Share

Bab 182 - Mulai Diakui

Penulis: Chryztal
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 22:55:35

Kasus itu datang tanpa peringatan dan tanpa ruang kompromi. Seorang bangsawan tingkat menengah dari wilayah barat dibawa ke Balai Medis dalam kondisi kritis. Demam tinggi, gangguan pernapasan, denyut nadi tidak stabil. Penyakitnya tidak tercatat dalam katalog medis klasik, dan ramuan standar gagal memberi respons. Situasi seperti ini biasanya berakhir dengan ritual menyelamatkan kehormatan keluarga, bukan menyelamatkan nyawa.

Lin Qian langsung mengambil alih. Ia tidak menunggu rapat, tidak menunggu persetujuan kolektif. Ia meminta data. Riwayat perjalanan, pola makan, paparan lingkungan, dan respons tubuh pasien dicatat ulang.

Bagi Lin Qian, kasus ini bukan anomali mistis, melainkan sistem yang rusak dan harus dipetakan ulang.

Para tabib senior mengamati dari jarak aman. Mereka tidak menghentikannya, tapi juga tidak membantu. Ini bukan sabotase terbuka, melainkan sikap menunggu kegagalan. Jika Lin Qian salah langkah, sistem lama akan kembali berkuasa tanp
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 194 - Pengakuan Publik

    Kasus itu meledak di luar prediksi istana. Bukan penyakit bangsawan, bukan wabah di paviliun tertutup, melainkan epidemi usus yang menyebar cepat di distrik rakyat timur Wang Jing. Korbannya ratusan, mayoritas pekerja kasar dan keluarga mereka. Balai Medis lokal kewalahan, tabib-tabib daerah saling menyalahkan, dan rumor menyebar lebih cepat daripada obat. Untuk pertama kalinya sejak dekrit Akademi Yaonu Tang dikeluarkan, krisis ini tidak bisa ditutup dengan protokol istana. Lin Qian turun langsung ke lapangan tanpa menunggu persetujuan. Tidak ada pengawalan simbolik, tidak ada pengumuman resmi. Ia membawa tim kecil, catatan, dan logistik medis. "Kita harus bergerak cepat sebelum wabah semakin menyebar, tidak ada santai-santai sampai pekerjaan kita tuntas." Tegas Lin Qian sebagai Tabib Agung. Baginya, ini bukan panggung politik, melainkan uji lapangan. Penyakit rakyat selalu lebih jujur daripada pe

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 193 - Profesionalisme di Tengah Konflik

    Tekanan tidak mengendur, justru menyebar ke segala arah. Namun di tengah kekacauan politik dan sosial yang makin kentara, rutinitas medis istana tetap berjalan dengan presisi hampir kaku. Lin Qian hadir setiap pagi di Balai Medis Kekaisaran, memeriksa laporan pasien, mengevaluasi keputusan tabib lain, dan turun langsung menangani kasus-kasus kritis. Tidak ada pidato, tidak ada pernyataan simbolik. Ia menolak menjadi wajah penderitaan yang dielu-elukan atau dikasihani. Ia memilih tetap menjadi fungsi. Di sela-sela tugas medis, Lin Qian juga mengawasi pembangunan Akademi Yaonu Tang. Bukan sebagai figur ideologis, melainkan sebagai perancang sistem. Ia memeriksa rancangan ruang praktik, alur sanitasi, penyimpanan obat, dan kurikulum awal yang sedang disusun tim kecilnya. Setiap keputusan bersifat teknis, nyaris dingin. Itu disengaja. Ketika emosi dipolitisasi, profesionalisme menjadi bentuk perlawanan paling stabil.

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 192 - Delegitimasi Terbuka

    Serangan itu akhirnya keluar dari lorong-lorong tertutup dan memasuki ruang publik istana. Tidak lagi dibungkus istilah akademik atau kekhawatiran administratif, penolakan terhadap Akademi Yaonu Tang kini disuarakan secara terang-terangan. Pembangunan fisik akademi diperlambat dengan alasan inspeksi ulang, izin tanah dipersoalkan, dan anggaran diperdebatkan ulang seolah dekrit kekaisaran hanyalah proposal awal yang bisa direvisi. Ini bukan resistensi pasif. Ini strategi delegitimasi. Isu yang diangkat pun terstandarisasi. Moral masyarakat, adat leluhur, stabilitas keluarga, dan ketertiban sosial dijadikan paket argumen siap pakai. Narasinya konsisten, pendidikan perempuan akan merusak tatanan, mengurangi angka pernikahan, dan melemahkan otoritas lokal. Tidak ada yang membahas hasil medis. Tidak ada yang menyinggung nyawa yang telah diselamatkan. Data dianggap tidak relevan jika bertabrakan dengan kenyama

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 195 - Lamaran resmi

    Upacara itu diumumkan sebagai sidang istana biasa. Tidak ada bendera tambahan, tidak ada musik kehormatan, tidak ada jamuan yang disiapkan. Justru ketenangan yang disengaja itu membuat Aula Agung terasa tegang sejak pagi. Para pejabat, bangsawan, dan perwakilan faksi hadir dengan intuisi yang sama, sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali akan terjadi hari ini.Wang Rui memasuki aula dengan langkah mantap. Wajahnya tenang, tetapi sikap tubuhnya menunjukkan keputusan yang telah matang, bukan impuls emosional. Ia tidak membawa gulungan sutra berhiaskan puisi atau simbol romantis. Di tangannya hanya ada satu dokumen tipis, disegel kekaisaran. Lin Qian berdiri di posisi resmi Tabib Agung, beberapa langkah dari pusat aula, sepenuhnya sadar bahwa hari ini bukan tentang medis atau akademi.Sidang dibuka singkat. Tidak ada perdebatan pendahuluan. Wang Rui langsung melangkah ke tengah aula, mematahkan kebiasaan protokol yang biasanya memisahkan urusan negara dan urusan pribadi. Namun semua o

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 191 - Efek Domino

    Gelombang pertama datang tanpa aba-aba. Perempuan dari wilayah utara, barat, pesisir, hingga desa-desa pegunungan mulai berdatangan ke ibu kota Wang Jing dengan membawa surat rekomendasi, bekal seadanya, dan harapan yang belum pernah diberi ruang oleh sistem lama. Mereka bukan delegasi resmi, bukan bangsawan, dan jelas bukan tamu yang diantisipasi oleh istana. Namun secara operasional, kehadiran mereka adalah konsekuensi logis dari dekrit yang telah dirilis. Kebijakan tidak pernah berhenti di atas kertas. Ia selalu bergerak ke lapangan.Istana merespons dengan refleks birokratis. Daftar tunggu, pembatasan akses, evaluasi keamanan. Semua dijalankan dengan alasan stabilitas. Tapi di luar tembok istana, narasi berkembang lebih cepat dari protokol. Akademi Yaonu Tang bukan lagi hanya proyek pendidikan. Ia telah menjadi simbol mobilitas sosial. Dan simbol, seperti biasa, mengundang resistensi dari pemilik status quo.Benturan pertama datang dari wilayah barat daya. Seorang bangsawan loka

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 190 - Dekrit Yaonu Tang

    Dekrit itu dibacakan pada pagi yang terlalu cerah untuk ukuran keputusan sebesar ini. Aula Agung dipenuhi para pejabat tinggi, bangsawan lama, perwakilan Balai Medis, dan faksi-faksi yang selama ini bersembunyi di balik kesantunan istana. Tidak ada bisik-bisik ramah. Udara terasa kaku, seperti semua orang sadar bahwa apa pun yang akan dibacakan hari ini bukan sekadar pengumuman rutin.Wang Rui berdiri di singgasananya dengan sikap tenang yang disengaja. Ia mengenakan jubah kekaisaran lengkap, simbol bahwa keputusan ini diambil bukan sebagai individu, melainkan sebagai negara. Di sisi kiri aula, Lin Qian berdiri beberapa langkah di belakang, posisinya jelas terlihat, namun tidak diberi kehormatan simbolik apa pun. Itu bukan kelalaian. Itu pernyataan.“Dengan ini,” suara Wang Rui terdengar jelas dan datar. “kekaisaran secara resmi membentuk Akademi Yaonu Tang sebagai institusi pendidikan dan penelitian medis di bawah dekrit langsung Kekaisaran.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status