MasukDua orang gadis berjalan beringan dengan bahagianya. Canda tawa terus saja mengalir sepanjang perjalanan tadi. Jangan lupakan gadis kecil yang juga ikut tertawa di antara mereka.Sementara itu, di belakang mereka ada seorang pria yang terus berjalan mengikuti mereka berjarak kurang lebih satu meter. Wajahnya tertekuk sedih. Namun meski begitu, dia tetap ikut. Dia sudah setuju dengan aturan yang dibuat istrinya jika dia ingin ikut.Satu dari tiga gadis itu menoleh setelah tiba di depan ruang USG. “Kamu mau ikut ke dalam?” tanya Rosélia.Meski dia harus menahan mual jika Maverick ikut, tapi dia tidak bisa egois dengan tidak membiarkan ayah dari anak yang ada dalam perutnya tidak mengetahui perkembangan bayinya.“Boleh?” tanya Maverick ragu. “Jika akan membuatmu mual atau aromaku tak sedap, tidak apa, aku menunggu di luar saja. Sebagai gantinya, Delia yang akan menemanimu,” sambung Maverick. Yang utama baginya, tetap kenyamanan Rosélia.“Tak apa, aku akan berusaha menahannya. Sebenarny
Satu tahun kemudian…Atelier de Rosélia berkembang dengan pesat apalagi setelah kembalinya Rosélia. Bukan hanya galeri yang berjalan di sana, tapi juga kelas lukis.Rosélia turun tangan sebagai guru lukis dan sekarang dia dibantu oleh personal asistennya, Rosa.Belum lama Rosa bergabung, terhitung satu tahun lamanya, tepatnya tak lama setelah pernikahan Maverick dan Rosélia berlangsung.“Kelas hari ini cukup sekian. Besok kita akan bertemu di jam yang sama.” Rosélia menutup pertemuan hari ini. Semua muridnya balik kanan membubarkan diri.Kini, tinggal dirinya dan Rosa yang ada di dalam ruangan itu.“Setelah membereskan ruangan ini, kamu bisa pulang lebih awal, Rosa,” ucap Rosélia.“Tapi, Bu, bukankah sore ini ada janji temu dengan dokter kandungan?” “Hmm, aku akan ke sana bersama dengan Cordelia. Jadi kamu bisa pulang,” jawab Rosélia.“Tapi Tuan bilang–”“Tidak, tidak. Aku akan pergi bersama Cordelia!” Tidak membentak, tapi nada bicaranya sedikit lebih tinggi.Tanpa menghiraukan asis
Kehidupan tepat seperti ini yang pernah Rosélia impikan. Keluarga penuh tawa beranggotakan dirinya, suaminya dan juga anaknya.Pemandangan di depannya membuatnya begitu terharu. Jika akhir pekan kemarin mereka menghabiskan waktu di alam, maka akhir pekan ini mereka menghabiskan waktu di rumah.Mata Rosélia sama sekali tak berpaling dari pemandangan Maverick yang sedang mengajari Elodie berhitung. Senyum di wajahnya mengembang lebar kala beberapa kali Elodie salah membacanya.“Ah susah, Ayah,” rengeknya. Sudah lebih dari lima belas menit lalu Elodie meminta berhenti belajar, namun Maverick sama sekali tidak memberinya izin. Pasalnya, mereka baru sekitar delapan menit belajar.“Bisa, Ayah yakin Elodie bisa,” ucap Maverick memberikan semangat.Meski hendak menangis, Elodie masih melanjutkan kegiatannya. Dia memandang setiap angka yang seolah melayang di atas buku itu, berusaha fokus agar dia bisa melakukannya sehingga bisa cepat menyelesaikan kegiatan belajarnya ini.“Tiga ditambah lima
Rosélia sama sekali tak pernah mengira jika dirinya akan ada di masa dia kembali ke tanah kelahirannya, bukan untuk singgah, melainkan menetap. Semua dokumen yang diperlukan, sudah Maverick urus jauh sebelum mereka menikah lagi. Meski Rosélia mengatakan ingin mengurusnya sendiri, tapi tentu saja ada campur tangan Maverick di dalamnya. Termasuk pindahan sekolah Elodie. Pada akhirnya Rosélia tak jadi mengurusnya sendiri.Di sinilah dia sekarang, pagi pertama di penthouse yang enam tahun lalu pernah menjadi tempat bernama rumah untuknya. Tak ada sama sekali yang berbeda selain… pagi ini dia melihat pemandangan wajah suaminya yang masih terlelap.Bibir Rosélia tertarik, dia tersenyum manis memandangi wajah tampan yang akhirnya bisa menjadi miliknya itu. Bukan satu atau dua menit, dia memandanginya sejak lima belas menit lalu, tepatnya begitu dia membuka matanya.“Bukannya kamu harus tidur lagi? Apakah semalam tidak melelahkan?” Suara serak khas bangun tidur itu mengejutkan Rosélia. Pasal
Hanya perlu waktu satu bulan untuk Maverick menyiapkan acara pernikahan mereka. Rosélia mengetahui, gadis itu juga dilibatkan, tapi bukan untuk mengurus semuanya, melainkan sebagai orang yang ikut serta memilih konsep pernikahan mereka.Pesta pernikahan mereka enam tahun lalu sama sekali bukan tipe pernikahan yang disukai Rosélia sebenarnya. Wajar, karena awalnya pernikahan itu memang bukan miliknya.Dan sekarang, setelah enam tahun berlalu, akhirnya Rosélia bisa menentukan pesta seperti apa yang dia inginkan. Venue pernikahan itu berdiri tepat di bibir pantai, di sebuah area privat yang sengaja disiapkan untuk menyambut hari istimewa mereka.Sebuah altar berdiri menghadap laut dihiasi dengan kain berwarna gading dan juga mawar putih. Tidak ada yang berlebihan, semua terasa cocok pada tempatnya. Beralaskan pasir yang menuju langsung ke altar, pun dengan bunga-bunga di bagian pinggirnya membentuk sebuah jalan lurus.Beberapa bangku disusun rapi menghadap altar. Tidak banyak. Hanya be
Rosélia masih terdiam menunggu respon Valerie. Namun sepersekian detik kemudian adiknya itu menghela nafas panjang, dia mengangkat pandangannya dan tersenyum tulus pada Rosélia.Saat Valerie menggelengkan kepalanya, Rosélia sempat menahan nafasnya sesaat. “Kakak tidak perlu izinku. Maverick sudah menentukan pilihannya. Dan kami… kami sudah selesai sejak lama. Mungkin sebelum Kak Rosé kembali,” jawabnya. Jauh dalam lubuk hati Valerie, dia masih menyayangi pria itu. Pria yang dulu menjadikannya prioritas nomor satu, pria yang selalu menyayangi dan juga meratukannya.Tapi setelah tragedi mengerikan yang Valerie alami, gadis itu tak lagi terobsesi dengan Maverick. Dia cukup tahu diri untuk tidak bermimpi hidup dengan Maverick. Dia wanita kotor, bahkan pernah mengandung anak haram dari para bajingan itu. Itu sebabnya, rasanya Rosélia lebih pantas bersanding dengan Maverick dibandingkan dirinya.“Aku juga berhutang maaf padamu, Vale,” sesal Rosélia.Valerie mengernyit. Berapa kali pun dia
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik







