Share

Chapter 148

Penulis: Atieckha
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 10:48:53

“Jangan bikin kami malu!” seru mamanya Clara, menatap Nathan dengan penuh tuntutan agar calon menantunya ini tidak mengulur-ngulur waktu lagi.

Nathan membuang napas kasar. Ia tidak kehilangan kendali sedikit pun. Dengan sangat tenang, ia tetap menyerahkan cek fantastis itu ke tangan Pak Darmawan.

“Tolong simpan ini, Om,” ujarnya sedikit memaksa.

Karena sejak awal sudah termakan oleh logika bernilai puluhan triliun yang disusun Nathan, Pak Darmawan tanpa ragu menyambut cek tersebut. Pria itu lan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Wiwik Indah
Di tunggu kelanjutanya penulis yg baik hati, bikin semangat
goodnovel comment avatar
Rode Toding
tambah semangat untuk up yg berikutnya.bagus banget dan tambah deg deg hatiku menunggu kelanjutan ceritanya
goodnovel comment avatar
Suti Fatimah
lanjut thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 149

    “Harusnya kita gak boleh seperti ini,” ucap Salsa. Dia masih ingin menyadarkan Nathan kalau yang mereka lakukan ini tidak benar. Tapi tubuhnya merespon baik sentuhan pria itu. Harusnya Salsa langsung pergi atau menolak pertemuan ini, tapi logikanya dikalahkan oleh sentuhan panas Nathan. Pria itu mulai menghisap dada Salsa membuat tubuh wanita itu melengkung ke depan seakan memberi akses penuh buat Nathan melakukan lebih. Posisi mereka masih berdiri dan tubuh Salsa menempel di pintu kamar apartemen. Nathan mulai melepaskan baju Salsa tanpa pedulikan rengekan wanita itu. Menurutnya kalau nanti Salsa sudah merasakan senjatanya bersarang di bagian intimnya, Nathan yakin penolakan halus ini akan berubah menjadi desahan hebat yang Nathan rindukan.TiiiingKancing baju Salsa terlepas karena pria itu membukanya dengan buru-buru. Decakan halus keluar dari mulut Salsa membuat Nathan hanya nyengir menyadari kesalahannya. Kini, pakaian bagian atas Salsa sudah terlepas dan tubuh bagian atas wan

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 148

    “Jangan bikin kami malu!” seru mamanya Clara, menatap Nathan dengan penuh tuntutan agar calon menantunya ini tidak mengulur-ngulur waktu lagi.Nathan membuang napas kasar. Ia tidak kehilangan kendali sedikit pun. Dengan sangat tenang, ia tetap menyerahkan cek fantastis itu ke tangan Pak Darmawan.“Tolong simpan ini, Om,” ujarnya sedikit memaksa.Karena sejak awal sudah termakan oleh logika bernilai puluhan triliun yang disusun Nathan, Pak Darmawan tanpa ragu menyambut cek tersebut. Pria itu langsung memasukkan cek tersebut ke dalam dompet kecil yang dibawanya setelah memastikan kalau cek itu asli. Senyum puas langsung terbit di wajahnya.“Kalau suatu saat nanti kamu membutuhkan bantuan lagi, jangan lupa kalau orang pertama yang harus kamu datangi adalah Om,” ucap Pak Darmawan sok mengayomi.Di dalam hati, Nathan menggerutu geli. Dulu, saat ia berniat baik mengembalikan uang bantuan sebesar dua puluh lima triliun, Pak Darmawan menolaknya dengan mentah-mentah. Pria itu berdalik agar Nat

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 147

    Melihat gelagat Pak Darmawan yang sengaja memojokkannya di depan umum, otak bisnis Nathan bekerja cepat. Sebagai seorang pengusaha sekaligus negosiator ulung, Nathan paham betul emosi hanya akan menghancurkan posisinya dan memberi kemenangan telak untuk lawannya. Dalam hitungan detik, ia sudah menyusun taktik di dalam benaknya.Nathan melangkah, menyamai langkah Pak Darmawan lalu berbisik di samping telinga pria paruh baya itu mengabaikan sapaan dari keluarga besarnya. “Bisa kita bicara sebentar, Om?”Pak Darmawan memicingkan mata, menatap calon menantunya dengan pandangan menyelidik. Pria paruh baya itu tahu betul ada penolakan di mata Nathan. “Kita tuntaskan dulu acaranya, Nathan. Tidak enak sama tamu, sudah dari tadi menunggu,” potongnya cepat sambil terus melangkah menjauhi Nathan.Namun Nathan tidak tinggal diam. Ia tetap mengekor tepat di belakang Pak Darmawan.“Sebentar saja, Om. Cukup Om, Tante, dan Clara,” ulang Nathan. Kalimat yang terucap dari mulutnya tidak terdengar memoh

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 146

    Nathan sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari area utama. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi tanda tanya besar yang apa yang terjadi di tempat ini. Jika memang hari ini di rumah Clara menggelar acara besar, mengapa Pak Darmawan sama sekali tidak memberi tahunya? Mengapa pria paruh baya itu justru menyetujui kedatangannya seolah-olah ini hanya pertemuan biasa untuk mengembalikan bantuan yang pernah diberikan pria itu saat Nathan terpuruk?Belum sempat Nathan mengurai kekacauan di benaknya, pintu mobil ia buka. Ia melangkah keluar hanya berbalut kemeja santai dan celana jeans. Namun penampilannya yang ala kadarnya itu sama sekali tidak melunturkan aura tampan dan wibawanya. Dari kejauhan, Clara yang melihat kedatangannya langsung berjalan menghampiri dengan senyum binar yang tak sanggup ditutupi. Kilatan lampu kamera dari wartawan seketika menyambar bertubi-tubi ke arah Nathan dan Clara, memaksa pria itu memejamkan mata berulang kali demi menghalau rasa silau yang membakar pandanga

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 145

    “Kalau dia menolak lagi?” tanya Salsa penuh rasa kekhawatiran kalau semua usaha Nathan tidak akan pernah berhasil.“Aku akan berusaha terus sampai dia mau menerima uang itu lagi,” jawab Nathan. Pria itu mengulurkan tangan, lalu punggung tangannya mengusap lembut pipi Salsa. “Aku akan berjuang sampai aku bisa memilikimu seutuhnya, sayang.”Untuk beberapa detik tatapan mereka saling mengunci. Ada keraguan di mata Salsa, tapi kehangatan di ibu jari pria itu saat mengusap pipinya perlahan mengikis rasa takut di dalam hatinya. Salsa tahu perjuangan ini sama sekali tidak mudah. Jalan di depan mereka penuh kerikil tajam, tapi di dalam hati kecilnya Salsa sudah mantap untuk terus berdiri di samping pria ini, mendukung setiap langkahnya tanpa harus melukai perasaan wanita lain. Walau jujur saja, rasa cemburu sesekali masih saja mencubit hatinya setiap kali teringat pengumuman hubungan pria itu dengan Clara beberapa tahun lalu.Salsa menunduk sebentar, menatap jemarinya yang bertaut di atas mej

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 144

    Malam semakin larut, namun layar ponsel Salsa masih menyala, memancarkan wajah Nathan di ujung panggilan video. Suasana kamar yang redup berubah hangat oleh getaran rasa yang sudah bertahun-tahun terpendam. Layaknya sepasang kekasih yang baru dilanda kasmaran, keduanya seolah enggan mengakhiri obrolan meski kantuk mulai menyapa. Jarak beberapa kilometer di luar sana terasa lenyap, terkikis oleh tawa kecil dan tatapan hangat yang saling bertukar lewat layar kaca.Perbincangan mereka mengalir begitu indah dan menyenangkan, bermuara pada dua malaikat kecil yang sudah tertidur pulas di kamar sang mama. Nathan mendengarkan setiap detail cerita tentang si kembar dengan mata berbinar—mulai dari tingkah konyol mereka saat bermain, makanan favorit, hingga kebiasaan kecil sebelum tidur yang selama empat tahun ini melekat dalam ingatan Salsa. Rasa rindu yang menumpuk bertahun-tahun seolah menemukan muaranya saat ini.Di tengah obrolan, keseriusan Nathan terpancar jelas dari raut wajahnya. Pria i

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Suara Desahan

    Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Tubuhmu Milikku

    “Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Tubuhku jadi Jaminan Utang

    Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Satu Miliar

    Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status