Masuk“Siapa, Pak?” tanya Raka. Wajahnya ikut menegang melihat atasannya menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.“Aditya. Dia pelaku penculikan Salsa dan dia minta tebusan dua triliun,” jawab Nathan. Tangannya mengepal sangat kuat menahan emosi yang sudah berada di ujung tanduk. Bajingan brengsek itu benar-benar tidak punya otak, beraninya menculik Salsa dalam kondisi sedang hamil.“Brengsek, dasar manusia tidak punya hati nurani! Sudah tahu Bu Salsa lagi hamil, masih saja dia memanfaatkan itu. Kalau ketemu dengan dia, saya sendiri yang meremukkan tulang belulangnya!” ucap Raka ikut terbawa emosi yang tak bisa ditahan lagi.“Kita harus segera ke kantor polisi,” perintah Nathan karena laporan polisi harus segera mereka buat agar mendapat bantuan untuk mencari keberadaan Salsa.“Baik, Pak,” jawab Raka sigap. Setibanya di kantor polisi, Nathan langsung masuk ruang unit reserse dan melaporkan kasus penculikan sang istri secara resmi lengkap dengan salinan rekaman CCTV dari rumah sakit
“Lepaskan aku, bajingan!”Teriakan Salsa menggema di ruangan sempit dan pengap itu. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan air matanya terus mengalir sejak menyadari bahwa dirinya telah diculik oleh Aditya. Kedua tangannya terikat di atas, membuat bahunya terasa nyeri karena harus terus menahan beban tubuhnya sendiri. Kakinya mulai gemetar, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan tindakan jahat Aditya.Dia benar-benar tidak menyangka Aditya akan melakukan hal sekeji ini. Laki-laki yang pernah menjadi tunangannya itu seolah sudah kehilangan akal sehat. Bahkan, dia tidak peduli bahwa Salsa sedang hamil.“Stttt! Jangan berisik!” Aditya mengisap cerutunya, lalu membuang asap ke sembarang arah. Dia sama sekali tidak peduli kalau Salsa sampai kesulitan bernapas karena asap rokoknya apalagi ruangan itu sangat pengap.“Apa maumu, hah?” teriak Salsa lagi. Dia berusaha melawan rasa takut yang terus menghantuinya. “Kenapa kamu menculikku? Apa salahku sama kamu sampai kamu mela
“Maaf, tidak ada orang yang boleh masuk ke ruangan ini tanpa izin dari direktur rumah sakit.” petugas keamanan yang berjaga di sana tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke ruang IT.“Aku anaknya Nathan Abimanyu,” pekik Alea kesal.“Saya tahu. Tapi kalau saya tidak mendapatkan perintah saya tidak berani. Sebaiknya anda segera temui direktur Rumah Sakit terlebih dahulu,” ujarnya.Alea menjambak rambutnya sendiri karena kesal. Dan saat genting seperti ini ponsel Papanya dan Raka tidak aktif. Alea benar-benar frustasi. “Tunggu di sini, Non. Kalau kita Adu mulut kayaknya sampai sore tidak akan selesai. Kami akan menemui direktur rumah sakit untuk meminta izin melihat rekaman CCTV,” ucap salah satu pengawal Salsa. “Pergilah,” sahut Alea. Gadis itu benar-benar dibuat panik. Tapi dia masih berusaha berpikir positif bahwa Mamanya dalam keadaan baik-baik saja. Setelah sepuluh menit pengawal itu pun kembali, dan disaat yang bersamaan petugas keamanan menerima telepon dari direktur rumah saki
“Coba lihat dulu ke depan, siapa tahu Mama sudah datang,” ujar Alea pada pelayan di rumahnya. Jantungnya berdebar kencang karena sang mama angkat belum pernah telat datang tanpa kabar.“Baik, Non.” Setelah pelayan meletakkan kembali telepon rumah, dia langsung berlari ke halaman depan. Pelayan itu bertanya pada pengawal dan sopir Salsa yang masih berada di rumah karena Salsa memang tidak mau dikawal ataupun diantarkan oleh sopir. Dia kalau sedang pergi dengan Alea ingin bebas pendirian dan itu sudah beberapa kali dilakukan. Nathan pun awalnya menolak permintaan istrinya yang menolak menggunakan sobek atau pengawal, tapi seperti biasa melawan ibu hamil sama dengan melawan tembok. Jadinya Nathan mengalah, asal Salsa tetap hati-hati berkendara dan hanya boleh pergi satu minggu sekali. Makanya makan berusaha untuk meluangkan waktu agar bisa pergi bareng istrinya. Karena hal yang kayak ginilah yang dia khawatirkan. “Loh, memangnya Bu Salsa di mana?” tanya pengawal panik. “Katanya harusn
“Sa–saya hanya ingin minta maaf sama almarhum,” jawab Zara gugup setelah menyadari ada seseorang di belakangnya yang menatapnya penuh curiga.“Tapi saya belum pernah melihatmu datang ke makam ini,” jawab pria itu.“Iya, benar, Pak. Saya terlambat menyadari kesalahan yang pernah saya lakukan kepada mantan ayah tiri saya. Saya tidak punya maksud apa-apa. Kalau Salsa bertanya, bilang saja yang datang Zara. Mantan adik tiri saya itu berhati lembut, dan saya yakin dia tidak akan marah,” jawab Zara.Pria itu adalah penjaga makam yang digaji di atas UMR oleh Nathan untuk menjaga makam kedua mertuanya. Siapa pun yang datang ke makam itu pasti dilaporkan oleh penjaga makam ini kepada Nathan. Belum lagi, setiap kali Salsa atau anggota keluarga Abimanyu lainnya datang ke makam ini, pria itu pasti mendapatkan bonus yang cukup besar. Bahkan, jika ditotal dalam sebulan, bonus itu melebihi gajinya. Itulah yang membuatnya selalu melaporkan orang-orang yang datang berziarah ke makam tersebut.“Saya pe
“Wah, rumahnya bagus sekali, Bu,” ucap Zara takjub. Meskipun tadi Zara sempat dimarahi oleh pamannya karena kembali melawan setelah dihina habis-habisan oleh istri pamannya, tapi hari ini dia dan sang ibu akan hidup nyaman di rumah baru yang sempit ini.“Ya, kan? Walaupun nggak sebagus rumah dari Pak Tua itu, setidaknya rumah ini sangat layak kita huni. Ayo, masuk. Kamu harus lihat kamarmu sendiri,” ucap sang ibu.Mereka berdua pun masuk lebih jauh ke dalam rumah dan ternyata semua furniturnya lengkap. Rumah ini benar-benar layak untuk ditempati. Bahkan, di setiap kamarnya sudah disediakan AC oleh ibunya. Di ruang tamu juga ada AC. Rumah subsidi ini jadi terlihat naik kelas.“Ya Tuhan, terima kasih, ya Tuhan. Akhirnya Ibu bisa beli rumah. Setidaknya, dalam masa pengobatanku nanti, aku tidak perlu memikirkan harus bekerja,” ucap Zara pada dirinya sendiri.Dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang sambil memeluk guling. Air matanya kembali menetes karena tidak pernah menyangka pen
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa







