ログインBangunan-bangunan bersejarah menjulang anggun di tepi Sungai Thames. Jalanan dipenuhi dengan langkan manusia dari berbagai bangsa menciptakan harmoni budaya yang hidup di penjuru kota. Saat senja tiba,lampu-lampu kota memberikan kesal elegan dan megah.Di tengah rasa asing yang Rosélia rasakan, bersemayam rasa lega, tenang dan damai. Rasanya kali pertama dia merasakannya setelah sekian lama. Dan ironisnya, dia merasakannya di tanah orang, bukan di tanah kelahirannya.Rosélia mulai percaya jika rumah bukan tempat di mana dia tinggal selama ini, tapi di mana dia merasa nyaman ketika berada di sana. Dan di sinilah rumah Rosélia. Jauh dari keluarganya, jauh dari orang-orang yang seharusnya menjadi tempat pulang, tetapi justru menjadi sumber sebagian besar luka dalam hidupnya."Hari kedua dan aku merasa sangat nyaman," ucap Rosélia seraya menghirup udara segar sedalam-dalamnya.Dua hari di negeri orang tak terlalu banyak kegiatan yang Ros&e
Tepat saat itu juga, saat hatinya teriris dan perasaannya tersakiti, Rosélia pulang ke penthouse. Bukan untuk istirahat ataupun menetap, tapi untuk meninggalkan. Dia mengeluarkan kopernya, dimasukan hampir seluruh pakaian dan peralatan lain miliknya.Jangan lupakan paspor dan juga dokumen lain yang dia perlukan untuk keberangkatannya. Keputusan Rosélia bulat, dia akan pergi sekarang juga. Tanpa ada yang tahu, dan tentu saja meninggalkan segala konsekuensi yang tak akan dia tanggung lagi.Saat suasana penthouse sepi, tak ada mata, tak ada perhatian dan tak ada yang tahu jika lelahnya membawa gadis itu menjauh tak terjangkau oleh orang-orang terdekatnya.“Pak, saya berangkat sekarang ke sana. Untuk dokumen lain yang diperlukan, akan saya kerjakan di sana begitu juga dengan karya yang akan saya serahkan.” Benda pipih pintar itu masih tertempel di telinga kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk memutar kunci mobil yang akan dia gunakan menuju bandara.“Kenapa mendadak, Rosélia?” tanya se
Usai pertengkaran yang cukup intens semalam, hari ini Rosélia menghabiskan waktu liburnya di galeri. Undangan untuk ikut serta dalam pameran di London, membuat Rosélia sibuk mempersiapkan karya terbaiknya. Meski waktunya sangat mendadak, tapi dengan berbekal kemampuan dan juga keyakinan, Rosélia pasti bisa. Sejak pagi tadi, dia sama sekali tak mengubah posisinya. Kanvas yang sebagian sudah penuh dengan cat akrilik itu perlahan kehilangan warna putihnya. Hanya warna dasar yang baru nampak, tapi sudah sedikit tergambar apa yang dia buat. Warna pertama yang dia bubuhkan adalah putih dengan goresan yang lebih gelap mendominasi seperti coklat dan juga hitam. Yang baru nampak, seperti ruangan gelap dengan sedikit sekali cahaya di dalamnya. Di tengah sibuknya, suara langkah yang begitu cepat menghampirinya disusul dengan pintu yang terbuka begitu mendadak dan cukup keras. "Kak Rosé." Rosélia sangat mengenali suara itu. Suara yang selalu dibuat lembut dan manja di hadapan keluarganya dan
Acara telah selesai. Selepas mengantarkan Valerie pulang, Maverick kembali ke tengah acara, mengutarakan permohonan maaf karena acara yang sedang mereka laksanakan sedikit terganggu. "Tidak apa, Tuan Maverick. Kalian sangat manis, jarang-jarang ada yang akrab dengan iparnya," jawab seseorang yang mendapatkan tatapan bingung dari Maverick. Namun, setelah mendapatkan kode dari Rosélia, Maverick akhirnya mengangguk dan tersenyum."Ah terima kasih atas pengertian kalian," jawab Maverick.Satu persatu tamu undangan berpamitan hingga menyisakan Maverick, Rosélia, Edrick dan Jericho, sopir Edric.Pria paruh baya itu membuka jasnya dengan terburu-buru, napasnya memburu dan di saat yang bersamaan dia lembar jas miliknya itu ke atas meja."Ceroboh kalian! Bagaimana bisa Valerie datang di tengah acara seperti itu? Dalam kondisi mabuk pula!" teriaknya. Dengan dada yang masih naik turun, Edric mendudukan dirinya di kursi, mencoba menenangkan diri dari kejadian yang membuatnya sangat emosi."Aku m
Perasaannya kadang membaik seperti ini. Rosélia bisa sedikit tenang setelah rencana perceraiannya dengan Maverick sama sekali tak mendapatkan lampu hijau dari sang mertua. Setidaknya saat ini dia sedikit memiliki kekuatan untuk mengklaim Maverick sebagai miliknya.Acara perusahaan yang diadakan hari ini membuat Rosélia terpaksa absen dari kampusnya. Tak ada teguran atau peringatan apapu mengingat Ashbourne merupakan salah satu donatur terbesar di kampus itu.Lain dengan Rosélia yang sibuk mempersiapkan pakaian dan lainnya untuk acara sore nanti, Maverick malah menghabiskan waktu dengan Valerie di luar sana. Bukan keinginannya, tapi keinginan Valerie. Jika gadis itu sudah meminta apalagi dengan nada manjanya, maka Maverick tak sanggup untuk menolak."Tak bisakah aku ikut juga, hm?" tanya Valerie. Pertanyaan itu bukan untuk yang pertama kalinya keluar dari ranum Valerie. Sejak tadi sudah berkali-kali Maverick mendengar pertanyaan yang sama."Tidak bisa. Ini acara perusahaan, dan mereka
Jika boleh jujur, Rosélia sangat lelah. Lelah ketika raganya diombang-ambing ke sana ke mari tapi bukan untuk kepentingannya. Tubuhnya berkali-kali tumbang, sudah mencapai batasnya.Cairan merah kental itu kerap kali mengalir bebas dari hidungnya. Hanya saja… dia diam.Setelah pertemuan dengan keluarga Maverick kemarin, ada sebagian hati Rosélia merasa lega, tapi dilain sisi justru gundah.Tawaran pameran yang telah dia sepakati, tak akan pernah dia batalkan. Dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.Bersamaan dengan itu, rupanya masalahnya tak hanya sampai di sana.“Iya?” Tangan kanannya mendekatkan ponsel ke telinga. Agak malas, tapi jika tidak mengangkat, dia akan dimarahi habis-habisan lagi. Evander yang menelpon.“Pulang sekarang juga!” Baru saja mobil Rosélia hendak berbelok ke kiri, ke arah penthouse Maverick tentu saja. Gadis itu malah harus berganti arah, ke kanan.“Aku dalam perjalanan.” Setelahnya, Rosélia menutup panggilan.Sepanjang perjalanan, Rosélia hanya sibuk
Tuntutan pekerjaan memaksa Maverick sembuh lebih cepat. Dua hari setelah dokter memperbolehkannya pulang, pria itu memaksa masuk kerja meski Rosélia dengan lugas melarangnya. Namun, tentu saja Rosélia tak memiliki kendali lebih untuk melarang Maverick. Dia hanya bisa mengingatkan, sisanya biar menj
Di luar prediksi, ternyata semesta menginginkan Maverick beristirahat lebih lama. Terhitung satu minggu dia terbaring di ranjang rumah sakit yang sempit. Meski dia menempati ruang rawat VVIP, namun tetap saja tidak senyaman ranjang king size-nya di penthouse.Selama satu minggu itu pula Rosélia ser
Pintu kaca buram terbuka. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu begitu hening. Hanya dihiasi aroma obat-obatan yang menyeruak memaksa masuk ke indra penciuman seorang gadis yang baru saja masuk. Gadis itu, Rosélia berjalan mendekati sebuah ranjang rumah sakit di mana Maverick terbaring di san
Setelan berwarna abu telah melekat sempurna di tubuhnya. Rambut terikat yang masih berantakan, tangan kanan membawa tas jinjingnya dan tangan kiri sibuk dengan ponselnya.Setelah memasukan ponsel ke dalam tas, Rosélia melepas kuciran di rambutnya, menyisirnya singkat hanya agar rambutnya terlihat r







