LOGIN“Mommy, ini di mana?” Pertanyaan singkat itu yang keluar pertama kali dari bibir Elodie. Gadis kecil itu sudah bertanya beberapa kali sejak Rosélia mulai memasukan beberapa baju mereka ke dalam koper.Namun Rosélia hanya terus menjawab, “nanti Elodie akan tahu ketika kita sudah sampai di sana.” Jadi Elodie hanya menunggu ketika mereka telah tiba di tempat tujuan.Dan saat ini, disinilah mereka. Di sebuah kamar hotel mewah dengan pemandangan kota yang bisa mereka lihat dari ketinggian kamar itu. Lantas, Elodie sudah tahu di mana mereka? Tidak. Maka dari itu dia kembali bertanya.Rosélia terdiam beberapa saat sembari membuka koper mereka.“Jakarta. Kita ada di Jakarta, Indonesia,” jawab Rosélia pada akhirnya.Elodie mengernyit, dia belum paham kenapa Rosélia membawanya ke sana.“Kenapa kita ke sini?”“Mommy ada acara beberapa hari di sini.” Rosélia kembali menjawab. Awalnya, Elodie hendak bertanya lebih lanjut, namun melihat raut wajah Rosélia yang kurang bersahabat, akhirnya dia mengu
Jika kalian berpikir hanya Rosélia yang bimbang tentang undangan itu, maka kalian salah. Maverick, setelah pria itu melihat dan tahu tentang undangan itu, di sela kegiatannya Maverick selalu memikirkannya.Dalam benaknya, Maverick berterima kasih pada orang yang sudah mengundang Rosélia. Dia juga berharap Rosélia akan mengambil kesempatan itu, bukan hanya karena Maverick ingin Rosélia kembali ke Jakarta, tapi Maverick juga ingin nama Rosélia kembali muncul di dunia seni, bukan sebagai anonim tapi sebagai seorang Rosélia.Maka, setelah Maverick menidurkan Elodie, dia menghampiri Rosélia yang juga sedang berada di depan kanvas yang belum sempurna itu.“Rosé…” panggil Maverick.Panggilan itu membuat Rosélia menghentikan goresan kuas di kanvas sebelum kemudian dia berbalik.“Ah lanjutkanlah, aku hanya ingin melihatmu melukis dan sedikit berbincang,” ucapnya.Lantas, seperti yang dikatakan Maverick, Rosélia kembali pada lukisannya, dia tidak terganggu sama sekali sampai suara Maverick kemb
Nadira tersenyum tipis."Seorang kolektor yang melihat karya Anda di salah satu pameran di Jakarta. Dan kebetulan dia tidak meminta namanya disebut. Dia hanya mengatakan satu hal," jawab Nadira tenang."Apa itu?" Rosélia kembali bertanya berharap jawaban Nadira selanjutnya bisa menjadi petunjuk baginya untuk tahu siapa kolektor yang dimaksud Nadira."Katanya kamu pelukis yang unik. Kamu jarang melukis wajah, melainkan lebih sering melukis jejak rasa yang ditinggalkan manusia setelah pergi." Nadira menyampaikan apa adanya sesuai yang dia dengar dari kurator itu.Dada Rosélia terasa sesak. Dia tak pernah menyampaikan makna dari lukisannya secara gamblang, tapi siapa sangka ada yang mengerti maksudnya.Gadis itu menunduk memandang palet kayu di dalam kotak premium."Kenapa saya harus datang ke Jakarta?""Karena kami tidak ingin sekedar membeli karya Anda. Kami ingin memberi ruang bagi Anda untuk menentukan bagaimana karya-karya itu dilihat. Anda tentu saja boleh tetap anonim. Bahkan nama
Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sedikit sesak. Dia menatap Maverick beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Maverick sama sekali tidak mencoba membuat Rosélia terkesan. Dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan, seolah-olah menemukan dunia baru ketika Rosélia sudah tidak lagi berada di sisinya."Kamu belajar melukis?" tanya Rosélia pada akhirnya.Maverick mengangguk kecil. "Sebenarnya tidak bisa disebut belajar. Aku hanya mencoba memahami kenapa kamu bisa duduk berjam-jam untuk membuat sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak berarti," jawabnya.Rosélia seakan tersadar, dia membuang pandangannya dari Maverick. Gadis itu hanya membalas ucapan Maverick dengan hening.Sementara Maverick masih fokus memperhatikan gadis itu dan tersenyum tipis.Angin berhembus melewati pepohonan. Beberapa helai rambut Rosélia terlepas dari ikatannya dan jatuh ke sisi wajah.Gadis itu mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi sebuah helai justru malah semakin berantakan. Entah
Setengah hari yang dia gunakan untuk berbicara dengan Tuan Owen tidak sia-sia. Maverick bukan hanya membawa proposal yang sudah ditandatangan dan disetujui, tapi juga membawa relasi yang mungkin bisa dikatakan lebih dari sekedar rekan kerja.Dengan perasaan yang sudah lebih tenang, Maverick kembali ke rumah. Tak lama, hanya berganti pakaian sebelum kemudian dia keluar lagi. Tentu saja tanpa James karena kali ini Maverick keluar bukan untuk bekerja melainkan bersenang-senang. Mobilnya berhenti di depan pagar rumah Rosélia. Setelah memastikan mobilnya tidak menghalangi jalan, pria itu lekas keluar dan berjalan konstan menuju rumah Rosélia.Dia menatap pintu kayu yang ada di hadapannya sebelum kemudian mengetuknya. Satu kali, dua kali tak ada yang membukanya. Baru di ketukan ketiga, pintu mulai terbuka dan Rosélia ada di hadapannya.“Hai,” sapa Maverick agak canggung.“Masuklah, aku sedang mengepang rambutnya,” jawab Rosélia sambil mempersilahkan Maverick masuk. Pria itu mengangguk dan
Maverick baru kembali setelah matahari hampir terbenam. Dia benar-benar menghabiskan waktunya bersama Elodie dan itu bukan hal yang sia-sia baginya.Maverick sedikit membanting badannya di sofa ruang tamu. Pria itu bersandar dengan kepala menengadah. Matanya terpejam dan helaan nafas berat terakhir yang terdengar dalam keheningan.“Tuan, saya sudah boleh berbicara?” James datang untuk melaporkan jadwal pagi hari tadi.“Hmm, katakanlah,” jawabnya meski dengan mata yang masih terpejam, lebih tepatnya Maverick tak sedikit pun mengubah posisinya.“Seperti yang kita prediksi, Tuan Owen membatalkannya dan sekarang tim sedang kebingungan mencari solusinya,” James langsung menjelaskan pada poinnya.Namun tak seperti dirinya, Maverick terlihat tenang bahkan ketika dia kehilangan suntikan dana yang mungkin nominalnya akan sangat besar.“Sudah menghubungi pihak Tuan Owen untuk melakukan penjadwalan ulang meeting kita?” tanya Maverick.“Sudah beberapa kali, dan jawaban dari mereka tetap sama, tid
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or







