LOGINBab 235 — Penangkapan“Ibu Suri, demi hukum Kekaisaran WangJing, Anda ditahan.”Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, tanpa getaran kemenangan. Justru karena itulah ia terdengar begitu final. Aula istana yang sejak tadi dipenuhi bisik dan napas tertahan, kini jatuh ke dalam keheningan yang berat, seolah semua orang membutuhkan waktu untuk mencerna bahwa kata-kata itu benar-benar terjadi.Ibu Suri tidak langsung bereaksi. Ia berdiri di tempatnya, wajahnya masih tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Tatapannya menyapu aula, melewati para pejabat yang dulu menunduk penuh hormat, kini menghindari matanya satu per satu.Penahanan itu dibacakan resmi. Tuduhan pembunuhan berencana terhadap Kaisar Wang Rui. Tuduhan penggelapan keuangan negara melalui jaringan pejabat lama. Daftar pelanggaran itu panjang, dibacakan perlahan, seperti penghitungan utang yang akhirnya jatuh tempo.Tidak ada bantahan. Tidak ada teriakan tentang fitnah atau sihir. Ibu Suri hanya m
“Saya akan bicara.” suara itu memotong aula sebelum siapa pun sempat memberi perintah. Kalimat pendek itu cukup untuk membuat bisik-bisik terhenti. Semua mata beralih padanya. Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman lanjutan. Hanya keheningan yang tiba-tiba menjadi terlalu rapat.Kepala Kuil Fengyao palsu mengangkat kepalanya perlahan, lututnya menempel di lantai batu yang dingin. ikatan di pergelangan tangannya tidak teralu kencang, tapi cukup untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak ada lagi jalan kembali. Wajahnya pucat, matanya tidak lagi berani menatap siapa pun. Ia tahu, sandiwara ini harus diakhiri.Ia menelan ludah, lalu mulai berbicara. Pengakuan itu keluar tanpa hiasan, seolah ia sadar bahwa kebohongan tidak lagi berguna. Ia menjelaskan bagaimana nubuat disusun. Bagaimana kata-kata dipilih agar terdengar kuno, mutlak, dan tak bisa dibantah. Bagaimana ketakutan selalu lebih cepat menyebar dibanding kebenaran.Ia berbicara tentang tinta khusus, tentang asap dupa, tentang simbol-
“Sejak kapan prajurit istana diizinkan menyamar selama bertahun-tahun... tanpa satu pun catatan?”Pertanyaan itu jatuh ke aula seperti batu ke air tenang. Meluncur singkat, dingin, dan cukup untuk membuat aula istana kehilangan keseimbangannya.Lin Yuan berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegap, wajahnya tenang. Bayangan tubuhnya memandang di lantai marmer. Ia tidak segera menjawab. Di sekelilingnya, para pejabat daerah yang terlibat kasus Ibu Suri mulai gelisah, seolah baru menyadari bahwa tidak semua yang hadir di aula ini tercatat secara resmi.Tatapannya beralih ke Wang Rui, seolah menunggu satu hal terakhir yang tak perlu diucapkan keras-keras. Wang Rui tidak bergerak. Tatapannya lurus ke depan. Sebuah anggukan kecil darinya menjadi isyarat yang tak perlu penjelasan.Lin Yuan akhirnya melangkah setengah langkah ke depan.“Sejak Kaisar membutuhkan mata yang tidak terlihat.” jawab Lin Yua. Suaranya datar, profesional, tanpa nada pembelaan. “Dan tangan kanan yang tidak tercatat sec
“Apakah tuduhan masih akan disebut fitnah... jika buktinya berasal dari kamar Ibu Suri sendiri?”Suara itu memotong aula seperti bilah dingin.Langkah kaki terdengar dari arah pintu besar istana. Tidak tergesa, tidak ragu. Para penjaga refleks menoleh bersamaan, sebagian bahkan belum sempat menyadari siapa yang masuk sebelum sosok tinggi dengan pakaian prajurit gelap berdiri tepat di ambang cahaya.Lin Yuan.Nama itu tidak asing bagi Lin Qian, tapi kehadirannya di tempat ini sama sekali tidak masuk dalam perhitungan apa pun. Ia sendiri bahkan sangat bingung, bagaimana bisa kakaknya yang tinggal di Desa Lanxi —Yang jaraknya tempuhnya sampai ke Ibu kota kekaisaran memakan waktu tiga hari— tiba-tiba berada di depan pintu aula.Untuk sesaat, dunia seolah menyempit bagi Lin Qian. Napasnya tertahan, jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Ia menatap wajah kakaknya yang telah lama tidak ia lihat, wajah yang kini jauh lebih keras, lebih tenang, dan membawa aura seseorang yang hi
Aula istana belum sempat bernapas setelah penjelasan tentang dua lukisan itu.Keheningan yang muncul bukanlah ketenangan, melainkan jeda sebelum ledakan berikutnya. Para tetua dan bangsawan tinggi saling melirik, sebagian menunduk pada lukisan yang masih terbuka di lantai, sebagian lain menatap Lin Qian seolah ia baru saja menginjak wilayah terlarang yang selama ini tidak pernah disentuh siapa pun.Ibu Suri menyadari momen itu dengan cepat. Ia tidak menunggu keraguan berubah menjadi keyakinan. Ia juga tidak mencoba membantah penjelasan Lin Qian secara rinci. Sebaliknya, ia memilih jalur paling tua, paling efektif, dan paling sulit dilawan.Ketakutan.“Cukup!” suara Ibu Suri terdengar, stabil namun mengandung tekanan berat. Ia melangkah satu langkah ke depan, tongkat kekuasaannya menyentuh lantai marmer dengan bunyi pendek yang memecah perhatian. “Penjelasan seperti itu justru semakin menguatkan dugaanku.”Beberapa pejabat terkejut. Yang lain menegang.Ia menatap lurus ke arah Lin Qia
Langkah kaki Lin Qian menggema pelan di aula istana yang masih dipenuhi sisa kekacauan. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Di tangannya, dua gulungan lukisan dibawa dengan posisi sejajar, seolah ia sengaja menegaskan bahwa keduanya memiliki bobot yang sama. Mata para petinggi otomatis tertuju padanya, bukan karena perhiasan atau statusnya sebagai Permaisuri, melainkan karena waktu kemunculannya terlalu tepat untuk diabaikan. Bukankah seharusnya Lin Qian terkurung di penjara bawah tanah? Begitulah yang sedang ada di kepala semua orang dalam ruangan itu.Aula yang tadi riuh perlahan kembali hening. Keheningan jenis ini bukan karena hormat, melainkan karena ketegangan. Semua orang sadar, apa pun yang akan diungkap Lin Qian bukanlah hal remeh.“Yang Mulia...” suara Lin Qian tenang, nyaris datar. Ia berhenti tepat di tengah aula, jaraknya terukur dari singgasana dan barisan pejabat. “Saya membawa dua lukisan leluhur.”Beberapa orang saling melirik. Lukisan leluhur. Kata itu saja sudah cukup







