Share

32. Nomor Batch

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-14 17:27:15

Siang hari, Joni sedang duduk di ruangannya sambil melihat peta dan beberapa catatan inventaris ketika terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok tok.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan dan Sindy masuk dengan wajah gugup.

Joni langsung mengangkat alis.

“Kenapa?”

Sindy buru-buru menutup pintu rapat di belakangnya sebelum menoleh kembali ke arah Joni.

“Aku…”

Dia terlihat ragu.

“Aku mau nanya sesuatu.”

Joni menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Nanya apa? Ngomong aja.”

Sindy diam beberapa detik seolah sedang mengumpulkan keberanian lalu akhirnya dia berkata pelan.

“Aku kayaknya tau trait kamu.”

Ruangan langsung terasa lebih dingin. Tatapan Joni berubah serius seketika.

Sindy langsung melanjutkan cepat.

“Orang-orang di base memang udah banyak rumor soal trait kamu.”

“Ada yang bilang keberuntungan. Ada yang bilang spasial. Ada juga yang bilang macam-macam.”

Joni hanya diam mendengarkan tanpa ekspresi.

Sindy menarik napas pelan lalu melanjutkan.

“Kemarin aku lihat gudang sampahmu berubah.”

“Terus…”

Dia menelan ludah.

“Aku ga sengaja lihat nomor batch insulin pen.”

Joni mulai mengernyit perlahan.

Sindy terus bicara.

“Aku cek semuanya. Obat-obatan. Makanan. Bahkan barang di dapur.”

Tatapannya mulai serius.

“Semua nomor batch sama. Kode produksinya sama. Tanggal expired-nya juga sama.”

Dia menatap langsung ke mata Joni.

“Tapi semuanya masih bisa dipakai.”

Ruangan kembali sunyi beberapa detik lalu akhirnya Joni membuka suara.

“Jadi?”

Nada suaranya datar.

“Apa maksud lu?”

Sindy menggenggam tangannya sendiri gugup.

“Aku pikir…”

Dia ragu sesaat.

“…kamu bisa ngerubah sampah jadi barang utuh lagi.”

“Ga tau gimana caranya. Tapi itu satu-satunya hal yang masuk akal.”

Joni perlahan berdiri dari kursinya.

Langkahnya tenang saat berjalan mendekati Sindy sampai akhirnya dia berhenti tepat di depannya dan menatapnya lurus.

“Terus?”

Nada suaranya rendah.

“Mau lu apa?”

Sindy langsung panik melihat tatapan Joni berubah seperti itu.

“Bukan!”

Dia cepat-cepat menggeleng.

“Aku ga mau macam-macam. Aku cuma mau bantu.”

Joni tetap diam menatapnya. Sindy menarik napas lalu buru-buru menjelaskan.

“Cara kamu ini…”

Dia menunjuk sekitar pelan.

“Suatu saat pasti ketahuan dan karena aku kebetulan yang ngurus sampah di gudang itu…”

Tatapannya kembali ke Joni.

“Aku pikir aku bisa bantu nyembunyiin trait kamu.”

Joni tidak langsung menjawab.

Di dalam kepalanya, pikirannya justru berjalan jauh lebih cepat.

Dia benar-benar tidak sadar rahasianya bisa terbongkar semudah itu.

Hanya dari observasi sederhana.

Nomor batch. Tanggal produksi. Sampah yang hilang. Dan sekarang ada satu orang di depannya yang mengetahui semuanya.

Pikiran paling sederhana langsung muncul di kepala Joni.

Bunuh saja. Rahasia aman.

Namun detik berikutnya dia langsung menepis pikiran itu.

Sindy anak Pak Bram dan sekarang termasuk bagian penting kelompok mereka.

Tidak mungkin dibunuh begitu saja.

Sementara itu Sindy kembali bicara pelan.

“Gimana…?”

Joni akhirnya menarik kursi lalu duduk kembali.

“Jelasin cara lu.”

Sindy terlihat sedikit lega lalu mulai berpikir cepat.

“Kalau nomor serinya dihilangin gimana? Jadi orang ga bisa nyocokin.”

Namun Joni langsung menggeleng.

“Ga bisa.”

Sindy bingung.

“Kenapa?”

Joni menghela napas panjang sebelum akhirnya bicara pelan.

“Trait gue…”

Tatapannya tajam ke Sindy.

“…ga ada yang tau sampai sekarang selain lu.”

Sindy langsung diam serius mendengarkan.

“Lu tau kan apa yang bakal kejadian kalau ini kebongkar?”

Sindy mengangguk pelan.

“Kamu bakal jadi rebutan. Semua kelompok bakal nyari kamu.”

Dia menelan ludah.

“Karena cuma kamu yang bisa bikin logistik di dunia kayak gini.”

Joni mengangguk kecil.

“Nah.”

Dia akhirnya memutuskan bicara lebih jauh.

“Trait gue namanya Rollback. Bisa ngebalikin sampah ke kondisi semula kayak baru keluar pabrik.”

Sindy mendengarkan dengan mata membesar.

“Dan…”

Joni menyandarkan tubuhnya.

“Kalau nomor dihapus, kemungkinan muncul lagi waktu barangnya balik sempurna.”

Sindy langsung mulai berpikir keras.

Ruangan kembali sunyi sementara dia mencoba mencari cara agar rahasia sebesar itu tidak terbongkar lagi.

Sindy terdiam cukup lama sebelum akhirnya matanya sedikit berbinar seperti menemukan ide.

“Kalau…”

Dia menatap Joni hati-hati.

“Kalau aku dikasih tugas baru buat nyortir barang-barang itu gimana?”

Joni mengangkat alis dan Sindy melanjutkan lebih cepat.

“Aku bisa hapus nomor batch, nomor produksi, atau tanda-tanda lain sebelum barangnya dikasih ke Kak Mila buat inventaris.”

Ruangan kembali sunyi beberapa detik. Joni berpikir.

Ide itu memang masuk akal.

Karena selama ini masalah terbesar traitnya memang soal detail kecil seperti itu.

Namun beberapa detik kemudian Joni menatap Sindy dari atas ke bawah.

“Lu yakin kuat ngurus beginian?”

Tatapannya berhenti sebentar di tubuh Sindy yang masih terlihat cukup kurus.

“Lu kan sakit.”

Sindy langsung menggeleng pelan.

“Aku udah jauh lebih sehat sekarang.”

Dia tersenyum kecil.

“Selama ada insulin…”

Tatapannya turun sesaat.

“…dan aku bisa bantu kelompok ini…”

Lalu dia kembali menatap Joni.

“…aku udah bersyukur.”

Setelah itu Sindy tiba-tiba terlihat salah tingkah sendiri. Wajahnya perlahan memerah.

“Apalagi…”

Suaranya mengecil.

“…cuma aku yang tau rahasia kamu.”

Joni langsung mengernyit.

“Jangan mikir aneh-aneh lu.”

Dia buru-buru membalikkan badan lalu berjalan kembali ke kursinya sambil menggerutu pelan.

Sindy justru tersenyum kecil melihat reaksi itu.

“Kalau gitu aku keluar dulu.”

Joni hanya melambaikan tangan tanpa menoleh lagi.

Sindy pun keluar ruangan dan kembali bekerja seperti biasa.

Namun kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Ada perasaan hangat yang muncul di dadanya.

Karena sekarang dia benar-benar merasa berguna bagi kelompok ini.

Dan tanpa sadar, dia juga merasa dirinya sedikit lebih dekat dengan Joni dibanding sebelumnya.

Setelah Sindy keluar dari ruangannya, Joni kembali bersandar di kursi sambil mengetuk meja pelan dengan jarinya.

Pikirannya terus berjalan memikirkan satu hal.

Rahasia traitnya sekarang terlalu berbahaya kalau bocor dan walaupun Sindy sudah menawarkan solusi, Joni tetap merasa itu belum cukup aman.

“Kalau suatu hari ada yang sadar lagi…”

Dia menyipitkan mata.

“Berarti sistemnya yang harus diubah.”

Joni mulai berpikir lebih jauh.

Beberapa menit kemudian, matanya perlahan membesar seperti menemukan sesuatu.

“Kemasan…”

Dia duduk tegak.

“Bikin kemasan sendiri aja.”

Semakin dipikirkan, semakin masuk akal.

Kalau semua barang hasil rollback dipindahkan ke kemasan baru, maka nomor batch, tanggal produksi, dan semua detail mencurigakan bisa hilang sepenuhnya.

Selain lebih aman, itu juga membuat barang mereka terlihat seperti hasil produksi kelompok sendiri.

“Repacking…”

Senyum perlahan muncul di wajah Joni.

“Nah ini lebih bagus.”

Dia langsung berdiri lalu keluar mencari Deri.

Tidak lama kemudian dia menemukan Deri di workshop yang masih sibuk membongkar mesin kendaraan sambil melihat blueprint transparan di udara.

“Der.”

Deri langsung menoleh.

“Hm?”

Joni berjalan mendekat.

“Gue butuh mesin repacking.”

Deri mengernyit bingung.

“Repacking?”

Joni mengangguk santai sambil menyembunyikan alasan sebenarnya.

“Buat dagang.”

Dia menyilangkan tangan.

“Kalau kita mau perluas pengaruh kelompok, kita ga bisa terus jual barang bentuk asal.”

“Harus ada identitas kelompok sendiri.”

Deri terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk pelan.

“Oke masuk akal sih.”

Dia mulai menjelaskan sambil membuat beberapa blueprint kecil muncul di udara.

“Tapi kalau mau bikin sistem repacking sederhana…”

Dia menunjuk satu bagian.

“Kita butuh biji plastik buat kemasan.”

Lalu bagian lain.

“Alat pencucian. Pengeringan. Terus alat pencetakan sama press.”

Joni mendengarkan serius sambil mengangguk pelan.

“Bisa dicari?”

Deri mengangkat bahu.

“Harusnya bisa. Pabrik plastik sama packaging masih banyak di daerah industri.”

Joni langsung tersenyum puas.

“Oke.”

Dia menepuk bahu Deri.

“Besok kita cari itu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status