Share

Chapter 02

last update publish date: 2026-05-18 20:19:34

Jejak air mata masih terlihat samar di pipi Rosélia. Tatapannya kosong, kakinya melangkah memasuki sebuah gedung yang belakangan menjadi tempatnya bernaung.

Kosong, dingin dan sunyi. Hanya ada gema dari sepatu yang bertabrakan dengan granit. Di sudut ruangan luas itu ada sebuah kamar yang dia jadikan tempat terlelap.

Sebenarnya tak sepenuhnya kosong, beberapa lukisan terpasang di dinding ber-cat ivory. Bukan milik orang lain, itu buah dari rasa sakitnya yang dia tuangkan menjadi sebuah karya. Tak penuh, tapi Rosélia berusaha membuatnya penuh suatu saat nanti.

Wanita itu membersihkan diri, menyapu sisa-sisa sesak yang ada di dadanya dan kembali pada kewajibannya. 

Rapat pameran yang akan dilaksanakan besok membuatnya harus menyiapkan beberapa materi untuk dibahas dan didiskusikan. Seberapa dalam pun rasa sakit yang dia rasakan, dia tidak bisa mengabaikan pekerjaannya.

Nexus Art Atrium, salah satu galeri besar di Ibukota. Di sanalah pameran akan dilaksanakan sekitar satu bulan dari sekarang.

Di salah satu ruangan di sana, sudah berkumpul orang-orang penting di balik pameran besar yang akan dilaksanakan. Salah satunya adalah Rosélia. 

Ketua Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi, itulah posisinya dengan beberapa anggota yang ada di bawahnya.

Rapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Setiap Divisi memaparkan konsep mereka termasuk Divisi Rosélia. 

“Divisi Hubungan Masyarakat?” tanya Ketua Penyelenggara. 

“Izin menyampaikan konsep yang sebelumnya sudah kami susun, Mbak.” Rosélia mengambil alih forum setelah mendapatkan persetujuan dari Iren, Ketua Penyelenggara. 

“Acara akan dilaksanakan sekitar satu bulan lagi. Di minggu ini, kami akan mulai dengan mengunggah teaser dan juga tanggal pelaksanaa di media sosial. Itu efektif untuk membuat orang-orang penasaran dengan apa yang akan diselenggarakan. H-3 minggu baru kami akan merilis poster resmi yang mana sudah tertera judul, lokasi dan daftar seniman di dalamnya. Di minggu yang sama, bertahap kami juga akan mempublikasi profil seniman dan menjelaskan tentang garis besar tema pameran. Pada H-2 sampai H-1 minggu kami akan disibukan dengan press release, kami akan mengirimkan materi lengkap ke para media untuk dipublikasi. Kemudian mengirimkan undangan kepada para tamu VVIP dan juga kurator dan terakhir memberikan informasi tentang panduan pengunjung. Selain itu, di hari-H kami akan melakukan live report dan  me-repost unggahan pengunjung lain untuk menarik lebih banyak peminat.”

Caranya menyampaikan materi sangat lembut, mengalir dan mudah dimengerti. Komunikasi lewat mata juga sangat berpengaruh, dan itu membuat semua orang yang ada di sana hanya memfokuskan diri mereka pada Roselia.

“Oke, Rosé. Untuk press release nanti, aku harap kamu bisa berkomunikasi dengan media dari jauh-jauh hari agar nanti lebih mudah untuk langsung memberikan materi,” saran Iren.

“Baik, Mbak. Kami akan mulai berkomunikasi dengan mereka secepatnya.” 

Begitulah Rosélia dengan kemampuan berkomunikasi yang membuat orang-orang kagum.

Cukup lama mereka melakukan pertemuan. Setelahnya, Rosélia kembali ke kampus. Satu jam lagi dia harus memberikan materi di kelas. 

Rosélia termasuk salah satu dosen yang menginspirasi mahasiswa dan mahasiswinya. Tak jarang dari mereka yang bahkan menyebut Rosélia sebagai ‘idola’ mereka.

Sangat dihormati dan disegani, itulah Rosélia di luar rumah. Ironisnya,di tempat yang disebut rumah, dia tidak pernah mendapatkannya.

“Selamat siang, Bu.” Sedari Rosélia turun dari mobilnya, sapaan itu tak pernah surut sama sekali. Dia selalu menjawabnya dengan ramah dibumbui dengan senyuman tipis di wajahnya.

Rosélia langsung menuju kelas. Para mahasiswa dan mahasiswi sudah berada di tenpatnya. Ada juga yang baru masuk setelah lima menit kelas dimulai.

Kelasnya tak terlalu lama, hanya dua jam sudah cukup untuk memberikan materi. Begitu Rosélia keluar dari kelas, beberapa mahasiswa dan mahasiswi mulai membicarakannya.

“Dia sangat sempurna,” ucapnya seorang gadis berkaca mata. Iris hitamnya belum lepas dari sosok Rosélia yang berjalan menjauh, begitu pun teman di sampingnya.

“Ya, aku yakin Tuan Evander sangat bangga punya putri seperti dia. Tidak ada cela satupun padanya,” jawab gadis satunya.

“Hanya satu yang belum dia miliki.”

Gadis berambut panjang itu menoleh, menunggu temannya melanjutkan ucapannya.

“Pasangan. Dia harus memiliki pasangan yang setara dengannya. Demi Tuhan, aku akan jadi orang pertama yang marah jika pasangannya tidak setara dengannya. Secara, selain karena dia seseorang yang memiliki banyak pencapaian, dia juga putri dari Evander Deveraux. Siapa yang tidak tahu pemilik Deveraux Medical Center itu?”

Begitulah cara orang memandangnya, cara dunia menilainya. Seorang pewaris Deveraux Medical Center yang tak pernah memiliki cela sedikitpun dalam hidupnya.

** 

Lagi-lagi, Rosélia harus menginjakkan kakinya di rumah ini. Telponnya kembali berdering sejak dia keluar dari kelas tadi. 

Kali ini Valerie yang menelponnya langsung dan mengatakan dengan sangat manja jika dirinya merindukan masakan sang kakak.

Begitu tiba di kediaman Deveraux, matanya langsung menangkap sosok Valeri dengan kekasihnya, Maverick. Seorang CEO Ashbourne Holdings sekaligus pewaris tunggal dari perusahaan property itu. 

Roselia tak langsung masuk saat telinganya mendengar sesuatu yang janggal. Dia hanya mengintip tipis dari balik pintu.

“Kakak sepertinya tidak terlalu menyukaiku. Mungkin karena aku sakit-sakitan dan selalu menyusahkannya.” Valeri berkata sambil bergelendot manja pada Maverick. Ucapannya sangat manja dan lirih seolah dia adalah korban.

Pria itu sesekali menyuapi apel yang sudah dikupas dan dipotongnya. 

“Dia tidak seharusnya melakukan itu. Toh bukan kamu yang mau sakit. Dia benar-benar kekanakan,” respon Maverick.

Valerie mengangguk pelan. “Aku juga tidak tahu kapan Kakak akan menyayangiku.”

Maverick menyimpan piring kecil dan juga garpunya. Diraihnya tubuh Valerie ke dalam pelukannya. Rambutnya dia usap lembut berharap memberikan ketenangan.

“Dia bukan satu-satunya orang yang ada dalam hidupmu. Jika dia tak bisa berikan kasih sayangnya, maka aku yang akan melakukannya. Cukup aku yang menyayangimu dan hatimu akan penuh dengan kebahagiaan,” jawab Maverick.

Semua itu tak luput dari pendengaran Rosélia. Gadis itu memberanikan diri berjalan masuk dengan deheman kecil berusaha memberikan isyarat jika ada orang lain di sana.

Berhasil, Valerie melerai pelukan mereka. Senyumnya merekah sebelum kemudian bangun dari posisinya.

“Kakak!” serunya dengan ceria.

Valerie mendekati Rosélia dan memeluknya dengan erat. Rosélia hanya membiarkannya, tidak menolak, tidak juga memberikan pelukan balik. Selain tidak mau, kedua tangannya juga sibuk dengan kantong belanjaannya.

Valerie melepaskan pelukannya. “Kakak udah belanja? Aku kira bakal ke rumah dulu dan nanti kita belanja bareng,” rengek Valerie memasang wajah sedihnya.

Masih tak ada jawaban dari Rosélia. Dia hanya diam membisu, namun tatapannya pada Valerie sudah menggambarkan semuanya. Tajam, penuh tanya dan rasa kecewa.

“Dia berbicara padamu. Kamu tak ada niat untuk menjawabnya?” Suara bariton menggema di seluruh penjuru ruangan. Saat itulah pandangan Roselia teralihkan. Cukup lama tatapannya bersirobok dengan mata sehitam jelaga milik Maverick.

“Aku akan memasak. Bukannya Valerine mau makan udang hari ini? Udang bumbu yang katanya hanya bisa dimasak olehku, dan kalau tidak aku masak maka Valerie tidak akan makan?” ucapnya sambil melangkah santai menuju dapur.

“Yeayyyy! Sekalian buatkan aku klapetart ya, Kak! Aku hanya mau makan dessert itu juga. Boleh ya? Masakanmu enak!”

“Tidak bisa, tidak ada kelapa disini.”

“Lalu apa gunanya mobil? Kamu bisa pergi lagi?” 

Rose menghela napasnya dalam, bahkan kekasih adiknya ini menganggapnya sebagai pelayan, sama seperti anggota keluarganya yang lain. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 08

    “Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status