LOGIN
“Mas, ahh….”
Nindi mendesah nikmat ketika Daffa, suaminya memainkan dua aset kembarnya dengan lihai. Tak hanya itu saja, bibir Daffa pun tak henti-hentinya mencium leher sang istri dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Malam ini, Nindi berniat menyambut kepulangan Daffa dari perjalanan bisnisnya di China. Namun, penerbangan sang suami tertunda lima jam membuat Nindi ketiduran.
Nindi yang tertidur pulas pun langsung tersadar saat mendapati sang suami menindih tubuhnya dan menyentuhnya begitu liar.
“Mas, umm, kamu udah sampe dari tadi? Ahh….” Nindi bertanya sembari mendesah kecil. Tangan Daffa tak mau lepas dari dadanya, bahkan justru menelusup memasuki gaun tipisnya.
“Aku sangat lapar, Sayang,” bisik Daffa parau.
“Kebetulan aku udah masak, Mas. Tapi makanannya pasti udah dingin. Biar aku panasin dulu.”
Daffa mengunci tubuh Nindi yang hendak bangkit. Ia tatap Nindi penuh gairah. “Aku tidak meminta makanan yang itu.”
Nindi akhirnya paham. Ia tersenyum malu dan mempersilakan suaminya menjamah tubuhnya.
Daffa mencium tiap inci wajahnya lalu memandangnya kagum. “Kamu cantik sekali. Aku merindukanmu.”
“Aku juga merindukanmu, Mas.”
Nindi melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. Terlintas rasa khawatir di benaknya melihat wajah Daffa banjir pelu, tatapan yang berkabut, dan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Bahkan Nindi merasakan napas Daffa begitu pendek. Sampai akhirnya Nindi menyadari telah terjadi sesuatu pada suaminya.
“Mas, apa yang terjadi padamu? Apa kamu meminum sesuatu?” tanya Nindi cemas. “Mas, sebaiknya ka—"
Kalimat Nindi terpotong karena Daffa tiba-tiba melumat bibirnya dengan rakus. Lidah suaminya itu memaksa masuk, menguasai mulut Nindi sepenuhnya.
Gaun tipis merah menyala yang digunakan oleh Nindi membuat Daffa semakin liar. Ia menjelajahi seluruh tubuh sang istri, seolah tidak tahan lagi menahan hasrat.
Tak menunggu lama, Daffa dengan cepatnya melepas gaun sang istri. Kulit Nindi yang putih dan mulus menghipnotisnya. Ia benar-benar tak bisa mengendalikan diri. Diciumnya semua permukaan kulit itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Ughhh…. Mas, ahh, pelan-pelan!” Nindi merintih tatkala Daffa menghentak tubuhnya terburu-buru.
Daffa tidak menghiraukan rintihan Nindi yang memintanya untuk berhenti. Ia terus memompa dirinya memasuki tubuh Nindi lebih dalam. Tempo permainannya sangat kasar membuat Nindi hampir menangis.
“Sebentar lagi aku keluar.” Daffa semakin mempercepat goyangannya. Satu tangannya mencengkeram tangan Nindi, satunya lagi mencekik leher sang istri, membuat Nindi kehabisan napas.
Akhirnya Daffa menyemburkan cairan cintanya ke dalam rahim sang istri.
Nindi langsung mendorong tubuh Daffa menjauh dan mengambil napas sebanyak-banyaknya.
“I-ini… ini bukan kamu, Mas! Apa yang telah terjadi padamu?!” tanya Nindi di sela napasnya yang terengah-engah.
Raut wajahnya terlihat kecewa atas permainan kasar Daffa malam ini. Di sisi lain, ia juga bingung dan bertanya-tanya kenapa Daffa mendadak agresif. Ini bukan gaya suaminya! Daffa biasanya memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta.
Namun, Daffa tak lantas menjawab. Ia justru memejamkan mata.
Nindi langsung membelalak tak percaya. “Kamu tidur?!”
Ia mendesah kesal. Bisa-bisanya Daffa tertidur pulas tanpa menjawab pertanyaannya. Tapi sedetik kemudian, ia melunak dengan sendirinya saat melihat wajah suaminya yang sudah terlelap.
“Huh … Kamu pasti capek banget ya, Mas?” Nindi berucap sembari mengusap lembut wajah Daffa, menghapus keringat di keningnya.
Nindi menatap wajah Daffa cukup lama. Banyak hal yang mengganggu pikirannya setelah Daffa bersikap agresif di ranjang. Namun semuanya sirna saat melihat wajah Daffa yang kelelahan.
Ini pasti pengaruh perjalanan bisnis yang panjang, membuat Daffa setress dan melampiaskannya di ranjang dengan agresif.
***
Tak terasa jam yang sudah menunjukkan pukul lima subuh, Nindi langsung bergegas bangkit dari ranjang dan bersiap memulai hari.
Nindia Rahayu adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta. Ia hanya tinggal berdua bersama Daffa Wijaya, pria yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun. Mereka telah menjalin hubungan belasan tahun lamanya, sejak SMP.
Daffa sendiri juga adalah pria yang super sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO Zenith Corp, perusahaan yang baru berdiri tiga tahun dan dalam masa pengembangan.
“Mas, kamu nggak ngantor?” Nindi mencoba membangunkan suaminya setelah satu jam berlalu. Ia sendiri sudah rapi dan siap untuk bekerja.
Daffa tidak merespon. Tubuhnya masih bergelung di bawah selimut tebal.
“Bangun, Mas! Ntar telat kerja loh!” Nindi masih berusaha membangunkan suaminya. “Aku udah buatin kamu sarapan. Keburu dingin, Mas! Ayo bangun!”
Nindi menghela napas kala Daffa tak kunjung membuka mata. Tatapannya lalu beralih ke barang-barang bawaan Daffa selama perjalanan bisnis kemarin. Karena masih ada waktu, Nindi pun membereskannya.
“Huh, Mas Daffa, Mas Daffa! Kebiasaan deh kamu! Baju kotor kok digabung sama yang masih bersih?” gerutu Nindi saat membuka koper suaminya.
Nindi mulai membongkar isi koper. Satu per satu baju kotor Daffa diambilnya untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesuatu yang asing di antara tumpukan baju.
Mata Nindi membulat terkejut kala melihat benda itu.
Sebuah celana dalam perempuan.
Bukan miliknya.
Nindi mengambil celana dalam itu, raut wajahnya langsung berubah serius. Kecurigaan mulai menggerogoti pikirannya. Ia menoleh ke arah Daffa yang masih pulas, lalu bergumam pelan dalam hati.
“Ini… celana siapa? Jangan-jangan Mas Daffa….”
Hai, selamat datang di novelku yang kedua ya. Enjoy ya gaes. Boleh mampir di novelku yang lain juga. Cek profil.
Daffa langsung menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa.” Atensinya pun langsung beralih pada Arkana."Aduh, jagoan Papa makannya lahap sekali ya," goda Daffa, mencondongkan badan untuk mencium kening Arkana. "Lihat, Ma, dia senang sekali dibelikan biskuit baru."Wilona tersenyum, senyum yang terasa sedikit kaku. "Tentu saja. Dia senang karena biskuit itu kita belikan dari hasil keringatmu, Daffa. Bukan dari uang hasil merampas."Mendengar kata-kata itu, Daffa terdiam. Ia tahu Wilona masih memendam amarah atas kunjungan Nindi kemarin. Ia meletakkan sendoknya, meraih tangan Wilona yang bebas."Aku tau kamu masih marah, Wil, karena Nindi kemarin," kata Daffa pelan. "Tapi kita sudah sepakat, kan? Kita gak akan membiarkan mereka merusak kedamaian kita. Biarlah mereka hidup bahagia, dan kita pun harus fokus pada kebahagiaan kita juga.”Wilona menarik tangannya perlahan, kembali fokus pada Arkana. "Aku gak marah, Daffa. Aku hanya... memikirkan biaya hidup kita. Kau harus kembali ke pasar sebentar
Malam harinya, Daffa dan Wilona berbaring di kasur tipis mereka. Arkana sudah tertidur pulas di antara keduanya.Tak lama, Daffa pun ikut ke alam mimpi, ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di pasar.Namun, Wilona tidak bisa memejamkan mata. Otaknya terus memutar kembali setiap ucapan Nindi: “Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang.” dan “Kami ingin kalian melihat bagaimana rasanya menjadi pemenang.”Darah Wilona kembali mendidih. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang mereka alami.Ia teringat bagaimana Nindi dan Rexa bekerja sama menjebak Baskara, ayahnya, dan bagaimana mereka mencuri semua aset perusahaan milik Daffa, Zenith Corp.Dendam yang selama ini ia tahan, yang ia pendam demi kebahagiaan sederhana, kini meledak kembali. Mereka berhak menderita, pikir Wilona.Wilona pun perlahan bangkit dari kasur, bergerak hati-hati agar tidak membangunkan Daffa. Ia lalu menyelinap keluar dari kamar, menuju kamar kecil Nanik yang ber
“Wah, jadi ini ya rumah baru kalian? Selamat ya,” sapa Nindi dengan nada merendahkan, menyapu pandangan ke kontrakan kecil itu. Ia menatap Daffa, yang mengenakan kaus oblong lusuh, lalu ke Wilona yang sedang menggendong bayi mereka. "Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang. Sangat... membumi."Darah Wilona terasa mendidih. Ia ingin sekali menjambak rambut Nindi, melampiaskan semua rasa sakit, pengkhianatan, dan penghinaan yang telah ia dan ayahnya alami. Namun, tatapan mata Daffa, yang berdiri di sampingnya, menyampaikan sebuah peringatan dingin.Daffa menggelengkan kepalanya sedikit, isyarat tanpa suara, mengingatkannya bahwa mereka tidak punya kuasa apa-apa lagi untuk melawan.Wilona menarik napas tajam, menahan semua amarah itu di balik ekspresi datarnya. "Mau apa kau kemari, Nindi?""Aku ingin mengantarkan undangan pernikahan." Nindi menyerahkan amplop itu ke tangan Daffa. "Kami tau kalian ingin melihatnya. Rexa dan aku mengundang kalian untuk menjadi saks
Sementara itu, di belahan lain, Nindi dan Rexa tenggelam dalam kesibukan persiapan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.Di salah satu suite mewah hotel bintang lima di Jakarta, Nindi duduk di sofa beludru, jarinya mengetuk-ngetuk layar tablet, menyempurnakan daftar tamu.Di sudut ruangan, Rexa, calon suami Nindi, tengah bertelepon dengan pihak catering dan WO, ingin memastikan dekorasi aula besar sudah sesuai dengan tema mewah yang Nindi inginkan.Rexa terlihat tegang, tetapi bahagia. Ia akhirnya akan mengikat janji dengan Nindi, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari perusahaan Zenith Corp yang sudah Nindi pegang."Rexa! Sini sebentar," panggil Nindi tanpa mengalihkan pandangan dari tablet.Rexa segera menghampiri, duduk di sebelah Nindi. "Ada apa, Sayang? Sudah final untuk bunga mawar putihnya?""Bunga sudah beres, sudah pasti yang paling mahal dan paling segar. Ini tentang daftar tamu," kata Nindi, menyunggingkan senyum tipis. "Ada satu nama lagi yang
"Dia tau kalau Papanya kini wangi kopi dan keringat, bukan wangi parfum mahal lagi," balas Daffa, mencium pipi Arkana yang gembil. "Begini jauh lebih jujur, Wil. Kebahagiaan kita gak lagi perlu dibeli."Setelah selesai, Arkana dibungkus handuk dan dibawa ke kamar. Daffa dengan cekatan memakaikan popok dan pakaian pada putranya, sementara Wilona bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Dapur kontrakan itu sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang bergerak leluasa. Wilona sedang mengiris tipis tempe dan bawang putih untuk memasak orak-arik tempe— menu andalan mereka karena murah dan bergizi.Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkari pinggang Wilona dari belakang. Daffa menyandarkan dagunya di bahu Wilona, menghirup aroma masakan yang bercampur dengan aroma minyak kayu putih dari bahu Wilona."Wanginya enak sekali," bisik Daffa, suaranya serak. "Aku jadi lapar.""Jangan peluk-peluk, Daffa. Tubuhku kotor," ujar Wilona, tersenyum kecil."Aku gak peduli," Daffa mengeratkan pelukannya
Beberapa bulan berlalu. Daffa dan Wilona bertahan hidup dengan menjual sisa perabotan kecil di rumah peristirahatan, sementara dunia sibuk menyorot skandal korupsi terbesar tahun ini.Tibalah hari yang menentukan. Daffa dan Wilona, bersama Nanik yang didorong di kursi roda, duduk di ruang tengah. Mereka menatap layar televisi 14 inci yang bersemut, menyaksikan siaran langsung pembacaan vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.Hakim Ketua membacakan putusan untuk terdakwa pertama: Baskara Hadikusuma.Udara di ruangan itu terasa berat."Menimbang seluruh alat bukti, keterangan saksi, dan pengakuan, Majelis Hakim menyatakan Terdakwa Baskara Hadikusuma terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut, serta tindak pidana pencucian uang, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2







