Share

38. Combat Drugs

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-16 11:38:25

Setelah memastikan Bimo benar-benar tidak bergerak lagi, Joni mematikan generator itu lalu berjalan keluar ruangan bersama Pak Bram.

Begitu pintu terbuka, suasana luar masih sibuk.

Anggota kelompok mereka terus mondar-mandir mengangkut generator, panel surya, kabel besar, baterai, dan berbagai komponen lain yang masih bisa diselamatkan dari area pabrik.

Beberapa truk bahkan sudah mulai penuh.

Joni memperhatikan semua itu sambil menghela napas kecil namun Pak Bram berjalan mendekat lalu berkata.

“Sayang juga.”

Joni menoleh.

“Kenapa?”

Pak Bram menunjuk beberapa generator yang rusak parah di area gedung.

“Barang yang bisa diangkut kayaknya ga sebanyak harapan kita.”

Dia menghela napas.

“Kena serpihan granat tadi.”

Beberapa mesin memang terlihat hancur akibat ledakan rakitan buatan Deri.

Joni hanya menggaruk kepalanya pelan.

“Ya mau gimana lagi… Yang penting tempat ini jadi milik kita sekarang.”

Pak Bram mengangguk setuju namun belum sempat percakapan mereka lanjut, seseorang anggota tiba-tiba berlari tergesa menghampiri Joni.

“Bang!”

Napasnya terengah.

“Bang Joni!”

Joni langsung menoleh waspada.

“Ada apa?”

Anggota itu menunjuk ke arah bagian belakang pabrik.

“Kita nemu sesuatu.”

Ekspresinya terlihat campur antara bingung dan kaget.

“Abang harus liat sendiri.”

Joni mengikuti anggota itu menuju bagian belakang pabrik yang lebih gelap dan tertutup.

Begitu pintu besi besar dibuka langkah Joni langsung terhenti. Matanya membesar.

Di dalam ruangan itu puluhan orang dirantai. Tangan dan kaki mereka terikat ke pipa dan besi di sepanjang ruangan.

Kebanyakan perempuan beberapa anak-anak dan beberapa laki-laki dengan tubuh kurus penuh luka.

Suasana langsung sunyi bahkan anggota kelompok Joni di belakangnya ikut terdiam melihat pemandangan itu.

Joni perlahan masuk sambil menatap sekitar dengan ekspresi sulit dipercaya.

“Apa-apaan ini…”

Salah satu perempuan yang dirantai langsung mundur ketakutan sambil memeluk anak kecil di dekatnya.

Mereka jelas mengira Joni dan kelompoknya sama seperti orang-orang Broto.

Joni akhirnya mendekati salah satu pria yang dirantai lalu bertanya.

“Ini buat apa?”

Pria itu hanya gemetar tanpa berani menjawab. Joni mengulang pertanyaannya dengan nada lebih tegas.

Namun kali ini dia melihat beberapa botol serum di dekat meja dan mengambil salah satunya.

Cairan di dalamnya berwarna merah keruh.

“Apa ini?”

Pria itu akhirnya menjawab dengan suara ketakutan.

“…combat drugs.”

Joni mengernyit.

“Combat drugs?”

Dia memasukkan botol itu ke kantongnya lalu melihat ada pintu lain di sisi ruangan.

“Di sana apa?”

Orang-orang yang dirantai langsung terlihat makin takut. Salah satu wanita bahkan mulai menangis pelan sebelum akhirnya menjawab gemetar.

“…gudang… dan line produksi narkotika.”

Tatapan Joni langsung berubah dingin.

“Dobrak.”

Beberapa anggota langsung bergerak lalu menghancurkan pintu besi itu.

BRAK!

Begitu pintu terbuka semua orang langsung melihat sebuah line produksi sederhana.

Meja pencampuran, alat press dan di ujung ruangan tumpukan bubuk putih dalam jumlah besar.

Ruangan itu bahkan masih berbau bahan kimia menyengat.

Joni menatap semua itu beberapa detik lalu berkata tanpa menoleh.

“Lepasin mereka semua.”

“SIAP.”

Anggota kelompoknya langsung mulai membuka rantai satu per satu.

Sementara itu Joni berjalan masuk lebih dalam ke area produksi.

Dia mengambil sedikit bubuk putih itu lalu mencicipinya sebentar untuk memastikan.

Beberapa detik kemudian dia langsung meludah ke lantai dengan wajah kesal.

“Tai…”

Joni sekarang benar-benar paham.

Kelompok Broto bukan cuma menguasai logistik dan energi. Mereka mulai memproduksi narkotika.

Dan tujuan benda beginian di dunia sekarang jelas tidak mungkin baik namun yang lebih membuat Joni kesal adalah fakta lain yang baru tersambung di kepalanya.

“Berarti…”

Tatapannya menyipit.

“…bener ada awakener yang bisa bikin obat di kelompok mereka.”

Joni akhirnya keluar dari ruangan produksi itu sambil membersihkan tangannya dengan wajah masih kesal.

Di luar, para tahanan yang sudah dilepaskan mulai berkumpul dengan bingung dan takut.

Beberapa masih memegang bekas rantai di tangan mereka.

Beberapa anak menangis pelan.

Mereka semua menatap Joni dan kelompoknya seperti menunggu sesuatu.

Joni berhenti sebentar lalu berkata datar.

“Kalian boleh pergi.”

Orang-orang itu langsung saling menatap bingung.

“Pergi…? Ke mana?”

Salah satu pria akhirnya bertanya pelan dengan wajah kosong. Karena di dunia sekarang bebas belum tentu berarti selamat.

Joni mengangkat bahu santai.

“Terserah kalian. Mau bikin kelompok sendiri kek. Mau nyari tempat lain kek. Urusan kalian.”

Tatapannya menyapu mereka semua.

“Gue ga bakal maksa.”

Suasana langsung sunyi beberapa detik lalu salah satu pria yang tadi dirantai tiba-tiba berkata dengan nada menuntut.

“Tapi… Kalian harus nerima kami.”

Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Pria itu melanjutkan.

“Itu tanggung jawab kalian.”

Ekspresi Joni langsung berubah datar. Dia menatap pria itu beberapa detik sebelum berkata tenang.

“Kalau lu ga mau pergi…”

Joni menunjuk rantai yang masih tergeletak di lantai.

“…bisa gue iket lagi di sini. Pilih.”

Pria itu langsung diam. Wajahnya pucat. Tidak berani bicara lagi. Dan perlahan satu per satu orang mulai berjalan keluar dari gedung meninggalkan area pabrik.

Sebagian membawa anak mereka. Sebagian hanya berjalan kosong tanpa tujuan jelas.

Joni memperhatikan mereka pergi tanpa banyak bicara lalu akhirnya dia menoleh ke anggota kelompoknya.

“Angkut semua obat-obatan ini ke mobil. Yang bisa dipake bawa semua.”

Anggota kelompoknya langsung mengangguk dan mulai bergerak masuk ke area produksi.

Sementara itu Joni sendiri segera berjalan keluar gedung kembali dengan pikiran yang mulai penuh lagi oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar loot.

Setelah semua generator, panel surya, dan obat-obatan berhasil dinaikkan ke kendaraan, suasana area pabrik mulai kembali tenang.

Beberapa anggota masih berjaga sambil mengawasi sekitar ketika tiba-tiba suara motor terdengar dari kejauhan.

Brrrrmmmm—

Joni langsung mengernyit dan tangannya refleks mengangkat senjata.

“Standby.”

Semua anggota langsung tegang dan mengangkat senjata mereka mengarah ke jalan masuk pabrik.

Motor itu semakin mendekat dengan cepat, lalu tiba-tiba—

WOOOOSSH!

Sebuah bola api dilempar tinggi ke udara. Ledakan cahaya kecil muncul di atas area jalan.

Joni langsung mengangkat tangannya memberi isyarat.

“Jangan tembak dulu!”

Motor itu terus mendekat sampai akhirnya berhenti beberapa meter dari mereka.

Pengendaranya turun perlahan lalu melepas helm. Dan begitu wajahnya terlihat mata Joni langsung menyipit.

“…Putri.”

Putri berdiri dengan wajah serius sambil kedua tangannya sudah diselimuti api kecil yang terus menyala.

Tatapannya tajam ke arah Joni.

“Ngapain lu di sini?”

Posisinya jelas siap bertarung kapan saja.

Di belakang Joni, anggota kelompoknya langsung kembali mengangkat senjata lebih tinggi mengarah ke Putri.

Namun Joni mengangkat tangan menahan mereka.

“Gue cuma mau ambil generator.”

Dia menatap balik Putri.

“Lu sendiri ngapain ke sini?”

Putri diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya.

“…kemana kelompok yang jaga tempat ini?”

Joni menjawab santai.

“Udah mati. Yang dirantai gue lepasin. Sekarang ga tau ke mana.”

Ekspresi Putri langsung berubah dan amarah muncul jelas di wajahnya.

“Lu—”

WOOOSSH!

Tanpa peringatan dia langsung melempar bola api besar ke arah Joni namun Joni refleks bergerak menghindar ke samping.

BOLA API menghantam tanah dan meledak kecil dan hampir bersamaan—

DOR!

Suara sniper meledak.

“AAH!”

Putri langsung terjatuh ke belakang sambil memegang lengannya yang tertembak.

Matanya membesar kaget karena detik berikutnya puluhan anggota kelompok Joni keluar dari dalam gedung dan balik kendaraan dengan senjata lengkap terarah padanya.

Posisi mereka rapi. Terorganisir. Dan semuanya siap menembak kapan saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   48. Bangun, Sindy

    Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   47. Pilihan Terakhir

    Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status