Mag-log inKeesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.
Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang memulai untuk sarapan. "Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Sambara, akhirnya membuka percakapan. "T-tidak," jawab Agnira singkat, suaranya terdengar gugup. "Bicaralah. Jangan terus diam seperti itu." Nada suara Sambara datar. Namun terasa menekan. Agnira kembali berdeham. Pandangannya kembali terarah pada pria yang duduk di ujung meja makan itu. "Mengenai nanti malam ..." Agnira menggeleng pelan, ia bingung harus memulai dari mana. "Maksudku ... Kita tidak pernah berbagi ranjang selama ini. Bahkan mungkin, kita tidak pernah saling bertegur sapa seperti ini." Ia menarik napas sejenak. "Lalu, kenapa aku harus tidur denganmu?" tanya Agnira to the point. Sambara mengangkat alis pelan. Mencoba mencerna setiap kalimat yang Agnira ucapkan. "Memang kenapa? Bukankah itu sesuai perjanjian?" Agnira memejamkan mata kuat. Ayolah, dia bahkan belum pernah bersentuhan dengan pria secara intim, bagaimana bisa dia harus memulai berhubungan. "Iya ... Tapi, bukankah cukup hanya dengan aku menjadi istri saja. Seperti menyiapkan pakaianmu atau membuatkan sarapan," ucap Agnira, mencoba bernegosiasi. "Untuk apa pelayan, jika hal seperti itu kau yang mengurus?" Agnira kembali diam. Dia meremat jemarinya yang berada di atas pangkuan. Agnira mencoba menarik napas dalam, dan berusaha fokus dengan apa yang akan dia katakan. "Aku hanya ... belum siap," ucap Agnira, lemah. Sambara tersenyum miring. Dia berdiri dari duduknya dan merapikan jas sekilas. "Itu urusanmu." Kalimat itu membuat Agnira tercengang. Bagaimana bisa Sambara mengatakan hal seperti itu. "Jika aku menolak, apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan itu sontak membuat langkah Sambara terhenti. Kepalanya menoleh sekilas, melirik kecil ke arah Agnira dari balik bahunya. "Kembalikan apa yang sudah saya berikan, bukankah sejak awal saya sudah mengatakan," ucap Sambara, dingin. Tangan Agnira terkepal kuat. Genggaman pada garpu mengencang seiring dengan langkah kaki Sambara yang kian menjauh pergi, meninggalkan segala keheningan dan rasa kacau pada diri Agnira. Wanita itu menyandarkan tubuhnya dengan lemah. Jika Sambara menginginkan apa yang dia berikan dikembalikan, maka jawabannya jelas tidak. Perusahaan Agnira memang sudah berkembang, tetapi untuk mengembalikan bantuan. Tidak akan pernah bisa. Mata Agnira terpejam pelan. Lalu terbuka dengan sorot yang berbeda. "Jika dia menginginkannya, maka ayo lakukan," bisiknya pelan. Malam kian merambat naik perlahan. Jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh malam dan Agnira baru sampai di rumah dengan keadaan lelahnya. Kaki jenjang itu melangkah masuk ke dalam. Namun ada yang berbeda malam ini, suasana rumah terasa sepi. Agnira melirik kecil pada jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. "Masih jam tujuh, kenapa tidak ada pelayan sama sekali," bisiknya, sambil terus melangkah masuk. Tiba di ruang tengah, suasana remang menyambutnya. Dia berhenti melangkah saat sosok Sambara diam dengan tatapan tajam ke arahnya. "Sudah pulang ternyata." Sambara berdiri dari duduknya, dia melangkah perlahan ke arah Agnira. Pria itu berdiri menjulang, sorot matanya tidak pernah membuat perasaan Agnira tenang. Selalu ada sesuatu yang membuat tatapan itu terasa tidak nyaman. Sambara seperti predator bagi Agnira. Diam mengamati dan menyerang secara diam-diam. "Saya tunggu satu jam dari sekarang," ucap Sambara, suaranya begitu tenang seolah perintah itu bukan hal berarti baginya. Namun lain halnya dengan Agnira. Wanita itu meremas tali tasnya dengan kuat. Matanya terlihat berkaca-kaca saat ucapan Sambara menggaung di telinga. Ia seolah akan menjual diri demi perusahaan yang di bangun dengan susah payah oleh ayahnya. "Tuhan, kenapa jalan hidupku menjijikan seperti ini," bisik Agnira, pelan. Agnira mencoba menarik napas dalam. Dia memantapkan hati dan segera bergerak naik menuju kamarnya. Pintu terbanting cukup kencang, amarah menguasai dirinya. Namun Agnira tidak bisa berbuat banyak. Piyama satin berwarna hitam itu tergeletak begitu saja di atas kasur. Agnira melangkah pelan dan meraih baju itu perlahan. "Aku seperti menjual diri jika seperti ini," bisik Agnira. Air matanya jatuh perlahan seiring dengan tubuh yang luruh ke lantai.Malam semakin larut ketika suara deru mesin mobil membelah kesunyian. Sebuah mobil hitam melaju meninggalkan kediaman Lakeswara. menyusuri jalanan yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, berganti dengan pepohonan tinggi yang berdiri rapat di sepanjang jalan. Sambara duduk di kursi belakang dengan tatapan lurus ke depan.Wajahnya tenang. Namun jemarinya sesekali mengetuk pelan pahanya, sebuah kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika pikirannya sedang dipenuhi sesuatu yang mengganggu.Arman. Nama itu kembali berputar di kepalanya. Selama ini Sambara mengira semua kejadian yang menimpanya memiliki hubungan dengan Leonard. Namun semakin banyak informasi yang ia dapatkan, semakin jelas bahwa ada seseorang yang bekerja dari balik layar.Seseorang yang bahkan mampu memengaruhi orang-orang di sekelilingnya tanpa menunjukkan wajah. Dan kini gudang tua itu kembali muncul dalam semua kekacauan tersebut. Arman. Pria itu tidak bisa Sambara anggap remeh.Sambara mengangkat ponseln
Di waktu yang sama, rintihan lirih terdengar dari dalam gudang tua di pinggir hutan. Aurelie terus menangis menahan rasa sakit yang menjalar dari jari tengahnya. Tangannya bergetar hebat, sementara wajahnya basah oleh air mata.Ia menatap perban yang membungkus jarinya dengan tatapan penuh kebencian. "Brengsek." Suara itu keluar nyaris seperti bisikan. Aurelie menggigit bibir, berusaha menahan isakannya. Namun rasa sakit yang masih berdenyut membuat air matanya kembali jatuh."Arsen.". Nama itu keluar dari bibirnya dengan penuh kebencian.Pria itu benar-benar gila. Hanya karena dirinya kalah taruhan, Arsen tega memberikan hukuman seperti itu. Aurelie menarik napas panjang, kemudian bersandar pada dinding kayu di belakangnya. Tatapannya menyapu ruangan yang remang-remang.Gudang tua itu begitu sunyi. Hanya suara angin yang sesekali menerobos celah dinding dan suara tetesan air dari atap yang terdengar. Tidak ada seorang pun di sana, atau setidaknya, begitulah yang Aurelie pikirkan.Ti
Arsen melemparkan sesuatu begitu saja ke atas meja. Kini mereka bertiga berada di ruang kerja Sambara, tanpa kehadiran siapa pun dari luar. Suasana yang sebelumnya dipenuhi candaan mendadak berubah jauh lebih serius.Alis Sambara mengernyit ketika pandangannya jatuh pada benda menjijikkan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Tatapannya kemudian berpindah dari benda tersebut kepada Arsen, lalu kepada Leonard. Bibirnya tetap terkatup, tetapi sorot matanya sudah cukup jelas menyampaikan satu pertanyaan.Arsen terkekeh pelan. "Jari Aurelie." Ia menunjuk benda di atas meja dengan santai. "Dia kalah taruhan."Arsen menyandarkan tubuhnya pada kursi, seolah baru saja menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak mengganggu pikirannya."Jadi, aku memotong jarinya." Senyum tipis terukir di wajahnya. "Sederhana, bukan?"Sambara menarik napas dalam, ia meraih benda itu dan menatapnya tajam. Kuku runcing berwarna merah dengan bagian bawah yang masih mengeluarkan dara
Aroma masakan menguar di atas meja makan. Beberapa hidangan terjadi dengan rapi dan tertata baik. Agnira sudah duduk dengan nyama, walaupun matanya terus menatap takut pada pria yang duduk di depannya.Leonard, pria itu terlihat jauh lebih dingin dari Sambara. Auranya menekan, sorot mata birunya menusuk begitu tajam."Jangan terus menatap istriku, Leon," tegur Sambara dingin.Leonard melirik ke arah sahabatnya dengan sinis, tetapi pandangan tetap mengarah pada Agnira. Iris biru itu terus memperhatikan setiap gerak yang Agnira lakukan, dari cara Agnira duduk, makan, dan bahkan minum. Semua sama, seperti Leana.Agnira yang merasa tidak tahan dengan tatapan itu, menaruh sendoknya di atas meja dan menatap tajam pada Leonard. "Kenapa kamu melihatku terus?"Leonard tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil gelas di samping piringnya, meneguk sedikit air, kemudian meletakkannya kembali dengan gerakan tenang."Kau mirip dengannya."Alis Agnira berkerut. "Dengan siapa?""Adikku."Jawaban si
Aroma harum dari arah dapur membuat langkah Agnira berbelok. Wanita itu berjalan pelan dan melihat punggung lebar suaminya yang entah sedang membuat apa. Beberapa pekerja dapur pun terlihat berderet rapi sambil menatap cemas pada Sambara.Bahkan salah satu koki terlihat panik saat Sambara mulai menyalakan kompor. Pria paruh baya itu mendekat dan berusaha membantu sebisa mungkin, tetapi tatapan Sambara yang seperti akan menelan orang membuat koki itu merasa takut dan mengurungkan niatnya.Agnira menahan senyum. Pemandangan di hadapannya benar-benar aneh. Sambara Lakeswara, pria yang biasanya membuat orang-orang gemetar hanya dengan satu tatapan, kini berdiri di depan kompor dengan celemek hitam yang terikat seadanya di pinggang.Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan. Membuat Agnira penasaran dan mendekat dengan langkah pelan."Masak apa?" tanya Agnira akhirnya.Gerakan tangan Sambara langsung berhenti. Pria itu menoleh, lalu tatapannya berubah seketika ketika mendapati istrin
Siulan pelan terdengar dari mulut tipis Arsen, memecah kesunyian yang menyelimuti lorong bangunan tua itu. Langkahnya santai, seolah tempat tersebut bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Kedua tangannya bahkan terselip di saku celana, sementara matanya menyapu setiap sudut lorong yang remang-remang. Beberapa lampu di atas kepalanya berkedip tidak beraturan. Cahaya yang datang dan pergi membuat bayangan Arsen memanjang di lantai, kemudian menghilang, lalu muncul kembali."Sudah lama sekali," gumamnya pelan.Ia berhenti di depan sebuah pintu besi tua. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan pintu yang dingin dan berdebu. Dari balik pintu itu terdengar suara samar.Arsen tersenyum tipis, ia menghirup udara lembap di sekitarnya yang terasa sesak. "Aroma ini, sudah lama sekali."Begitu pintu terbuka, suara Aurelie langsung menusuk telinganya. Membuat pria manis berwajah polos itu melirik dengan sinis."Lepaskan aku ..." Suara Aurelie nyaris tidak terdengar.Tubuhnya terasa lemas setelah
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b







