Mag-log inSuara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang.
Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jika hari ini adalah hari yang akan membuat seluruh kehidupannya berubah. Pintu di ujung sana perlahan terbuka. Cahaya mulai masuk dan para tamu undangan sibuk mencari tahu sosok cantik yang akan menjadi pengantin hari ini. Pintu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan sosok gadis yang berbalut gaun indah dengan tangan menggandeng sang Ayah, Evander. Untuk pertama kali, Rosélia menyaksikan senyum di wajah Ayahnya untuknya, anggap saja begitu. Keduanya berjalan ke arah altar, pelan namun pasti. Maverick di ujung sana menyipitkan matanya saat melihat ada yang salah di balik wedding veil. Bukan kekasihnya, bukan Valerie yang Evander antarkan. Tiba-tiba ada seorang pria mendekat pada Maverick. Dia membisikkan sesuatu yang berhasil membuat kedua bola mata Maverick membulat. Tubuhnya bergetar kecil dan kedua tangannya mengepal kuat. Namun, dia paksakan senyum itu tetap mengembang untuk hindari kecurigaan tamu undangan. Mulai ada suara bisik-bisik ringan yan tersamarkan oleh suara musik. “Cantik sekali…” Beberapa orang di antara tamu undangan terkagum-kagum dengan kecantikan Rosélia. “Loh, bukannya itu seniman yang punya banyak pencapaian itu? Rosélia, kan?” Mereka sebagaian familiar dengan pengantin wanita. Tidak heran, karyanya dimana-mana. Selain itu, Rosélia kerap mengisi seminar, mungkin beberapa dari mereka pernah jadi pesertanya. “Tunggu dulu, bukan Valerie? Aku pikir Valerie yang selama ini sudah menjalin hubungan dengan Maverick. Kenapa jadi Rosélia?” Begitulah kurang lebih bisik-bisik yang terdengar ditengah musik sakral yang menggema. Begitu tiba di depan altar, Evander menyerahkan Rosélia pada Maverick kemudian Maverick terima dengan baik. Berbagai rangkaian acara dilakukan. Hingga tiba saatnya pada momen janji pernikahan. Baik Rosélia maupun Maverick sama-sama mengikuti ucapan pendeta dimana mereka berjanji di hadapan Tuhan bahwa keduanya menerima masing-masing sebagai pasangan, berjanji untuk mengasihi, menyayangi dalam suka maupun duka serta tetap menjadi satu-satunya. Tak lupa, mereka saling bertukar cincin, hingga pemberkatan pernikahan disampaikan oleh sang pendeta. "Apa yang telah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Mulai detik ini saya meneguhkan bahwa kalian berdua adalah sepasang suami istri yang sah. Tuhan memberkati dan melindungimu dari sekarang sampai selama-lamanya. Amin." Tatapan tajam Maverick hampir menghunus jantung Rosélia. Manik itu menyimpan rasa kesal dan benci yang begitu mendalam. Rosélia juga menatap Maverick, namun lebih tenang daripada pria itu. Pemberkatan selesai, pendeta kembali bersuara. "Mempelai pria diperbolehkan mencium mempelai wanita," ucapnya. Saat itulah Maverick harus siap dengan kenyataan jika dia akan melihat wajah Rosélia lebih jelas. Tangan pria itu terangkat untuk menyibak wedding veil. Sementara pandangan Rosélia teramat sendu menunduk tajam tak berani mendongak. "Angkat wajahmu," bisik Maverick cukup untuk didengar Rosélia. Gadis itu menunduk bukan hanya karena malu, tapi juga berusaha menyembunyikan genangan air di matanya. Namun, akhirnya Roselia mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Maverick. Maverick perlahan mengikis jarak di antara mereka. Tangan kirinya melingkar sempurna di pinggang Roselia sementara tangan kanannya menelusup di antara leher dan pipinya. Tubuh Roselia meremang dan agak terlonjak dengan sentuhan itu. Namun, dia berusaha untuk menormalkan ekspresinya. Bilah ranum itu perlahan saling mendekat. Riuh tamu undangan menjadi pertanda jika keduanya sudah bersentuhan. Sedikit lama, mata mereka saling memandang dan jauh dari dugaan Rosélia, Maverick menggigit bibirnya cukup keras hingga membuat gadis itu mengaduh. Rosélia spontan mendorong dada Maverick meminta penyatuan itu dilepaskan. Setelahnya Roselia tersenyum pada tamu undangan seolah menandakan jika dirinya bahagia. * Pesta pernikahan dilakukan dengan meriah setelahnya seperti berdansa, menikmati jamuan dan sebagainya. Roselia tak menyangka, ternyata venue pernikahan yang dia dekor sedemikian rupa adalah untuknya. Ditatapnya hamparan manusia yang ada di sekitarnya. Dia tak sepenuhnya kenal, tapi dia yakin semua adalah orang penting. "Selamat ya, atas pernikahan kalian," salah satu kolega bisnis Evander dan beberapa pimpinan perusahaan kenalan Maverick datang memberikan ucapan selamat. Roselia tetap berusaha tenang, elegan dan berbicara sesopan mungkin. "Terima kasih atas kedatangan Anda, Nyonya. Selamat menikmati jamuan dan juga dekorasi yang memanjakan Anda, Nyonya." Setelahnya, Roselia melepaskan jabatan tangan mereka. Seperti itu seterusnya. Di sampingnya Maverick juga melakukan hal yang sama. Tersenyum, seolah ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Mereka juga beberapa kali melakukan sesi foto dengan tamu yang menginginkannya. Dan khusus tamu VIP dan VVIP mereka melakukan fotor resmi. Seorang pria seusia Evander datang juga untuk memberikan ucapan selamat. Kali ini, Roselia mengenalinya. Damien Rothwel, seorang Ketua Dewan datang langsung menghadiri pernikahan mereka sudah menggambarkan seberapa berpengaruhnya kedua keluarga yang hari ini telah dipersatukan itu. "Selamat atas pernikahan kalian, Tuan dan Nyonya Ashbourne," ucapnya dengan ramah. "Terima kasih banyak, Tuan Damien. Suatu kehormatan dihadiri Anda secara langsung di pernikahan kami," jawab Roselia mengambil alih. "Bukan hal yang istimewa," kekehnya. Pembicaraan mereka lebih lama dari yang dibayangkan. Bahkan Maverick mulai membicarakan rencananya untuk membuat sebuah resort di sekitar pantai. "Oh itu sangat menarik. Jangan lupakan sempadan pantainya, Tuan Ashbourne," kekehnya. "Ah tentu saja saya sudah berkonsultasi dan sudah mendapatkan jarak aman untuk membangun resort di sana. Lokasinya sudah strategis untuk menarik wisatawan internasional," jawabnya. "Betul, lokasi sudah sangat mendukung karena orang tidak datang hanya untuk tidur di kamar mahal, tapi mereka juga membeli pengalaman," timpal Roselia. Ketua Dewan mengalihkan atensinya, dia tertarik dengan pembicaraan Roselia. "Seperti?" tanya Damien. "Untuk pembangunan, kita juga harus memperhatikan pencahayaan terutama cahaya matahari, aroma sampai karya seni di lobby yang tentu saja akan mempengaruhi perasaan tamu." Roselia menjelaskan dengan detail. "Tim desain menginginkan nuansa luxury seperti resort-resort di luar negeri," timpal Maverick. "Kalau begitu, apa yang membuat resortmu berbeda dengan yang lain? Menurutku memanfaatkan seni dan budaya lokal akan sangat menarik. Para wisatawan akan penasaran dan mereka datang. Setelah datang, mereka merasa nyaman dan mereka akan datang untuk yang kedua kali dan seterusnya. Lokasi di tepi pantai juga bisa menjadi ide desain memadukan seni budaya lokal dengan elemen alam yang ada di pantai." Damien tersenyum terlihat sangat tertarik dengan apa yang diucapkan Roselia. "Nyonya Ashbourne ternyata sangat memahami seni modern," ucapnya. "Hanya kebetulan saya bekerja di bidang itu," jawab Roselia. "Dan juga rendah hati." Damien kembali menjawab. Pembicaraan mereka diakhiri dengan tawa mereka yang seakan puas dengan pembahasannya. “Tuan Damien, terima kasih atas kehadirannya.” Edric datang dari arah belakang mereka, menjabat tangan Damien. “Edric, kamu beruntung sekali mendapatkan menantu sepertinya. Selain cantik, dia juga kompeten dan cakap,” pujinya. Edrick tersenyum berterima kasih kembali atas pujiannya. “Oke, Edric, Tuan dan Nyonya Ashbourne maaf aku tidak akan lama. Lain waktu kita berbincang lagi, ya,” pamitnya. Dalam hatinya, Edrick merasa puas. Dia memiliki jalan untuk mewujudkan keinginannya. “Rosélia, lain kali kamu ikut denganku ke pertemuan-pertemuan,” ucap Edric. Rosélia bingung. “Untuk apa?” “Ingat, kamu di sini menggantikan posisi Valerie. Jika Valerie yang ada di sini sekarang, dia akan langsung mengiyakan tanpa menolak. Jadi, jika kamu tak ingin aku mengadu pada Evander, patuhi saja keinginanku,” ucap Edric.Tiga hari kemarin Maverick menghabiskan waktunya di Zurich. Cukup banyak pengalaman dan hal baru yang dia dapatkan. Dan hari ini untuk dua hari ke depan, dia akan menghabiskan waktu di Basel. Dia datang ke sebuah kompleks bangunan modern. Dinding-inding kaca, baja dan beton membentuk garis-garis tegak yang tampak sederhana tapi memiliki karekter kuat. Bangunan unik berbentuk geometris.Di sana, Maverick mempelajari inovasi salah satunya bentuk bangunan. Selain itu Maverick juga mempelajari efisiensi yang dapat dia lihat dari hampir tidak ada lampu yang menyala karena pencahayaan alami dari skylight di langit-langit.Maverick tak sendirian, dia di sana bersama dengan Felix, seorang CEO perusahaan konstruksi yang sudah banyak membangun bangunan-bangunan unik dan mewah di Swiss.Ketiganya akhirnya tiba di atap gedung yang hampir dipenuhi dengan panel surya."Tidak salah aku datang ke sini. Terima kasih atas bantuanmu. Aku harap aku tidak merepotkanmu," ucap Maverick."Tentu saja tidak.
Setelah lima tahun berlalu, persaingan pasar properti belakangan menjadi semakin ketat. Banyak perusahaan properti baru yang sudah berkembang pesat.Banyaknya karyawan muda di perusahaan tersebut membuat Ashbourne Holdings sedikit tertinggal karena sebagian besar desain dan konsep yang mereka miliki bisa dibilang kuno dan tidak kekinian.Beberapa minggu ini Maverick memutar otak untuk mengubah konsep mereka menjadi lebih unik namun tetap memiliki identitas sebagai Ashbourne Holdings. Berulang kali dia menulis konsep baru, kemudian menghapusnya lagi saat dirasa tidak sesuai. Terus seperti itu hingga dia berkunjung ke Atelier De Rosélia.Salah satu lukisan milik Rosélia berhasil mendatangkan ide pada Maverick. Sebuah lukisan bangunan klasik yang bersanding dengan panorama senja di sebuah padang rumput hijau."Mungkin aku harus bepergian agar bisa mendapatkan inspirasi lebih banyak," desisnya. "Bangunan klasik…" sambungnya. Matanya berbinar seolah dia mendapatkan ide. Pria itu bergegas
“Elodie ganti bajunya ya. Mom akan siapkan makan siang,” ucap Rosélia begitu mereka tiba di rumah.Gadis kecil itu tak banyak membantah. Dia berjalan menuju kamarnya dengan tas kecil di gendongannya.Sesekali dia berbalik mengkhawatirkan sang ibu. Namun tak ingin membantah, Elodie memilih mengganti bajunya dulu sebelum nanti menghampiri Rosélia.Sementara itu, sepeninggalan Elodie, tubuh Rosélia luruh. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang terletak di depan jendela. Rasanya dia tak sanggup berjalan lebih jauh. Tangannya meraih pitcher kaca dan menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas meja di hadapannya.Tangannya begitu gemetar saat melakukannya. Ingatannya kembali ke masa lalu. Dia pernah merasakannya. Kekerasan yang bukan hanya secara verbal tapi juga fisik.“Maverick,” desisnya.Nama yang sudah lama tidak dia panggil, sudah lama tidak keluar dari mulutnta dan nama yang berhasil menghancurkan hidupnya dengan sempurna, akhirnya detik ini dia kembali mengucapkannya setelah meli
“Siapa Ayah Elodie, Mom?” Pertanyaan itu terus saja terngiang dalam ingatannya. Saat itu, Rosélia sama sekali tak bisa menjawab, dia hanya diam seribu bahasa.Beruntung, Cordelia cepat mengalihkan perhatian anak itu dan mengajaknya untuk segera pergi ke sekolah.“Jangan terlalu di pikirkan. Dia juga akan lupa nanti,” ucap Bastian. Dia tahu jika Rosélia tak fokus karena pertanyaan anaknya beberapa jam lalu.Saat ini, Rosélia tengah duduk menghadap kanvas dan pemandangan pegunungan di balik jendela. Indah, namun keindahan itu sempat teralihkan sesaat oleh pikirannya Rosélia tersadar oleh ucapan Bastian. Lantas dia tersenyum simpul dan mengangguk sebagai balasan.“Mau jalan-jalan hari ini? Mumpung aku libur?” ajak Bastian.“Boleh, mau ke mana?” Rosélia sangat beruntung. Bastian selalu ada di sisinya sejak dulu. Tak pernah pergi meski beberapa kali Rosélia menolak ajakannya untuk menjalin kasih.“Kita cari galeri yang belum pernah kita kunjungi,” jawab Bastian. Dan Bastian selalu tahu
Beberapa bulan terakhir, perasaan Rosélia terasa begitu tak enak. Hubungannya yang baru seumur jagung dengan Bastian entah mengapa membuat Rosélia merasa begitu bersalah pada pria itu.Sekitar empat bulan lalu, akhirnya Rosélia mengiyakan ajakan Bastian untuk menjalin kasih, setelah permintaan itu datang dari Bastian bertahun-tahun lamanya. Saat itu Bastian bahagia bukan main karena akhirnya Rosélia bisa menjadi miliknya. Belum seutuhnya, tapi setidaknya mereka sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.Rosélia berusaha, berusaha memberikan hatinya seutuhnya hanya untuk Bastian.Setelah lamunan singkat dibersamai dengan suasana sejuk di pagi hari, Rosélia kembali fokus pada kegiatannya. Dia kembali menyiapkan sarapan untuk Bastian dan Elodie."Selamat pagi," sapa Bastian. Seperti biasa, pria itu sudah mandi. Namun kali ini dia tidak mengenakan snelly dan pakaian kerjanya. Dia hanya berpakaian santai."Pagi," jawab Rosélia menoleh sejenak sebelum kemudian dia kembali pada sarapanny
Lima tahun kemudian…Interlaken menyambut dengan ketenangan yang terasa asing bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk kota. Hamparan padang rumput hijau membentang disela bangunan yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Di kejauhan, puncak Jungfrau yang diselimuti salju berdiri anggun.Sungai dengan air sebening kristal. Permukaannya memantulkan langit Swiss yang bersih tanpa cela. Denting lonceng yang berpadu dengan suara kereta yang melintas seolah lagu yang berbisik syahdu di telinga.Orang-orang berjalan santai, beberapa menggayuh sepeda dan sebagian duduk di kafe atau di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi hangat.Seperti seorang wanita yang tersenyum manis dengan secangkir kopi di tangannya, sementara itu tatapan hangatnya begitu fokus pada seorang gadis kecil dengan rambut terurai. Gadis kecil itu berlarian mengejar seekor kupu-kupu di halaman rumah. Di bagian sudut kanan rumah terdapat pohon cukup besar dilengkapi dengan ayunan tempat lain gadis itu berm
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or







