MasukLin Qian tidak langung kembali ke Balai Medis setelah pertemuan itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia memilih berjalan tanpa tujuan di dalam wilayah istana dalam. Bukan karena ia kehilangan fokus, melainkan karena pikirannya terlalu penuh.Tawaran Wang Rui terus berputar di kepalanya, bukan sebagai lamaran, tapi sebagai perubahan status eksistensial. Menjadi Permaisuri bukan sekadar naik posisi. Itu berarti menjadi bagian dari mesin yang selama ini ia lawan dengan jarak profesional.Istana, bagi Lin Qian, bukan rumah. Ia adalah sistem tertutup yang hidup dari hierarki, simbol, dan konsumsi individu berbakat. Siapa pun yang masuk terlalu dalam akan diubah, dilunakkan, atau dihancurkan. Ia telah melihatnya terjadi pada banyak orang, laki-laki maupun perempuan. Gelar tidak melindungi, hanya menentukan seberapa lama seseorang bertahan sebelum digerus."Istana adalah tempat yang mengerikan." gumamnya, ia tidak siap jika harus tinggal di istana selama sisa hidupnya.Ia berhenti d
Wang Rui memilih waktu yang kurang tepat, setidaknya menurut standar istana. Tidak ada perayaan, tidak ada krisis, tidak ada sidang yang bisa dijadikan alasan. Ia memanggil Lin Qian bukan sebagai Tabib Agung, melainkan sebagai individu yang ia cintai. Wanita hebat yang selama ini berdiri terlalu lama di pusat pusaran badai istana tanpa pernah diberi pilihan untuk menjauh.Di ruang kerja pribadi yang jarang digunakan untuk urusan politik, Wang Rui menunggu tanpa pengawal berlebihan. Ia sudah menimbang berbagai kemungkinan, berbagai dampak, dan berbagai risiko. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia sadar bahwa ini bukan hal yang bisa disamarkan sebagai kebijakan. Ini adalah keputusan personal yang konsekuensinya berskala nasional."Sekarang waktu yang tepat kan?" gumam Wang Rui dengan sedikit kegugupan yang tidak terlihat."Ada apa memanggilku?" Lin Qian muncul dari balik pintu.Lin Qian datang dengan sikap profesional yang sama seperti biasa. Tidak ada kegugupan, ia be
Wang Rui tidak perlu laporan resmi untuk menyadari perubahan saat ini. Ia melihatnya dari hal-hal kecil yang biasanya luput dari perhatian. Cara para pejabat menunggu sebelum menyebut nama Lin Qian. Cara bangsawan berhenti menyelipkan nada meremehkan dalam kalimat mereka. Cara keputusan medis yang keluar dari Balai Medis kini diterima tanpa diminta legitimasi tambahan. Atmosfer istana bergeser, pelan tapi konsisten.Ia mengamati dari jarak yang disengaja. Sebagai Kaisar, terlalu dekat berarti menciptakan bias. Terlalu jauh berarti kehilangan momentum. Maka Wang Rui memilih posisi yang paling tidak nyaman. Mengawasi tanpa campur tangan, mencatat tanpa bereaksi. Lin Qian, tanpa sadar, sedang diuji oleh sistem dalam skala yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.Bagi Wang Rui, ini bukan sekadar soal kompetensi medis. Lin Qian telah menjadi titik temu antara efisiensi, legitimasi, dan perubahan sosial. Ia bukan hanya menyembuhkan tubuh, tapi memaksa istana meninjau ulang cara berpikir
Sidang internal Balai Medis Kekaisaran digelar tanpa kemegahan. Tidak ada genderang, tidak ada pengumuman terbuka. Ruangan panjang itu dipenuhi tabib senior, notulis, dan beberapa pengawas istana yang duduk sebagai saksi pasif. Agenda resmi menyebutnya sebagai evaluasi rutin, namun semua orang tahu inti pertemuan ini adalah mengenai Lin Qian, metode yang digunakannya. Untuk pertama kalinya, pendekatan yang selama ini dijalankan satu orang dibedah sebagai kemungkinan kebijakan.Dokumen-dokumen tebal dibagikan. Grafik, catatan pasien, perbandingan angka sebelum dan sesudah. Semua tersusun rapi, terlalu rapi untuk diabaikan. Lin Qian duduk di sisi ruangan, tidak di tengah, tidak pula di belakang. Ia tidak membawa catatan tambahan. Baginya, data sudah berbicara lebih keras daripada argumen lisan.Beberapa tabib senior terlihat gelisah. Reformasi, sekecil apa pun, selalu berarti perubahan posisi. Metode Lin Qian bukan hanya soal teknik medis, tapi soal cara mengambil keputusan, soal hier
Kasus itu datang tanpa peringatan dan tanpa ruang kompromi. Seorang bangsawan tingkat menengah dari wilayah barat dibawa ke Balai Medis dalam kondisi kritis. Demam tinggi, gangguan pernapasan, denyut nadi tidak stabil. Penyakitnya tidak tercatat dalam katalog medis klasik, dan ramuan standar gagal memberi respons. Situasi seperti ini biasanya berakhir dengan ritual menyelamatkan kehormatan keluarga, bukan menyelamatkan nyawa.Lin Qian langsung mengambil alih. Ia tidak menunggu rapat, tidak menunggu persetujuan kolektif. Ia meminta data. Riwayat perjalanan, pola makan, paparan lingkungan, dan respons tubuh pasien dicatat ulang. Bagi Lin Qian, kasus ini bukan anomali mistis, melainkan sistem yang rusak dan harus dipetakan ulang.Para tabib senior mengamati dari jarak aman. Mereka tidak menghentikannya, tapi juga tidak membantu. Ini bukan sabotase terbuka, melainkan sikap menunggu kegagalan. Jika Lin Qian salah langkah, sistem lama akan kembali berkuasa tanp
“Tabib Lin, laporan pasien paviliun timur sudah siap.” kata seorang tabib muda, suaranya cepat, nadanya mengandung hormat.“Letakkan di meja kedua, prioritaskan yang mengalami demam pasca-operasi.” jawab Lin Qian tanpa mengangkat kepala. “Jika suhu naik lagi malam ini, siapkan intervensi kedua.”“Tanpa konsultasi ulang dengan tabib pembimbing saya?” tanya tabib muda itu, ragu tapi tidak bermaksud menantang.“Jika menunggu persetujuan formal, pasien akan kehilangan waktu emas.” jawab Lin Qian singkat, suaranya tegas. “Tanggung jawabnya di saya.”Lin Qian menjalani hari-hari seperti biasa untuk melatih tabib-tabib baru. Setiap Tabib baru akan diberikan Tabib pedamping yang sudah senior. Lin Qian, seorang Tabib Agung hanya akan mengawasi dan mengevaluasi ulang hasil kerja para tabib istana.Lin Qian kembali berdiri di ruang medis istana seolah badai politik beberapa waktu lalu tidak pernah terjadi. Tangannya bergerak presisi, suaranya datar, keputusannya cepat. Ia tidak meminta kepercaya







