INICIAR SESIÓNNathan merengkuh saku jasnya lalu mengeluarkan selembar cek dengan nominal yang sangat fantastis. Jumlah angka di sana bahkan jauh lebih besar daripada seluruh harta simpanan keluarga Darmawan yang kemarin dibawa kabur oleh Aditya. Nathan menggeser cek itu agar lebih dekat lagi ke arah Clara."Aku harap kamu mau menerima bantuan yang tak seberapa ini. Ini benar-benar tulus aku dan istriku berikan untukmu agar kamu bisa melanjutkan hidup di luar sana. Ini pemberian tulus dari kami bukan utang. Kehidupanmu mungkin memang sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Papamu sedang di dalam sel untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sementara mamamu sudah tenang di alam sana. Tapi aku yakin banget, mamamu pasti ingin melihat kamu bahagia. Beliau pasti ingin kamu bangkit, menjadi pribadi yang lebih kuat, dan bisa membuat hidupmu tetap berjalan meskipun dunia terasa sangat tidak adil untukmu. Pintu rumahku 24 jam selalu terbuka untukmu. Kapan pun kamu membutuhkan bantuan, datang dan temui
Satu minggu telah berlalu berlalu sejak mamanya Clara meninggal dunia akibat mengalami pecah pembuluh darah. Di dalam sel, Darmawan benar-benar hancur. Dia tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian untuk sekadar menghadiri pemakaman istrinya di hari terakhir. Rasa bersalah menghantamnya sampai dia sulit memaafkan dirinya sendiri bahkan ketika ia menyadari betapa dirinya menjaga anak dan istri yang kini harus menanggung akibat dari perbuatannya.Sementara untuk Clara, baru kali ini dalam hidupnya dia merasakan kehancuran yang begitu menyayat hati. Tanpa kehadiran sosok mama di sisinya, dunianya terasa benar-benar gelap gulita.Selama ini Clara selalu merasa dirinya bisa berdiri sendiri. Dia kerap mengabaikan teguran, omelan, dan nasihat sang mama. Namun ketika sosok itu sudah benar-benar sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, rasa penyesalan meremukkan seluruh hatinya sampai bikin dia frustrasi setengah mati. Ternyata dia sangat membutuhkan mamanya. Dia butuh sandaran, bu
“Kamu mau kemana sekarang?” tanya Mamanya. “Aku mau sewa mobil dulu, Ma. Setelah itu kita coba cari hutan tempat Aditya bersembunyi,” ucapnya.“Tapi, nak-” ucapan mamanya terpotong. “Mama tenang saja, kita pasti berhasil menemukan lelaki terkutuk itu. Berdoa saja semoga harta kita masih ada di tempat yang sama,” ujarnya. Mamanya hanya bisa mengangguk pasrah.Clara pun meminta izin untuk sewa mobil, setelah itu dia kembali ke hotel untuk menjemput mamanya. Clara yakin banget pasti bisa menemukan tempat persembunyian Aditya.Mobil sewaan yang dikendarai Clara terus melaju membelah jalanan berbatu yang makin menyempit di pinggiran kota. Hampir setengah hari penuh wanita itu mengitari kawasan yang sama, memutar otak dan mengamati tiap sudut pepohonan untuk mengingat-ingat jalan setapak yang pernah mereka lalui. Ketegangan di dalam kabin mobil makin terasa berat seiring bensin yang terus berkurang dan napas mamanya yang makin memburu di kursi samping. Setiap kali berbelok di persimpangan
"Ada apa lagi, Raka?" tanya Nathan saat mengangkat panggilan telepon dari orang kepercayaannya yang juga calon menantunya itu."Pak, sepertinya dia membutuhkan perawatan intensif. Apa boleh kami langsung bawa dia ke rumah sakit terbaik di kota ini?" tanya Raka dari seberang telepon. Dia paham betul kalau biaya rumah sakit swasta paling bagus di pusat kota sangat mahal. Jadi bagaimanapun juga, dia harus minta izin dulu kepada Nathan Abimanyu sebagai pemilik keputusan dan pemilik dana penuh atas pengobatan korban yang disekap oleh Aditya."Silakan, bawa saja. Obati dia sampai bener-bener sembuh, berikan pengobatan terbaik," jawab Nathan cepat tanpa ada keraguan sedikit pun di setiap ucapannya. Bagi Nathan, keselamatan anak buahnya jauh lebih penting daripada sekadar angka di rekening."Baik, Pak. Terima kasih banyak," sahut Raka sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.Salsa yang duduk di sebelah suaminya langsung menoleh dengan wajah cemas. Sejak tadi dia memang ikut khawatir memiki
“Suara apa itu?” Teriak Aditya. Dia langsung mendobrak pintu tempat anak buah Nathan disekap dan kosong.“Bangsat!” Umpatnya penuh amarah.Pintu belakang villa yang sedikit terbuka membuat anak buah Nathan memanfaatkan celah sempit itu dengan sangat cepat. Begitu berhasil keluar dari bangunan, dia tidak langsung lari lurus melintasi semak-semak karena sadar jejak kakinya akan sangat mudah ditemukan oleh Aditya. Dengan sisa tenaga yang ada dan tangan yang masih terasa perih akibat luka yang dialami di sekujur tubuhnya, pria itu memilih memanjat sebuah pohon besar berdaun rindang yang berdiri hanya beberapa meter dari dinding luar villa.Di atas dahan tinggi dan tertutup oleh dedaunan yang sangat lebat itu, dia menahan napas sambil merapatkan tubuhnya ke batang pohon. Tepat di bawahnya, Aditya keluar dari pintu belakang sambil menggenggam pistol dengan raut wajah penuh amarah. Mata Aditya meliar menyapu seluruh area sekitar villa, melangkah terburu-buru menyusuri semak-semak dan jalan
“Apa?” Salsa terkejut mendengar pengakuan mertuanya yang bilang ada sepuluh dus total belanjaan si kembar.“Pelankan suaramu, sayang. Malu banget istri konglomerat marah-marah kayak gini. Jangankan hanya 10 dus mainan, mallnya pun mau mereka beli akan aku belikan, sayang,” jawab Nathan.Salsa mengatur napasnya. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun mendengar jawaban suaminya. Tapi dia tidak ingin bertengkar dengan Nathan di depan kedua mertuanya. Sementara Nathan sengaja memanfaatkan itu agar dia tidak kena marah oleh sang istri.“Maafkan kami ya, Mama,” ucap si kembar sudah berlutut di depan Mamanya. Tangan kecil mereka mengusap perut sang mama.“Awas saja kalau mainan yang dibeli terbuang sia-sia!” Salsa menyelipkan kata ancaman dalam kalimatnya sambil menatap kedua buah hatinya yang sedang berlutut di depannya. “Semuanya berguna kok, Mama. Bahkan kami beliin adik bayi mainan juga. Jadi belinya tiga,” sahut Kenzo yang dibalas anggukan oleh Kenzi. “Beli baju juga buat adik bayi,” jawab
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria







