Share

Bab 2

Author: Aray Fu
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-18 21:34:15

Akhirnya, Karin tiba di apartemen dengan keadaan yang kacau. Diluar masih gelap dan dingin.

“Tuhan, bisakah aku menghilang saja?” tanya Karin lirih.

Begitu pintu apartemennya tertutup rapat, Karin langsung berlari ke kamar mandi. Air dingin dari shower membasahi tubuhnya yang gemetar, sementara tangannya sibuk menggosok kulitnya dengan keras, seolah-olah ia ingin menghapus setiap tanda yang mengingatkan pada malam harinya. 

Namun, sekeras apa pun ia mencoba, rasa bersalah itu justru semakin merasuk ke dalam dadanya, lebih dalam daripada bekas di kulitnya. Tubuhnya menggigil hebat. Matanya terpejam, air mata bercampur dengan aliran air dari shower, membasahi wajahnya yang lelah.

“Aku ingin mati.”

Kring! Kring!

Ponselnya berdering, memecah keheningan. Dengan enggan, Karin mematikan shower dan melangkah keluar dari kamar mandi. 

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, tangan basahnya menyeka layar. Nama atasannya muncul di layar, tetapi panggilan itu terhenti sebelum ia sempat menjawab, diikuti dengan sebuah pesan masuk.

'[Karin, pastikan draft laporan rekapitulasi karyawan minggu lalu sudah ada di meja saya sebelum jam sembilan pagi ini. Saya ada meeting jam sepuluh.]’

Karin menghela napas panjang, menahan tangis yang kembali mengancam keluar.

"Pekerjaan tetaplah pekerjaan," gumamnya.

Dunia nyata tidak pernah peduli seberapa hancur hatinya. Ia tahu, tanggung jawab tetap harus ditunaikan. Sebagai anak rantau, Karin harus menghidupi dirinya sendiri sekaligus membantu keluarganya di desa. Orang tuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan bergantung pada penghasilannya, begitu pula adiknya yang sedang menempuh kuliah.

Karin tidak punya kemewahan untuk mogok kerja karena patah hati. Semesta tidak pernah peduli dengan kisah cinta dan rasa sakitnya. Ia merasa terjebak dalam rutinitas yang tak memberinya ruang untuk bernapas.

“Tidak ada waktu untuk sakit hati dan menyesal, Karin,” ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

Setelah bersiap-siap dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Karin menuju kantor. Ketika sampai, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada beberapa menit sebelum jam kerja dimulai.

Namun, perasaan tidak nyaman mulai merayap ketika ia menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya. Mereka memandangnya dengan campuran rasa kasihan dan keingintahuan.

"Ada apa?" gumamnya, merasa gelisah. Meskipun tidak ada yang tahu kejadian semalam, tapi Karin overthinking sendiri. 

Ketidaknyamanannya terbukti saat ia masuk ke dalam lift yang padat. Dua staf dari divisi lain sedang berbisik-bisik di sudut belakang, tidak menyadari keberadaan Karin yang terhalang tubuh karyawan lain.

"Kamu sudah lihat postingan sosial media Rio semalam? Dia resmi jadian sama Via. Gila, ya, padahal masih tunangan sama Karin," bisik salah satunya.

"Ah, kudengar dari orang dalam, Rio yang mutusin karena Karin kaku banget. Malah ada gosip kalau Rio mutusin dia karena sebenarnya selama ini Rio hanya memanfaatkan Karin saja untuk mendekati Via, kan Karin dan Via sahabatan.”

“Sudah lama kok Rio dan Via jadian. Hanya saja selama ini Karin entah bodoh atau gimana, percaya aja sahabat sama tunangannya jalan berdua,” sambung yang lainnya.

Kalimat itu menghantam Karin seperti petir di siang bolong. Tangannya mengepal erat, menahan diri agar tidak membuat keributan. Ia masih membutuhkan pekerjaan ini. Ia berdiri diam, berharap lift segera sampai di lantai tujuannya.

"Ehem!" Akhirnya Karin berdehem keras.

Semua orang di lift terkejut saat menyadari siapa yang berdiri di depan mereka. 

Seketika atmosfer di dalam lift membeku. Wajah kedua karyawan itu memucat saat lift berdenting terbuka di lantai HRD. Tanpa membuang kata, Karin melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan keheningan canggung di belakangnya.

Ketika sampai di ruangannya, Dila, teman sekerjanya, menyambutnya dengan antusias.

"Karin! Kamu sudah dengar? Hari ini Presdir baru yang memegang alih kepemimpinan dari pusat bakal keliling area kantor!"

Karin hanya memaksakan senyum tipis, menyalakan komputernya. "Lalu kenapa? Kamu berharap dia single dan terjadilah percintaan seperti di novel-novel?"

"Berharap naik gaji dan bonus!" kekeh Dila.

Kegembiraan Dila tidak menular pada Karin. Ia duduk di kursinya, mencoba tenggelam dalam pekerjaan untuk mengalihkan pikirannya. Menyiapkan data yang diminta sang bos pagi ini. 

Ia berharap tumpukan berkas itu bisa mengusir rasa penatnya. Namun, ketenangannya hancur total menjelang siang. Pintu kaca divisi HRD terbuka, menampilkan dua orang pria yang berjalan didampingi manajer mereka. 

Salah satu dari mereka memiliki aura yang langsung menarik perhatian semua orang.

Atensi seluruh ruangan tersedot pada pria yang berjalan di tengah. Sosoknya tinggi tegap, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan potongan sempurna yang memancarkan aura otoritas yang kuat.

Karin mendongak, dan detik itu juga, dunianya seolah berhenti berputar. Seluruh darah di wajahnya surut seketika. Karin terdiam, tubuhnya kaku ketika matanya menangkap wajah pria itu. Detak jantungnya seolah berhenti sejenak.

"Tidak mungkin..." pikirnya, wajahnya memucat. Pria itu adalah lelaki yang semalam tidur bersamanya.

Pria itu tampaknya tidak menyadari keberadaan Karin, tetapi ia terus berjalan mendekat bersama rekan yang menemaninya. Karin dengan cepat menundukkan kepala, berharap pria itu tidak mengenalinya. Jantungnya berdetak semakin cepat, seakan-akan bisa terdengar oleh semua orang di ruangan itu.

"Kenapa dia ada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi?" monolog Karin panik. Ia mencoba tetap tenang, tetapi bayangan malam itu kembali menghantui pikirannya. Rasa malu, takut, dan bingung bercampur menjadi satu. Karin tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini. Cepat atau lambat mereka akan bertemu langsung.

“Semoga dia tidak mengenaliku.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 12

    Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 11

    “Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 10

    "Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 9

    “Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 8

    Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 7

    “Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status