Partager

37. Bimo

Auteur: SleepyFace
last update Date de publication: 2026-05-15 11:17:33

Joni berjalan perlahan menghampiri Bimo yang masih terduduk bersandar di dekat mesin besar dengan wajah penuh darah dan debu.

Bimo mencoba menatap galak seperti dulu meski tubuhnya gemetar menahan sakit.

“Lu pikir…”

Dia terengah.

“…lu menang?”

Tatapannya penuh kebencian.

“Kalau Broto tau—”

DOR!

Tembakan langsung meledak.

“AAAAARGH!”

Bimo menjerit keras saat peluru menghancurkan salah satu kakinya.

Tubuhnya langsung roboh miring sambil memegang pahanya yang berdarah deras.

Joni berdiri tenang sambil mengarahkan pistolnya ke bawah.

Tatapannya dingin.

“Ini…”

Dia melangkah mendekat lagi.

“…buat lu yang masukin gue ke kelompok pemulung.”

Bimo menggertakkan gigi sambil menahan sakit luar biasa Nlnamun beberapa detik kemudian dia kembali mencoba mengancam dengan suara lebih keras.

“BROTO BAKAL—”

DOR!

“AAAAAAAHHH!”

Peluru kedua menghancurkan kaki satunya lagi.

Kini Bimo benar-benar jatuh tak berdaya di lantai sambil menjerit histeris. Darah mulai menyebar di bawah tubuhnya.

Joni masih menatapnya tanpa rasa kasihan sedikit pun.

“Dan ini…”

Nada suaranya semakin rendah.

“…buat semua hari dimana lu bikin hidup gue sengsara.”

Dia jongkok di depan Bimo.

“Lu bikin semua orang ngebully gue. Lu bikin gue diperlakuin kayak sampah.”

Bimo mulai panik karena sekarang dia sadar sesuatu. Joni di depannya bukan lagi Joni yang dulu.

Bukan orang yang terus diam dan menunduk saat dihina. Bukan pemulung lemah yang bisa diinjak seenaknya.

Tatapan Joni sekarang justru membuatnya takut dan untuk pertama kalinya Bimo mulai memohon.

“T-tunggu…”

Napasnya kacau.

“Gue salah… Jon… Jangan bunuh gue…”

Namun Joni hanya tersenyum tipis melihat wajah penuh ketakutan itu.

Di tengah suara langkah dan teriakan anggota yang mulai mengamankan gedung, Pak Bram akhirnya datang menghampiri Joni.

“Bang.”

Dia melihat sekitar ruangan yang penuh mayat dan darah lalu berkata tenang.

“Semuanya udah diberesin.”

Namun beberapa detik kemudian tatapannya jatuh ke arah Bimo yang terkapar sambil memohon di lantai.

Pak Bram melirik Joni sebentar dan tanpa perlu dijelaskan dia langsung paham. Orang ini punya urusan pribadi dengan Joni.

Joni sendiri perlahan berdiri lalu berkata dingin.

“Semua rapihin tempat ini.”

Dia menoleh ke anggota lain.

“Generator sama panel surya yang masih bisa dipake angkut ke mobil.”

“Suruh tim bantuan ikut bantu.”

Lalu dia menunjuk ke arah luar gedung.

“Beberapa orang standby di depan. Kalau ada yang mendekat usir atau tembak.”

“SIAP!”

Anggota kelompoknya langsung bergerak menjalankan perintah.

Setelah itu Joni kembali menoleh ke Pak Bram.

“Pak.”

Tatapannya turun ke arah Bimo.

“Ikut gue. Kita seret nih orang.”

Pak Bram mengangguk santai lalu segera memberi beberapa instruksi tambahan sebelum kembali mendekati Joni.

Sementara itu Bimo mulai panik setengah mati.

“Jon… Jon tolong…”

Dia mencoba merangkak meski kedua kakinya hancur.

“Jangan bunuh gue…”

Namun Joni justru tersenyum tipis.

“Tenang.”

Nada suaranya malah terdengar lebih menyeramkan.

“Gue ga mau lu mati cepet.”

Dia menatap Bimo lurus.

“Karena masih ada urusan yang belum selesai.”

Wajah Bimo langsung memucat. Joni lalu menunjuk salah satu ruangan kosong di samping.

“Seret dia ke sana.”

Beberapa anggota langsung menarik tubuh Bimo yang terus merintih ketakutan.

Sementara itu Joni sendiri berjalan menuju tumpukan barang rusak di sudut gedung lalu mengangkat sebuah generator besar yang sudah hancur dan berkarat.

Dia membawanya masuk ke ruangan yang sama tanpa menjelaskan apa pun lagi.

Joni masuk ke ruangan kosong itu sambil membawa generator rusak tadi, lalu menoleh ke anggota lain yang ikut masuk.

“Keluar semua.”

Nada suaranya datar.

“Yang tinggal cuma Pak Bram.”

Anggota lain saling melirik sebentar sebelum akhirnya keluar tanpa banyak tanya.

Pintu ditutup. Kini hanya ada tiga orang di dalam ruangan itu hanya ada Joni, Pak Bram, dan Bimo yang terkapar di lantai sambil gemetar ketakutan.

Joni meletakkan generator rusak itu di tengah ruangan lalu menoleh ke Pak Bram.

“Pak.”

Dia menunjuk generator.

“Ambil kabel. Sambungin.”

Pak Bram mengernyit bingung. Generator itu jelas rusak parah, bahkan sebagian bodinya sudah penyok dan berkarat namun dia tetap mengangguk dan mulai mencari kabel di sekitar ruangan.

Sementara itu Bimo mulai menangis panik.

“Jon… Jon tolong… Gue salah…”

Namun Joni sama sekali tidak melihat ke arahnya. Tatapannya tetap dingin.

“Lu bilang trait gue ga ada gunanya kan?”

Dia berjalan pelan mendekati Bimo.

“Lu bilang gue sampah. Lu bikin semua orang percaya itu.”

Bimo mulai menggeleng sambil menangis.

“Engga… Engga Jon…”

Pak Bram akhirnya selesai menyambung kabel lalu berkata pelan.

“Udah bang.”

Dan langsung dibalas Joni.

“Iket ke kaki dia.”

Pak Bram kembali bingung beberapa detik namun rasa penasarannya jauh lebih besar sekarang karena selama ini dia sendiri tidak pernah benar-benar tahu trait Joni.

Maka tanpa membantah lagi, dia langsung mengikat ujung kabel itu ke kaki Bimo. Bimo mulai meronta panik.

“JANGAN! JANGAN ANJING!”

Namun Pak Bram tetap menyelesaikan ikatan itu lalu mundur perlahan.

Joni akhirnya berjalan mendekati generator rusak tadi lalu menoleh ke Bimo.

“Sekarang…”

Tatapannya tajam.

“…lu liat baik-baik trait gue.”

Tangannya menyentuh generator itu dan cahaya langsung muncul. Perlahan bodi generator yang penyok mulai kembali lurus.

Karat menghilang. Mesin rusak kembali utuh bahkan suara bahan bakar terdengar memenuhi tangkinya kembali.

Dalam hitungan detik generator itu berubah menjadi seperti baru keluar dari pabrik.

Mata Bimo langsung membelalak. Pak Bram pun tanpa sadar ikut mundur setengah langkah dengan wajah penuh syok.

“Anjir…”

Dia benar-benar tidak menyangka trait Joni seperti ini. Joni menatap Bimo sambil tersenyum tipis.

“Sekarang lu ngerti trait gue kan?”

Bimo menatap generator itu dengan napas gemetar dan untuk pertama kalinya dia sadar.

Trait Joni bukan sampah. Justru mungkin salah satu trait paling mengerikan di dunia ini.

Karena dengan kemampuan itu masalah logistik tidak akan pernah ada. Makanan. Obat. Mesin. Energi. Semua bisa kembali.

Joni perlahan mendekat ke generator.

“Gue…”

Dia menatap Bimo dingin.

“…raja logistik di dunia ini.”

Lalu tangannya menarik starter generator.

BRRRRRRMMMMMM—

Suara mesin langsung meraung hidup. Bimo tersadar dan langsung menjerit memohon lagi.

“JON TOLONG—”

Namun suaranya tenggelam oleh suara generator. Detik berikutnya listrik mulai mengalir melalui kabel.

Suara generator terus meraung keras memenuhi ruangan.

Tubuh Bimo kejang-kejang di lantai sambil mengeluarkan suara tidak jelas ketika aliran listrik terus mengalir melalui kabel yang terikat di kakinya.

Bau hangus mulai memenuhi udara sementara itu Joni hanya berdiri diam memperhatikan tanpa ekspresi lalu perlahan dia menoleh ke arah Pak Bram.

Tatapannya masih sama dinginnya seperti saat melihat Bimo tadi.

“Pak.”

Pak Bram langsung menoleh serius.

“Jangan bilang siapa-siapa soal trait gue.”

Nada suara Joni rendah dan berat.

“Ngerti?”

Pak Bram langsung mengangguk tanpa ragu. Dia paham. Sangat paham.

Trait seperti itu terlalu berbahaya jika tersebar keluar. Kalau kelompok lain tahu mereka semua akan menjadi target.

Joni kembali menatap Bimo sebentar sebelum bicara lagi.

“Yang tau cuma Sindy sama bapak di kelompok kita.”

Pak Bram langsung menoleh cepat.

“Anak saya tau?”

Joni mengangguk kecil.

“Iya.”

Lalu dia menghela napas sambil melihat Bimo yang masih kejang-kejang di lantai.

“Karena dia terlalu pinter.”

Joni menggeleng kecil.

“Makanya gue ketauan.”

Pak Bram justru tersenyum kecil mendengar itu. Ada rasa bangga muncul di wajahnya.

Karena itu berarti anaknya sekarang menjadi salah satu orang paling penting dalam kelompok ini namun beberapa detik kemudian senyum itu perlahan memudar. Pikiran lain masuk ke kepalanya.

Percuma juga. Mau sepenting apa pun Sindy kalau Joni memang tidak tertarik pada wanita. Karena menurutnya Joni jelas gay.

Ekspresi Pak Bram berubah sedikit rumit memikirkan hal itu.

Dan Joni yang melihat perubahan wajahnya langsung mengernyit bingung.

“Pak… Kenapa muka bapak jadi aneh gitu?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status