LOGINMalam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar.
"Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar. Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak pelan, membuka pintu kamar dan keluar dengan langkah ragunya. Tubuh Agnira terdiam, menatap pintu di depannya dengan sorot ketakutan. Piyama satin yang ia kenakan jatuh perlahan mengikuti lekuk tubuhnya, berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih itu. Tali kecil melilit leher jenjangnya, membentuk ikatan pita tipis yang sekali tarik bisa terlepas begitu saja. Agnira menarik napas dalam dan memejamkan mata untuk kesekian kali, mencoba terus meyakinkan diri bahwa apa yang ia lakukan tidaklah salah. Tangannya terayun pelan, mengetuk pintu hitam di depannya perlahan. "Masuk." Suara barinton dari dalam menggema samar, membuat degup jantung Agnira berpacu lebih cepat. Pintu terbuka. Agnira melangkah masuk ke dalam, suara kecil dari lonceng di lehernya berdenting pelan. Sambara mengangkat padangan saat Agnira masih terdiam di pintu masuk kamar. "Kemarilah," ucap Sambara, memberi perintah. Tangan Agnira terkepal erat. Keringat halus terlihat di sekitar keningnya. Udara kamar yang terasa dingin tiba-tiba menghangat seiring dengan langkah Agnira yang kian mendekat. Sambara tersenyum puas melihat penampilan istrinya. Pria itu terlihat duduk diam di sisi jendela. Angin malam menelusup masuk melewati celah jendela, mengibarkan tirai putih yang membuat seluitnya terhalang samar. Satu tegukan wine melewati tenggorakan Sambara, mengantarkan rasa panas yang membakar tubuhnya. Dia berdiri dan melangkah, mencoba mengikis jarak. "Sangat manis," ujar Sambara ringan. Tangannya terangkat pelan, menyentuh rambut Agnira dan membelainya pelan. Sentuhan itu membuat tubuh Agnira menegang. Namun ia tidak bisa mundur lagi, keputusan sudah ia ambil. Kepala Agnira perlahan terangkat, bertemu dengan sorot tajam Sambara yang sulit ditebak. "Apa kamu takut?" tanya Sambara rendah, jemarinya kini turun menyusuri pipi Agnira lembut. Agnira tidak bisa menjawab. Bibirnya terasa kelu, dia tidak ingin umpatan yang bersarang dalam dadanya keluar begitu saja. Tangan Agnira yang semula terkepal mulai melemas, dia harus bisa tenang agar malam ini terlewat dengan cepat. Sambara mendekat, menyisakan jarak yang nyaris tidak ada. Matanya melirik kecil pada gundukan kenyal yang berada di bawah matanya, begitu pas dan tentunya pantas ia mainkan. "Tenang saja," bisik Sambara pelan, napasnya hangat berhembus di telinga Agnira, membuat buku kuduk Agnira berdiri perlahan. "Aku tidak akan menyakiti dirimu." Pria itu kembali membuat jarak. Namun kali ini tangan besarnya menyentuh pergelangan tangan Agnira, menuntun wanita itu ke sisi ranjang. Sambara terduduk lebih dulu, membuat Agnira lebih leluasa menatap wajah tampan di depannya. "Mulailah dan buat aku senang," ujar Sambara, memberi lagi perintah. Agnira menarik napas dalam. Tangannya kembali terkepal saat perintah itu terucap. Kaki Agnira melangkah lebih dekat, berdiri di antara kedua kaki Sambara yang terbuka lebar. Jemari lentik itu dengan ragu menyentuh bahu Sambara, mengantarkan rasa aneh yang membuat mata pria itu terpejam. "Lakukan." Sekali lagi, Sambara membuat perintah, seolah dia sudah tidak sabar untuk mengobrak abrik diri Agnira. "Kau yang memintanya," bisik Agnira, setelah sekian waktu terdiam. Wanita itu lebih mendekat, aroma parfum yang dia kenakan membuat Sambara melayang. Tubuh wanita itu mulai merosot perlahan, terduduk pelan di antara paha Sambara. Jemarinya bergerak mengukir sesuatu di atas dada bidang pria itu, gerakannya tidak terburu, tetapi cukup membuat Sambara merasakan panas yang terasa aneh. Sambara meraih jemari Agnira dengan cepat. "Jangan terus bermain-main, Agnira. Saya tidak sesabar itu untuk menunggumu melakukannya," kata Sambara, mata tajam itu terlihat sayu dengan kabut gairah yang tertahan. Agnira terdiam sesaat, napasnya terasa tercekat oleh nada suara Sambara yang berubah dalam. Dia menelan ludah pelan dan menarik napas dalam. "Sabarlah, aku hanya sedang mencari momen saja," bisik Agnira, pelan dan nyaris tidak terdengar. Sambara memejamkan mata saat jemari Agnira kembali menyentuh lehernya. Kali ini dia tidak dapat menahan segalanya. Dengan cepat tubuh Agnira melayang dan terlempar ke atas ranjang. Wanita itu memekik pelan. Namun tidak sampai di sana, tubuh kokoh Sambara tiba-tiba menindihnya membuat Agnira terdiam dan sulit bernapas. "Biar aku tunjukan cara bermain di atas ranjang," bisik Sambara, suaranya berhembus hangat dan membuat Agnira benar-benar terdiam."Dapat enam!" pekik Agnira bersemangat.Wanita itu segera menggerakkan bidaknya satu per satu sesuai jumlah mata dadu yang ia peroleh. Kini, mereka berempat duduk melingkar di bawah pondok. Di tengah-tengah mereka terbentang papan monopoli yang terbuat dari kayu jati. Permukaannya tampak indah dengan ukiran yang detail dan rapi. Permainan itu sengaja dibawa Panji ke taman sebagai sarana hiburan sekaligus media belajar yang cukup efektif untuk Nana. Setelah giliran Agnira berakhir, kini Sambara yang memegang dadu.Pria itu menatap benda kecil di tangannya beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan ke arah tiga orang yang duduk bersamanya. Dengan enggan, ia melempar dadu ke tengah papan."Tiga," gumam Agnira sambil menghitung.Sambara menggerakkan bidaknya sesuai jumlah yang didapat. Sepanjang permainan, wajahnya tetap terlihat datar. Tidak ada senyum, tidak ada antusiasme. Ia hanya mengikuti permainan karena terpaksa."Bagaimana kalau kita membuat permainan ini sedikit lebih menarik?"
Agnira menarik napas dalam sebelum berdiri dari duduknya. Dengan lembut, ia menangkup wajah Nana menggunakan kedua tangannya, berusaha menarik perhatian gadis itu."Kenapa Nana bicara seperti itu, hmmm?" tanya Agnira pelan.Agnira kemudian berlutut di hadapan Nana, menyamakan tinggi pandangan mereka agar gadis itu merasa lebih nyaman. Nana tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala dan memilih diam.Melihat reaksi itu, Agnira mengembuskan napas panjang. Ia tahu ada banyak hal yang sedang dipendam Nana, tetapi gadis itu belum siap untuk mengungkapkannya.Beberapa saat kemudian, senyum hangat kembali terukir di wajah Agnira."Kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain saja?" ajak Agnira dengan nada ceria, berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi terasa berat."Ke mana?" tanya Nana sambil memiringkan kepala."Sesuai rencana awal. Bedanya, kali ini kita ajak Sambara juga," jawab Agnira sambil tersenyum. "Biar pria itu ti
Satu hal yang tidak pernah Sambara duga, teriakan yang sempat Agnira lakukan hanya kamuflase saja. Wanita itu malah tersenyum menyeringai, dengan tangan yang meremas miliknya dengan kuat."Kau ... aaahh," pekik Sambara tertahan, saat remasan itu berubah menjadi lembut."Katanya ingin di kulum," ucap Agnira dengan santai.Wanita itu tersenyum dengan penuh maksud, lalu mulai duduk tepat di atas milik Sambara. Menekan miliknya cukup kuat dan menggoyangkan panggulnya perlahan, Sambara memejamkan mata, menikmati sensasi yang Agnira berikan padanya.Jemari lentik Agnira melepas tali kimono secara perlahan, gundukan kenyal itu segera terpampang di depan mata Sambara. Begitu sintal, dengan bagian depan yang sedikit mencuat keluar."Ssttt ..." Mata Agnira terpejam, menikmati setiap gesekan yang sedang ia lakukan."Aaahhh ... Milikmu besar sekali," bisik Agnira sambil terus mendesah pelan.Sambara ikut terhanyut dalam buaian yang Agnira lakukan. Jemarinya mulai meraba gundukan kenyal di depanny
Panji melangkah mendekat sambil tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Dari penampilannya, pria itu terlihat baru saja selesai joging. Sebuah botol minum masih tergenggam di tangannya, pakaian olahraga yang sedikit basah oleh keringat, serta sepatu lari yang pria itu kenakan semakin memperjelas aktivitas yang baru saja dilakukannya."Maaf, Pak. Mulut saya terkadang sulit dikendalikan," ucap Panji sambil mempertahankan senyum tipis di wajahnya.Sambara tidak menunjukkan reaksi apa pun. Pria itu tetap menatap Panji dengan sorot mata tajam yang sulit ditebak."Saya mempekerjakan Anda di rumah ini untuk menjaga adik saya," ucap Sambara dingin. "Artinya, posisi Anda tidak berbeda dengan para karyawan lainnya."Ia menyipitkan mata, tatapannya semakin menekan. "Jadi, kenapa Anda merasa bisa keluar masuk rumah saya sesuka hati?"Panji terdiam. Untuk sesaat, senyum di wajahnya memudar. Pertanyaan Sambara terdengar sederhana, tetapi cukup membuatnya kehilangan jawaban.Pria itu mengemb
Sepanjang perjalanan pulang, Agnira tampak begitu bahagia. Wanita itu bersenandung pelan sambil mengunyah tahu bulat yang baru saja dibelinya. Sesekali ia melirik ke arah Sambara yang sejak tadi terlihat memperhatikannya."Kau mau?" tawar Agnira sambil menusuk sebutir tahu bulat dengan tusuk sate, lalu menyodorkannya ke depan mulut Sambara.Sambara mendorong tangan itu pelan. Pria itu sama sekali tidak tertarik mencicipi makanan berbentuk bulat itu. Selain bentuknya yang menurutnya aneh, minyak yang membekas di bungkus kertasnya saja sudah cukup membuat kepalanya berdenyut. Belum lagi taburan bumbu, penyedap rasa, dan kantong plastik yang digunakan sebagai wadah."Jangan terlalu sering memakan makanan aneh seperti itu," tegur Sambara serius."Aneh dari mana? Ini enak, tahu," bantah Agnira sambil mendengus pelan. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini."Kau sedang memakan makanan yang tidak sehat," lanjut Sambara sambil menunju
"Aahh ... Ssttt ..." Tubuh Agnira berguncang dari belakang setiap kali Sambara menghentaknya dengan kencang.Pria itu terlihat bersemangat, bulir keringat yang bercampur dengan aroma khas percintaan memenuhi kamar. Menciptakan sensasi panas yang menggelora. "Aaahh ... Sambara," desah Agnira saat hentakan itu semakin kencang dan kuat.Tangan Agnira meremas sisi ranjang, kepalanya mendongak dengan bibir yang terbuka pelan. Mendesah nikmat setiap kali Sambara menghujam tubuhnya.Jemari Sambara tidak tinggal diam, meraba bagian depan Agnira dan memainkan klitorisnya dengan gerakan memutar. Kenikmatan itu membuat Agnira benar-benar gila."Aaahh ... lebih dalam!" perintah wanita itu sambil terus mendesah kuat."Ssshhh ... milikmu menjepitku, Agnira." Hentakan demi hentakan Sambara berikan, pria itu semakin mempercepat genjotannya. Membuat Agnira benar-benar melayang. Klimaks itu datang dengan hujaman Sambara yang semakin dalam, menyemburkan benih cinta dan berhadap salah satunya tumbuh di







