Share

Bab 04

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-04-15 21:15:03

Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar.

"Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.

Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak pelan, membuka pintu kamar dan keluar dengan langkah ragunya. Tubuh Agnira terdiam, menatap pintu di depannya dengan sorot ketakutan.

Piyama satin yang ia kenakan jatuh perlahan mengikuti lekuk tubuhnya, berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih itu. Tali kecil melilit leher jenjangnya, membentuk ikatan pita tipis yang sekali tarik bisa terlepas begitu saja.

Agnira menarik napas dalam dan memejamkan mata untuk kesekian kali, mencoba terus meyakinkan diri bahwa apa yang ia lakukan tidaklah salah. Tangannya terayun pelan, mengetuk pintu hitam di depannya perlahan.

"Masuk."

Suara barinton dari dalam menggema samar, membuat degup jantung Agnira berpacu lebih cepat. Pintu terbuka. Agnira melangkah masuk ke dalam, suara kecil dari lonceng di lehernya berdenting pelan. Sambara mengangkat padangan saat Agnira masih terdiam di pintu masuk kamar.

"Kemarilah," ucap Sambara, memberi perintah.

Tangan Agnira terkepal erat. Keringat halus terlihat di sekitar keningnya. Udara kamar yang terasa dingin tiba-tiba menghangat seiring dengan langkah Agnira yang kian mendekat.

Sambara tersenyum puas melihat penampilan istrinya. Pria itu terlihat duduk diam di sisi jendela. Angin malam menelusup masuk melewati celah jendela, mengibarkan tirai putih yang membuat seluitnya terhalang samar.

Satu tegukan wine melewati tenggorakan Sambara, mengantarkan rasa panas yang membakar tubuhnya. Dia berdiri dan melangkah, mencoba mengikis jarak.

"Sangat manis," ujar Sambara ringan. Tangannya terangkat pelan, menyentuh rambut Agnira dan membelainya pelan.

Sentuhan itu membuat tubuh Agnira menegang. Namun ia tidak bisa mundur lagi, keputusan sudah ia ambil. Kepala Agnira perlahan terangkat, bertemu dengan sorot tajam Sambara yang sulit ditebak.

"Apa kamu takut?" tanya Sambara rendah, jemarinya kini turun menyusuri pipi Agnira lembut.

Agnira tidak bisa menjawab. Bibirnya terasa kelu, dia tidak ingin umpatan yang bersarang dalam dadanya keluar begitu saja. Tangan Agnira yang semula terkepal mulai melemas, dia harus bisa tenang agar malam ini terlewat dengan cepat.

Sambara mendekat, menyisakan jarak yang nyaris tidak ada. Matanya melirik kecil pada gundukan kenyal yang berada di bawah matanya, begitu pas dan tentunya pantas ia mainkan.

"Tenang saja," bisik Sambara pelan, napasnya hangat berhembus di telinga Agnira, membuat buku kuduk Agnira berdiri perlahan. "Aku tidak akan menyakiti dirimu."

Pria itu kembali membuat jarak. Namun kali ini tangan besarnya menyentuh pergelangan tangan Agnira, menuntun wanita itu ke sisi ranjang. Sambara terduduk lebih dulu, membuat Agnira lebih leluasa menatap wajah tampan di depannya.

"Mulailah dan buat aku senang," ujar Sambara, memberi lagi perintah.

Agnira menarik napas dalam. Tangannya kembali terkepal saat perintah itu terucap. Kaki Agnira melangkah lebih dekat, berdiri di antara kedua kaki Sambara yang terbuka lebar. Jemari lentik itu dengan ragu menyentuh bahu Sambara, mengantarkan rasa aneh yang membuat mata pria itu terpejam.

"Lakukan." Sekali lagi, Sambara membuat perintah, seolah dia sudah tidak sabar untuk mengobrak abrik diri Agnira.

"Kau yang memintanya," bisik Agnira, setelah sekian waktu terdiam. Wanita itu lebih mendekat, aroma parfum yang dia kenakan membuat Sambara melayang.

Tubuh wanita itu mulai merosot perlahan, terduduk pelan di antara paha Sambara. Jemarinya bergerak mengukir sesuatu di atas dada bidang pria itu, gerakannya tidak terburu, tetapi cukup membuat Sambara merasakan panas yang terasa aneh.

Sambara meraih jemari Agnira dengan cepat. "Jangan terus bermain-main, Agnira. Saya tidak sesabar itu untuk menunggumu melakukannya," kata Sambara, mata tajam itu terlihat sayu dengan kabut gairah yang tertahan.

Agnira terdiam sesaat, napasnya terasa tercekat oleh nada suara Sambara yang berubah dalam. Dia menelan ludah pelan dan menarik napas dalam.

"Sabarlah, aku hanya sedang mencari momen saja," bisik Agnira, pelan dan nyaris tidak terdengar.

Sambara memejamkan mata saat jemari Agnira kembali menyentuh lehernya. Kali ini dia tidak dapat menahan segalanya. Dengan cepat tubuh Agnira melayang dan terlempar ke atas ranjang.

Wanita itu memekik pelan. Namun tidak sampai di sana, tubuh kokoh Sambara tiba-tiba menindihnya membuat Agnira terdiam dan sulit bernapas.

"Biar aku tunjukan cara bermain di atas ranjang," bisik Sambara, suaranya berhembus hangat dan membuat Agnira benar-benar terdiam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 09

    "Mau apa Anda kemari?" tanya Agnira dingin. Tatapannya menajam saat pria di depannya mendekat.Pria itu tersenyum semakin lebar, "Apa lagi, tentu saja menjemputmu."Tangan Agnira terkepal kuat, ia lupa jika di dalam hidupnya ada dua pria menyebalkan. Satu Sambara dan satu lagi Arjuna. Pria tengil biang masalah, salah satu ketua gangster dan renternir gila.Dia datang pasti dengan maksud yang tidak masuk akal, kaki Agnira otomatis mundur perlahan. Bukan takut melainkan tidak sudi bila jemari kasar itu menyentuhnya."Jangan mendekatiku!" sentak Agnira kencang.Kenan yang melihat atasannya merasa terancam dengan cepat menjadi garda terdepan, dia berdiri di depan tubuh Agnira dan berusaha melindungi atasannya. Walaupun di dalam hati nyalinya sudah menciut dan menguap entah kemana.Beberapa pria yang duduk di atas motor mulai turun, mereka berdiri di belakang Arjuna dengan tatapan tajam dan garang. Kenan menelan ludahnya dengan susah payah, tetapi ia tidak bisa membiarkan orang-orang ini m

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 08

    Agnira keluar dari kamar mandi masih dalam gendongan Sambara. Tubuhnya sudah terasa lebih segar, dibalut kemeja milik pria itu yang kebesaran di tubuh mungilnya. Lengannya melingkar lemah di leher Sambara."Aku mau ke kamar," ucap Agnira, dingin.Sambara tidak menjawab. Namun langkahnya berbelok, keluar dari kamar pribadinya dan menuju pintu bercat putih di seberang.Pintu terbuka.Aroma lavender langsung menyambut, lembut dan menenangkan–berbanding terbalik dengan kamar Sambara yang gelap dan pekat. Kamar Agnira didominasi warna putih, bersih, rapi, tanpa cela.Sambara menurunkan Agnira perlahan ke atas ranjang. Tanpa banyak bicara, ia merapikan rambut wanita itu, menatapnya sekilas, lalu berbalik pergi.Tidak ada ucapan, tidak ada kalimat lainnya, hanya hening tanpa suara. Seolah kedekatan semalam tidak pernah terjadi.Dering ponsel memecah keheningan. Agnira meraih benda itu dengan cepat. Beberapa panggilan tak terjawab memenuhi layar–puluhan, sejak semalam.Ia langsung mengangkat.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 07

    Pagi datang terlalu cepat. Semilir angin menyusup dari celah jendela, menggerakkan tirai hitam yang sejak semalam tertutup rapat. Aroma sisa kehangatan masih tertinggal di dalam kamar, meninggalkan jejak jelas bahwa sesuatu telah terjadi di sana.Sambara menjadi orang pertama yang membuka mata. Ia bergerak pelan, melirik ke arah Agnira yang masih terlelap. Wanita itu tampak damai, seolah tidak ada yang berubah, seolah malam tadi hanyalah mimpi yang tidak nyata."Sial ... aku menginginkannya lagi," bisik Sambara, lirih.Ia menarik selimut, menutup tubuh Agnira yang terbuka. Jemarinya menyusuri rambut hitam itu perlahan, memperhatikan wajah cantik di hadapannya dengan saksama.Senyum tipis terukir di bibir Sambara, "Perempuan keras kepala." Bayangan semalam kembali terlintas. Tangis Agnira saat menyadari tidak ada pengaman, kepanikan yang jelas terpancar di matanya. Namun alih-alih berhenti, Sambara justru menariknya lebih dalam, hingga akhirnya wanita itu kelelahan dan terlelap.Tatap

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 06

    Tubuh kecil itu berguncang pelan, tangannya bergetar samar saat mata itu menatap benda asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Benda itu terlihat besar dengan bentuk yang cukup aneh menurut Agnira."Kemarilah," ucap Sambara memberi perintah.Degup jantung Agnira berpacu lebih cepat saat dia bergerak lebih dekat. Sesekali matanya melirik kecil pada benda yang menurutnya sedikit membuat ia tidak nyaman itu. Namun anehnya, Sambara tidak terlihat risih ataupun malu.Sial. Di sini hanya ia yang malu sendirian.Sambara tersenyum samar, "Mau menyentuhnya?" Hah. Agnira terdiam, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya saat ungkapan kalimat itu terucap. Bagaimana bisa Sambara melemparkan pertanyaan seperti itu.Tangan besar Sambara meraih jemari lentik Agnira, walaupun terlihat ragu, tetapi wanita itu terpaksa harus menuruti perintah Sambara. "T-tapi ini." Tangan Agnira bergetar pelan."Jangan takut, dia tidak akan menyakitimu," ucap Sambara penuh keyakinan, seolah benda itu hidup.A

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira mengerat menggenggam sprei dengan kuat, tatkala kepala Sambara mulai mengendus pelan leher jenjangnya. Mengantarkan rasa geli yang membuat ia terpejam kembali."Ah ..." Satu desahan lolos begitu saja, saat Sambara secara perlahan mengecap belakang telinga Agnira. Pria itu tersenyum saat aksinya menuai keberhasilan."Buka matamu, Agnira," desis Sambara, sekali lagi.Agnira membuka mata perlahan. Napasnya terdengar tidak beraturan. Dia mencoba menahan dada Sambara saat pria itu kembali merunduk dan akan memulai aksinya lagi."Sebentar ... Bisakah aku yang memulai," pinta Agnira."Kau yakin?" tanya Sambara, memastikan. Ia bukan tipe yang sabar dengan hal seperti ini.Agnira mengangguk cepat. Dengan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak pelan, membuka pintu kamar dan keluar dengan langkah ragunya. Tubuh Agnira terdiam, menatap pintu di depannya dengan sorot ketakutan.Piyama satin yang ia kenakan jatuh perlahan mengikuti lekuk tubuhnya, berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih itu. Tali kecil melilit leher jenjangnya, membentuk ikatan pita tipis yang sekali tarik bisa terlepas begitu saja.Agnira menarik napas dalam dan memejamkan mata untuk kesekian kali, mencoba terus meyakinkan diri bahwa apa yang ia lakukan tidaklah salah. Tangannya terayun pelan, mengetuk pintu hitam di depannya perlahan."Masuk." Suara barinton dari dalam menggema samar, membuat degup jantung Agnira berpacu lebih cepat. Pintu terbuka.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status