaja dibuat dari kejauhan membuat keduanya tampak seolah sedang berpelukan mesra. Di bawah foto itu terpampang judul berita yang provokatif.
Makan siang bisnis berlangsung dalam suasana profesional. Setelah pembahasan mengenai rencana investasi dan kerja sama selesai, para investor mulai menikmati hidangan penutup sambil mengobrol santai. Di sisi lain meja, Citra sesekali mencatat poin-poin penting di tabletnya, lalu menyesap teh hangat yang baru saja dihidangkan. Seorang investor pria paruh baya tersenyum sambil memandang Citra. "Pak Devan, seingat saya, biasanya Anda hanya datang ditemani Pak Johan. Baru kali ini saya melihat ada orang lain yang mendampingi." Devan meletakkan sendoknya dengan tenang. "Benar." "Lalu... boleh kami tahu siapa beliau?" Semua mata langsung tertuju kepada Citra. Citra yang sedang memegang cangkir teh ikut mendongak. Dengan ekspresi datar seperti biasa, Devan memperkenalkan, "Perkenalkan, ini Citra." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Sekretaris pribadi saya..." Tatapan para investor masih biasa saja. Namun kalimat berikutnya membuat seluruh meja terdiam. "...dan







