FAZER LOGIN“Wah, rumahnya bagus sekali, Bu,” ucap Zara takjub. Meskipun tadi Zara sempat dimarahi oleh pamannya karena kembali melawan setelah dihina habis-habisan oleh istri pamannya, tapi hari ini dia dan sang ibu akan hidup nyaman di rumah baru yang sempit ini.“Ya, kan? Walaupun nggak sebagus rumah dari Pak Tua itu, setidaknya rumah ini sangat layak kita huni. Ayo, masuk. Kamu harus lihat kamarmu sendiri,” ucap sang ibu.Mereka berdua pun masuk lebih jauh ke dalam rumah dan ternyata semua furniturnya lengkap. Rumah ini benar-benar layak untuk ditempati. Bahkan, di setiap kamarnya sudah disediakan AC oleh ibunya. Di ruang tamu juga ada AC. Rumah subsidi ini jadi terlihat naik kelas.“Ya Tuhan, terima kasih, ya Tuhan. Akhirnya Ibu bisa beli rumah. Setidaknya, dalam masa pengobatanku nanti, aku tidak perlu memikirkan harus bekerja,” ucap Zara pada dirinya sendiri.Dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang sambil memeluk guling. Air matanya kembali menetes karena tidak pernah menyangka pen
Salsa akhirnya naik ke lantai dua bersama sang suami, sementara anak-anaknya juga bersiap-siap untuk makan malam bersama di luar karena sang papa mengajak mereka makan malam di luar.“Apa sebaiknya ditunda aja saya ke rumah sakitnya lusa, biar aku bisa anterin?” ucap Nathan, berharap istrinya mau menunda sehari untuk datang ke rumah sakit.“Nggak bisa dong, Sayang. Kan dokter spesialis ini cuma ada besok. Udah, nggak apa-apa, Sayang. Aku sendiri aja. Nanti juga bakalan dapat video USG-nya. Tenang aja, aku bukan istri yang manja,” jawab Salsa.“Tapi aku merasa bersalah aja, Sayang. Apa aku nggak usah kunjungan proyek aja, ya?” gumam Nathan.“Jangan dong, Sayang. Itu kan masa depan kamu ada di sana. Kamu kerja aja. Cuma USG doang, kok. Lagian, aku nggak ada keluhan apa-apa. Ngidam juga udah nggak. Anak kita juga bergerak aktif dalam perutku. Nggak apa-apa, kita bulan depan aja barengannya. Besok biar aku aja. Lagian, setelah dari rumah sakit, aku ada janji juga sama Alea, mau nganterin
“Kenapa, Sayang?” tanya Salsa, melihat suaminya sangat serius menatap ke arah ponsel.Sementara itu, Nathan tahu wanita hamil tidak boleh stres. Jadi, yang akan dia ceritakan pada istrinya adalah hal yang baik-baik saja. Bahkan, akhir-akhir ini dirinya mimpi buruk. Nathan sama sekali tidak berani memberitahu sang istri soal kegelisahannya itu.“Nggak apa-apa, Sayang. Besok ada kunjungan proyek. Di grup, anak-anak masih sibuk membahas soal besok,” jawab Nathan, lalu meletakkan lagi ponselnya setelah memblokir nomor tak dikenal itu dan menghapus pesannya.“Papa, boleh beli tablet nggak buat belajar? Teman-teman di kelas semua bawa tablet buat belajar,” ucap Kenzo, menyela obrolan orang tuanya. Sang adik kembar ikut mengangguk setuju.“Boleh dong, Sayang. Kok anak SD sudah pakai tablet, sih? Belajarnya? Bukannya nggak boleh lihat HP atau tablet selama di sekolah?” tanya Nathan.“Ih, Papa katrok!” ceplos Kenzi, membuat Nathan tak tahan untuk mencubit pipi gembul gadis kecilnya.Nathan men
Semakin pamannya ngomel semakin kuat keinginan Zara untuk memilih jalan pintas mengakhiri masalah yang dihadapinya. Seandainya pamannya mengetahui kalau dirinya sedang mengidap penyakit mematikan, mungkin detik ini juga dia sudah diusir dari rumah ini. Zara memilih diam dan membiarkan ibunya yang berdebat dengan pamannya itu.“Iya nanti kami cari kerja. Lagian rumah ini peninggalan ayah dan ibu. Aku juga ada ayah dan ibu. Jangan kamu menyuruhku untuk menambah laki-laki brengsek itu lagi,” sahut ibunya Zara mendengar ucapan kakaknya. “Terserah,” balas pria itu langsung keluar dari kamar yang ditempati adiknya dan keponakannya yang super males itu.Lama ibunya Zara terdiam, sampai akhirnya dia punya ide, “ibu akan minta modal dari Salsa. Ibu yakin dia masih mau membantu kita. Kita harus keluar dari rumah ini,” ujar sang ibu.“Terserah ibu,” balas Zara. Saat itu juga ibunya mulai bersiap-siap membuat Zara bingung, “ibu mau kemana?” tanyanya.“Mau ke kantor Abimanyu Group. Ibu akan buat
Zara masih menangis histeris dan menolak hasil laboratorium yang dibacakan oleh dokter. Dia enggak percaya kalau dirinya mengidap penyakit HIV/AIDS, penyakit mematikan yang belum ada obatnya sampai detik ini. Dia terus menangis meraung-raung, bahkan menjambak rambutnya. Suster yang ada di ruangan dokter berusaha ikut menenangkan, tapi tangisan itu terus terdengar semakin menyayat hati.Dokter paruh baya itu menatap iba ke arah pasien di hadapannya ini. Semua orang yang mendapatkan hasil kesehatan dengan virus mematikan ini pasti tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Tapi sebagai dokter yang sering menghadapi pasien yang sama, beliau dengan sabar berusaha menenangkan dan memberi penjelasan yang logis pada pasien di depannya ini.“Bu Zara, dengan Anda menangis seperti ini tidak akan mengubah apa pun. Tolong berhenti menangis biar saya bisa menjelaskan apa yang bisa Ibu lakukan ke depannya. Masih ada pengobatan yang bisa Ibu lakukan untuk menghambat perkembangan virus di tubuh Ibu,” u
“Sekolah di rumah aja ya, Pa,” bujuk si kembar.“No, sayang. Kalian harus sekolah formal,” jawab Nathan.“Tapi nanti kalau ngantuk di sekolah gimana, Pa?” Gadis kecilnya merengek pada sang papa.“Tahan dong sayang. Saat belajar nggak ada yang boleh tidur ya. Kalau sampai ada yang tidur, tidak nurut apa kata Papa Mama, dan nakal di sekolah maka Papa tidak akan pernah belikan mainan lagi!” Ancaman Nathan membuat kedua anaknya memberengut tanpa berkata apapun sebagai balasan.Setelah 30 menit berlalu akhirnya mereka sampai di sekolah baru si kembar. Untung tubuhnya bongsor, jadi orang tidak akan tahu kalau usia mereka kurang dari 6 tahun. Untung juga kekuatan sang Papa sangat luar biasa sehingga bisa membuat si kembar diterima di sekolah terbaik di negeri ini. Bayarannya tidak main-main, bahkan Nathan langsung mendaftarkan diri sebagai donatur tetap yayasan ini. “Selamat pagi dan selamat datang, Kenzi dan Kenzo,” sapa Miss Ratna, wali kelas mereka menyambut kedatangan anak didiknya.“Se
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding







