MasukRosélia masih terdiam menunggu respon Valerie. Namun sepersekian detik kemudian adiknya itu menghela nafas panjang, dia mengangkat pandangannya dan tersenyum tulus pada Rosélia.Saat Valerie menggelengkan kepalanya, Rosélia sempat menahan nafasnya sesaat. “Kakak tidak perlu izinku. Maverick sudah menentukan pilihannya. Dan kami… kami sudah selesai sejak lama. Mungkin sebelum Kak Rosé kembali,” jawabnya. Jauh dalam lubuk hati Valerie, dia masih menyayangi pria itu. Pria yang dulu menjadikannya prioritas nomor satu, pria yang selalu menyayangi dan juga meratukannya.Tapi setelah tragedi mengerikan yang Valerie alami, gadis itu tak lagi terobsesi dengan Maverick. Dia cukup tahu diri untuk tidak bermimpi hidup dengan Maverick. Dia wanita kotor, bahkan pernah mengandung anak haram dari para bajingan itu. Itu sebabnya, rasanya Rosélia lebih pantas bersanding dengan Maverick dibandingkan dirinya.“Aku juga berhutang maaf padamu, Vale,” sesal Rosélia.Valerie mengernyit. Berapa kali pun dia
Ada banyak sekali rasa yang singgah di hatinya begitu dia melihat Valerie di hadapannya. Marah, sedih, kasihan dan kosong."Valerie, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap perawat yang mengantar Rosélia bertemu dengan Valerie.Valerie mendongak menatapnya. "Tidak, aku tidak ingin bertemu siapapun," jawabnya masih tenang meski nafasnya sudah mulai memburu dan dadanya naik turun."Val." Rosélia memanggil ketika sudah mendekat.Fokus Valerie teralihkan. Matanya membulat sempurna saat dia melihat siapa yang datang. Valerie menatapnya cukup lama."Kak Rosé?"Suara itu terdengar ragu. Oleh karena itu, Rosélia tak langsung menjawabnya.Selama bertahun-tahun Rosélia pernah membayangkan pertemuan dengan Valerie. Dalam sebagian bayangannya, dia ingin matah, dalam bagian lainnya Rosélia ingin sekali mengatakan semha hal hang selama ini dia pendam.Namun sekarang, ketika dia benar-benar bertemu dengan Valerie, tidak ada satu pun kalimat itu yang keluar."Iya, ini aku, Val." Hanya empat kata itu a
“Dia menikah lagi. Tak lama setelah tragedi Valerie itu, Viviane tak bisa Ayah ajak hidu sederhana. Dia memilih pergi dan menikah lagi dengan pengusaha sukses meninggalkan Ayah dan Valerie.”Rosélia tahu, ada orang yang meski telah diberikan ujian separah apapun tak akan berubah. Dan dalam hidupnya, orang itu adalah Viviane.“Mommy!” Suara tinggi dari kejauhan membuat fokus Rosélia teralihkan. Dia tersenyum saat melihat putrinya memanggil dan berlari kecil ke arahnya diikuti oleh Maverick di belakang gadis itu.Begitu tiba di sana, mata Elodie menatap Evander begitu dalam. Namun Elodie masih betah memeluk paha Rosélia.“Ini Kakek, Mom?” desisnya.Rosélia tersenyum. “Iya, Sayang. Perkenalkan dirimu dulu.” Rosélia mendekatkan Elodie pada Evander.“Halo, Kakek. Ini Elodie,” ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.Mata Evander berlinang. “Hai, Elodie. Namamu cantik, seperti wajahmu. Boleh panggil Kakek lagi?” pinta Evander.“Kakek?”Akhirnya air mata Evander jatuh begitu suara lembut itu
Matahari begitu terik, seolah mendukung apa yang hendak dilakukan Rosélia hari ini. Tidak terlalu pagi, belum juga terlalu siang, Rosélia dan Elodie ditemani Maverick sudah keluar dari penthouse.Pakaian santai yang nyaman menjadi pilihannya hari ini mengingat banyak tempat yang akan mereka kunjungi.“Kita akan ke mana dulu? Aku siap menjadi sopirmu hari ini,” canda Maverick. Mereka sudah berada di dalam mobil dengan mesin yang baru saja dinyalakan.“Ayah. Aku ingin bertemu Ayah. Tapi aku sama sekali tak tahu di mana dia tinggal atau bekerja sekarang,” jawab Rosélia. Karena dia baru memiliki keinginan bertemu orang-orang di masa lalunya malam tadi, dia tidak sempat mencari tahu di mana orang-orang itu menetap sekarang.“Kamu meragukanku? Tentu saja aku sudah menyiapkan semuanya,” jawab Maverick angkuh.Rosélia menatap pria itu tak percaya sampai akhirnya Maverick mengambil tab di jok belakang mobilnya, tepat di samping Elodie.Maverick memperlihatkan jika dia tidak sedang bercanda de
Hubungan Maverick dan Rosélia mulai terasa berbeda, bukan lagi seperti pasangan yang sedang berusaha memperbaiki pernikahan yang rusak. Tapi mereka seperti dua orang yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengenal satu sama lain dari awal.Sejak Rosélia setuju menjatuhkan Maverick sebagai tujuannya, gadis itu sudah menimbang dengan segala resiko yang akan dia tanggung jika dia kembali menerima Maverick salah satunya adalah kembali menetap di Indonesia.“Biarkan aku yang mengurusnya, Maver,” tawar Rosélia.Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu dengan Rosélia yang bersandar pada dada bidang Maverick. Jemari lentiknya memainkan jari besar Maverick.“Aku tahu, kita akan melakukannya bersama nanti. Tapi tak salah kita mulai dari sekarang untuk hal-hal kecil yang tak terlalu memerlukan keberadaan kita di sana. Maksudku apapun selain dokumen-dokumen,” jelas Maverick.Awalnya, Maverick hendak mengurus kepindahan Rosélia sendiri. Dia hanya tinggal layangkan perintah dan semuanya beres. Na
Beberapa hari setelah kondisi Maverick pulih, pria itu tiba-tiba mengajaknya pergi saat hari mulai gelap. “Ke mana? Elodie belum pulang, bagaimana kita bisa pergi. Kita tunggu Elodie dulu ya,” tawar Rosélia.Penthouse Maverick sudah kembali menjadi tempat tinggalnya saat ini. Saat dia mengiyakan permintaan Maverick di rumah sakit, Maverick meminta agar Rosélia kembali tinggal di sana. Dengan berbagai bujuk dan rayuan akhirnya gadis itu setuju dan di sinilah mereka sekarang.“Cordelia akan menjaganya. Aku sudah meminta bantuannya. Ayolah, aku ingin kencan denganmu,” mohon Maverick.Terasa geli ketika dia mendengar kalimat itu dari Maverick. Bukan geli yang seperti itu, hanya seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya.“Jangan gunakan kata kencan. Usia kita sudah tidak pantas dengan kata itu,” jawab Rosélia.“Ah apapun itu. Ayolah…” Kali ini Maverick bahkan mengeluarkan rengekannya.Rosélia terkekeh. “Baiklah-baiklah. Ke mana kita akan pergi?” Rosélia bertanya sembari beranjak dari
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he







